
Joe menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Abi Hamdan, kemudian turun dari sana sambil membawa buket bunga dan dus loyang martabak.
"Assalamu'alaikum," ucapnya seraya melangkah masuk, sebab dilihat pintu rumah itu terbuka dan ternyata ada Umi Maryam yang duduk di sofa. Tapi wajah tampak seperti khawatir.
"Joe. Kamu baru pulang?" Wanita berhijab itu langsung berdiri, dan Joe segera mendekat lalu membungkukkan badannya untuk mencium punggung tangan Umi Maryam.
"Iya, Umi. Aku ada lembur di pabrik," jawab Joe sambil tersenyum. Kemudian menatap sekitar ruangan rumah itu yang terlihat sepi. "Yang lain ke mana Umi? Syifa dan Robert? Ini aku bawa martabak coklat keju untuk kita semua," tanyanya sambil menaruh dua paper bag di atas meja kaca.
"Itu dia, Joe. Umi juga bingung. Mereka mau pergi ke mana."
"Maksudnya gimana?" Joe tampak tak mengerti dengan ucapan dari sang mertua.
"Mereka bertiga pergi, tanpa pamit ke Umi. Dan sampai sekarang belum pulang," jelas Umi Maryam.
"Lho, dari jam berapa Umi?"
"Setengah enam kayaknya."
"Apa Umi sudah mencoba menelepon mereka?" tanya Joe yang sudah merogoh kantong celananya, hendak menghubungi Syifa.
"Hape Umi rusak, tapi Umi udah sempat minta tolong Ustad Yunus untuk menelepon Abi. Tapi nomornya nggak aktif."
"Nomornya Syifa juga nggak aktif, Umi." Joe menarik ponselnya yang sempat menempel pada pipi kanan. Sebab dia mendengar suara operator dari seberang sana.
"Syifa nggak bawa hape, Joe. Tadi Umi sempat melihat ada di kamarnya."
"Mereka perginya naik apa?"
"Motornya Abi."
"Ya sudah, aku pamit cari mereka dulu Umi. Barang kali mereka nggak jauh dari sini. Assalamu'alaikum." Joe langsung mencium punggung tangan Umi Maryam lagi, kemudian pamit dengan buru-buru keluar dari rumah.
"Walaikum salam. Hati-hati, Joe!" seru Umi Maryam yang melihat menantunya masuk ke dalam mobil dari arah pintu depan. Kemudian mengelus dadanya yang sejak tadi masih tidak tenang. 'Mereka bertiga itu kenapa sih, kok pergi bertiga tanpa pamit. Mana belum pada makan malam lagi,' batinnya.
__ADS_1
***
"Aa!" panggil Syifa saat pintu ruangan Joe dibukakan oleh Robert, dan kebetulan memang tidak dikunci.
Ceklek~
Namun, sayangnya tidak ada Joe di dalam sana dan tidak ada siapa pun.
"Aa." Syifa tak menyerah. Dia pun melangkah masuk lebih dulu, kemudian mendekat ke arah dua pintu yang masing-masing berada di pojok ruangan.
Satu persatu dibuka. Satunya kamar mandi dan satunya persis seperti sebuah kamar. Ada kasur, lemari, sofa, meja dan televisi.
Perempuan itu sontak dibuat terkejut, melihat ruangan itu. Meskipun tak ada Joe di sana, pikiran negatifnya pun masih tetap ada.
"Sepertinya Daddy memang benar-benar sudah pulang, Mom," ucap Robert yang melangkah mendekati Syifa. Sedangkan Abi Hamdan sendiri sudah berbaring di atas sofa yang berada di ruangan Joe.
Sofa hitam berukuran besar itu terlihat menarik perhatiannya, sebab tampak begitu empuk serta mahal. Dan saat sudah berbaring—ternyata memang benar sangat empuk dan terasa sangat nyaman.
'Udah ruangannya mewah, sofanya empuk banget lagi. Pantes Jojon betah kerja di sini, orang fasilitasnya enak begini,' batin Abi Hamdan dan tiba-tiba saja dia menguap, kemudian langsung memejamkan mata.
"Ini tempat untuk istirahat, Mom. Robert dulu sama Daddy sering tidur di sini. Bahkan kami pun pernah menginap," jelas Robert jujur.
"Benarkah?"
"Iya." Robert mengangguk.
