
Teettt ... Teeett ... Teett.
Robert dan teman-teman sekelasnya berlarian keluar dari kelas, karena waktu pelajaran telah usai serta diikuti dengan suara bel yang terdengar begitu lantang.
"Daddy!"
Di depan halaman sekolah, Robert tampak membinarkan kedua bola matanya lantaran melihat Joe datang menjemput.
Dia pun langsung menghamburkan pelukan, karena sangking senangnya. Sebab jarang sekali rasanya, pria itu datang menjemputnya untuk pulang.
"Daddy kok tumben jemput Robert? Ada angin apa nih?" tanyanya dengan wajah yang sudah mendongak untuk menatap Joe.
"Nggak ada angin apa-apa. Cuma hari ini Daddy memang nggak terlalu sibuk, Sayang. Jadi bisa pulang siang." Joe langsung mengangkat tubuh anaknya untuk dia gendong, lalu mencium keningnya. "Oh ya, Mommy ke mana? Apa dia belum keluar?" tanyanya sembari memerhatikan beberapa anak murid serta sebagian guru yang berhamburan keluar.
"Kayaknya belum, Dad. Tunggu saja."
"Robert! Om Joe!" Juna tiba-tiba berlari menghampiri mereka dengan tangan yang memegang sebuah tas bahu. Dilihat dari warna dan modelnya, itu seperti tas milik Syifa.
"Iya, Jun?" Robert langsung menatap ke arah temannya.
"Tadi aku ketemu Pak Bambang, terus dia titipin tasnya Bu Syifa padaku." Juna mengulurkan tangannya ke arah Joe yang masih menggendong Robert. "Dan meminta untuk memberikan kepadamu atau Daddymu, Rob," tambahnya kemudian.
"Lho, memangnya ... Bu Syifanya ke mana, Jun?" tanya Joe heran, kemudian mengambil tas tersebut. "Kok bisa, tasnya ada sama Pak Bambang?"
"Kata Pak Bambang ... Bu Syifa udah pulang duluan pas jam 11, Om."
"Pulang duluan?" Kening Joe seketika mengerenyit. "Kok bisa, dia pulang duluan?" Cepat-cepat dia merogoh kantong celananya, lalu mencoba menelepon Syifa. Namun sayangnya, ponsel yang dia hubungi justru berdering di dalam tas. Yang berarti Syifa tak membawa ponsel.
"Juna nggak tau, Om. Juna pamit pulang duluan, ya! Soalnya Opa udah jemput. Assalamualaikum!" serunya kemudian berlalu pergi.
"Walaikum salam!" Hanya Robert saja yang menjawab, sedangkan Joe sendiri sibuk dengan ponselnya dan ponsel Syifa yang baru saja dia ambil ke dalam tas. "Coba kita tunggu Pak Bambang keluar saja, Dad. Soalnya sekitar jam 11 ... Mommy memang keluar dari kelas, karena ada yang bilang kalau ada dua orang yang mencarinya di ruang guru," saran Robert.
"Mencari? Siapa, Rob?" tanya Joe penasaran.
"Robert nggak tau." Robert menggelengkan kepalanya. "Mangkanya kita tanya Pak Bambang dulu, Dad. Tunggu dia keluar."
Sekitar setengah jam menunggu, sampai lingkungan sekolah itu sepi, barulah Joe dan Robert melihat Pak Bambang melangkah keluar dari gedung tersebut kemudian menuju parkiran.
Memang, pria berkumis tebal selalu pulang paling belakang, karena dia sering memantau beberapa kelas-kelas terlebih dahulu. Untuk memastikan jika seluruh anak muridnya sudah benar-benar pulang semua.
"Pak Bambang!" panggil Joe yang berlari bersama Robert. Pak Bambang yang hendak masuk ke dalam mobilnya seketika urung terjadi, dia pun langsung berbalik badan dan menatap mereka.
__ADS_1
"Iya, Pak?"
"Kata si Juna ... Syifa sudah pulang duluan pas jam 11. Apa itu benar, Pak?" tanyanya penasaran.
Pak Bambang mengangguk. "Benar, Pak. Kebetulan tadi Bu Yeri yang meminta izin sama saya."
"Bu Yeri?" Kedua alis mata Joe bertaut. "Bu Yeri Omanya Robert, Pak?"
"Iya, Pak." Pak Bambang kembali mengangguk. "Bu Yeri datang bersama Pak Paul, terus dia datang ke ruangan saya untuk meminta izin supaya bisa membawa Syifa pulang lebih awal."
