Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
172. Sama-sama botak


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Joe dan Syifa berucap bersama setibanya di dalam rumah. Langkah keduanya itu langsung terhenti di ruang keluarga, ketika melihat ada Mami Yeri yang duduk di sofa sambil nonton televisi.


"Cepet banget kalian sampai? Katanya ke Tangerang ... jadi, nggak?" tanya Mami Yeri heran.


Joe memang sebelumnya sudah memberitahukannya lewat telepon, kalau dia akan pergi bersama Syifa memenuhi undangan launching restoran. Sempat juga ingin menunggu Robert sampai jam setengah tujuh, tapi nyatanya bocah itu masih asik bermain di mall.


Dan Mami Yeri sendiri menyarankan Joe pergi saja dengan Syifa tanpa mengajak Robert, karena selain takut nantinya telat—dia juga meminta supaya mereka membiarkan Robert bersamanya dalam jangka lama. Sebab semenjak Joe menikah lagi, Robert memang cenderung bergantung kepada Syifa.


Tapi tadi sore memang tumben sekali anak itu tidak meminta buru-buru pulang. Mungkin itu semua karena di mall tadi dia bertemu temannya, yakni Leon. Jadi karena asik bermain, dia jadi tak ingin cepat pulang.


"Jadi kok, Mi," jawab Joe.


Dia pun mendekat, kemudian membungkukkan badan untuk mencium punggung tangan Mami Yeri, dan setelah itu barulah Syifa.


"Ngomong-ngomong ... Robert ke mana, Mi? Apa sudah tidur?" tanya Syifa yang sejak tadi menatap sekeliling. Mencari-cari keberadaan anaknya, tapi tidak terlihat.


"Tadi dia bilang sih mau ngerjain PR dikamar, sambil nunggu kalian pulang."


"Iya, Mi. Ya sudah ... aku ke kamar dulu, ya?"


Mami Yeri menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.


Syifa tersenyum, kemudian melangkah. Tapi saat Joe juga ikut melangkah—tangan kanannya tiba-tiba saja ditahan oleh Mami Yeri.


"Mami ingin bicara dulu sama kamu, Joe, berdua," pinta Mami Yeri.


Joe menoleh, lengannya yang sejak tadi terulur dubahu Syifa perlahan terlepas. Kemudian menolehkan kepalanya beralih kepada Syifa. "Kamu ke kamar duluan saja, ya, Yang. Nanti aku nyusul."


"Iya, A." Syifa mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya dan berlalu pergi menuju lantai atas.


Joe perlahan melepaskan jasnya, kemudian menaruhnya pada penyangga sofa. Setelah itu barulah dia duduk di samping Mami Yeri. "Ada apa, Mi?"


"Mami mau tanya dulu, kenapa kamu pergi ke restoran pakai peci?" Menunjuk pada atas kepala Joe, yang memang terpasang sebuah panci hitam di sana.


Itulah alasan Mami Yeri sejak Joe dan Syifa datang tak menanyakan tentang kepala botak, karena memang dia tidak sadar akibat tertutup peci.


"Oh ini ...." Joe langsung menyentuh ke atas kepalanya. "Eemm ... iya, aku memang pakai peci, Mi. Memang kenapa?"


"Nggak apa-apa, sih, cuma Mami heran aja gitu."


"Ya aku cuma lagi kepengen pakai peci, Mi. Lagian peci juga dipakai bukan hanya buat ibadah, tapi buat sehari-hari juga bisa."


Joe bukan tak ingin bercerita tentang dirinya yang ternyata botak. Hanya saja dia malas untuk membahasnya lagi.


Dan dia juga yakin—jika Papinya nanti pasti akan segera bercerita kepada Mami Yeri yang otomatis membuatnya tahu.


"Ooohh ... iya juga, sih, Joe."


"Jadi Mami mau bicara apa? Dan apakah Papi nggak ikut menginap?" tanyanya seraya menatap sekitar, dia juga baru sadar jika saat datang tak melihat Papi Paul.


"Jadi, cuma Papi lagi ada acara. Dan dia belum pulang."


"Lho, padahal dia tadi pulangnya duluan lho, Mi. Mungkin Papi ada urusan lain kali, ya?"


"Memangnya kamu tadi ketemu, sama Papi, Joe?"


"Iya." Joe mengangguk. "Ternyata Papi jadi tamu undangan juga di launching restoran itu, Mi."


"Oh ... berarti yang mengundangnya orang yang sama, ya?"

__ADS_1


"Iya." Joe kembali mengangguk. "Terus ... Mami mau bicara apa sebenarnya? Cepat katakan ... aku penasaran."


