
"Maksudnya gimana, ya, Om?" tanya Ustad Yunus tak mengerti.
"Om perhatikan dari tadi ... anak-anak yang selesai sunat pada dikasih bingkisan. Di dalam paper bag. Kok giliran Om enggak? Dan bukannya kemarin-kemarin Om dengar sunat massal akan dapat hadiah dan uang jajan, ya?"
"Oh ... jadi maksudnya Om mau dikasih uang jajan sama hadiah?"
"Iya. Kan Om ikutan sunat, Boy."
"Tapi hadiahnya baju koko, Om, dan ukurannya buat anak kecil. Terus uang jajannya juga nggak seberapa." Ustad Yunus pun mengambil satu paper bag di dalam kardus yang tinggal dua biji, lalu memberikannya ke tangan Papi Yohan. "Tapi kalau Om mau ya nggak apa-apa. Ini saya berikan. Semoga bermanfaat, ya!"
"Ya jelas mau dong, Boy. Namanya juga hadiah, kan?" Papi Yohan menerimanya dengan senang hati. "Nanti baju kokonya buat cucu Om saja."
"Kita 'kan belum punya cucu, Pi," sahut Mami Soora membuka suara, sambil menyenggol lengan sang suami.
"Yakan nanti punya dari Yumna, Mi."
"Memangnya Yumna sedang hamil, Om?" tanya Ustad Yunus.
Papi Yohan menggeleng. "Belum lah, Boy. Kan Yumna belum nikah."
"Mungkin maksud Om Yohan, buat anaknya Yumna nanti, Boy," ucap Mami Soora meluruskan. Lalu melirik suaminya. "Iya, kan, Pi?"
"Iya, Mi!" Papi Yohan mengangguk.
***
"Adduuuhhhh PERIH!!" teriak Robert saat tengah membuang air kecil. Sangking tak kuatnya, dia sampai menangis.
"Nggak apa-apa, Nak, ayok lanjutkan lagi kencingnya biar tuntas," titah Abi Hamdan yang menemani Robert. Bahkan dia juga yang membukakan celanna dalamnya.
"Tapi perih banget Opa, hiks! Dan kenapa bisa perih, sih?" Sekuat tenaganya dia pun mengeluarkan sisa air kencing meskipun sambil menangis tersedu-sedu.
"Namanya luka dan masih basah ... ya memang begitu, Nak. Tapi nanti kalau tongkatmu udah kering ... pasti akan sembuh, dan nggak akan sakit lagi." Abi Hamdan mengusap air mata dipipi Robert, lalu mengecup keningnya.
"Apa besok bisa langsung sembuh, Opa?"
__ADS_1
"Minimal seminggu lah, Nak."
"Hiks ... lama banget dong, Opa!" protes Robert sedih. "Robert nggak kuat! Masa nanti pas kencing akan perih melulu? Nggak mau!!" tambahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Jangan bilang kayak gitu, Nak. Habis ini kamu minum obat ... nanti Opa juga akan olesi salep biar tongkatmu cepat kering, ya!"
Setelah selesai, Abi Hamdan pun mengendongnya dan membawa bocah itu menuju ruang tengah tepat sofa berada. Berniat mengajaknya sekalian nonton televisi supaya bocah itu tak terlalu memikirkan sakitnya.
"Makan bubur dulu, Bi, baru minum obat." Syifa dari dapur datang menghampiri, sembari membawa semangkuk bubur abon buatannya dengan dibantu Umi Maryam.
"Oh iya, tapi Abi salepin dulu tongkatnya Robert biar dia agak mendingan sakitnya, Fa." Abi Hamdan meraih salep di atas meja, lalu membuka dan mengolesinya pelan-pelan pada ujung mungil tongkat Robert.
"Aku saja yang suapi Robert, Bi, ayok buka mulutnya, Nak," pinta Syifa sambil mengusap pipi anaknya. Tapi bocah itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Enggak mau! Robert nggak kepengen makan, Mom!" tolaknya.
"Kenapa nggak mau? Tadi pagi kamu sarapan dikit, Nak. Sekarang juga udah siang, jadi makam dulu biar bisa minum obat."
"Katanya tadi mau cepat sembuh?" tegur Abi Hamdan lalu tersenyum. Kemudian membernarkan posisi Robert untuk berbaring, supaya dia terasa nyaman.
"Ya 'kan tanpa makan kamu nggak bisa minum obat, Nak. Mangkanya ayok makan dulu." Syifa masih merayu sambil menyodorkan sendok. "Cepat buka mulutnya, Sayang. Anak Mommy 'kan penurut. Iya, kan?"
