Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
49. Aku mencintaimu


__ADS_3

"Lho, Jun ... kamu bawa siapa itu?" tanya Robert saat melihat Juna mendorong troli bayi yang berisikan bayi perempuan berumur 8 bulan. Dia tampak begitu cantik dan menggemaskan mengenakan gaun hitam sanada dengan stelan jas yang Juna pakai.


"Namanya Dedek Silvi, dia adikku, Rob," jawab Juna sambil mencium kening bayi perempuan itu.


"Adik?" Robert tampak heran. "Memangnya, Mamimu sudah melahirkan, ya? Tapi masa, sih, adikmu langsung gede?"


"Wajahnya juga nggak mirip denganmu, Jun." Leon menimpali, lalu mengelus pipi Silvi sebentar dan tersenyum.


"Dedek Silvi ini anaknya Papiku, sama istrinya yang dulu," jelas Juna.


"Papimu yang mana?" tanya Leon.


"Papi Tian," jawab Juna.


"Oh. Jadi kamu sudah mau punya adik dua dong ya, Jun," ujar Robert.


"Iya." Juna mengangguk. "Kamu sendiri juga sebentar lagi punya adik, kan, Rob? Berapa usia kandungan Bu Syifa sekarang?"


"Lho, sejak kapan Bu Syifa hamil?" tanya Baim, Atta dan Leon secara bersamaan.


"Sebelum mereka menikah. Iya, kan, Rob?" Juna menatap Robert. Tentu dia tahu, sebab memang saat Joe berbohong kalau Syifa tengah hamil—dia dan Opanya ada di sana.


"Iya." Robert mengangguk. "Tapi aku nggak tau udah berapa bulan, soalnya nggak pernah nanya."


"Orang mah tanya, biar kita tau kapan dia keluarnya."


"Tapi kok aneh, ya, kenapa Bu Syifa hamil dulu sebelum nikah? Harusnya 'kan menikah dulu baru hamil." Atta tampak mengerutkan keningnya.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh?" tanya Robert bingung.


"Sebenarnya nggak boleh tau. Katanya dosa." Baim menimpali.


"Dosanya gimana? Aku nggak ngerti." Robert menatap Baim dengan raut yang masih bingung. Tak mengerti dengan ucapan temannya.


"Hamil sebelum menikah itu hukumnya dosa, Rob, kata Papaku juga. Soalnya 'kan mereka belum jadi suami istri."


"Masa sih? Terus gimana dengan nasib adikku? Apa dia berdosa juga?" tanya Robert.


"Masih bayi mah nggak mungkin ada dosa. Tapi kemungkinan ... adikmu akan jadi anak haram, Rob," jawab Baim asal.


"Anak haram?!" Robert sontak membelalakkan matanya. Terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Baim. "Jadi maksudmu, adikku sama kayak babi, ya?"


"Dih, kok kamu mengatai adikmu babi, Rob? Jangan dong, kasihan," tegur Juna yang tampak kesal.


"Bukan mengatai. Tapi 'kan babi itu katanya haram. Berarti sama dong, kayak adik bayiku," sahut Robert.

__ADS_1


"Bukan haram seperti makanan, Rob, tapi haram dalam arti lain yang mungkin seperti anak yang nggak dinginkan," jelas Baim.


"Oh. Kasihan banget, ya," lirih Robert yang mendadak menjadi sendu. "Tapi Daddy, Mommy, dan Oma Opaku ... mereka kelihatan sayang kok, sama adik bayi. Apalagi Opa Hamdan sama Umi Maryam. Jadi ... meskipun awalnya nggak diinginkan, dia sudah disayang sekarang."


"Baguslah kalau kayak gitu," sahut Baim.


"Tapi sebaiknya, jangan sampai ada yang tau kalau adikmu anak haram, Rob," usul Atta dengan suara pelan.


"Iya, nanti yang ada dibully. Kan kasihan." Juna menimpali.


"Tapi yang tau adik bayiku anak haram hanya kalian doang kok, jadi kalian harus merahasiakannya," ujar Robert.


"Tapi keluargamu sudah tau, Rob," ucap Juna.


"Kalau keluarga sih kayaknya nggak mungkin ngebully deh, Jun," kata Robert kemudian melanjutkan. "Kan tadi sudah kubilang kalau sekarang Opa dan Oma sayang sama adik bayi."


"Ya sudah, ini rahasia berempat saja berarti. Kalau sampai orang lain tau ... berarti salah satu dari kita yang bocor," ujar Leon.


