
Atensi seluruh di kantor memusat kepada Joe yang baru saja masuk. Fokus mereka tidak lain pada kepala botaknya.
Namun, berbeda dengan kepala Robert yang masih terlihat licin. Kepala Joe sendiri sudah mulai ditumbuhi calon-calon rambut baru, hanya saja masih sedikit dan tidak terlalu ketara.
Mungkin itu efek dia rajin memakai vitamin rambut dari produknya sendiri.
"Itu Pak Bos kita, kan?"
"Iya, Pak Bos. Kok jadi biksu sekarang dia, ya? Bukannya udah jadi mualaf?"
"Lho, jadi biksu gimana maksudnya? Masa sih ... dia jadi biksu?"
"Ya itu botak begitu, biksu 'kan rata-rata kepalanya botak."
"Nggak semua orang botak itu jadi biksu tau!"
"Ya 'kan kataku juga rata-ratanya."
"Mungkin Pak Bos memiliki masalah rambut kali, mangkanya dibotakin."
"Punya masalah rambut atau penyakit? Jangan-jangan penyakit. Dia 'kan akhir-akhir jarang masuk."
"Iya, juga, ya?"
"Eh jangan sampai Pak Bos penyakitan dong ... kalau Pak Bos meninggal kita juga yang rugi."
"Iya, ya. Mana bisa kita nemu bos sebaik dia."
__ADS_1
"Iya. Aku juga nggak mau."
Hampir seluruh karyawan dari berbagai profesi di sana berbisik-bisik tentang Joe. Namun meski begitu, mereka semua masih menyapa dan tersenyum ramah kepadanya.
"Pagi Pak Bos!"
"Pak Bos ganteng... pagi!"
"Model rambut Pak Bos keren!"
"Pak Bos tambah ganteng aja nih!"
Joe hanya tersenyum dengan anggukan kecil mendengar sapaan dari mereka-mereka. Dia juga sadar sekali, sekarang menjadi pusat perhatian. Tapi dia mencoba untuk membiasakan diri.
Sebetulnya, memang hampir setiap datang ke kantor dia jadi pusat perhatian. Tentu itu semua karena rasa hormat karyawan kepada bosnya.
Hanya saja bedanya, sekarang tatapan mereka cenderung seperti melihat hal-hal yang aneh.
Imel menyapa sembari membungkukkan badan saat melihat Joe masuk ke dalam lift yang sama dengannya. Tidak lupa dengan memberikan senyuman manis di bibirnya.
"Pagi juga, Mel," jawab Joe.
"Bagaimana kabar Bapak? Bapak baik-baik saja, kan?" Imel memerhatikan kepala Joe sebentar.
"Iya. Aku baik." Joe mengangguk. "Oh ya, hari ini jadwalku apa saja, Mel?"
"Banyak, Pak. Tapi yang pertama Bapak harus mengecek beberapa video iklan produk rambut sebelum kita share ke media sosial. Juga beberapa foto handbody terbaru."
__ADS_1
"Oke. Langsung saja kirim ke laptopku dan kita ke ruanganku, ya?"
"Iya, Pak." Imel mengangguk.
Di tempat yang sama, Yumna baru saja masuk ke dalam kantor Joe. Seperti biasa, penampilannya selalu cantik. Hanya saja hari ini terlihat agak seksi lantaran roknya begitu mini dan ketat.
"Apa Kak Joe hari ini masuk ke kantor?" tanya Yumna yang tak pernah bosan, bertanya pada penjaga resepsionis untuk tahu Joe kerja atau tidak.
"Masuk, Nona. Dia baru saja naik ke lantai atas," jawab salah satu dari mereka.
"Benarkah?"
Mendengar itu, bola mata Yumna sontak berbinar bahagia. Cepat-cepat dia pun berlari menuju lift untuk naik ke lantai atas demi bisa menemui Joe.
Tok! Tok! Tok!
Tepat di depan pintu ruangan Joe, Yumna mengetuk-ngetuknya. Sambil sibuk membereskan rambutnya.
'Aku udah cantik, kan? Pokoknya hari ini aku harus bisa menggoda Kak Joe! Mumpung ada kesempatan!' batinnya bertekad dalam hati.
Ceklek~
Pintu itu perlahan dibuka oleh Imel, dan dengan tidak sopannya Yumna pun menerobos masuk tanpa permisi. Karena merasa sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengan pria yang idamannya.
"Kak Joe. Kakak ke mana sa ...." Ucapan Yumna seketika terhenti, bertepatan dengan pandangan matanya yang tertuju pada seorang pria berkepala botak yang sedang duduk di kursi kerja.
"Ya?" Joe langsung menyahut sambil menegakkan wajahnya. Tapi dia tampak heran, sebab melihat Yumna tiba-tiba ada di kantornya. "Kok kamu ada di kantorku, Yum?"
__ADS_1
"Kakak kok botak, sih? Kemana semua rambut Kakak?" Yumna terlihat kaget sekaligus bingung. Tapi jujur saja, dia sampai tak berkedip sama sekali saat melihatnya.
^^^Bersambung....^^^