
"Nggak bisa, Bu, kalau nggak ada kamera," jawab Bu Nining.
"Oh gitu, berarti musti beli hape baru, ya?"
"Memangnya hape Bu Maryam merek apa? Terus kayak gimana?" tanya Bu Sulis penasaran.
"Mereknya aku sendiri lupa. Sebentar ... aku ambil hape dulu untuk menunjukkannya, ya, ibu-ibu." Umi Maryam melangkah masuk ke dalam rumah, kemudian menuju kamarnya untuk mengambil ponsel.
Dan tak berselang lama kembali keluar untuk menemui ibu-ibu yang masih sibuk menggosipi Fahmi.
"Ini hapeku, Bu, kayak begini." Umi Maryam menunjukkan hape jadul miliknya kepada Bu Sulis. Modelnya pun masih menggunakan tombol dan tak ada kamera.
"Ini sih hape jadul, Bu," sahut Bu Sulis seraya mengambil ponsel itu, kemudian membolak-balikkannya. "Modelnya juga udah lama banget. Kayaknya nggak bisa deh, buat face*bokkan," tambahnya.
"Coba lihat." Bu Nining mengambil benda tersebut sebab merasa penasaran, lalu memencet tombolnya. Tapi sayangnya ponsel itu tidak menyala. "Lho, ini lowbet apa gimana Bu Maryam?"
"Masa sih, lowbet? Orang habis dicas semalam." Umi Maryam menekan tombol untuk menghidupkan ponselnya, tapi tetap tak menyala.
"Rusak kali, Bu." Bu Dora menyahut.
"Beli aja yang baru, Bu," usul Bu Ningsih. "Yang canggih ... biar bisa buat face*bokkan."
"Iya, deh." Umi Maryam mengangguk. Dia pun menaruh benda itu di atas meja, kemudian melanjutkan untuk membungkus nasi uduk pesanan selanjutnya.
"Minta saja ke menantu Ibu. Kayaknya dia orang kaya," saran Bu Nining.
"Nggak deh, Bu," tolak Umi Maryam sambil menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau merepotkan menantu. Lagian Abinya Syifa juga pasti bisa beliin kok."
"Apa jangan-jangan si Jojon pelit ya, Bu?" tebak Bu Sulis. Rupanya obrolan ibu-ibu itu belum selesai juga dan kini membahas ke arah lain.
"Enggak. Alhamdulillah Joe orangnya royal banget, Bu. Baik juga," jawab Umi Maryam.
__ADS_1
"Eh iya, dengar-dengar dari Pak RT ... si Jojon juga mau kurban unta, ya?" kata Bu Nining yang ikut berlanjut.
"Masa sih?" Bu Dora membulatkan matanya. Dia terkejut lantaran kaget. Wajar saja, sebab selama ini belum ada yang berkurban unta di kompleknya.
"Iya lho," sahut Bu Nining. "Aku jadi nggak sabar deh ibu-ibu, mau makan daging kurban unta. Kayak gimana, ya, rasanya daging unta?"
"Enak tau, Bu, cuma agak alot aja," sahut Bu Dora.
"Tau dari mana Bu Dora? Kapan memangnya makan daging unta?" tanya Ibu-ibu yang lain.
"Aku 'kan dulu kerja di Saudi. Jadi pernah mencobanya," jawab Bu Dora.
"Beruntung banget, ya, Bu Maryam dan Ustad Hamdan punya menantu seperti Jojon," puji Bu Ningsih. "Ngomong-ngomong ... kerjanya apaan, sih, dia, Bu? Kok keren dan rapih banget?"
"Pasti kantoran sih, Bu." Bukan Umi Maryam yang menjawab, tapi justru Bu Nining yang menyerobotnya. "Bos kayaknya sih."
"Ih mandor," sahut Bu Dora. "Ustad Hamdan pernah cerita sama suamiku soalnya."
