Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
114. Sensasinya


__ADS_3

"Sandi! Apa yang mau kamu lakukan?!" Abi Hamdan langsung mencekal tangan Sandi, saat melihat pria itu dengan beraninya hendak menurunkan handle pintu.


Tentu dia tahu, aktivitas apa yang dilakukan anak dan menantunya di dalam sana. Maka dari itu, Abi Hamdan dengan cepat mencegah Sandi. Khawatir kalau sampai pintu itu lupa tidak dikunci oleh Joe yang berakibat Sandi dapat melihat aktivitasnya.


"Ah ... maafkan saya, Tad." Sandi langsung melepaskan handle pintu dan menarik tangannya, saat tersadar jika apa yang dia lakukan sangatlah lancang. "Saya hanya takut sama Pak Paul."


"Pak Paul? Memangnya ada apa, sih?" Merasa penasaran, Abi Hamdan pun lantas menarik tangan Sandi, kemudian mengajaknya untuk duduk bersama di sofa panjang. "Coba ceritakan padaku, San, apa yang terjadi?"


"Duh ... Tad, saya bingung untuk menjelaskannya." Sandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa pusing sendiri. Padahal ini bukan masalahnya, melainkan masalah Joe. Tapi kalau dirinya cerita kepada Abi Hamdan, dia takut jika salah bicara.


"Kenapa musti bingung? Santai saja."


"Memangnya, tadi Pak Joe belum cerita kepada Ustad? Tentang semaunya?" Mencari jalan aman, Sandi pun membalikkan sebuah pertanyaan.


"Jojon belum cerita apa-apa padaku, San." Abi Hamdan menggeleng dengan raut bingung. "Pas Jojon datang ... dia dan Syifa sudah ada dikamar."


"Ya sudah, coba Ustad saja yang minta mereka keluar. Biar Ustad sekalian tanya ada hal apa sebenarnya, yang menjadi alasan Pak Paul menunggu Pak Joe di rumahnya," saran Sandi.


"Pak Paul menunggu Jojon? Mau apa?"

__ADS_1


"Itu saya nggak tau. Mangkanya Ustad coba ketuk pintu kamar mereka, lalu minta Mereka keluar." Sandi menghela napasnya dengan berat, lalu menatap ke arah pintu kamar Syifa yang masih tertutup rapat, bahkan seperti belum ada tanda-tanda akan terbuka.


"Tunggu mereka keluar sendiri saja, San." Abi Hamdan tak enak rasanya, menganggu mereka. Meskipun memang sudah cukup lama mereka berduaan, tapi rasanya aneh saja jika dia tiba-tiba menggedor-gedor pintu dan meminta untuk keduanya keluar. Tidak sopan.


"Dih, Tad, lama dong. Nanti keburu Pak Paul datang. Bisa-bisa nanti berabe."


"Mungkin setengah jam lagi mereka selesai, San." Abi Hamdan pun ikut menatap pintu kamar Syifa dengan harapan akan dibuka. "Nggak mungkin juga mereka terus di dalam. Pasti ada capeknya. Si Jojon juga pasti kena encok kalau kelamaan, San."


Capek katanya?


Bagi Joe sih tidak ada kata capek, tapi Syifa lah yang justru merasa capek karena merasa tak bisa mengimbangi kekuatan suaminya yang perkasa di atas ranjang.


"Aa ...," lirih Syifa dengan deru napas yang memburu, saat dimana Joe sudah berhasil menyemburkan bibit unggulnya ke dalam rahimnya.


"Kita istirahat sebentar ya, Yang, nanti lanjut lagi," ujar Joe dengan napas yang terengah-engah. Dia berada di atas tubuh Syifa yang tengkurap di belakangnya, keduanya sama-sama sudah bermandikan keringat.


"Hari ini udah cukup, A, aku capek." Syifa mengatur napasnya, lalu memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Joe.


Lelah sekali rasanya, terus bergulat dari pagi tanpa jeda. Bahkan sampai tak ingat sudah berapa kali dia berhasil mencapai pelepasan.

__ADS_1


"Dih, Yang, nggak boleh bilang capek. Bercinta 'kan kewajiban untuk suami istri," sahut Joe sambil mengecupi leher Syifa yang mana membuat perempuan itu menggeliat, karena geli bercampur merinding.


"Iya, aku tau, A. Tapi ya nggak perlu terus-terusan. Milikku perih banget ini, dan perutku juga laper." Syifa rasanya ingin mendorong tubuh Joe, serta menarik tongkatnya yang masih tertanam di dalam miliknya. Tapi masalahnya dia tak berani melakukan hal itu. Takut Joe tersinggung.


"Oke deh. Tapi nanti malam lanjut lagi, ya? Aku punya gaya kepiting lho, Yang." Joe menarik tubuhnya untuk tak lagi menindih Syifa.


Setelah berdiri, dia pun mengendong sang istri kemudian membawanya ke dalam kamar mandi.


"Aa ini ada-ada saja, deh. Masa setelah helikopter ada gaya kepiting juga, sih?" kekeh Syifa sambil memerhatikan wajah Joe dengan penuh cinta.


Meskipun tubuhnya terasa capek dan lelah, tapi semaunya seperti sudah terbayar karena bahagianya hari ini bisa bertemu dengan sang suami. Melepas rindu karena tiga hari tak berjumpa.


"Ya ada dong, Sayang. Semua gaya bercinta aku punya namanya. Dan kamu harus mencoba biar tau rasanya."


"Memang, apa perbedaannya, A? Bukannya sama saja, ya?"


"Tentu beda lah. Sensasinya." Joe mengedipkan salah satu matanya dengan genit. Dan dengan perlahan, dia pun menurunkan tubuh Syifa di dekat bak air, kemudian mereka mandi bersama.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2