
Keduanya berlari bersama menuju lift, sebab kaburnya Udin ke sana.
Namun, sayang sekali keduanya kalah cepat. Pintu lift itu sudah keburu ketutup, padahal sedikit lagi mereka akan berlari menyusul Udin yang sudah masuk lebih dulu ke sana.
"Tangga, Pak! Kita kejar dia pakai tangga darurat!" seru Sandi dengan napas memburu, lalu menunjuk ke arah tangga yang letaknya bersebelahan dengan lift.
Joe mengangguk, dia pun langsung berlari ke sana dan Sandi juga tentunya ikut.
Setiap lantai mereke telusuri, melihat pada lift yang setiap saat terbuka. Sayang lagi-lagi, keduanya tak berhasil menemukan laki-laki itu. Udin berhasil lolos kali ini.
"Ya Allah capek, San! Pegel kakiku!" Joe beringsut dan terduduk di lantai dengan napas terengah-engah.
Tentulah dia capek, sebab mereka sudah berada di lantai 10, yang merupakan lantai teratas kampus tersebut.
"Iya, Pak, saya juga capek!" Sandi juga ikut ambruk di samping Joe. Dia tak kuat menahan napasnya yang tak beraturan. Keduanya kini sudah sama-sama bermandikan keringat.
"Bagaimana sekarang, San? Apa kita cari si Udin pada setiap kelas?" tanya Joe seraya mengulas keringat didahinya.
"Kalau kita cari di setiap kelas, itu akan menganggu para mahasiswa yang lain, Pak. Ditambah kita juga nggak tau ... di mana kelas Udin sebenarnya. Jadi lebih baik, kita ketemu dekan di kampus ini saja," usul Sandi memberikan ide, sambil menunjuk ke arah depan yang kebetulan adalah ruangan dekan.
"Ngapain kita temui Dekannya, San? Apa minta dia suruh panggilin si Udin?"
"Iya, Pak." Sandi mengangguk.
"Ya sudah ayok. Tapi jangan jujur ya, San ... tentang niat awal kita. Kita bohong lagi kalau kita Abangnya." Joe sudah berdiri dan membenarkan jasnya.
"Kalau sama Dekan kita nggak bisa bohong kayaknya, Pak." Sandi juga ikut berdiri sambil menyeka keringat diwajahnya.
"Kenapa?"
"Takut Dekannya nggak percaya. Dan ada untungnya kalau kita jujur."
"Apa untungnya? Yang ada aku malu, San!" Joe terlihat tak setuju. Dia menggeleng cepat.
"Kalau pihak kampus tau ... kalau mahasiswanya telah menyebarkan video syur milik orang lain yang lagi viral, dan intinya merugikan Bapak juga ... pasti mereka akan bertindak. Bisa jadi si Udin nanti diDO dari sekolah. Dan kita bisa sekaligus mengancamnya, supaya si Udin nggak bermain-main lagi dengan kita."
"Tapi aku malu, San. Kalau ada yang tau pemain video itu ternyata aku dan Syifa. Aku takut Syifa dibully nantinya."
Ide dari Sandi memang bagus, hanya saja Joe tak mau mengambil resiko. Bisa saja nanti Dekan kampus itu memberitahukan kepada semua orang tentang kedatangannya yang mengadukan Udin. Ya meskipun belum tentu semuanya mengenal Joe, tapi masih ada kemungkinan salah satu dari mereka dapat mengenalinya.
Walau tak seaktif dulu, tapi Joe sampai detik ini masih sering menggunggah foto diakun Inst*gramnya. Berikut dengan beberapa momen kebersamaannya dengan Syifa.
"Jadi Bapak maunya kita cari perkelas begitu? Ya sudah ayok, Pak." Sandi tidak masalah jika Joe menginginkan hal demikian. Dia di sini hanya membantu dan memberikan saran. Kalau pun sarannya tak diterima, tidak masalah.
"Iya." Joe mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya menuju beberapa kelas diberbagai jurusan, sampai turun lagi ke beberapa lantai untuk mencari nama Udin Jamaluddin.
Sampai akhirnya mereka berhenti di kelas jurusan manajemen bisnis. Sebab saat bertanya pada mahasiswa lain, mereka mengenal Udin Jamaluddin yang kebetulan memang jurusannya. Hanya saja laki-laki bergigi tonggos itu tak ada di kelasnya saat ini.
"Sepertinya si Udin sengaja ngumpet buat menghindari kita, Pak," ucap Sandi berbisik ke telinga Joe. Dan sang bos mengangguk.
"Apa di antara kalian ada yang tau alamat rumahnya si Udin?" tanya Joe sembari menatap beberapa mahasiswa yang rata-rata umur 20 tahunan.
Mereka semua tampak terdiam, dan saling memandangi satu sama lain. Di kelas itu kebetulan memang sedang tak dosen yang mengajar.
