Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
29. Bersenang-senanglah


__ADS_3

"Habis ini mau ke mana? Apa sekalian jalan-jalan ... mumpung tanggal merah?" tanya Joe seraya menoleh ke arah Syifa dan Robert yang duduk di kursi di sampingnya. Dia saat ini sudah mengemudikan mobil, menuju arah jalan pulang.


"Robert mau diantar ke rumah Juna saja, Dad," sahut Robert, kemudian menambahkan. "Robert mau main kelereng, ada Baim, Atta sama Leon juga di sana.


"Tapi kamu belum makan siang, Nak." Syifa menyahuti sambil mengelus puncak rambut anak sambungnya, lalu menatap jam tangan yang menunjukkan pukul 10. "Dan ini juga masih terlalu pagi, baru jam 10. Masa main?"


"Makannya di rumah Juna, Mom. Tenang saja ... Maminya Juna orangnya baik dan masakannya enak, Robert dijamin nggak akan kelaparan." Robert menjawab dengan santai sambil menyentuh perutnya.


"Nanti makan siangnya Om Sandi saja yang kirim, biar Daddy yang ngomong padanya," ucap Joe. Dia tak mau, kalau Robert nanti merepotkan orang tua Juna. "Dan ini ...." Joe merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet, setelah itu dia memberikan lima lembar seratus ribuan ke tangan anaknya. "Pegang, untuk jajan."


"Terima kasih, Dad," ucap Robert.


"Sama-sama." Joe tersenyum.


"Jangan terlalu capek mainnya, ya?" tegur Syifa. "Ibu nggak mau kamu sakit. Nanti siangan Ibu sama Daddy akan menjemputmu."


"Manggil Ibunya kalau disekolah saja, Mom," pinta Robert. Lantas memutar badannya dan memeluk tubuh Syifa. "Kalau diluar sekolah 'kan ... Robert adalah anaknya Mommy."


"Oh iya, Mommy. Maaf ... Mommy sering lupa karena belum terbiasa."


Tak lama, mobil mereka pun berhenti di rumah mewah orang tua Juna. Dan di dalam gerbang sana sudah ada bocah-bocah lucu yang sedang main kelereng.


"Robert! Ayok gabung!" teriak Atta saat baru saja melihat Robert turun dari mobil seusai mencium tangan Syifa dan Joe.


Gerbang tinggi di depan rumah mewah tersebut langsung dibuka oleh satpamnya.


"Iya!" sahut Robert, lalu melambaikan tangannya ke arah Joe dan Syifa. "Robert main dulu, Mom, Dad ... Assalamualaikum! Dadah!"


"Walaikum salam." Joe dan Syifa menjawab secara bersamaan. Akan tetapi, tiba-tiba saja keempat teman Robert berlari menghampiri mobil.


Untuk sekedar mencium punggung tangan Syifa, sebab baru sadar jika kedatangan Robert bersama Syifa yang menjadi guru sekaligus wali kelas mereka.


Bocah-bocah lelaki itu terlihat sopan-sopan sekali, benar-benar sangat manis.


"Mainnya yang akur, jangan berantem. Jangan lupa untuk belajarnya juga, ya!" tegur Syifa sambil menatap Juna, Atta, Baim dan Leon bergantian.


"Iya, Bu!" Semua bocah itu bersorak bersamaan, Robert juga ikutan. "Mommy dan Daddy hati-hati dijalan, ya?" tambah Robert.


"Iya." Syifa tersenyum, kemudian melambaikan tangannya saat mobil itu melaju pergi. Dilihat anak-anak muridnya itu juga ikut melambaikan tangan. "Mereka sangat manis sekali," gumamnya yang mampu didengar oleh Joe. Kedua pipinya pun tampak memerah.

__ADS_1


"Apa besok kamu mau masuk mengajar lagi di sekolah, Yang?" tanya Joe yang memang sejak tadi memerhatikan istrinya.


"Aku belum tau, A." Syifa menggeleng lemah. "Aku masih takut."


"Nanti biar aku yang antar kamu sampai menunggu kamu selesai mengajar, Yang," tawar Joe. "Kamu akan aman nanti."


"Kalau Aa menungguku ... terus Aa nggak kerja dong?" tanya Syifa seraya menoleh ke arah sang suami.


Tawaran Joe sangat bagus sebenarnya, hanya saja Syifa merasa tak enak jika pria itu sampai tidak kerja karenanya.


"Tetap kerja, nanti aku bisa pergi ke kantornya habis makan siang, Yang," jawab Joe santai. Sebagai seorang bos, tentunya dia tak terlalu pusing dengan masalah itu.


