
"Terima kasih, ya, Mom ... udah beliin Robert biskuit dan susu kotak. Robert sayaaanngg ... banget sama Mommyyy ...."
Robert berjalan masuk ke dalam rumah sakit sambil bergelayut memeluk tubuh Syifa. Dia terlihat senang sekali membawa kantong kecil di tangannya.
"Sama-sama, Nak," jawab Syifa sambil tersenyum.
Keduanya baru saja pulang dari mini market. Sejak pagi, tidak biasanya Robert merengek meminta untuk pergi ke sana. Sampai-sampai sarapannya pun tak habis.
Hari ini keduanya juga tak masuk ke sekolah karena libur, jadi mereka bisa menghabiskan waktu yang lama untuk berada di rumah sakit menemani Abi Hamdan.
"Kira-kira ... Opa udah bangun belum ya, Mom? Robert kangen sama Opa. Mau ngobrol sama dia."
"Mudah-mudahan saja sudah, Nak. Mommy juga kangen sama Opa."
"Syifa!" Seseorang tiba-tiba saja datang memanggil, dan seketika membuat langkah kaki kedua manusia itu terhenti. Lantas menoleh ke arahnya.
"Pak Haji ...," ucap Syifa. Yang memanggilnya ternyata adalah Pak Haji Samsul. Namun, wajahnya terlihat berbeda seperti biasanya yang begitu songgong. Kali ini pria tua itu menampilkan wajah suram seperti tak ada gairah hidup.
"Kamu kok ada di rumah sakit, Fa, siapa yang sakit?" tanyanya yang terdengar basa-basi.
"Abi yang sakit, Pak."
"Ustad Hamdan?" Pria itu terlihat sedikit terkejut. "Kok bisa, sakit apa, Fa?"
"Sesak napas. Kalau begitu aku—"
"Si Fahmi juga masuk rumah sakit tau, Fa," potong Pak Haji Samsul cepat, ketika melihat Syifa hendak pergi sembari ditarik tangannya oleh Robert. "Fa ... boleh nggak, Bapak minta tolong padamu," tambahnya kemudian yang terdengar lembut.
"Tolong apa Pak Haji?"
'Opa ini siapa, ya? Kayaknya aku pernah ketemu deh ... tapi di mana kira-kira?' batin Robert yang sejak tadi memerhatikan wajah Pak Haji Samsul yang tampak tak asing dalam penglihatannya. Dan beberapa detik selanjutnya, dia pun langsung teringat siapa orang itu sebenarnya. Seketika saja bibirnya menjadi menggeriting. Jelas dia sangat tidak menyukai pria itu. 'Opa ini ternyata Papanya Om Fahmi yang songgong itu. Tapi mau apa dia sebenarnya ... sampai meminta tolong kepada Mommy? Nggak tau malu amat.'
"Tolong beritahukan suamimu, untuk mencabut tuntutannya. Bebaskan Fahmi dari penjara, Fa," pintanya dengan raut memohon.
"Kenapa suamiku harus mencabut tuntutan itu Pak Haji? Kak Fahmi berhak mendapatkan hukuman."
"Kok kamu bilang kayak gitu sih, Fa? Apa kamu lupa, ya, dulu 'kan kamu pernah ingin jadi istrinya Fahmi." Raut wajah Pak Haji Samsul tampak sendu.
__ADS_1
"Ingin jadi istri Kak Fahmi?" Syifa terlihat aneh mendengar kalimat yang dilontarkan pria itu. "Apa nggak salah? Aku nggak pernah mau jadi istrinya. Dan kupikir urusanku dengan Kak Fahmi sudah selesai, Pak."
"Fa! Tunggu!" Pak Haji Samsul langsung mencekal pergelangan tangan Syifa, ketika perempuan itu dan anaknya kembali hendak pergi meninggalkannya. "Fahmi semenjak masuk buih sering sekali sakit-sakitan. Waktu itu keracunan dan sekarang dia kurapan."
"Terus urusannya sama aku apa, Pak Haji? Kan nggak ada!" Syifa terlihat mulai emosi, juga langsung menepis tangan pria itu dengan kasar.
"Ya kamu musti kasihani dia dong, Fa. Suamimu juga jangan egois, namanya manusia itu harus saling memaafkan. Jadi biarkan Fahmi bebas dan menjalani hidupnya. Dia masih muda dan masa depannya masih panjang, masa dia menghabiskan masa mudanya dibuih?"
"Ya salah sendiri," cibir Syifa dengan masam. "Kenapa Kak Fahmi begitu usil sama suamiku? Dia enggak ada salah apa-apa malah difitnah! Dilaporkan ke polisi! Giliran dilaporin balik malah nggak terima! Pak Haji ini harusnya mikir dong ... introspeksi! Disini yang egois itu Pak Haji dan Kak Fahmi! Bukan suamiku!" tambahnya marah. Kemudian berjalan cepat pergi dari sana.
