Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
149. Sebuah fitnah


__ADS_3

"APA?! KERACUNAN?!" Bu Hajah Dijah sontak berteriak kencang, lantaran begitu terkejut mendapatkan kabar itu. Sampai-sampai ponsel yang ada di tangannya terlepas hingga jatuh.


"Siapa yang keracunan, Ma?"


Suara sang istri cukup menelisik indera pendengaran Pak Haji Samsul, apalagi dia melihat ponselnya sampai jatuh.


"Fahmi, Pa, dia keracunan ... kita harus segera ke rumah sakit!" jawabnya sambil berteriak histeris.


"Astaghfirullahallazim!" Pak Haji Samsul sontak terbelalak. Gegas, dia memungut ponsel milik istrinya, kemudian menarik tangan Bu Hajah Dijah untuk ikut bersamanya pergi dari sana. "Kok bisa, Fahmi keracunan? Siapa yang tega meracuninya, Ma?"


Keduanya kini sudah masuk ke dalam mobil bersama. Pak Haji Samsul juga langsung menarik gas mobilnya sambil menelepon pihak polisi, bertanya tentang Fahmi dibawa ke rumah sakit mana.


"Mama nggak tau, Pa." Bu Hajah Dijah menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya itu tampak begitu cemas, jantungnya pun ikut berdegup kencang.


*


*


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai pada sebuah rumah sakit yang letaknya dekat dari kantor kepolisian.


Keduanya langsung berlari tergesa-gesa menuju ruang tindakan UGD, sebab sebelumnya pihak polisi memberitahukan jika Fahmi sudah dimasukkan ke dalam sana.


"Bagaimana ... bagaimana keadaan anakku ...?" tanya Pak Haji Samsul dengan panas yang tersenggal-senggal.


Dia dan istrinya baru saja menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan ruang UGD. Dan ada dua orang pria berpakaian polisi yang tengah berdiri di sana.


"Bagaimana bisa Fahmi keracunan, Pak? Apa Bapak yang sengaja meracuninya?" tanya Bu Hajah Dijah dengan tangis dan linangan air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.


Sungguh, hatinya bak teriris—mendengar kabar mengejutkan itu.


"Bapak dan Ibu duduk dulu, biar saya akan ceritakan kronologisnya. Saudara Fahmi juga sedang ditangani Dokter," ucap salah satu polisi yang memiliki kumis tebal.


Dia merangkul bahu Pak Haji Samsul, niat hati ingin mengajaknya duduk sambil mencoba menenangkannya. Tapi pria itu justru menepisnya secara kasar, lalu duduk sendiri dan diikuti oleh istrinya.


"Jadi, Pak, sudah dua hari ini Saudara Fahmi dan napi lain sering berantem. Bahkan ... kemarin dia baru saja dikeroyok oleh seluruh napi disana. Tapi untungnya ...." Pak Polisi menatap sebentar ke samping kanan, pada temannya yang sudah sama-sama duduk berdampingan dengannya. "Untungnya kami berdua sempat merelai semua itu, jadi Saudara Fahmi selamat."

__ADS_1


"Ya Allah ... tega sekali mereka semua, mengeroyok Fahmi," lirih Bu Hajah Dijah yang masih menangis, meskipun sudah ada tangan sang Suami yang mengelus-elus pundaknya.


"Kenapa Bapak nggak memberitahuku dari kemarin? Kenapa baru sekarang mengatakannya setelah Fahmi keracunan? Pasti mereka semua yang meracuni Fahmi, kan?" cecar Pak Haji Samsul dengan lantang dan emosi didada.


Dia dan istrinya sama-sama dilanda kepiluan, tapi Pak Haji Samsul yang lebih dominan emosi disini.


"Bapak tenang dulu. Saya belum selesai bicara," ucap Pak Polisi dengan gerakan tangan yang mengusap lembut pundak kiri Pak Haji Samsul. "Saat dikeroyok kemarin, Saudara Fahmi tidak mengalami luka-luka, Pak. Kami menolongnya tepat waktu. Jadi menurut kami ... pihak keluarga tak perlu tahu. Lagian, kasus seperti ini sudah sering terjadi di lapas. Terus kalau—"


"Terus alasan Fahmi keracunan apa? Siapa yang meracuninya?!" teriak Pak Haji Samsul marah dan terlihat sudah tidak sabar. Padahal Pak Polisi itu baru saja ingin cerita, tapi sudah dipotong olehnya.


"Kalau alasan yang jelasnya saya kurang tau, karena hal itu baru bisa kita ketahui dari dokter yang memeriksa. Tapi Saudara Fahmi keracunan setelah dia sarapan pagi ini, Pak," jelas Pak Polisi yang terlihat masih sabar.


"Sarapan apa? Pasti sarapannya nggak higienis, atau justru memang ada yang ...." Kalimat yang dilontarkan Pak Haji Samsul belum selesai, tapi ucapannya seketika terhenti ketika baru saja ada seorang dokter pria berkacamata membuka pintu ruang UGD dan keluar dari sana.


Ceklek~


"Bagaimana keadaan anakku, Dok?" tanya Bu Hajah Dijah cepat seraya berdiri.


Dokter itu melangkah mendekati keempat orang yang baru saja berdiri, kemudian menatap ke arah Bu Hajah Dijah. "Pak Fahmi keracunan makanan, Bu. Bubur yang dia konsumsi tercampur sebuah racun arsenik, itu racun yang sangat mematikan," jelasnya.


"Kok bisa, terus bagaimana kondisi Fahmi, Dok? Dia baik-baik saja, kan? Dia masih dapat ditolong, kan?" tanya Bu Hajah Dijah dengan suara bergetar. Untuk kesekian kali air matanya kembali jatuh membasahi pipi.


