Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
260. Masa depanmu masih panjang


__ADS_3

"Ini kita mau langsung pulang apa gimana, Nay? Apa ada lagi yang ingin kamu beli?" tanya Ustad Yunus saat keduanya sama-sama naik eskalator. Turun ke lantai dasar.


"Abang sendiri mau beli apa?" Naya berbalik tanya. Sekarang wajah cemberutnya sudah sedikit memudar.


"Saya nggak kepengen beli apa-apa," jawab Ustad Yunus. "Eemm ... bagaimana kalau kita sekalian makan aja? Kamu sendiri laper nggak?"


"Boleh, Bang." Naya mengangguk cepat. "Tapi makan apa ya, Bang, enaknya?"


"Kamunya kepengen apa?"


"Terserah Abang."


"Ya udah, kita ke restoran depan saja. Di depan ada restoran, Nay."


"Ih tapi aku kepengen bakso kayaknya, Bang." Padahal tadi Naya bilang terserah.


"Oh ya sudah, kita makan bakso. Kita cari bakso disekitar sini."


"Eh makan di restoran saja deh. Kemarin aku sudah makan bakso. Kayaknya nggak baik kalau makan bakso setiap hari, bosen juga." Naya berubah pikiran lagi.


"Iya, memang harusnya nggak setiap hari. Ayok kita ke restoran," ajak Ustad Yunus yang terlihat begitu sabar. Sedangkan Papi Yohan yang ikut mendengarnya sudah begitu gregetan sekali dengan tingkah Naya.


'Dasar bocah nggak jelas! Tadi bilang terserah, terus giliran dipilihin buat makan di restoran dia kepengen bakso, dan giliran diiyain udah berubah pikiran lagi!' gerutunya dalam hati sembari menggertakkan gigi. 'Kalau aku yang jadi si Boy ... udah kutinggalin perempuan begitu! Kayak nggak ada yang lain saja. Mending Yumna ke mana-mana dong.'


Padahal dia tahu bagaimana karakter Yumna, tapi sebagai Papi kandungnya—tentu dia lebih memuji anaknya sendiri. Meskipun belum tentu Yumna jauh lebih baik daripada Naya.


*

__ADS_1


"Nay ... sebelum makanan kita sampai, saya pamit ke toilet dulu sebentar, ya? Mau kencing soalnya." Ustad Yunus sudah berdiri dari duduknya.


"Iya, Bang." Naya mengangguk dan tersenyum, kemudian menatap punggung pria itu yang sudah menjauh dari pandangan. 'Bang Yunus orangnya sederhana. Tapi terlihat sangat baik,' batinnya.


"E-eh! Kamu ini Naya, kan?" tanya Papi Yohan yang berpura-pura tak sengaja lewat. Padahal sejak tadi dia memang menunggu momen seperti ini. Dan sekarang dia tidak memakai kacamata hitam, benda itu sudah dikantongi.


"Iya. Tapi Om ini siapa?" Kening Naya mengerenyit, menatap pria tua yang berdiri di depan mejanya. Sepertinya dia tidak terlalu ingat dengan wajah Papi Yohan.


"Namaku Yohan. Panggil aja Om Yohan." Papi Yohan menggeser kursi bekas duduk Ustad Yunus, kemudian mendaratkan bokongnya disana.


'Om Yohan?! Oh ... ini pasti Papinya perempuan yang bernama Yumna itu. Tapi mau ngapain dia ke sini dan duduk di depanku?' batin Naya bertanya-tanya.


"Kalau boleh Om tau, berapa umurmu, Nay?"


"Kenapa Om tanya umurku?" Naya berbalik tanya.


"Enggak kenapa-kenapa." Papi Yohan menggeleng. "Hanya ingin tau saja, tapi kalau nggak mau ngasih tau ya nggak apa-apa," tambahnya berbicara sesantai mungkin.


"Masih sangat muda, ya." Papi Yohan manggut-manggut. Dia pun melirik sebentar ke arah dimana Ustad Yunus pergi tadi, memastikan jika pria itu belum datang. "Oh ya ... apa kamu yakin, ingin cepat-cepat menikah?"


"Maksudnya?" Alis mata Naya bertaut.


"Aku dengar dari si Boy ... ah maksudnya Yunus. Ya ... dari Yunus. Katanya kamu dan dia sedang ta'arufan. Berarti kalian ingin cepat menikah, kan?"


"Memang apa urusannya dengan Om?"


Papi Yohan mendengkus. Ternyata berbicara dengan Naya secara langsung jauh lebih menyebalkan menurutnya. "Enggak ada. Cuma kayaknya sayang saja. Kamu ini masih muda ... masa depanmu masih panjang. Sebaiknya jangan buru-buru menikah, nikmatilah masa mudamu terlebih dahulu."

__ADS_1


Mungkin dengan mengatakan hal itu, Naya jadi berpikir dua kali untuk tidak secepatnya menikah. Karena Papi Yohan yakin—Ustad Yunus sendiri sudah mantap untuk mencari pendamping hidup.


Dan kalau Naya belum siap diajak menikah, serta terus mengulur waktu. Bisa jadi Ustad Yunus akan menyerah. Jadi peluang untuk mencari pengganti akan jauh lebih besar. Disitulah nanti, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Yumna dan keduanya dekat.


"Ah ya sudah, kalau begitu Om permisi dulu ... takut menganggu kamu." Melihat tak ada tanggapan dari Naya, Papi Yohan pun memilih untuk meninggalkannya. Malas juga lama-lama bicara dengan perempuan itu.


'Memangnya orang menikah muda akan cepat meninggalkan masa muda, ya?' batin Naya yang jadi memikirkan tentang hal yang sebelumnya tak pernah dia pikirkan.


"Ayok makan, Nay. Kok bengong kamu?"


Naya langsung tersentak, melihat Ustad Yunus sudah berada di depannya. Duduk dikursi serta di atas meja sudah tersaji rapih pesanan mereka.


"Eh, Abang kapan kembali dari toiletnya? Kok aku nggak tau?"


"Dari tadi," jawab Ustad Yunus sambil terkekeh. Dia merasa lucu pada ekspresi wajah saat Naya terkejut. "Ya kamunya bengong terus, Nay. Mangkanya nggak tau saya kembali. Memangnya mikirin apa, sih? Kamu nggak lagi ada masalah, kan?"


"Aku lagi mikir ... kalau misalkan kita berjodoh lalu menikah, apa Abang akan tetap mengizinkanku kuliah? Atau aku diminta untuk berhenti?" tanya Naya penasaran.


"Kalau kamu masih ingin kuliah, ya kuliah saja, Nay. Nggak masalah."


"Abang sendiri mau cepat punya anak nggak?"


"Kok nanya gitu?" Wajah Ustad Yunus seketika memerah entah mengapa.


"Jawab saja, Bang."


"Kalau boleh jujur ... saya sih memang ingin langsung punya anak setelah menikah, Nay. Apalagi dalam Islam nggak boleh menunda kehamilan. Tapi ...."

__ADS_1


"Tapi apa, Bang?"


...Tapi apa hayoooo?...


__ADS_2