
"Syukurlah kalau memang benar, kamu nggak melakukannya," jawab Abi Hamdan yang kembali menghela napas. Kali ini seperti ada sebuah kelegaan yang terdengar. "Abi harap, kamu memang benar-benar menantu yang terbaik yang dikirim Allah untuk Abi. Sehingga dengan begitu ... Abi nggak akan menyesal menikahkanmu dengan putri Abi satu-satunya, Jon. Ya meskipun pernikahan kalian berawal dari sebuah keterpaksaan."
"Aku nggak terpaksa menikahi Syifa, Bi. Aku mencintainya," jawab Joe dengan sungguh-sungguh.
"Bukan kamu. Tapi maksudnya Abi, berikut dengan orang tuamu," jelas Abi Hamdan supaya Joe paham. "Restu dari pihak orang tua kalian didapat berawal dari keterpaksaan. Abi tau itu, karena dari awal ... Papimu juga nggak setuju 'kan kamu masuk Islam, kalau bukan karena kamu harus menikahi Syifa yang sudah berbadan dua?"
"Eemm ... iya, Bi. Maafkan aku," jawab Joe lirih.
Sebetulnya, ada rasa bersalah di dalam hatinya, kala mendengar baik Abi Hamdan dan orang tuanya mengatakan kalau mereka menikah berawal dari perzinahan. Joe tahu itu dosa dan berakibat buruk terutama kepada Syifa.
Namun, memang tak ada pilihan. Sudah berada dijalan buntu saat itu, jadi terpaksa dia asal mengatakan hal itu.
'Aku berjanji ... setelah Syifa benar-benar telah hamil, aku akan mengatakan segalanya kepada Abi, Umi serta Mami dan Papi. Mungkin nanti kalian akan marah, atau bahkan menghajarku. Tapi ketahuilah ... apa yang aku lakukan adalah apa yang aku anggap benar,' batin Joe.
"Abi maafkan, asal kamu jangan sampai menyakiti Syifa. Entah hatinya atau fisiknya!" kata Abi Hamdan yang terdengar penuh ketegasan.
"Iya, Bi. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan Syifa, dan menjadi suami yang baik untuknya," jawab Joe dengan penuh keyakinan.
"Ya sudah kalau begitu. Abi tutup teleponnya, ya? Salam buat Syifa dan Robert. Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab Joe dan panggilan itu langsung terputus oleh seberang sana. Setelahnya, Joe pun kembali masuk ke dalam restoran. Kemudian ikut makan bersama.
***
Sementara itu di rumah sakit.
Seusai menelepon sang menantu, Abi Hamdan masuk lagi ke dalam kamar inap Fahmi. Dia bahkan sejak tadi belum pulang meskipun sudah beberapa jam lamanya ada di sana.
Bukan Abi Hamdan tidak ingin meninggalkan Fahmi, hanya saja Pak Haji Samsulnya yang melarang, sebab belum ada kepastian dari Joe.
Ceklek~
__ADS_1
"Bagaimana? Apa si Jojon akan ke sini, Tad?" tanya Pak Haji Samsul yang menoleh, saat pintu itu baru dibuka dan Abi Hamdan berjalan mendekat ke arah tempat tidur Fahmi.
Pria itu ada di atas sana, dia tengah bermain ponsel.
"Enggak, Pak," jawab Abi Hamdan sambil menggelengkan kepalanya. "Malah, aku mau pamit pulang dengan istriku. Ini sudah sore serta aku dan Uminya Syifa belum istirahat dari kemarin. Jadi tolong izinkan kami pulang, Pak."
"Lho, tapi si Jojon kenapa nggak ke sini? Dan kenapa Ustad nggak memintanya untuk datang? Harusnya Jojon 'kan bertanggung jawab!" cecar Pak Haji Samsul dengan bengis. Urat-urat diwajahnya pun terlihat kencang, begitu pun dengan dadanya yang naik turun.
"Maaf, Pak Haji. Tapi Jojon mengatakan kalau dia nggak melakukan hal yang Bapak dan Nak Fahmi tuduhkan," jelas Abi Hamdan dengan nada rendah.
"Jadi maksudnya, Abi nggak percaya padaku?" tanya Fahmi. Dia langsung meletakkan ponselnya di bawah bantal, lalu menatap kesal pada mantan calon mertuanya. "Dan Abi mengira aku berbohong? Begitu?" tambahnya marah.
"Abi nggak berpikir seperti itu, Nak." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya, dengan masih berbicara selembut mungkin.
"Terus apa? Orang jelas Abi seperti nggak percaya padaku. Buktinya si Jojon nggak ngaku saja Abi langsung percaya!"
"Masalahnya, kamu menuduh Jojon tanpa bukti, Nak. Abi sendiri jadi bingung ... untuk mempercayai siapa. Sedangkan disini Jojon nggak ngaku," jawab Abi Hamdan yang terlihat sudah lelah. Dia juga sangat ingin pergi dari sana dan merasa kasihan sama istrinya yang menunggu diluar. "Abi pulang, ya? Semoga Nak Fahmi cepat sembuh dan Abi yakin ... ini hanya sebuah kesalahpahaman, jadi nggak perlu dibesar-besarkan. Assalamualaikum."