'Awas kamu, Fa! Selama Jojon nggak mau membebaskan Fahmi ... aku akan membuat hidupmu menderita!' batin Pak Haji Samsul dengan kesal. Kedua tangannya itu tampak mengepal kuat.
*
*
Ceklek~
Syifa perlahan membuka pintu kamar inap Abi Hamdan, kemudian masuk bersama dengan Robert.
"Assalamualaikum ...," ucap Syifa.
"Opa!!" bocah itu langsung menyeru ketika melihat Abi Hamdan duduk selonjoran di atas kasur, ditemani Umi Maryam yang duduk dikursi sambil menyuapinya semangkuk bubur.
Segera, dia pun berlari dan naik ke atas kasurnya.
"Alhamdulillah ... Abi udah bangun. Gimana keadaan Abi? Apa udah enakan?" Syifa melangkah maju sambil tersenyum, lalu mengelus pundak kanan Abi Hamdan dengan lembut.
"Udah enakan kayaknya, Fa. Cuma masih sedikit sesak." Yang menjawab Umi Maryam, karena dilihat suaminya itu sedang mengunyah. Selain itu bicaranya pun masih tersendat-sendat.
"Oh gitu. Dikit-dikit berarti ya, Umi. Nanti juga sembuh." Syifa mengangguk, lalu menarik tangan anaknya supaya turun dari pangkuan Abi Hamdan. Tapi bocah itu justru menggelengkan kepalanya. "Ayok turun, Nak! Kasihan Opamu, dia lagi makan."
"Robert kepengen duduk di sini, temeni Opa makan, Mom!" tolaknya.
"Tapi—"
"Eng-nggak apa-apa, Fa," potong Abi Hamdan pelan, dengan gelengan kecil.
__ADS_1
"Umi udah panggil Dokter belum? Buat periksa keadaan Abi?" Syifa menatap Umi Maryam.
"Udah kok tadi. Udah diperiksa juga sama Dokter. Dia bilang Abi hanya perlu istirahat saja, Fa."
***
Di tempat berbeda.
"Assalamualaikum Ustad ...." Seorang wanita berhijab melangkah masuk lewat gerbang masjid yang terbuka, menghampiri Ustad Yunus yang tengah mengepel pada keramik di depan teras masjid.
Pria yang memakai peci itu lantas menoleh, lalu menatapnya. Ternyata wanita itu adalah Zaenab, anaknya Bu Ningsih. "Walaikum salam," jawabnya.
"Aku tadi masak banyak, Tad. Dan ini buat Ustad makan siang. Mohon diterima ...." Zaenab melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya yang sejak tadi memegang rantang plastik.
"Terima kasih, Nab," ucap Ustad Yunus tapi tidak mengambil benda tersebut. "Tapi maaf ... saya sedang puasa."
"Puasa?"
"Iya." Ustad Yunus mengangguk.
"Kalau gitu buat Uminya Ustad saja."
"Tapi ini merepotkan enggak? Dan kok tumben banget rasanya ... kamu ngasih saya makan siang segala?" Ustad Yunus terlihat ragu untuk mengambil. Tapi Zaenab agak memaksa, sampai menarik tangannya untuk memegang rantang miliknya.
"Kan aku udah bilang tadi. Kalau aku masak banyak hari ini, Tad. Dan daripada mubazir... mending berbagi. Apa salah, ya?"
"Enggak sih." Ustad Yunus tersenyum canggung. Sejujurnya dia dan wanita itu tidak terlalu akrab, hanya tau nama dan wajahnya saja. Dan bisa dibilang—ini adalah momen mereka baru pertama kali mengobrol. Apalagi Zaenab memang sejak masih gadis hingga menjada—sering sekali bekerja di Arab dalam waktu yang cukup lama. "Terima kasih ya, Nab."
"Sama-sama." Zaenab tersenyum manis. "Oh ya, nanti malam Ustad ada acara nggak? Kan malam Minggu tuh."
"Kenapa memangnya, Nab?"
"Aku ingin mengajak Ustad pergi kondangan. Temanku ada yang nikahan malam ini, tapi kalau datang sendiri aku malu rasanya."
"Bukannya kamu punya banyak teman di sini, Nab? Kenapa nggak ajak salah satu temanmu saja?"
"Iya. Tapi aku maunya ngajak Ustad. Mau, ya, Tad?"
__ADS_1
...Cieee Ustad ada yang ngajak kondangan 🤭🤭...