"Kalau ada yang bersedia memberitahukan, nanti kuberi 10 juta!" tantang Joe tak main-main.
Karena biasanya, orang akan tunduk pada uang. Dan ternyata terbukti, hampir seluruh mahasiswa dikelas itu menyeru sambil tunjuk tangan. Padahal tadi mereka seperti ragu ingin menjawab pertanyaan darinya.
"Aku tau!"
"Aku juga tau!"
"Aku, Pak!"
"Akuuuu!"
"Pak, aku!!"
"Kamu saja!" Joe memilih salah satu di antara mereka, dan menjatuhkan pilihannya pada laki-laki berambut keriting.
"Minta dia suruh ikut saja langsung sama kita, Pak. Takutnya dia bohong lagi," saran Sandi.
"Kamu ikut mau nggak?" tawar Joe. "Berarti hari ini nggak perlu ikut kelas selanjutnya."
"Boleh, Pak." Laki-laki berambut keriting itu mengangguk. "Tapi uang 10 jutanya bener, kan?"
"Iyalah bener. Masa nggak bener," jawab Joe dengan wajah serius. "Siapa namamu?"
"Haikal."
"Oke. Kita langsung ke rumah Udin, Haikal," ajak Joe yang sudah lebih dulu meninggalkan kelas.
Sandi pun langsung menarik tangan Haikal, tapi sebelum keluar kelas, Haikal lebih dulu mengambil tasnya.
*
*
Namun, akhirnya mereka tak lebih dulu menuju rumah Udin. Joe memutar otak, berpikir kalau akan lebih baik dia menunggu sampai jam kampus berakhir. Sebab kemungkinan Udin masih bersembunyi di dalam sana dan belum pulang.
__ADS_1
Kalau sudah menunggu namun belum juga berhasil menemukan si Udin, barulah mereka pergi ke rumahnya langsung.
Sekarang, ketiganya sudah standby di dalam mobil. Tapi mobil Sandi berada agak jauh dari kampus, supaya tak dicurigai oleh sekitar.
"Sebelum Bapak berdua menemui si Udin, lebih baik kalian memakai masker terlebih dahulu, Pak," saran Haikal.
"Kenapa?" tanya Joe yang menoleh ke belakang.
"Masker apa maksudnya?" tanya Sandi bingung.
"Masker biasa, Pak. Buat corona." Haikal menjawab pertanyaan Sandi lebih dulu, kemudian menatap ke arah Joe. "Soalnya si Udin ... Eh ... itu si Udin, Pak!!" Haikal tiba-tiba menyeru dan menunjuk ke arah depan. Memperlihatkan Udin yang baru saja keluar dari gerbang kampus dan menemui seorang pengendara ojek online.
Melihat itu, Joe langsung turun dari mobil Sandi kemudian berlari menghampirinya.
'Kali ini, nggak akan kubiarkan dia lolos!' batin Joe dalam hati.
Sandi yang masih berada di dalam mobil pun gegas melajukan mobilnya, mendekat ke arah Joe.
"Kurang ajar kau ya, Udin!" teriak Joe murka dan langsung menonjok Udin tepat pada bibirnya.
Bugh!
"Aaww!"
Tubuh Udin tersentak jatuh ke bawah, dia meringis dan terlihat kaget melihat kedatangan Joe yang tiba-tiba menghajarnya.
'Duh sial! Kenapa aku justru tertangkap. Bagaimana ini?' batin Udin ketakutan. Dia juga masih menahan rasa ngilu di wajahnya yang terutama pada bagian bibir. Sepertinya agak lecet juga.
"Jangan berani kabur dariku, Br*ngsek!" Melihat Udin seperti hendak bangun dan kemungkinan akan kabur lagi darinya, Joe pun langsung mencekal pergelangan tangan laki-laki itu dengan kuat sembari melotot tajam.
Saat bersamaan, Sandi turun dari mobil dan menghampiri mereka.
Namun mendadak.....
"Uueekk! Uuuekk!"
"Lho, Pak, kenapa Bapak muntah-muntah?" Sandi tampak terkejut melihat sang bos yang tiba-tiba memuntahkan isi di dalam perutnya. Sarapannya tadi pagi.
Dan tak berselang lama, perutnya langsung mual ketika mengendus aroma tidak sedap yang berasal dari tubuh Udin. Yang lebih tepatnya dari ketiak. Kebetulan terlihat basah juga.
"Bau banget ketekmu, Din!" omel Sandi yang langsung menutup hidung sembari menahan napas. Tapi lidahnya sudah terasa begitu pahit. "Paitttt!"
Bruk!!
Tiba-tiba saja, tubuh Joe sudah ambruk dengan posisi terlentang. Dia pingsan dengan mulut berbusa.
__ADS_1
...Ya ampuuunnn.... 😣 Om Joe keracunan...