"Papa pokoknya cari bukti, supaya Abi tau bagaimana kelakuan dan sifat asli anaknya!" pinta Fahmi dengan kedua tangan yang mengepal. Asli, dia sangat kesal mengetahui Jojon yang tak mengaku. Ditambah Abi Hamdan pun terlihat tidak memihak kepadanya.
Rasanya Fahmi ingin, pria tua itu selalu memandang jelek menantunya. Supaya kelak dia akan menyesal karena mengambil keputusan membatalkan perjodohan dengannya.
"Bukti apa, Mi?" tanya Pak Haji Samsul yang terlihat sama kesalnya.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin itu istilah yang cocok untuk Fahmi dan Pak Haji Samsul, karena memiliki sifat dan sikap yang sama persis.
Fahmi terdiam sebentar untuk mulai berpikir. Dia tak akan begitu mudahnya mengabaikan perkara ini, sebab itu berarti harga dirinya seperti diinjak-injak.
"Papa coba ke hotel tempat di mana si China dan Syifa mengadakan resepsi. Terus minta rekaman CCTV di toilet pria, pasti kita akan tahu jawabannya dan si Jojon nggak akan mengelak lagi, Pa."
"Tapi itu 'kan toilet, Mi. Masa dipasang CCTV? Orang berak sama kencing kelihatan dong?" Pak Haji Samsul tampak ragu, jika benar di toilet ada kamera CCTV. Sebab itu akan membuat beberapa orang risih pastinya dan bisa jadi kapok, untuk membuang air di sana.
__ADS_1
"Pasti ada, Pa," sahut Fahmi dengan yakin. "Tapi palingan CCTV dibagian luar aja, nggak pas di dalam toiletnya. Dan lagian ... aku terkunci di toilet juga orang yang menguncinya dari luar, bukan dari dalam. Jadi pasti bakal kelihatan."
"Di mana memangnya mereka mengadakan pesta? Kasih tau Papa. Papa pergi ke sana."
Fahmi mengambil ponselnya, lalu mengetik-ngetik benda itu dan mengirimkan sebuah chat kepada Pak Haji Samsul.
Ting~
Dan saat dilihat oleh Pak Haji Samsul, ternyata itu adalah sebuah alamat.
"Itu alamat hotel beserta namanya, takutnya Papa lupa. Jadi aku kirim saja lewat chat," ucap Fahmi memberitahu.
"Nggak apa-apa." Pak Haji Samsul memerhatikan layar ponsel yang berada pada genggamannya. "Ya sudah, Papa tinggal kamu dulu sebentar untuk mendapatkan rekaman itu, ya?"
"Iya, Pa." Fahmi mengangguk, dan tiba-tiba seulas senyuman yang terlihat menyeringai tergambar diwajah tampannya. "Sekalian juga Papa mampir ke kantor polisi, kalau sudah mendapatkan rekaman itu dan melihatnya, ya?"
"Untuk apa ke kantor polisi?" Kening Pak Haji Samsul tampak mengerenyit. Menatap bingung anaknya. Padahal kakinya sudah melangkah hendak pergi, tapi langsung urung dilakukan.
"Ya untuk melaporkannya, lah," jawab Fahmi, lalu terkekeh. "Bukankah seru, kalau melihat si China itu di penjarakan, Pa? Abi pasti sangat malu, apalagi Syifa yang menjadi istrinya. Para tetangga pun pasti banyak yang mencibirnya. Iya, kan?"
"Wah ... bagus juga idemu, Mi." Pak Haji Samsul tampak begitu antusias mendengar usulan dari anaknya. Sangat setuju sekali dia, kalau sudah berbau menjatuhkan harga diri seseorang.
"Iyalah. Apalagi aku dengar ... Syifa sekarang tengah mengandung. Pasti dia sangat kalang kabut, jika melihat suaminya dipenjara."
"Iya, itu pasti." Pak Haji Samsul tersenyum lebar dengan penuh kemenangan. Dan seketika dia pun berkhayal jika itu terjadi. Padahal baru mengkhayal, tapi rasanya sudah senang sekali. "Hari-harinya pasti dipenuhi oleh tangisan, Mi."
"Iyalah, Pa. Udah sana mangkanya cepat Papa ke hotel, aku tunggu kabar baiknya di sini, ya?"
"Iya." Pak Haji Samsul mengangguk. "Nanti Papa akan minta Mamamu datang untuk menemanimu, ya? Papa berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab Fahmi, dia menatap punggung sang Papa tercinta yang menghilang dibalik pintu. Dan seketika saja, dia pun langsung tertawa jahat. "Hahaha ... Jon, rasakan itu! Kamu pikir ... hanya kamu yang bisa membuat hidupku menderita? Padahal di sini kamulah yang akan lebih menderita. Berpisah dengan istri, anak serta keluargamu. Memang kamu kira ... itu enak? Siap-siap saja, Jon. Aku jadi nggak sabar melihatmu memohon dan bersujud di kakiku untuk meminta aku mencabut tuntutan itu."
__ADS_1
...Terlalu banyak bac*t kamu, Fahmi 🤣🤣...