
"Papi! Mami!"
Tampaknya, Joe belum menyerah diluar sana dengan masih memanggil orang tuanya disertai ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
Namun, kali ini ketukan dan suaranya itu mempu membangunkan seorang wanita yang berada di samping Papi Paul. Yang tidak lain adalah Mami Yeri.
Kedua mata Mami Yeri perlahan terbuka, lalu mengerjap beberapa kali.
"Papi! Mami!"
"Lho, itu seperti suara Joe?" Keningnya seketika mengerenyit, ketika mendengar suara familiar itu. "Tapi masa, sih, si Joe ke sini malem-malem? Dan mau apa kira-kira ... sampai ngetuk-ngetuk pintu segala?" Karena rasa penasarannya, Mami Yeri pun memutuskan untuk beranjak dari kasur. Akan tetapi, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Papi Paul.
"Mami mau ke mana?" tanyanya dengan suara lirih.
"Mau keluar, Pi," jawab Mami Yeri, lalu menunjuk ke arah pintu. "Tadi Mami kayak denger suara Joe dari pintu."
"Jangan dibuka, Mi! Biarin!"
"Lho, kenapa?"
"Ah si Joe pasti datang cuma mau marah-marah doang ke Papi. Terus nuduh nggak jelas. Kan nggak penting banget. Iya, kan?"
"Masa si Joe ke sini cuma mau marahin Papi doang?" Mami Yeri terlihat tak percaya, dengan apa yang dikatakan suaminya. "Malam-malam begini begini lagi."
"Ya pastilah, Mi," sahut Papi Paul dengan yakin. Pikirannya jadi negatif kepada Joe. "Kalau dia datang karena kangen 'kan nggak mungkin."
"Mami!! Papi!!" Joe masih berteriak memanggil.
"Iya, sih, Pi. Tapi kayaknya Mami kasihan deh, kalau pintunya nggak kita buka." Mami Yeri tampak ragu.
"Ngapain kasihan, udah biarin aja ah!" Papi Paul lantas menarik kembali tubuh istrinya untuk kembali berbaring, lalu menyelimutinya sebatas dada. "Si Botak juga biar mikir, Mi, kalau apa yang dia lakukan kepada kita kemarin-kemarin itu nggak pantas. Masa dia tega, menuduh Papi ingin menikungnya. Dia pikir Papi pria macam apa coba?"
"Aa ... kayaknya mereka udah tidur deh," ucap Syifa yang berada diluar bersama Joe.
__ADS_1
"Meskipun tidur, tapi mereka pasti akan bangun, Yang. Apalagi kalau aku panggilin terus," sahut Joe dengan tangan yang masih sibuk mengetuk pintu.
"Tapi itu sama saja menganggu. Kasihan mereka, A. Aku juga takut mereka marah sama kita nantinya," kata Syifa yang seolah ingin menyudahi niat Joe, karena tidak enak pada kedua mertuanya. "Abi dan Umi 'kan udah ada sama kita, jadi kita makannya berlima saja, A. Papi dan Mami nggak perlu ikut," tambahnya mencoba merayu.
"Nggak mau! Orang aku maunya makan bertujuh, Yang!" tolak Joe dengan gelengan kepala. "Kamu mending bantuin aku sekarang, masa kamu nggak sayang sih ... lihat aku begini?" Joe lagi-lagi merengek dan terlihat seperti anak kecil. Dia juga memegang tangan Syifa, lalu menggerak-gerakkannya.
"Bantuin gimana, A? Aku juga bingung musti gimana." Syifa menggaruk puncak kerudungnya, yang lagi-lagi terasa gatal karena efek kebingungan.
"Coba kamu saja yang panggil mereka. Bilang kalau kamu ingin ketemu, pasti mereka langsung bangun deh."
"Memang ngaruh, ya, kalau aku yang panggil?" Syifa mengerutkan keningnya menatap Joe. Dia tampak ragu.
"Nggak tau juga sih, tapi nggak ada salahnya dicoba dulu. Lagian mereka 'kan sekarang lagi kepengen deket-deket terus sama kamu, Yang."
"Tapi Aanya kelihatan nggak suka."
"Iya. Memang aku nggak suka." Joe mengangguk. "Tapi ini ibarat pancingan saja. Udah panggil cepet," pintanya sedikit memaksa.
"Mami! Papi!" Syifa dengan patuhnya langsung melakukannya. Dia juga sambil mengetuk pintu. "Ini aku Syifa, Mi, Pi. Aku mau ketemu kalian!" tambahnya kemudian.
Ajaib!