"Kondisinya kritis. Kami perlu memantau terus keadaannya, dan saya harap dari pihak keluarga ... untuk turut serta mendo'akannya," jawab Dokter itu.


"Coba jelaskan! Kenapa bubur yang Fahmi makan berisi racun!" teriak Pak Haji Samsul dengan penuh kemurkaan, menatap tajam kepada salah satu perwira polisi yang bahkan sudah dia cengkeram lehernya.


"Saya nggak tau, Pak." Pak Polisi menggelengkan kepalanya.


"Bagiamana bisa kamu nggak tau sedangkan kamu yang memberikan anakku makan! Aku tau itu!" hardiknya sambil melotot.


"Itu memang benar, Pak," sahut rekan Pak Polisi yang berusaha membantu temannya, dia menarik tangan Pak Haji Samsul. Sebab khawatir jika pria itu akan mencoba melakukan pencekikan. "Tapi semua orang makan bubur pagi ini, bukan hanya napi di sana. Dan buburnya adalah bubur yang sama seperti saudara Fahmi konsumsi. Jadi kami nggak tau penyebab bubur itu ada racunnya dan siapa pelaku yang mencoba meracuninya," tambahnya menjelaskan.


"Ya selidiki lah!" teriak Pak Haji Samsul membentak. "T*lol banget, sih, jadi polisi!"


"Kami akan menyelidikinya, Pak, Bapak tenang saja."

__ADS_1


"Tenang, tenang, bagaimana bisa aku tenang sedangkan nyawa anakku sekarang sedang dipertaruhkan, hah?" geramnya murka. Dada Pak Haji Samsul sangat bergemuruh, emosinya pun benar-benar sudah berada dipuncak tertinggi. "Pokoknya kalau sampai aku kehilangan Fahmi ... kupastikan jabatan kalian akan dicopot, dan seluruh napi di sana keracunan juga ... seperti apa yang sedang dialami anakku!" ancamnya, yang seolah berkuasa.


Sedangkan kedua polisi itu memilih untuk diam sambil menganggukkan kepalanya. Sebab kalau ditanggapi pun percuma, pria itu sedang berada ditahap overdosis emosi.


***


Di tempat lain


Pak RT langsung menghubungi dokter hewan kenalannya, untuk segera memeriksa keadaan beberapa hewan kurban di sana.


Dan hasil dari pemeriksaan seorang dokter perempuan tersebut—mereka semua dinyatakan mengalami keracunan yang berasal dari air minum yang dikonsumsi.


Sayangnya, beberapa hewan itu tak ada yang bisa diselamatkan. Meski hampir semuanya sudah disuntik oleh antibiotik serta mencegah racun.


"Kok bisa, kambingku keracunan? Bagaimana ini Pak RT? Bapak musti tanggung jawab!" Salah satu warga yang berkurban kambing tu tentu merasa tak terima, hewan kurbannya mati secara mengenaskan. Dan karena stres, dia hanya bisa menyalahkan Pak RT. Karena dia adalah menanggung jawabnya.


"Iya, bagaimana ini, Paaak ...?!" Seorang Ibu-ibu yang tengah mengendong anaknya berteriak sambil menangis histeris, tabungannya selama ini yang dia usahakan mati-matian untuk bisa berkurban seekor sapi—kini seakan sia-sia. Hatinya hancur sangat dalam.


"Pak RT harus tanggung jawab, Paaak! Aku nggak rela dombaku mati! Ini domba ternakku satu-satunya yang khusus untuk aku berkurban!!" teriak seorang Bapak-bapak yang sedang tersimpuh dengan tangisnya memeluk domba, hewan kurbannya.


Bukan hanya tiga orang saja di sana yang menyudut Pak RT, mencecarnya untuk bertanggung jawab. Tapi hampir semua warga yang menjadi korban, hewan kurbannya keracunan.


"Saya ikut prihatin, dengan semua yang terjadi. Tapi jujur saya nggak tau apa-apa di sini," jelas Pak RT dengan jujur. Dan sama seperti yang lain, dia juga ikut sakit hati sebenarnya, karena sapi kurbannya pun salah satu korban yang mati.


Padahal dia ingat sekali, saat dia dan tiga pria menjaga hewan kurban itu hendak melaksanakan sholat hari raya—semua hewan kurban terlihat baik-baik saja.


"Kok bisa nggak tau? Kan Bapak yang menjaga mereka semua!" tekan Bapak-bapak yang lain, sambil menunjuk wajah Pak RT dengan penuh kebencian.


"Tapi aneh nggak, sih, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kok hanya unta-untanya saja yang masih hidup?" Salah satu Bapak-bapak berujar demikian, sambil menatap beberapa unta-unta di sana. Entah mengapa, timbullah sebuah kecurigaan yang bersumber kepada Abi Hamdan. Mengingat—salah satu dari mereka ada yang tau, jika pria itu semalaman ikut begadang menjaga hewan kurban.


"Iya juga, ya?" Ibu-ibu berdaster menyahuti dan ikut menatap beberapa unta-unta yang terlihat alim. Semuanya berdiri dalam diam. "Jangan-jangan ini ada sangkut pautnya sama Ustad Hamdan? Atau mungkin dialah ... orang yang sengaja meracuni heran kurban yang lain? Supaya hanya hewan kurban keluarganya yang bisa dikurbankan?" tambahnya yang melontarkan sebuah fitnah.


Ucapannya itu, bertepatan sekali dengan kedatangan orang yang dia tuduhkan. Yakni Abi Hamdan, tapi dia datang bersama Joe.


...Jangan lupa vote sama hadiahnya, ya, Guys🙏🙂...

__ADS_1


__ADS_2