
Jakarta, Indonesia.
"Astaghfirullah!" Aldi tersentak kaget dari tidurnya hingga membuatnya membelalakkan mata. Itu semua lantaran posisi duduknya yang melengkung, sampai sedikit lagi membuatnya terjungkal kalau tidak segera membuka mata. "Lho? Kok gelap?" Monolognya kemudian dengan raut bingung, kala menatap sekeliling sampai ke atas langit.
Aldi pun langsung terdiam, mulai mencerna semuanya sembari mengumpulkan nyawa. Rasanya aneh dan begitu membingungkan menurutnya.
"Astaghfirullahallazim! Aku lupa membawa Pak Jonathan ke rumah Pak Paul!" Kedua kalinya Aldi beristigfar. Sebab sekarang baru teringat alasan dirinya ada di sini. Tapi anehnya, mengapa suasananya sudah gelap sekali? Itulah yang jadi pertanyaannya sekarang.
Aldi langsung menoleh ke arah samping, tepat di mana Ali berada. Pria itu tampak terlelap dari tidur dengan mulut menganga. Segera, Aldi menggoyangkan lengannya sembari berkata, "Ali! Bangun, Al!"
"Ali! Bangun!" panggil Aldi sekali lagi dan kali ini sedikit keras dengan masih mengguncang lengan Ali.
Tak lama, Ali pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil dia kucek-kucek.
"Apa, sih, Di? Ganggu aja. Orang lagi mimpi jadi orang kaya," gerutu Ali.
"Ganggu, ganggu! Ganggu apanya? Apa nggak lihat kamu udah gelap begini?!" omel Aldi marah. Dia pun merogoh kantong celananya sendiri untuk mengambil ponsel.
Setelah berhasil mendapatkannya, sontak kedua matanya itu membulat sempurna, lantaran terlihat di sana ada banyak sekali panggilan masuk dari Papi Paul.
"Lho, iya, Di, kok gelap?" tanya Ali yang sudah tersadar dengan suasana disekitarnya.
"Maka dari itu, dan ternyata udah jam 1 malam, Al," ujar Aldi memberitahu. "Mana Pak Paul menelepon terus lagi dari siang, dan kebetulan dia menyuruh kita untuk membawa Pak Jonathan ke pengadilan. Bisa-bisa nanti kita kena amukan, nih, gara-gara ketiduran di rumah Sandi," tambahnya dengan raut wajah takut.
Sejujurnya bukan takut kepada amukannya, tapi lebih kearah bayaran. Sebab biasanya—seseorang yang menyewa jasa mereka suka sekali memangkas tarifnya seenak jidat hanya karena mereka melakukan kesalahan.
Papi Paul memang sudah bayar uang muka, untuk mereka awal bekerja. Tapi sisa bayaran mereka akan dibayar jika semua tugas yang dilakukan berjalan sukses.
Dan sebenarnya bukan hanya Papi Paul, tapi setiap semua orang yang menyewa jasa mereka memang seperti itu. DP dulu, dan sisanya kalau sudah selesai.
"Coba kamu telepon balik Pak Paul, biar aku masuk ke dalam rumah Sandi untuk mengajak Pak Jonathan pulang," usul Ali seraya berdiri, kemudian melangkah menuju pintu rumah Sandi yang tertutup rapat lalu mengetuknya.
"Iya." Aldi mengangguk setuju, cepat-cepat dia melakukan panggilan kepada Papi Paul. Dan tak menunggu waktu yang lama, panggilan itu sudah diangkat oleh seberang sana.
"Apa?" tanya Papi Paul dengan ketus dan begitu lantang.
"Maaf kalau saya mengganggu Bapak, dan maaf juga karena saya dan teman saya ketiduran, Pak," ucap Aldi penuh sesal dan rasa bersalah. "Tapi saya dan teman saya akan secepatnya mengajak Pak Jonathan pulang, Pak, dan langsung ke rumah Bapak."
"Nggak perlu, udah nggak butuh!" ketus Papi Paul.
"Kok gitu, Pak? Saya minta maaf sebesar-besarnya."
"Sekarang aku sudah bersama Joe dan ada di Korea. Dan tugas kalian berdua sekarang sudah selesai."
"Serius, Pak?" Mata Aldi seketika berbinar sambil menghela napasnya dengan lega. Dia berpikir, rencana Papi Paul sudah berjalan sukses, meskipun tanpa dia dan Ali yang disuruh membawa Joe ke rumah Papi Paul.