Hanya dalam hitungan detik setelah memanggil, pintu kamar itu langsung terbuka lebar dan keluarlah dua orang yang sejak tadi Joe tunggu-tunggu. Mata kedua orang tua itu tampak sama-sama berbinar.
"Ada apa, Fa? Kok tiba-tiba kamu kepengen ketemu Mami sama Papi?" Mami Yeri yang terlihat senang itu langsung menghampiri Syifa, lalu memeluknya sebentar dan mengelus perutnya.
"Pasti kamu kangen sama Papi dan Mami, ya? Karena seharian kita nggak bertemu?" Sama halnya seperti istrinya, Papi Paul juga terlihat senang sekali dan rasanya ingin memeluk tubuh menantunya.
Namun, sayangnya pawangnya Syifa tak membiarkan itu terjadi. Joe langsung menahan lengan Papi Paul yang sudah terlentang, lalu tiba-tiba saja menariknya untuk pergi.
"Lho, Joe! Apa-apaan kamu! Kenapa tangan Papi ditarik-tarik?!" teriak Papi Paul yang terlihat memberontak. Dia juga sempat kaget.
Syifa dan Mami Yeri sendiri sudah ikut menyusul mereka, tapi Mami Yeri tampak bingung dengan penyebab Joe menarik tangan Papinya dan begitu buru-buru sekali.
"Papi dan Mami harus ikut aku dan Syifa, kita mau makan enak," jawab Joe sambil tersenyum.
__ADS_1
"Makan enak?" Alis mata Papi Paul seketika bertaut. "Tapi hampir setiap harinya ... Papi udah sering makan enak tuh, Joe."
"Tapi ini beda. Jauh lebih enak," tambah Joe dengan yakin.
Sampainya di halaman rumah, dia pun membuka pintu mobil bagian depan. Tepat dimana mertuanya berada. Dan itu membuat Papi Paul bertanya-tanya.
"Lho, si Botak mertuamu kok bisa ikut, Joe?" tanya Papi Paul dengan nada songgong.
"Bapak nggak ngaca, ya? Orang sesama botak juga!" kelakar Abi Hamdan membalikkan.
"Abi maaf ... Abi pindah duduk ke belakang bersama Umi, ya?" pinta Joe dengan lembut. "Tapi Umi duduknya ditengah, soalnya Mamiku ikut duduk juga di belakang."
"Oke." Abi Hamdan yang terlihat menurut langsung turun dari mobil, kemudian masuk lagi pada pintu belakang untuk berpindah duduk di samping Umi Maryam.
"Katanya tadi kamu mau ngajakin Papi makan enak, Joe?" tanya Papi Paul, dan tubuhnya tiba-tiba saja didorong paksa oleh anaknya untuk masuk ke dalam mobil. Dia pun akhirnya duduk pada bekas bokong besannya.
"Iya, Pi, makan enak." Joe mengangguk, lalu menutup pintu mobil.
"Tapi kenapa serombongan begini?"
"Ya biarin, biar seru."
"Terus kita duduknya di mana, A?" Syifa sudah mengajak Mami mertuanya untuk masuk ke dalam mobil. Dan perempuan itu kini sudah duduk di kursi belakang, di samping Umi Maryam.
"Kita perginya naik mobilnya Papi, Yang. Mereka biar sama Sandi," jawab Joe, kemudian menatap ke arah asistennya. "Antarkan ke tempat yang aku inginkan ya, San. Aku akan menyusulmu dengan Syifa dari belakang."
Sebelum berangkat ke rumah Abi Hamdan, Joe sudah menghubungi Sandi terlebih dahulu untuk meminta antar serta mencarikannya pedagang nasi goreng. Dan pria itu dengan patuhnya langsung menjalankan perintah.
"Siap, Pak!" Sandi mengangguk, lalu memutar balik mobilnya untuk mengarah keluar gerbang.
Joe pun mengajak Syifa masuk ke dalam mobil hitam yang juga ada di sana. Itu mobil milik Papinya. Dan kebetulan masih menancap sebuah kunci, jadi dia tidak perlu mencarinya. Bisa langsung menancapkan gas mengikuti Sandi dari belakang.
"Si Joe Papi rasa sudah sedikit gila, ya, Mi. Kok bisa-bisanya dia ngajakin kita semua makan malam-malam begini? Kayak nggak ada besok saja!" Papi Paul menggerutu kesal di samping Sandi, sambil menatap istrinya pada kursi belakang lewat pantulan kaca depan mobil.
...Sabar, Pi, yang penting makan enak ntar ðŸ¤ðŸ˜†...
__ADS_1