"Apa dia memberikan alasannya, Pak? Kenapa meminta Syifa untuk pulang lebih awal?"
"Enggak, Pak." Pak Bambang menggeleng.
"Ya sudah, terima kasih ya, Pak."
"Sama-sama."
"Hati-hati pulangnya Pak Bambang, jangan ngebut!" Robert langsung mencium punggung tangan kepada sekolahnya, dan pria berkumis tebal itu langsung mengelus kepala botak Robert.
"Iya, Nak. Kamu juga, ya?"
Setelah itu, Pak Bambang masuk ke dalam mobilnya, kemudian berlalu pergi dari sana.
Tuuuttt ... Tuuuttt ... Tuuttt.
Panggilan itu tersambung sejak tadi, tapi sayangnya tidak diangkat-angkat.
Joe pun beralih, untuk menelepon Papi Paul. Tapi sayangnya, nomor pria itu justru tidak aktif.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon periksa ...." Suara operator terdengar dan Joe yang tampak kesal langsung mematikannya.
"Ish! Kenapa nggak diangkat dan nggak aktif, sih?!"
"Dad ... mending kita langsung pulang saja ke rumah. Pasti Mommy sudah ada di rumah," saran Robert.
Berbeda dengan Joe yang tampak emosi bercampur gelisah, Robert justru lebih santai di sini. Karena menurutnya, Syifa pasti akan baik-baik saja sebab yang membawanya pergi adalah Opa dan Omanya, bukan penculik.
"Ya sudah, ayok kita pulang." Joe menghela napas dengan berat, kemudian berlari menuju mobil sambil menarik tangan anaknya.
Mereka pun menaiki mobil dan berlalu dari sana.
__ADS_1
*
*
*
Sekitar 30 menitan, mereka pun akhirnya sampai pada kediamannya. Namun, tidak ada mobil Papi Paul di sana, dan seketika membuat Joe terheran-heran.
"Apa Syifa sudah pulang, Pak?" Joe menurunkan kaca mobilnya, lalu bertanya pada satpam penjaga rumahnya.
"Belum, Pak Joe." Pria berseragam hitam itu menggelengkan kepalanya.
"Kalau Papi dan Mami ada nggak di dalam?"
"Nggak ada, Pak." Pria itu kembali menggeleng. "Dari pagi Pak Paul dan Bu Yeri keluar, Pak. Dan belum ke sini lagi."
"Gimana ini, Rob, Mommy nggak ada di rumah ternyata?" tanya Joe kepada anaknya, sekaligus meminta pendapat darinya.
"Sebentar ... Robert mau cek jam tangan dulu." Dia pun segera mengutak-atik jam tangan canggihnya, untuk mencari tahu dimana Syifa berada. Karena pasti dia bisa tau dari sana. "Kayaknya ... Mommy melepaskan cincin deh, Dad."
"Cincin darimu itu?"
"Iya." Robert mengangguk. "Soalnya, dilihat dari GPS ... cincin itu letaknya ada di sini. Sedangkan Mommy katanya belum pulang." Robert memperlihatkan titik lokasi pada jamnya kepada Joe, supaya dia mengerti dengan apa yang Robert maksud.
"Sebentar ... Daddy cek dulu ke dalam rumah. Kamu tunggu di sini dulu, ya?"
"Oke." Kepala Robert mengangguk-angguk.
Joe pun turun dari mobil, kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya.
Meskipun satpam sudah mengatakan jika Syifa belum pulang, namun rasanya belum afdol jika dia belum melihatnya secara langsung.
Sekitar 5 menit, Joe pun kembali dengan raut kecewa. Lantas masuk lagi ke dalam mobilnya.
"Bagaimana, Dad?" tanya Robert penasaran.
"Nggak ada. Mommy kayaknya memang belum pulang."
"Ya sudah, ke rumah Opa dan Oma saja. Pasti Mommy dibawa ke sana, Dad," saran Robert.
Joe mengangguk. "Iya. Kita langsung ke sana," ujarnya lalu menyalakan kembali mesin mobilnya dan berlalu dari rumahnya.
__ADS_1
"Mami dan Papi memang ngeselin! Kenapa juga membawa Syifa dijam sekolah, ditambah nggak izin dulu lagi sama aku!" Joe tampak emosi, lantaran kesal pada keadaan.
...Hari Senin nih, Guys, seperti biasa... Jangan lupa vote sama giftnya, ya, biar semangat ๐...