__ADS_1
"Iya. Ya sudah, ya, aku—"
"Sisa pembayarannya gimana, Pak?" tanya Aldi cepat yang menyela ucapan Papi Paul.
"Sisa bayaran apanya? Orang kalian kerja nggak becus dan rencanaku gagal!" berang Papi Paul marah. "Dan asal kalian tau juga ... secara nggak langsung kalian adalah penyebab kegagalan rencanaku. Harusnya, Joe secepatnya dibawa ke rumahku dan bercerai dengan Syifa, tapi karena kalian ketiduran ... alhasil dia malah pergi ke rumah Syifa!" tambahnya yang terdengar begitu nyaring. Bisa dipastikan, jika Papi Paul sudah sangat emosi.
"Maafkan saya, Pak, jujur saya juga nggak tau kenapa bisa ketiduran dan—"
"Udah, nggak perlu minta maaf. Semuanya udah basi!" sela Papi Paul cepat dan langsung mematikan panggilan.
Aldi pun mencoba meneleponnya lagi, tapi sayangnya tidak diangkat-angkat.
"Di, kata Bu Sari ... Pak Jonathan udah pulang katanya, diantar sama si Sandi," ucap Ali yang baru saja menghampiri, seusai dirinya tadi menemui Bu Sari.
"Iya, Pak Jonathan malah udah ada di Korea, Al," sahut Aldi dengan lesu menatap temannya.
"Lho, terus sekarang kita gimana? Apa nyusul ke sana?"
"Enggak usah." Aldi menggeleng. "Tadi Pak Paul mengatakan kalau tugas kita selesai, Al. Kita di suruh pulang saja."
"Sisa pembayarannya gimana?"
"Enggak ada sisa pembayaran. Hangus gara-gara ketiduran," jawabnya dengan muram. Perlahan Aldi pun bangun, kemudian merogoh kunci mobilnya di dalam kantong celana sembari melangkahkan kakinya dengan lesu masuk ke dalam mobil.
"Ah, tadi-tadinya kita terima saja tawaran mobil dari Pak Jonathan, Di, kalau tau sisanya nggak dibayar. Kamu, sih!" Ali mendengkus kesal, lantas dia pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Aldi.
"Aku nggak tau." Ali menggelengkan kepalanya dengan raut sedih. "Kemarin bawaannya ngantuk banget, Di. Nggak sadar malah aku, kenapa tiba-tiba ketiduran."
"Sama. Berasa habis dibius aku juga," sahut Aldi yang juga terlihat sendu.
****
Seoul, Korea Selatan.
Joe perlahan duduk di samping Yumna yang sudah duduk lebih dulu. Mereka berdua kini berada di deretan beberapa kursi yang di depan kamar inap Robert.
Melihat Joe sudah berada di sampingnya meskipun dengan jarak, Yumna pun langsung tersenyum sambil menggeserkan bokongnya supaya lebih dekat. Tangannya merogoh ke dalam tas untuk mengambil ponsel, kemudian memberikan kepada Joe.
"Apa maksudnya?" tanya Joe heran, sebab aneh memang—Yumna memberikan sebuah ponsel tanpa sebab.
"Itu Kakak bisa lihat sendiri, berapa followersku di Inst*gram," ucap Yumna memberitahu, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Dilayar ponsel tertera jumlah followernya mencapai 1 juta lebih dan namanya pada laman Inst*gram sudah centang biru.
"Terus? Maksudnya apa?" Joe terlihat masih tak paham. Padahal Yumna sudah memberikan gambaran jika dirinya cukup terkenal di sosial media.
"Followersku lumayan banyak, Kak, dan aku seorang model. Sering wira-wiri di media sosial apalagi di tv. Kakak memangnya nggak ada rencana mau rekrut aku jadi brand ambassador di perusahaan Kakak? Barang kali Kakak butuh tambahan jasa model, jadi nggak ada salahnya kita kerjasama, kan?" Yumna secara terang-terangan menawarkan diri. Tapi tangannya perlahan terulur untuk menggenggam tangan Joe.
__ADS_1
Pria tampan bermata sipit itu langsung menepisnya, dan menggeserkan bokong supaya mereka kembali memiliki jarak. "Kalau tentang itu, kamu coba tanya saja ke sekertarisku. Soalnya aku nggak tau menahu."
"Kok nggak tau menahu? Kan Kakak bosnya?" tanyanya dengan raut bingung.
