Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
248. Video berdurasi 3 menit


__ADS_3

"Kami yakin, Yum. Bahkan sampai detik ini," jawab Papi Yohan sungguh-sungguh. "Tapi Papi benar-benar merasa capek, karena terus dikejar-kejar seorang kakek-kakek. Dan apakah kamu tau, ternyata apa yang dialami Papi sama persis dengan apa yang dialami Joe." Mungkin diceritakan sedikit, supaya anaknya paham.


"Maksudnya?" Kedua alis mata Yumna tampak bertaut.


"Joe juga pernah diganggu Kakek-kakek. Sama seperti Papi juga, diberikan Al-Qur'an. Tapi bedanya Joe menerima, karena nggak sengaja. Sedangkan Papi enggak."


"Terus?"


"Ya terus Joe akhirnya mengenal Islam. Sampai akhirnya jadi mualaf. Dan sekarang Kakek-kakek itu sudah nggak lagi menganggunya."


Yumna berdecih, lalu geleng-geleng kepala. "Hanya karena itu, kalian jadi ingin masuk Islam. Terutama Papi?"


"Bukan masuk. Tapi ingin mengenalnya lebih dalam, Yum." Papi Yohan meralat ucapan anaknya.


"Bukannya sama saja, ya? Intinya Papi sama Mami ingin jadi mualaf?" Yumna menatap tidak senang. Dari raut wajahnya tergambar jelas jika dia sama sekali tak berminat ingin ikut. Dia juga sangat tidak percaya dengan agama Islam.


"Kalau masalah itu Papi belum bisa menentukan iya atau enggak. Karena itu tergantung hati. Kalau kami mantap berarti iya, kalau enggak ya mundur, Yum."


"Oooh ... tapi silahkan saja, kalau Papi dan Mami ingin mencobanya. Tapi sorry, aku nggak minat sama sekali. Lagian aku merasa agama Islam itu terlalu ribet dan nggak masuk akal."


"Ribet gimana maksudnya?" Papi Yohan terlihat tak paham. "Dan jangan bilang nggak masuk akal begitu dong, Yum. Kita harus mentoleransi sesama agama."


"Itu menurutku, Pi. Ya mau dijelaskan pun rasanya aku malas. Lagian nggak penting juga dan aku musti buru-buru pergi." Yumna langsung berdiri dari duduknya. "Aku pergi sekarang, ya."


"Tapi, Yum, kalau kamu nggak ikut kita ... bagaimana kamu bisa ...." Ucapan Papi Yohan menggantung diujung bibir, saat melihat anaknya itu sudah menghilang dari hadapannya.


"Udahlah, Pi. Kalau Yumna nggak mau, biarkan saja." Mami Soora tidak ingin mengambil pusing.


Bukan apa-apa, yang namanya agama itu adalah hal paling sensitif dan tergantung keyakinan masing-masing. Jadi kalau tidak mau ya tidak bisa dipaksa. Meskipun sejujurnya dia ada keinginan supaya dia, sang suami dan Yumna bisa masuk ke dalam surga bersama-sama.


"Lagian kalau dipaksa pun nggak mungkin. Kan Papi tau gimana Yumna," tambah Mami Soora memberikan penjelasan, sebab dilihat wajah suaminya itu begitu kecewa.

__ADS_1


"Padahal kalau bareng-bareng mengenal Islam itu pasti jauh lebih bagus, Mi. Ditambah Papi juga mau melihat Yumna dan si Boy dekat."


"Iya sih, Pi." Mami Soora sependapat. "Tapi mau gimana, Pi? Dan lagian ... Mami lihat Yumna itu kayaknya nggak suka sama si Boy. Malah kayak benci. Tapi kenapa ya, Pi?"


"Papi juga nggak tau, Mi." Papi Yohan mengedikkan bahunya naik turun. "Tapi biasanya, yang begitu benci itu nanti jadi cinta. Semoga saja lama-lama Yumna jadi suka beneran sama Boy. Begitu pun sebaliknya."


"Bukannya Papi kemarin bilang si Boy udah ada calon, ya?" tanya Mami Soora heran.


"Iya. Tapi yang namanya jodohkan nggak tau, Mi. Bisa saja Boy ternyata berjodohnya dengan Yumna. Mami memangnya nggak mau, punya menantu seperti dia? Papi lihat anaknya baik dan rendah hati."


"Mami kepengen juga sih, Pi. Jarang-jarang sih ketemu pria seperti Boy itu. Anaknya kelihatan nggak neko-neko juga, ya?"