"Memangnya bisa kayak gitu?" Syifa menatap heran dengan kening yang mengerenyit. "Nanti bosnya Aa marah lagi, dan Aa bisa dipecat." Sama halnya seperti Abi Hamdan serta Umi Maryam, Syifa sendiri juga tak tahu pekerjaan Joe.


"Aku kerja nggak ada bos, Yang."


"Bosnya meninggal?"


"Bukan meninggal, tapi ...." Joe seketika menggantung ucapannya.


Dia sebenarnya ingin mengatakan jika dia adalah bosnya, tapi tak enak sebab tiba-tiba teringat Fahmi. Takut nantinya Syifa mengatakan dia congkak, sama seperti pria itu. Padahal sebenarnya Joe memang bos di kantornya sendiri.


"Aku jadi CEO di perusahaan itu. Aku yang mimpin, jadi semuanya terserah padaku, Yang. Mau masuk kapan dan jam berapa ... kan aku yang mengaturnya," jelas Joe.


"Oh, enak dong kalau kayak gitu." Syifa mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Tapi bosnya masih hidup, kan, A?"


"Bos apanya?"


"Bos di perusahaan A' Joe."


"Masih dong, masih sehat walafiat."


"Baik banget ya, dia, ngasih jabatan Aa sebagai CEO. Itu 'kan jabatan yang paling tinggi di perusahaan ya, A?"


"Betul." Joe mengangguk cepat. Akhirnya dia seperti membohongi Syifa.


"Kalau kita jadi mengadakan resepsi ... dia juga diundang untuk datang, ya?" pinta Syifa.


"Lho, untuk apa?"

__ADS_1


"Kok untuk apa? Kan dia bosnya Aa. Masa karyawannya nikahan nggak diundang."


"Oh itu, iya ... nanti aku undang, Yang." Joe mengangguk setuju meskipun dia sendiri bingung.


*


*


*


"Lho, kok pintunya dikunci?" Syifa berbicara sendiri sambil menurunkan handle pintu rumah Abinya. Sebab terkunci.


Mereka berdua kini telah sampai di rumah Abi Hamdan.


"Kok bisa, Yang?" Joe turun dari mobil, kemudian melangkah maju kepada istrinya. "Coba ketuk pintunya."


"Ngapain diketuk pintunya, A? Pasti Abi sama Umi pergi. Mangkanya dikunci." Syifa membuka tas selempangnya, kemudian merogoh ke dalam untuk mengambil ponsel. Lalu menghubungi Abi Hamdan.


"Pergi ke mana mereka?" tanya Joe. Syifa tak menjawab, sebab panggilan kepada Abi Hamdan sudah tersambung.


"Halo, Bi, assalamualaikum. Abi dan Umi di mana?" tanya Syifa saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Walaikum salam," jawab Abi Hamdan. "Abi sama Umi lagi pergi ke butik bersama orang tuanya si Jojon, Fa."


"Ke butik? Mau apa?"


"Mertuamu mengajak Umi dan Abi memakai baju seragam, untuk resepsi kalian berdua."


"Resepsi? Kapan? Kok aku sama A' Joe nggak dikasih tau?" Syifa melangkah menuju kursi plastik di teras, kemudian duduk. Joe juga ikut duduk di sampingnya, pada kursi plastik yang kosong.


"Lusa, rencananya memang Abi mau memberitahumu dan Jojon hari ini, Fa. Tapi kamu keburu telepon Abi pas di butik."


"Oh. Terus aku dan Aa harus menyusul ke sana atau gimana? Mumpung aku dan dia sudah ada di rumah, Bi." Syifa melirik ke arah Joe. Pria itu sejak tadi memandangi wajahnya.


"Nggak perlu. Kamu sama Jojon istirahat saja di rumah. Bersenang-senanglah, kunci rumah Abi taruh di atas pot bunga yang menggantung di dekat pintu."


"Baju pengantinnya gimana, Bi?" tanya Syifa.


"Masalah baju pengantin biar Abi, Umi sama orang tua Jojon saja yang memilih. Kan kami tau ukuran kalian. Nggak apa-apa, kan, kalau kayak gitu? Abi sama orang tua Jojon hanya nggak mau kalian ikut capek, nanti kamu bisa ngedrop, Fa. Kan kamu lagi hamil muda."

__ADS_1


...Om Joe ... kesempatanmu, nih🤣 biar bisa berduaan sama bini 🤭...


__ADS_2