"Iya, aku memang bosnya." Joe mengangguk. "Tapi aku 'kan nggak mengurusi masalah model. Dan sejauh ini ... sekertarisku nggak ngomong tentang kekurangan model. Biasanya kalau ada apa-apa, dia selalu ngomong sama aku."
"Oh gitu. Tapi 'kan bisa saja Kakak langsung merekrutku. Lagian aku 'kan anak temannya Mami Kakak. Kita bukan orang asing, kan?"
"Nggak bisalah, Yum. Masa aku tiba-tiba merekrut model apalagi langsung kujadikan ambassador? Kan aku juga udah punya beberapa brand. Terus nanti kamu kerjanya ngapain? Kalau semisalnya modelku udah banyak? Masa makan gaji buta?"
"Ya nggak makan gaji buta juga kali, Kak." Yumna mendengkus. Ternyata obrolannya dengan Joe tak semanis dengan apa yang dibayangkan. Tapi memang ucapan Joe cukup realistis juga dalam pekerjaannya. "Ya sudah deh, mana coba nomor sekertaris Kakak? Biar aku tanya langsung sama dia."
Joe merogoh kantong celananya untuk memberikan ponsel, kemudian memberikan kepada Yumna berikut dengan ponsel miliknya tadi yang masih Joe pegang.
Perempuan itu langsung mengambilnya, tapi dia juga bukan hanya mencatat nomor sekertaris Joe. Melainkan nomor Joe sendiri dan juga Syifa, bedanya ini secara diam-diam saja.
"Ini, Kak, terima kasih," ucapnya seraya memberikan kembali ponsel Joe ke tangan pemiliknya.
"Sama-sama. Udah selesai 'kan, ya, obrolannya?" Joe perlahan berdiri sembari menaruh ponselnya lagi ke dalam kantong celana.
"Aku mau pulang kayaknya, Kak. Tapi bisa nggak, kalau Kakak yang anterin aku? Nggak mungkin juga, kan, Kak, aku pulang sendiri sepagi ini? Takut aku kayaknya," pinta Yumna yang ikut berdiri.
"Sandi!" Joe berteriak memanggil asistennya. Yang tengah berdiri bersama satpam diujung lorong, tapi tidak terlalu jauh.
Yumna tampak bingung, melihat Joe memanggil seorang pria yang kini sudah menghampirinya.
"Iya, Pak?" tanya Sandi sambil membungkukkan badannya.
"Ini. Kamu antarkan Yumna pulang, dia teman anaknya Mamiku, San," pinta Joe sambil menatap ke arah Yumna sebentar.
"Ba—" Sandi ingin menjawab, tapi Yumna tiba-tiba menyerobotnya.
"Lho, Kak, kan aku minta Kakak yang anterin. Tapi kenapa Kakak justru nyuruh orang?" tanya Yumna dengan kening yang mengerenyit.
"Maaf, aku nggak bisa mengantarmu, Yum. Jadi Sandi saja," jawab Joe kemudian tersenyum lalu menggerakkan dagunya ke arah Sandi. "Sandi ini asisten pribadiku, dan dia orangnya baik, bisa kujamin. Dia juga bisa bela diri, jadi kamu akan aman pulang bersamanya."
"Memang kenapa, sih, Kakak nggak bisa? Aku sendiri udah bilang sama Mamiku, kalau pulang dari rumah sakit mau diantar Kakak." Yumna terlihat tak setuju, dan masih berusaha jika Joe saja yang akan mengantarkannya pulang.
"Aku males, Yum, mau istirahat. Selain itu aku juga ada urusan penting."
"Urusan penting apa memangnya?" tanya Yumna dengan kepo. "Kan bisa ditunda dulu sebentar, Kak, jadi Kakak antar aku dulu."
'Apaan sih dia? Kok kayak maksa?' batin Joe yang mendadak menjadi kesal, melihat tingkah Yumna. Padahal mereka baru mengenal tadi, tapi rasanya dia sudah menilai Yumna orangnya menyebalkan. 'Dan masa iya, aku katakan kalau aku ingin melakukan gaya kepiting dengan Syifa di kamar mandi?'
"Ya, Kak ...?" pinta Yumna dengan raut memohon. "Dari dulu lho, Kak, aku ingin ketemu Kakak. Tapi masa setelah ketemu Kakak justru nggak mau mengantarku pulang? Padahal 'kan cuma sebentar, sekalian juga aku ingin mengajak Kakak sarapan bareng di rumah."
__ADS_1
...Sebentar tapi ngajak sarapan bareng itu gimana urusannya, Yum 🤣...