
"Nah ... ini dia orangnya!" seru salah satu warga, yang mana membuat warga lain di sana ikut menatap kedatangan Abi Hamdan.
"Ada apa ini Pak RT? Kok hewan kurbannya banyak yang mati?" tanya Joe yang menatap keheranan.
"Ini semua gara-gara mertuamu, Jon!" Seorang Ibu-ibu langsung melemparkan fitnahnya sambil menatap Abi Hamdan dengan sinis.
"Mertuaku?" Joe mengerutkan keningnya. Dia tampak bingung.
"Jawab jujur Ustad ... apa yang Ustad lakukan, sehingga hewan kurban kami semua mati?" cecar Bapak-bapak pemilik domba.
"Lho, kok tanya padaku? Aku nggak tau apa-apa." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya dengan raut bingung.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu nggak perlu menuduh Ustad Hamdan, beliau nggak ada hubungannya di sini," ujar Pak RT membela. Dia juga sangat yakin—jika seorang ustad yang merupakan tokoh agama di sana tak mungkin melakukan tindakan keji seperti itu.
"Kalau bukan Ustad Hamdan terus siapa? Jelas hanya unta-untanya yang nggak mati ... tapi giliran hewan-hewan yang lain mati Pak RT!" teriak Ibu-ibu yang tampak tak percaya. Masih meyakini jika itu adalah ulah dari Abi Hamdan.
"Maaf sebelumnya, tapi bisakah kalian semua ceritakan terlebih dahulu ... penyebab hewan-hewan ini mati?" tanya Joe penasaran, dia menatap beberapa warga yang terlihat begitu emosi pada mertuanya. "Dan bisakah kalian memberikanku bukti, mengapa kalian langsung menuduh Abi mertuaku adalah pelakunya?" tambahnya.
"Itu semua—"
"Biar saya yang jelaskan, Bu." Pak RT memotong ucapan Ibu-ibu, kemudian menatap kepada Joe. "Dari kemarin hingga pagi tadi, semua hewan di sini terlihat sehat dan baik-baik saja, Pak Joe, tapi kami baru mengetahui mereka keracunan ketika habis sholat hari raya," jelasnya kemudian.
"Penyebab keracunannya apa?" tanya Joe kembali.
"Kata dokter dari air minum." Pak RT menunjuk beberapa deretan ember-ember yang terjejer. Semuanya kosong bahkan ada pula yang pecah karena tertindih oleh tubuh hewan yang sempat mengalami celeng.
"Airnya diambil dari mana, Pak?"
"Dari masjid, Jon." Pak Tejo menyahut, lalu menyentuh dadanya. "Dan Bapak yang mengambilnya, tapi nggak mungkin kalau air dari masjid ada racunnya, kan?"
"Berarti ini memang ada yang sengaja memasukkan racun itu." Pak Dudung ikut menimpali.
__ADS_1
"Apa di sini ada CCTV?" tanya Joe.
"Enggak ada, Pak," jawab Pak RT sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau begini pasti susah, cari siapa pelakunya. Tapi aku yakin ... Abi mertuaku nggak akan melakukannya," ucap Joe.
"Kalau Abi mertuamu nggak melakukannya, terus kenapa hanya unta-unta saja yang masih hidup, Jon? Kenapa hanya hewan lain yang mati?" cecar salah satu bapak pemilik sapi. Dia masih terlihat emosi.
"Apa unta-unta minum air minumnya juga?" Joe bertanya pada tiga bapak-bapak yang menjaga hewan kurban.
"Dari kemarin sih unta-unta juga minum, Jon. Dan airnya juga sama, dari masjid," sahut Pak Dudung.
"Tuh 'kan aneh. Masa ikut minum tapi nggak ikut keracunan?" tuduh Ibu-ibu.
"Mungkin, unta-unta memiliki antibodi penyerap racun kali, Bu," sahut Pak Damar yang ikut membela Abi Hamdan.
"Mana ada antibodi penyerap racun. Nggak mungkin!" tegas Ibu-ibu itu yang tak mempercayai.
"Tuh 'kan bener ...," timpal Pak Damar setuju.
"Tapi tetap aja ini nggak adil bagiku! Bagi beberapa warga juga yang berkurban tahun ini! Masa iya, hewan-hewan kita ada yang tega meracuninya? Dan siapa pelakunya coba, kalau bukan Ustad Hamdan!" tuduhnya lagi.
