
Setengah jam kemudian, Ustad Yunus pun akhirnya sampai pada kediamannya.
Setelah mengucapkan salam dan mencium tangan, dia pun langsung mengambil buket bunga yang Umi Mae berikan. Kemudian mendudukkan bokongnya di sofa, di samping sang Umi.
"Kamu cari apa, Nus?" tanya Umi Mae heran, saat melihat sang anak sibuk merogoh ke dalam buket bunga. Seperti mencari-cari sesuatu.
"Kartu ucapan, Umi. Biasanya ada. Dan apakah sebelumnya ... kurir yang mengantar ngomong dulu ini bunga dari siapa, ke Umi?" tanyanya penasaran.
"Enggak." Umi Mae menggeleng. "Dia cuma bilang bunga itu untukmu."
"Akhirnya ketemu!" Ustad Yunus tampak senang, karena akhirnya bisa menemukan kartu ucapan di dalam sana. Dan saat membuka kertas yang terlipat itu—dia justru langsung mengerutkan kening. Merasa aneh dengan isi tulisan di dalamnya.
[From: Dek Yumna.
Maaf ... kalau tadi aku nggak sempat mengucapkan kata terima kasih karena Mas Boy sudah menemukan dompetku. Tapi anggap saja dengan bunga ini ... adalah bentuk aku mengucap terima kasih. Semoga Mas Boy suka, ya, dan mohon diterima bunganya karena aku akan sangat sedih ... jika Mas Boy nggak menerimanya.]
'Dari Dek Yumna katanya? Masa sih? Dan kok dia panggil aku Mas Boy? Aneh banget,' gumam Ustad Yunus heran.
Selain itu, kata perkata yang tertulis terlihat begitu sopan dan lembut sekali. Sangat berbeda jauh dengan karakter Yumna yang setiap kali mereka ketemu.
"Dari siapa, Nak? Apa ada nama pengirimnya?" tanya Umi Mae penasaran, lalu ikut membaca kartu ucapan itu dalam hati. "Lho ... Dek Yumna itu siapa? Apa pacar kamu juga?"
"Diiihh Umi ... mana mungkin sih aku pacaran." Ustad Yunus menggelengkan kepalanya sembari menatap Umi Mae.
"Oh maaf. Terus siapa dong? Apa dia perempuan yang juga suka sama kamu? Tapi kamu 'kan udah sama Naya, Nak."
"Yumna ini anaknya Om Yohan. Mami tau Om Yohan, kan?" Ustad Yunus pernah bercerita tentang Papi Yohan, meskipun Umi Mae sendiri belum pernah bertemu dengannya secara langsung.
"Yang calon mualaf itu?"
"Iya." Ustad Yunus mengangguk.
"Jadi anaknya Om Yohan ini mau ikut jadi mualaf juga, Nus?" tebaknya.
"Enggak, Umi." Ustad Yunus menggeleng. "Dia memang tadi pagi sempat ketemu sama aku, tapi hanya untuk mengambil dompet. Kebetulan dompetnya jatuh di mall dan kemarin aku yang menemukannya."
__ADS_1
"Oohhh ...." Umi Mae manggut-manggut. "Tapi ... kamu kemarin ke mall mau ngapain? Tumben?" Memang jarang, bahkan hampir tidak pernah Ustad Yunus pergi ke mall menurutnya. Maka dari itu dia bertanya demikian.
"Aku antar Naya beli kado buat temennya, Umi."
"Jadi kemarin kamu sempat jalan sama Naya? Tapi kok kenapa nggak dibawa ke sini, buat dikenalkan sama Umi, Nus? Umi 'kan juga mau kenalan sama calon menantumu." Umi Mae merengut kesal.
"Nanti saja dikenalkannya, pas aku datang melamarnya, Umi."
"Kapan itu? Jadi nanti Umi akan diajak ... pas kamu melamar Naya?" Bola mata Umi Mae terlihat berbinar, dia juga sangat antusias sekali.
"Insya Allah habis tahun baru, Umi," sahut Ustad Yunus. "Naya sih bilang ... sekarang dia ingin bicara dulu sama orang tuanya. Kalau aku dan dia sedang ta'arufan, sekalian memberitahu kalau aku akan datang melamar. Nanti kalau mereka setuju ... kita langsung datang untuk melamar Naya."
