
...Mohon untuk dibaca ulang bang sebelumnya, karena sudah direvisi😉...
"Mungkin ada di dalam kali, tertinggal di kursi saat Nona duduk," tebak Ustad Yunus.
"Nggak mungkin sih kayaknya. Ya sudah deh kalau memang hilang, mungkin bukan rezekiku, aku mau—"
"Coba cari dulu ke dalam, Nona. Biar saya bantu mencarinya," tawar Ustad Yunus dengan cepat memotong ucapan Naya.
"Nggak perlu, Pak," tolak gadis itu sambil menggelengkan kepalanya. Kalau dia balik lagi, sama saja tidak jadi kabur dari Fahmi. Sedangkan saat ini dia sangat tidak nyaman dengan pria itu. "Aku mau langsung pulang saja, Pak. Aku minta maaf kalau ada salah. Ya sudah, ya."
Naya melangkah cepat meninggalkan Ustad Yunus, menuju sisi jalan untuk mencari sebuah taksi yang lewat.
Setelah berhasil mendapatkannya, dia pun segera masuk ke dalam sana. Sedangkan Ustad Yunus hanya menatapnya, kemudian melangkah masuk ke dalam gerbang sambil menunjukkan undangan pada beberapa penjaga.
*
*
*
__ADS_1
Sampai menjelang malam, nyatanya Fahmi belum pulang dan masih menikmati hidangan serta hiburannya.
Dia juga sama sekali tak peduli, pada Naya yang sudah kabur meninggalkannya. Yang terpenting sekarang—dia saat ini merasa sangat bahagia. Duduk di sebuah kursi sambil selvi dan memerhatikan beberapa tamu undangan.
'Kapan lagi aku bisa menikmati makan sepuasnya dengan hanya membayar goceng,' batin Fahmi dengan bangga. Lalu mengusap perutnya yang begitu begah juga disertai rasa sakit akibat kekenyangan. 'Ada untungnya tadi aku nyuri suvenir yang diambil Naya, jadi meskipun aku malu pulang sendirian ... tapi lumayan, karena dapat emas. Habis dari sini aku langsung ke toko emas deh, mau aku cari tau benar nggaknya itu emas asli.'
Perlahan, Fahmi pun berdiri. Berniat ingin pulang sebab perutnya rasanya sudah tak bisa menerima baik makan atau minuman.
Namun, saat kakinya baru saja melangkah, tiba-tiba dia langsung buang angin.
Duuutt!!
Ya mungkin kalau ada bau, seseorang yang di dekatnya yang tahu kau dia kentut.
"Duh ... mules lagi perutku." Fahmi meringis, saat merasakan perutnya melilit tak karuan seperti ingin buang air besar. Juga rasanya sangat sakit.
"Berak dulu deh, sebelum pulang."
Merasa tak kuat takut pisang gorengnya keluar dari dalam celana—Fahmi pun langsung berlari kocar-kacir mencari toilet. Berniat numpang berak di sana.
__ADS_1
Robert dan Atta yang tak sengaja melihatnya, langsung berlari mengejar. Awalnya tak ada niat untuk apa-apa, hanya penasaran saja dia mau apa dan kenapa belum pulang sejak tadi.
Namun, saat melihatnya masuk ke dalam toilet, entah mengapa mereka berdua jadi iseng ingin mengerjai Fahmi.
"Kita kerjain Om ini, yuk, Rob," ujar Atta mengusulkan. Kedua bocah itu sudah masuk ke dalam toilet pria dan saat ini hanya ada Fahmi yang mengisi bilik toilet.
"Kerjain gimana? Apa menguncinya di dalam toilet?" tanya Robert sambil menatap temannya.
"Nah bener. Ayok kunci dia," sahut Atta yang tampak bersemangat.
Robert meraih gagang pintu, yang kebetulan ada kuncinya diluar. Namun saat hendak mengerakkan benda itu, rasanya dia ragu.
"Tapi mengerjai orang 'kan dosa, Ta. Bisa-bisa aku dimarahi." Robert menatap temannya dengan raut bimbang.
"Tapi 'kan Om Galak itu bukan orang baik, Rob. Jadi nggak apa-apa kalau kita kerjain dia. Bisa saja habis dikerjain ... dia berubah jadi orang baik." Kembali, Atta mengusulkan.
"Memang bisa seperti itu?" tanya Robert yang masih tidak yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
"Bisa. Ya anggap saja Om Galak itu dikasih teguran sama Allah melalui kita. Udah ... cepat kunci pintunya, Rob. Sebelum ada orang yang melihat." Atta menatap ke arah pintu keluar, khawatir kalau sampai ada orang.
__ADS_1
"Ya sudah." Meskipun ragu, Robert akhirnya menuruti ucapan temannya. Dia mengunci Fahmi dari luar dan langsung menarik tangan Atta untuk pergi dari sana.