
"Kalau misalkan diganti, gimana? Menurut Oma ... Tante Yumna jauh lebih cocok jadi Mommymu, dibandingkan dengan Mommy Syifa. Dia juga sama seperti Daddymu, ada darah campuran Koreanya, Sayang," tawar Mami Yeri yang masih berusaha.
"Oma ngaco deh, jelas-jelas Mommy Syifa itu mirip sama Mommy Sonya. Ya pasti lebih cocoklah, dibanding dengan Tante ini," sahut Robert dengan mata yang melirik ke arah Yumna. Tapi kali ini, lirikan matanya terlihat sinis.
"Tapi Tante Yumna ini orangnya baik, Sayang. Dia juga sayang anak kecil."
"Mommy Syifa juga baik, sayang juga sama anak kecil," Robert membalikkan ucapan Mami Yeri, sambil mengunyah suapan kedua.
"Tapi Oma nggak suka sama Mommy Syifa, Rob. Oma lebih suka sama Tante Yumna yang menjadi Mommymu."
Ucapan dari Mami Yeri seketika menghentikan gerakan mulut Robert. Bocah itu langsung menoleh, untuk menatap sang Oma dengan kening yang mengerenyit.
"Nggak suka? Apa maksud Oma?" tanyanya heran.
"Ya nggak suka, masa Oma musti jelaskan? Kamu juga tentu tau ... pas dimana Daddymu berani berbohong. Itu 'kan karena pengaruh Mommy Syifa, Rob."
"Enggak, Oma!" Robert menggelengkan kepalanya. Juga mendorong tangan Mami Yeri yang hendak memberikan suapan selanjutnya. "Daddy itu berbohong karena terpaksa, tapi nggak ada sangkut pautnya dengan Mommy."
"Kalau nggak ada sangkut pautnya, kenapa Mommy Syifa tiba-tiba pulang pas mau periksa kandungan? Mana tanpa pamit lagi. Itu 'kan sama saja, berarti Mommy Syifa yang mempengaruhi Daddymu untuk berbohong, Rob," jelas Mami Yeri asal menebak. "Daddymu itu orang yang selalu jujur dari dulu, Oma tau itu. Tapi semuanya berubah pas dia mengenal Mommy Syifa. Jelas disini kalau dia hanya membawa pengaruh buruk untuk kalian berdua."
"Oma kok bilang kayak gitu, sih?" Robert tampak tak terima. Mendengar pernyataan Mami Yeri yang seakan menyudutkan Syifa. Baginya, meskipun Syifa dan Sonya adalah dua orang yang berbeda, tapi mereka memiliki kepribadian yang sama dan sama-sama baik. "Nggak boleh lho, Oma, dosa. Masa Oma bilang Mommy Syifa membawa pengaruh buruk? Dia itu seorang guru, panutan untuk anak muridnya dan anaknya Ustad juga. Nggak semestinya Oma mengatakan hal itu!" tambahnya menegaskan.
__ADS_1
"Mau dia guru atau pun anaknya Ustad ... Oma nggak peduli, Rob! Bagi Oma ... dia bukan orang yang tepat untukmu dan Daddymu!" tegas Mami Yeri.
"Terserah Oma, kalau menganggap begitu. Tapi bagi Robert ... Mommy Syifa adalah yang terbaik!" tegas Robert sambil menepuk dadanya. Dia pun langsung turun dari kursi, lantas berlari keluar dari rumah pintu utama.
Melihat itu, Mami Yeri yang terlihat panik gegas berlari mengejarnya. Khawatir kalau sampai Robert hilang dari pengawasan.
"Daddy! Daddy!" pekik Robert sambil menoleh ke kanan dan kiri, juga menatap sekitar. Mencari-cari keberadaan Joe yang memang belum terlihat sejak dirinya terbangun dari tidurnya.
"Daddy lagi keluar, Sayang, kamu ngapain cariin Daddy?" Mami Yeri segera menghampiri, lalu meraih tangan kanan Robert. Tapi bocah itu justru langsung memberontak, menepis tangannya dengan kasar.
"Robert kepengen pulang sama Daddy! Pengen pulang!" teriaknya sambil merengek, kemudian berlari menuju gerbang besi dan mendorong-dorongnya sebab tersemat sebuah gembok besar di sana. "Pak! Buka gerbangnya! Robert kepengen nyusul Daddy!" pintanya pada seorang satpam, yang tengah memberikan makan ayam goreng untuk Molly di depan pos.
Satpam itu hanya terdiam dan menatap Robert saja. Sebab Mami Yeri sendiri sudah memerintahkannya untuk tidak mendengar perintah dari siapa pun kecuali dia dan Papi Paul.
"Masuk dulu, yuk, nanti Oma telepon Daddymu. Biar dia cepat pulang," rayu Mami Yeri seraya berlari menghampiri, kemudian meraih tubuh Robert. Tapi kembali, bocah itu memberontak. Sehingga Mami Yeri kesulitan untuk menggendongnya dan berujung tidak jadi.
"Oma tukang bohong! Sejak kemarin Robert minta untuk menelepon Mommy tapi selalu saja beralasan! Sekarang pasti Oma juga nggak akan menelepon Daddy!" tekan Robert kencang penuh amarah. Wajahnya memerah dan bola matanya tampak becek, seperti ingin menangis.
"Oma nggak bohong, Sayang." Mami Yeri menggeleng dengan gelagapan. Cepat-cepat dia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu menelepon Joe sambil memperlihatkan layar benda pipihnya ke arah Robert. Supaya dia percaya.
Ada rasa takut dan khawatir tersendiri di dalam hati, kalau sampai sang cucu berbuat hal yang tidak-tidak karena kemarahannya.
__ADS_1
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Suara operator yang terdengar dari seberang sana.
"Mungkin hape Daddymu lowbet, Sayang," ucap Mami Yeri.
"Telepon Mommy!" pinta Robert dengan memaksa.
Secepatnya, Mami Yeri menelepon Syifa. Tapi sayangnya tak tersambung. Sebab ada beberapa angka yang sengaja Mami Yeri tukar supaya nomornya tidak bisa dihubungi.
"Robert kepengen pulang saja ... Robert nggak betah di sini ... Robert kepengen ketemu Mommy!" teriak Robert dengan tangis yang tiba-tiba pecah. Sekuat tenaga dia pun mendorong-dorong gerbang besi itu. "Buka, Oma! Ayok buka! Robert kepengen pulang ke Indonesia!"
"Kita pulangnya nanti, Sayang, kalau Opa Paul sudah datang. Dia hari ini mau ke sini," rayu Mami Yeri yang masih berusaha membujuk.
Kembali dia ingin meraih tubuh Robert, tapi bocah itu sudah terduduk di bawah sambil memeluk salah satu besi gerbang dan menangis histeris.
"Robert pengen pulang sekarang, Oma! Pulang sekarang! Hiks! Hiks!"
'Ya ampun, bagaimana ini?' Mami Yeri mengigit kuku ibu jarinya dengan tubuh yang sudah gemetar. Segera dia pun mencoba menghubungi sang suami, meminta pendapat padanya untuk melakukan apa. 'Cepat angkat, Pi! Robert ngamuk ini,' batinnya yang terlihat tak sabar. Menunggu benda pipih yang masih terdengar berdering ditelinga.
......................
Hari Senin nih, Guys, jangan lupa buat ngasih vote sama hadiahnya, ya! Biar Authornya semangat buat update ππ
__ADS_1