"Tapi Ibu nggak ada bukti!" teriak Abi Hamdan tak terima. Sejak tadi dia diam dan mencoba sabar, tapi kesabarannya yang setipis tisu itu cepat sekali luntur. Apalagi terus disudutkan seperti ini. "Menuduh tanpa bukti itu sama saja seperti fitnah, Bu!" tambahnya menegaskan.
"Benar itu, Pak, Bu ... kalian nggak boleh menghakimi Ustad Hamdan di sini!" tekan Pak RT.
Joe membuang napasnya dengan kasar, lalu terdiam sebentar untuk mencari sebuah ide. Hingga sepersekian detik kemudian, dia lantas berucap, "Ya sudah, begini saja ... tulis siapa nama-nama yang hewan kurbannya keracunan. Biar nanti aku yang menggantinya, aku belikan."
Mungkin hanya ini jalan satu-satunya, yang dapat menyelesaikan masalah. Tidak masalah Joe turun tangan, asalkan beberapa warga tak menyalahkan sang mertua.
"Jon, nggak perlu seperti itu!" tegas Abi Hamdan yang terlihat tak setuju. "Hewan yang mati bukan kesalahan Abi atau pun kamu, jadi nggak perlu kamu menggantinya!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Bi."
"Tapi hewan yang mati nggak cuma satu, Jon, banyak! Dan pasti banyak juga uang yang harus kamu keluarkan!"
Sudah cukup 6 unta yang Joe beli, tapi tidak perlu dengan hewan yang lain. Apalagi mengganti rugi sesuatu yang bukan dia perbuat. Abi Hamdan khawatir, kalau dompet Joe jebol yang berakhir dia jatuh miskin.
"Benar, Pak Joe, Bapak nggak perlu melakukannya," sahut Pak RT. "Anggap saja ini musibah, dan kita semua di sini harus mengikhlaskannya. Nanti masalah pelakunya ... saya dan beberapa warga akan menyelidikinya."
"Nggak apa-apa, Pak, biar aku yang menggantinya," ucap Joe yang terlihat tulus ingin membantu. "Aku ikhlas, sungguh."
"Tapi Pak Joe, apakah ini nggak terdengar—"
"Udah Pak RT, biarkan saja kalau Jojon ingin menggantinya," sela bapak-bapak pemilik kambing yang tak mau rugi. "Tapi kamu seriusan, kan, mau menggantinya, Jon? Aku nggak mau kalau ini hanya ngomong doang. Tapi nggak ada buktinya."
"Serius, nanti Sandi yang membelikannya, Pak." Joe menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, ayok Bapak-bapak ... Ibu-ibu ... kita temui Ustad Yunus. Untuk memintanya memberikan catatan daftar orang yang berkurban tahun ini kepada Jojon," ajak si pemilik domba, kemudian melangkah lebih dulu pergi dari lapangan menuju masjid.
Beberapa warga yang menjadi korban pun langsung mengikutinya.
"Abi khawatir kamu jatuh miskin, Jon," ucap Abi Hamdan yang nampak sedih. Lagi-lagi dia mendapatkan ujian, tapi sekarang Joe lah yang menanggungnya. "Sudah cukup unta-unta yang menghabiskan banyak uangmu. Tapi kenapa justru kamu membayarkan hewan-hewan yang mati? Sedangkan nggak ada bukti jelas jika Abi pelakunya. Dan sumpah demi apa pun ... Abi nggak melakukannya, Jon," tambahnya meyakinkan.
"Aku percaya kok sama Abi. Abi itu orang baik." Joe meraih tangan Abi Hamdan, lalu menciumnya. "Abi juga nggak perlu khawatirkan isi dompetku. Aku pernah baca dibuku, kalau kita beramal pada sesama itu nggak akan membuat kita miskin. Jadi aku yakin ... kalau aku nggak akan jatuh miskin, Bi."
"Tapi nanti, Robert dan Syifa makan apa, Jon? Kan kalian ada rencana pindah buat tinggal bersama. Si Sandi juga gimana nasibnya? Dia 'kan sopirmu. Masa dia nggak kamu gaji?"
"Semuanya aman, Bi, Abi nggak perlu khawatir." Joe mengelus pundak Abi Hamdan, lalu tersenyum dan mencoba menenangkannya. Tampak jelas jika pria itu begitu pilu dengan semua ini.
"Aman gimana? Abi nggak yakin. Coba perlihatkan isi tabunganmu dulu kepada Abi, Jon," pinta Abi Hamdan dengan tangan yang menadah.
...Bisa pingsan, Bi, kalau tau🙈...
__ADS_1