"Ini, Mami dengar dari resepsionis di kantormu ... kalau kamu itu semenjak menikah jarang sekali masuk kantor. Apa alasannya kalau Mami boleh tau, Joe?"


"Memangnya Mami habis ke kantorku, ya? Kapan?


"Ih ... kamu ini kebiasaan deh." Mami Yeri mendesis kesal. "Kalau orang tua nanya itu dijawab dulu, Joe. Jangan malah nanya balik."


"Oh ... maaf. Tapi memang iya, akhir-akhir ini aku jarang ke kantor."


"Bukan akhir-akhir ini. Tapi semenjak kamu nikah."


"Ya begitu lah, Mi." Joe mengangguk.


"Terus alasannya apa? Bukannya dimana-mana orang yang habis nikah itu jadi semangat kerja, ya? Kamu kok nggak sih, Joe?"


"Bukan masalah nggak semangat, tapi kadang aku ada aja urusan, Mi."


"Urusan apa? Paling cuma kelonan sama Syifa. Iya, kan?"


"Ya salah satunya itu. Tapi ya udahlah, Mi, kenapa musti dipermasalahkan? Lagian ada Imel juga, dan dia kalau ada apa-apa selalu memberitahukanku."


"Bukan mempermasalahkan. Tapi itu namanya nggak konsisten, Joe!" Mami Yeri menegaskan. "Dan kamu juga harusnya jangan terlalu bergantung pada sekertarismu. Dia 'kan cuma bawahanmu, kalau ada apa-apa pasti kamu juga yang tanggung jawab. Memangnya kamu mau, ya ... kalau perusahaanmu itu bangkrut?"


"Lho, kok Mami malah ngedoain perusahaanku bangkrut, sih?"


"Bukan ngedoain ... Mami cuma menasehati!"


"Tapi ada yang bilang, kalau ucapan itu adalah do'a, Mi, dan harusnya ... Mami bicara hal yang baik-baik saja. Nggak perlu menasehati hal seperti itu."


"Ya mangkanya, mulai besok kamu musti rajin masuk kantor lagi. Ya memang sih itu kantor hasil kerja kerasmu ... tapi 'kan Mami sebagai orang tua wajib menasehati kalau melihat anaknya melakukan hal yang salah."


"Iya, iya, aku minta maaf, Mi ... mulai besok aku usahakan untuk lebih rajin masuk kantor."


"Udah itu aja? Apa ada lagi?"


"Itu si Syifa gimana perkembangannya?"


"Perkembangan gimana maksudnya?" Kedua alis mata Joe bertaut. Dia tampak heran.


"Udah hamil belum? Nggak diKB, kan?"


"Memang nggak diKB kok, Mi. Rencananya besok Syifa minta dianterin ke dokter kandungan. Mami do'akan saja, ya, kalau dia positif."


"Amin ... tapi Mami boleh ikut 'kan, Joe?"


"Ya kalau Mami mau ikut boleh aja kok. Nanti besok sekitar jam ...." Ucapan Joe tiba-tiba terhenti, ketika ponselnya yang berada di dalam kantong celana berdering. Saat dilihat, ternyata Ustad Yunus menelepon. "Mi ... aku angkat telepon dulu bentar, ya?"


Joe sudah berdiri, Mami Yeri pun mengangguk. Lantas dirinya melangkah menjauh sedikit dan baru setelah itu mengangkat panggilan.


"Halo, assalamualaikum Pak Joe," ucap Ustad Yunus dari seberang sana.


"Walaikum salam, Tad. Ada apa, ya?"


"Pak ... tolong beritahukan Bu Yeri, untuk segera datang ke rumah Ustad Hamdan."


"Lho, memangnya ada apa, ya, Tad?"


"Pak Paul dan Ustad Hamdan berkelahi. Dan sopirnya Pak Paul pun menjadi korban ... dia dibawa ke rumah sakit sekarang, Pak, karena kepalanya bocor."


Joe sontak membulatkan matanya sembari beristigfar. "Astaghfirullahallazim ... kok bisa, Tad, mereka berdua berkelahi dan sopir Papi yang menjadi korban? Apa masalahnya?"

__ADS_1


"Sebaiknya Bapak dan Bu Yeri datang saja ke rumah Ustad Hamdan. Tapi saya sarankan kalian nanti jangan syok, ya?"


"Syok?" Joe terdiam sesaat, dan beberapa detik selanjutnya dia kembali bicara. "Syok kenapa, Tad? Ada apa memangnya?" Joe jadi penasaran.