Umi Mae langsung mengusap pundak sang anak sambil tersenyum hangat. "Syukurlah kalau begitu. Do'a Umi akan selalu menyertaimu, dan Umi yakin ... Naya adalah perempuan yang tepat untukmu. Karena kamu pasti jauh lebih tau, mana orang yang cocok untukmu ketimbang Umi."
"Iya, terima kasih atas supportnya Umi. Aku harap Umi juga akan menyukai Naya, karena dia perempuan yang manis dan baik."
"Tentu saja." Umi Mae mengangguk. "Kalau kamu saja suka dengannya, masa Umi nggak? Tapi kalau memang kamu sudah mantap dengan pilihanmu sekarang, sebaiknya kamu jaga jarak dengan perempuan lain, ya, karena Umi nggak mau nantinya Naya sakit hati."
"Pasti, Umi." Ustad Yunus mengangguk, kemudian memeluk tubuh Uminya sebentar.
"Iya, Umi, nggak apa-apa. Asal jangan dibuang saja. Nggak enak. Kalau begitu aku ke kamar dulu, mau istirahat. Umi juga harus istirahat, jangan begadang. Karena itu tak ada gunanya."
"Iya, kayak lirik lagu aja." Umi Mae terkekeh, lalu menatap punggung sang anak yang tak lama kemudian menghilang dibalik pintu kamar.
Ustad Yunus pun mengganti pakaian, dengan kolor dan kaos polos. Setelah mencuci muka, gosok gigi dan bersih-bersih di kamar mandi, barulah dia merebahkan tubuhnya di atas kasur karena kebetulan dia juga sudah sholat isya di masjid.
"Bismika ...." Baru saja Ustad Yunus hendak membaca do'a ingin tidur sembari mulai memejamkan mata, tapi tiba-tiba ponselnya berdering bunyi notifikasi chat masuk.
Karena takut ada sesuatu yang penting, segera dia menyambar benda pipihnya yang sempat diletakkan di atas nakas. Dan saat membuka, ternyata ada chat masuk dari nomor baru.
Dilihat dari foto profilnya, Ustad Yunus sudah mengenali jika itu adalah Yumna. Tapi sepertinya aneh. Mau apa dia chat segala? Padahal selama ini dia dan perempuan itu tak pernah kontekan.
[Selamat malam. Maaf aku menganggu. Aku cuma ingin tanya ... apakah bunga dariku sudah sampai? Mas Boy menerimanya, kan?]
"Ini beneran Yumna bukan, sih? Tapi kok aku masih merasa aneh, ya?" Ustad Yunus terheran-heran, tapi dia langsung membalas isi chat itu.
__ADS_1
[Sudah sampai. Terima kasih, ya.]
[Sama-sama. Selamat tidur, Mas Boy.] Yumna membalas lagi.
[Selamat tidur juga.]
***
Sementara itu di kediaman orang tua Naya, dia dan kedua orang tuanya tengah menyantap makan malam yang akan segera usai di rumah makan.
Setelah melihat sang Ayah menghabiskan satu suap nasinua yang terakhir, barulah Naya bicara.
"Setelah makan ... aku mau ngobrol sama Ayah dan Bunda, tentang hal yang serius."
Ayah Cakra—Ayahnya Naya, lantas menoleh. Sebelah alis matanya pun lalu terangkat. "Apa ini mengenai kuliahmu?"
"Bukan, Yah." Naya menggeleng.
"Kita bicara di ruang keluarga saja habis ini, Nay," ucap Bunda Noni—Bundanya Naya, yang duduk di sebelah kanan Naya.
"Iya, Bun."
*
Seusai makan, mereka bertiga pun kini berada di ruang keluarga. Kedua orang tua Naya duduk di sofa panjang, sedangkan dia duduk di sofa kecil.
"Ayok bicara sekarang, Nay," titah Bunda Noni yang terlihat sudah penasaran. Sedangkan Naya sendiri sejak tadi sedang menyiapkan apa yang akan dia katakan, sembari menetralkan detak jantungnya yang berdebar begitu kencang.
"Eeemm ... begini, Bun ... Yah. Kalau misalkan ada seorang laki-laki datang untuk melamarku, apa kalian setuju ... dan mengizinkannya?" tanya Naya, dan seketika saja membuat mata kedua orang tuanya itu membulat sempurna. Tampaknya mereka terkejut.
"Melamar?!" Ayah Cakra berbicara, nadanya terdengar cukup keras. "Yang benar saja, Nay!"
"Kenapa memangnya, Yah?" tanya Naya heran.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1