"Apa pernah ada perempuan yang masuk ke dalam kamar ini?" Syifa melangkah berat masuk ke dalam kamar itu, lalu duduk di atas kasur dengan tubuh bergetar.
"Setau Robert sih nggak, soalnya ini kamar pribadi. Tapi aneh juga, sih, biasanya dikunci, Mom. Tapi ini mah nggak."
"Se-serius, kamu, Rob?" Syifa tercengang mendengar jawaban dari anaknya. Jantungnya kembali berdebar kencang. 'Apa jangan-jangan tadi Aa dan sekertarisnya telah menghabiskan waktu di sini? Sebelum aku, Robert dan Abi datang? Berarti tandanya aku terlambat dong?' keluhnya membatin dengan sedih.
Syifa lantas berdiri, manik matanya pun langsung berkeliling menatap sekitar kamar itu. Entah mencari apa.
__ADS_1
"Mommy cari apa?" tanya Robert penasaran.
"Tempat sampah di sini mana, Nak?"
"Itu, Mi, di dekat lemari," tunjuk Robert ke arah yang dimaksud. Dan perempuan itu langsung menuju ke sana, kemudian berjongkok untuk melihat isi di dalam tempat sampah.
Barang kali, Syifa dapat menemukan tissu atau bekas k*ndom, sebab itu akan menjadi bukti jika benar Joe dan sekertarisnya sudah bermain api.
'Ya Allah, semoga saja aku nggak menemukan apa yang aku curigai. Aku nggak mau Aa selingkuh. Pernikahan kita bahkan baru seumur jagung,' batin Syifa dan tak kuasa dia pun langsung menangis.
"Mommy cari apa? Itu kotor, Mi," tegur Robert yang berlari mendekati Syifa, lalu menarik tangan sang Mommy yang masuk ke dalam tempat sampah itu.
"Mommy nggak menemukan apa-apa, Rob. Hanya sobekan kertas saja." Syifa terlihat menghela napas, meskipun sejujurnya dia tak sepenuhnya lega lantaran belum berhasil menemukan Joe.
"Memangnya Mommy cari apa, sih? Dan ada apa dengan Mommy? Kenapa Mommy terus mengatakan Daddy selingkuh? Sampai menangis segala?" Robert benar-benar sangat bingung, apalagi ditambah sikap Syifa yang seperti orang was-was. Dia jadi takut, jika perempuan itu kenapa-kenapa.
Kedua tangan kecilnya itu perlahan terangkat, lalu mengusap kedua pipi Syifa dan mencium pipi kanannya.
"Mommy nggak apa-apa kok, Sayang." Syifa langsung memeluk tubuh Robert, lalu mencium puncak rambutnya. "Tapi kenapa Daddy nggak ada, Rob? Ke mana dia? Padahal tadi sore dia mengatakan lembur bersama sekertarisnya karena ingin mengecek produk di pabrik. Terus pulangnya jam 7, Nak," tambahnya yang kembali menangis. Dia terlihat seperti orang yang sudah putus asa.
Robert mendongakkan wajahnya, menatap ke arah jam dingin berukuran bulat yang menempel di sana. Keningnya seketika mengernyit, sebab di sana sudah pukul 8 lewat. "Lho, Mom, tapi ini sudah jam 8 lewat. Dan ini juga kantor, bukan pabrik. Jadi beda tempat."
Syifa merelai pelukan, kemudian menangkup kedua pipi Robert. "Jadi maksudnya, kita salah alamat? Bukan di sini Daddy lembur?"
Robert mengangguk. "Iya, Mom. Sebaiknya kita langsung pergi dari sini. Tapi menurut Robert sih ... Daddy memang sudah pulang."
"Kita ke pabrik dulu saja, untuk mengeceknya. Perasaan Mommy belum lega kalau belum ke sana, Nak," pinta Syifa lemah.
"Ya sudah, ayok, Robert akan menunjukkan di mana pabrik Daddy, Mom." Robert langsung menarik tangan Syifa, dan membawanya berlari keluar dari ruangan itu.
Mereka buru-buru masuk ke dalam lift untuk turun, sampai melupakan Abi Hamdan yang tertinggal di dalam ruangan Joe. Pria tua itu juga ketiduran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...Kasihan, ya 🤣 ujung-ujungnya dikerjain Authornya 😆...