"Ke rumah Ustad Hamdan saja langsung, Pak, nanti Bapak bisa melihatnya sendiri. Saya dan Pak RT akan menjelaskan kronologinya."


"Ya sudah, aku dan Mami akan segera ke sana. Assalamualaikum, Tad."


"Walaikum salam."


Setelah menutup panggilan, Joe langsung berlari menghampiri Mami Yeri.


"Mi ... ayok pergi ke rumah Abi Hamdan. Aku akan izin dulu ke Syifa, ya?"


"Ngapain ke rumah mertuamu, Joe?" Mami Yeri langsung menahan tangan anaknya, ketika Joe hendak berlari pergi.


"Ustad Yunus bilang Papi berkelahi sama Abi, dan sopirnya jadi korban." Joe menepis tangan Mami Yeri. Kemudian dirinya berlari menaiki anak tangga.


"Berkelahi? Kok bisa? Kenapa?" Mami tampak kaget, tapi dia juga bingung karena tak tahu menahu tentang penyebabnya.


*


"Yang ...."


Joe membuka pintu kamarnya, dan dilihat istrinya itu tengah menyisir rambutnya di depan cermin meja rias. Dan di atas kasur ada Robert yang sedang tertidur dan terlihat begitu lelap.


"Aku izin ke rumah Abi sama Mami, ya, Yang?" Joe mengatakannya bertepatan dengan Syifa yang baru saja menoleh kepadanya.


"Mau ngapain memangnya, A?"


"Aku tadi ditelepon Ustad Yunus. Dan dia mengatakan kalau Abi sama Papi berkelahi, Yang, dan sopirnya Papi jadi korban sampai kepalanya bocor dan dibawa ke rumah sakit," jelas Joe.


"Innalilahi ...." Syifa membelalakkan matanya. Sama halnya seperti Joe tadi, dia juga terlihat kaget. "Kok bisa, A? Dan aku ikut, ya?" Dia langsung berdiri dan berlari menghampiri Joe yang masih berdiri di ambang pintu.


"Nggak usah, Yang." Joe menggelengkan kepalanya. "Kamu di sini saja, temani Robert. Kasihan dia lagi tidur ... masa ditinggal?" Menolehkan kepalanya ke arah sang anak. Dan Syifa pun mengikutinya.


"Ya sudah deh, tapi Aa dan Mami hati-hati. Kalau ada hal yang penting apalagi tentang Abi ... tolong beritahukan aku secepatnya, ya!" pintanya dengan raut memohon sambil menggenggam tangan sang suami.


"Iya, Yang." Joe mengangguk, kemudian mengecup bibir Syifa sekilas. "Aku berangkat. Assalamualaikum ...."


"Walaikum salam, hati-hati, A," jawab Syifa seraya mencium punggung tangan sang suami.


****


Tibanya Joe dan Mami Yeri ke rumah Abi Hamdan, rumah itu terlihat begitu ramai sekali dengan pintu yang terbuka lebar.


Beberapa tetangga pun banyak yang berkerumun, seperti ikut menyaksikan. Bahkan hampir semuanya memegang ponsel dengan kamera yang standby.


"Kok rame banget, ya, Joe? Mami jadi takut." Mami Yeri turun dari mobil Joe sembari mengusap-usap lengan kanannya, sebab tiba-tiba saja dia merasakan bulu romanya berdiri tegak.


"Iya, Mi." Joe ikut turun dari mobilnya, kemudian merangkul bahu Mami Yeri untuk melangkah bersama ke arah teras rumah. "Assalamualaikum ... permisi Bapak, Ibu," ucap Joe.


"Walaikum salam." Hampir semua orang disana menjawab salam dari Joe dan langsung menolehkan kepala kepadanya.


"Eh Pak Joe, ayok beri jalan semuanya!" Pak RT yang muncul dari pintu langsung berteriak. Dan beberapa warganya itu cepat-cepat memberikan jalan untuk Joe dan Mami Yeri untuk lewat.


"ASTAGA PAPI ..!!"


Mami Yeri baru saja masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya itu seketika terhenti saat dirinya terkaget-kaget dengan mata membulat, lantaran melihat suaminya sedang duduk selonjoran bersama Abi Hamdan dengan tangan dan kaki yang diikat oleh tali rafia. Wajah keduanya pun tampak babak belur.


Namun, yang sangat membuatnya tercengang adalah—kepala kedua pria paruh baya itu sudah sama-sama botak.

__ADS_1


...Wih... Om Joe ada temen sesama botak nih🤣🤣...


__ADS_2