"Kenapa memangnya, Bu?" tanya Umi Maryam bingung. Dia telah selesai membungkuskan nasi uduk pesanan Bu Ningsih, Bu Nining serta Bu Sulis. Tapi nyatanya mereka belum pulang, sebab masih senang bergosip.
"Zaman sekarang 'kan musim banget pelakor. Takutnya nanti Jojon diambil orang."
Jawaban dari Bu Yeyen bertepatan dengan Syifa yang keluar rumah, kemudian menghampiri. Niatnya ingin membantu Umi Maryam, sebab pembelinya makin banyak.
"Tuh Syifa, Bu, kebetulan. Bilang saja langsung," kata Bu Sulis memberitahu Bu Yeyen.
"Hati-hati, Fa, zaman sekarang banyak pelakor," ujar Bu Yeyen memberitahu, sambil menatap Syifa yang memasukkan beberapa bungkus nasi uduk ke dalam plastik putih.
"Dari dulu pelakor mah sudah ada, Bu, nggak pakai musim-musiman," sahut Umi Maryam.
"Iya, sih, tapi sekarang kayaknya lebih ganas aja gitu pelakornya. Mana kebanyakan masih bocil-bocil."
__ADS_1
"Iya lho. Terus zaman sekarang juga suami kayaknya banyak yang nggak setia." Bu Nining ikut menyahuti.
"Si Jojon 'kan ganteng, keren dan banyak uang. Rawan banget itu, Fa, direbut pelakor." Bu Dora menyahuti.
"Insya Allah ... suamiku orangnya setia, Bu. Dia nggak mungkin direbut pelakor," jawab Syifa sambil tersenyum dan bersikap tenang. Padahal di dalam hati dia menjadi was-was sendiri.
"Tapi kalau sering digodain mulu mah ... lama-lama bisa luluh tau, Fa," kata Bu Dora. "Apalagi Jojon kerja dan pasti banyak perempuan-perempuan diluar sana."
"Sering-sering juga cek hapenya, Fa," timpal Bu Yeyen.
"Kenapa memangnya, Bu?"
"Lho, kamu memangnya nggak lihat berita artis? Yang selingkuh ketahuannya dari hape. Dari isi chatnya."
"Orang aplikasi go*jek aja ternyata bisa buat chatan lho, bisa buat selingkuh," kata Bu Nining menimpali. "Ibu-ibu tau 'kan gosip terbaru dari artis? Yang sama-sama udah punya pasangan tapi selingkuh?"
"Iya, yang ceweknya punya anak kembar itu, kan?" tebak Bu Dora. "Tapi bukannya suaminya juga ganteng, ya? Kurang apa coba?"
"Tapi, Bu. Bukannya hape sama isi chat itu privasi seseorang, ya?" Awalnya Syifa tak terlalu menanggapi, tapi lama-lama dia jadi ikut memikirkannya juga. Dia sendiri termasuk aktif pada media sosial, dan sempat membaca beberapa deretan berita artis terupdate. "Memangnya nggak apa-apa, kalau kita melihat privasi suami, Bu? Apa nggak dosa?" tambah Syifa bingung.
"Jangan, Fa, nggak boleh," larang Umi Maryam sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Fa. Sesekali mah," kata Bu Yeyen.
"Nggak boleh tau, Bu, dosa," sahut Umi Maryam.
"Boleh, Bu." Bu Yeyen terlihat kekeh. "Ya kalau nggak kayak gitu ... gimana kita tau aktivitas suami kita? Bisa saja dia banyak rahasia di hapenya."
"Benar kata Bu Yeyen, Fa." Bu Sulis ikut-ikutan. "Adiknya Ibu saja di kampung suaminya selingkuh dan ketahuan dari hape. Mangkanya kamu sering mengeceknya, siapa tau suamimu punya rahasia."
'Rahasia? Apa Aa Joe juga punya rahasia di dalam hapenya?' batin Syifa bertanya-tanya, jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.
__ADS_1
......Ga bakal ada sih kayaknya, Om Joe 'kan pria setia, Fa ðŸ¤......