"Iya." Papi Yohan mengangguk. "Mending sekalian Mami cari ide, biar Boy dan Yumna bisa dekat. Mami pasti lebih ahli di bidang seperti ini."


"Kok Mami? Bukannya Papi yang lebih ahli, ya? Kan dulu Papi yang sering godain Mami, sampai akhirnya Mami suka sama Papi."


"Ya sudah, mending sama-sama saja kita cari cara. Kerjasama ... biar adil," usulnya.


"Oke." Mami Soora mengangguk setuju.


Sementara itu di tempat berbeda.


"Bagaimana, Pak?" tanya Sandi kepada seorang perwira polisi yang duduk di depannya.


Saat ini dia berada disalah satu kantor polisi. Seperti apa yang diminta oleh Joe sebelumnya, Sandi sejak semalam langsung membawa motor matik itu ke kantor polisi, untuk melacak pemiliknya.


Dan baru sekarang, dia dipanggil untuk datang. Semalam pihak polisi memintanya untuk menunggu, karena dia mengatakan jika laporannya baru akan diproses hari ini.


Sandi melaporkannya dengan alasan karena tak sengaja menemukan motor yang tanpa pemiliknya. Berjam-jam tak ada yang mengambil dipinggir jalan dan khawatir akan dicuri orang.


Itu semua atas perintah Joe, yang memang memintanya.

__ADS_1


Sandi juga dilarang untuk mengatakan hal secara gamblang penyebab pemilik kendaraan itu meninggalkan motornya. Karena pastinya Joe akan menanggung malu, ditambah Syifa pasti akan tambah mengamuk.


Rasanya takut juga, jika nantinya Joe terkena sanksi oleh pihak polisi, karena bisa jadi melarangnya bercinta di dalam tenda yang menurutnya itu bukan tempat untuk bercinta. Apalagi lapangan yang dipakai itu bukan milik pribadi. Bisa-bisa sang pemilik lapangannya tidak terima dan justru melaporkannya.


Makin runyam saja nanti urusannya. Dan entah apa jadinya nanti. Bisa jadi Joe akan berpuasa lagi karena Syifa marah yang berkepanjangan.


"Setelah saya cek ...." Polisi itu berbicara sambil menatap layar komputer di depannya. "Plat nomor motor itu ternyata tidak terdaftar, Pak."


"Lho, kok bisa tidak terdaftar?" Sandi menatap bingung.


"Sepertinya orang itu membeli plat nomor palsu. Dan bisa jadi motor matik itu memang tak memiliki surat-surat lengkap, atau bisa jadi bodong."


"Terus bagaimana sekarang, Pak? Pemiliknya nggak ketahuan dong."


"Iya. Ini musti diselidiki lebih dalam dan cukup menguras waktu juga, Pak."


"Waduhhh ... keburu viral dong videonya, kalau begini urusannya," keluh Sandi pelan, namun mampu didengar oleh Pak Polisi.


"Video apa, ya, Pak?" tanyanya penasaran.


"Oh itu ... maksudnya saya tadi habis lihat ada video viral tentang perkemahan, Pak," jawab Sandi beralasan sambil mengusap tengkuknya.


"Eh, Pak. Ada berita panas lho ...." Tiba-tiba, seorang polisi datang menghampiri rekannya, lalu duduk di sampingnya sambil menyodorkan ponsel.


"Berita panas apaan?" tanya Pak Polisi di depan Sandi.


"Ada pasangan mesum di dalam tenda. Viral di faceb*ook tadi pagi karena ada yang memvideokan. Bapak mau lihat nggak videonya? Saya punya," tawarnya sambil menunjuk layar ponsel.


Sandi yang mendengar sontak membulat mata. Padahal belum melihat videonya, tapi entah mengapa dia justru sangat yakin jika video mesum yang Pak Polisi maksud adalah video bercintanya Joe dan Syifa.


'Habis sudah citra Pak Joe dan Bu Syifa. Bisa-bisa mereka dibully se-Indonesia. Parah sih ini, apalagi pihak polisi ikut melihatnya juga,' batin Sandi dengan debaran jantung yang menggema.

__ADS_1


Keringat sebesar biji jagung pada dahinya pun perlahan mulai bercucuran, membasahi wajahnya kala jari telunjuk Pak Polisi itu sudah mengklik layar ponselnya. Dan tak lama kemudian video berdurasi 3 menit itu pun diputar.


...Waduuuhhh gimana ini πŸ™ˆπŸ™ˆ...


__ADS_2