Akhirnya Robert pun membuka mulutnya, meskipun hanya terbuka sedikit dan tampak memaksa.
"Perlu dikipasin nggak, Bi?" tanya Umi Maryam yang menyusul datang dari dapur. Tangannya memegang kipas tangan berbahan kayu, lalu memberikan kepada Abi Hamdan. "Umi lihat ... biasanya anak-anak yang habis disunat itu suka dikipasin sama orang tuanya. Biar cepat kering juga katanya."
"Oh iya, Mi. Memang bener juga, sih." Abi Hamdan mengangguk setuju, lalu mulai mengipasi tongkat cucunya.
"Memang kipas angin listrik nggak ada, ya, Oma? Pakai kipas angin listrik aja. Biar anginnya banyak. Kalau perlu AC saja, tapi ngarahin ke tingkat Robert," pinta Robert.
"Kipas sih ada, Nak. Tapi kalau AC nggak ada. Sebentar ... Oma ambilkan kipas meja dulu di dalam kamar, ya!" Umi Maryam pun berlari masuk ke dalam kamar.
"Daddy ke mana, Mom? Kok dari tadi nggak kelihatan?" tanya Robert sambil menatap sekeliling ruangan.
"Daddy diluar, Nak, sama Om Sandi lagi ngobrol."
__ADS_1
"Anaknya lagi kesakitan kok Daddy malah asik ngobrol, sih? Nggak ada pengertiannya banget dari Daddy!" gerutu Robert sambil mencebikkan bibirnya.
Kesal rasanya, sebab yang lain tampak sibuk memanjakannya saat dia selesai disunat. Tapi Joe sendiri justru tidak berada di dekatnya.
"Kamu ada perlu sama Daddy memangnya? Mommy panggilkan, ya?" Syifa langsung berdiri, kemudian melangkah keluar dari pintu.
Joe duduk diteras bersama Sandi, selain mengobrol mereka juga sambil ngopi.
"Aa ... masuk dulu, itu si Robert manggil," ucap Syifa.
Joe langsung menoleh, lalu mengangguk. "Aku masuk dulu sebentar ya, San," ucapnya kemudian berdiri.
"Iya, Pak." Sandi mengangguk.
Joe pun melangkah masuk bersama Syifa untuk menemui anaknya. Dilihat wajah Robert sudah begitu masam sambil menatapnya tajam. "Ada apa, Sayang? Apa kamu menginginkan sesuatu?"
"Robert kesakitan begini, tongkatnya perih ... tapi Daddy malah asik ngobrol!" omelnya ngambek.
"Minum obat dong, Rob. Kalau perih. Memang begitu kok Daddy juga pas selesai disunat." Joe tersenyum manis, lalu mengusap lembut dahi anaknya. "Sini ... biar Daddy yang suapi obatnya, ya? Kamu pasti akan segera sembuh setelah minum obat. Kamu 'kan jagoan." Dia pun membungkukkan badannya mengambil obat di atas meja, lalu menuangkannya pada sendok. Sebab obat yang diberikan adalah obat sirup.
"Habis minum obat Robert kepengen makan es krim durian. Daddy nanti belikan, ya?" pintanya lalu membuka mulut dan menenggak obat tersebut. Kemudian mendorongnya dengan segelas air supaya cepat masuk ke dalam.
"Memang boleh makan es krim durian? Bukannya orang yang habis disunat itu ada pantangannya, ya?" Joe menatap Abi Hamdan, yang menurutnya lebih berpengalaman dan pasti tahu.
"Boleh, Jon, asal jangan berlebihan saja," ucapnya sebagai jawaban.
"Ya udah, nanti Daddy belikan." Joe mengangguk.
"Sama bebek bakar, ayam geprek dan kentang goreng di KF* juga, Dad!" tambah Robert yang banyak maunya.
"Kamu memangnya masih laper, Nak?" tanya Syifa dengan raut bingung. Baru tadi bocah itu mengabiskan semangkuk bubur meskipun awalnya tidak mau. Tapi bisa-bisanya dia sekarang meminta makanan lagi dan cukup banyak juga.
"Kenyang, Mom. Tapi itu buat cemilan. Robert lagi kepengen makan itu soalnya." Bocah itu mengusap perut sambil menelan ludah.
"Ooohh ...." Syifa mengangguk dan berusaha memahami. 'Baru tau aku, ternyata bebek bakar dan ayam geprek bisa dijadikan cemilan. Bukannya itu makanan berat, ya?' batinnya bertanya.
__ADS_1
...Habis disunat ngidam keknya si Robert, Fa 😂🤣...