"Benar." Robert menganggukkan kepalanya.


"Terus, kamu kepengen adik cowok atau cewek, Rob?" tanya Atta.


"Bebas sih, mau cewek atau cowok juga nggak apa-apa. Asalkan nanti Mommy dan adik bayi selamat."


"Tapi kalau kembar lucu deh kayaknya. Kayak anaknya Om Steven," ucap Atta.


"Omku, Rob, yang waktu itu aku cerita pernah mati suri itu lho." Juna yang menjawab.


"Oh iya, yang hidup lagi karena diberakin burung itu, kan, ya?" tebak Robert dan temannya itu langsung mengangguk.


"Iya, tapi bukan karena diberakin burung doang, tapi ...."


"Lho, ada apa itu, Guys!" Leon menyeru sambil menunjuk ke arah depan. Ada beberapa pria di sana yang tengah berlari dengan mengendong seorang pria yang entah siapa itu.


Tapi dari kejauhan, Robert merasa kenal dengan wajahnya. Untuk lebih memastikan, dia pun berlari menghampiri Ustad Yunus yang juga ikut berlari.


"Ustad! Itu ada apa? Dan itu siapa?" tanya Robert penasaran.


"Itu Om Fahmi, Rob, dia .... eh, Ustad Hamdan!" Padahal Ustad Yunus belum selesai menjawab pertanyaan Robert, tapi ucapannya langsung terpotong saat melihat Abi Hamdan menghampirinya.


"Apa aku nggak salah lihat, tadi itu Fahmi, kan, Tad?" tanyanya.


"Benar, Tad." Ustad Yunus mengangguk. "Si Fahmi pingsan di toilet, tapi sebelumnya dia terkunci di dalam sana."


"Pingsan?!" Robert sontak terbelalak, merasa terkejut dengan apa yang dia dengar. Atta yang baru saja menghampiri temannya juga sama terkejutnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahallazim! Serius?!" Abi Hamdan tampak terkejut dan tak percaya.


"Serius, Tad. Ini saya ada rencana membawanya ke rumah sakit," sahut Ustad Yunus.


"Ya sudah, kamu antar dia ke rumah sakit terus hubungi Pak Haji Samsul. Tapi kalau ada apa-apa ... telepon aku, ya!" perintah Abi Hamdan.


"Iya, Tad. Ya sudah, saya pamit dulu. Assalamualaikum."


"Walaikum salam," jawab Abi Hamdan.


Ustad Yunus berlari menyusul beberapa pelayan yang sempat menggotong Fahmi. Tapi sebelum dia keluar dari pintu gedung, dia lebih dulu menarik Sandi untuk ikut bersama.


"Ta ... bagaimana ini?" tanya Robert pelan dengan tatapan takut kepada temannya.


Tentu, apa yang dialami Fahmi ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Atta mendekat ke telinga kanan temannya, lalu berkata, "Kita nggak salah apa-apa di sini, Rob. Nggak usah takut." Meski mencoba menenangkan Robert, tapi nyatanya Atta juga sama takutnya.


"Tapi aku yang mengun ...." Robert belum selesai bicara, tapi bibirnya langsung ditutup oleh Atta.


"Diem. Nanti ada yang curiga, Rob," tekan Atta memberitahu.


***


Sementara itu di kamar pengantin.


"Ah! Ah! Ah!"


Suara desaahan yang lolos dari bibir Syifa terdengar begitu nyaring mengisi ruang kamar itu. Padahal awalnya, dia merintih kesakitan sampai-sampai menangis.


Joe yang berada di atas tubuhnya dengan peluh yang bercucuran terlihat sangat bersemangat, untuk mengajaknya ke puncak tertinggi.


Dia juga tentu sangat bahagia, dan seolah seluruh beban dihidupnya hilang, lantaran Joe telah berhasil membobol gawang pertahanan. Meskipun diawal-awal sangatlah susah.


Ternyata, kekuatan do'a benar-benar sangat dahsyat. Sudah Joe buktikan dengan kesuksesannya malam ini.


Dan setelah beberapa menit berlalu mereka memadu kasih, akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncak.


Joe menekan lebih kuat bok*ngnya, supaya cairan cintanya itu berhasil masuk ke dalam rahim Syifa. Dia benar-benar sudah tidak sabar, untuk segera membuat istrinya itu hamil.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Joe mengelus perut rata istrinya dengan lembut, kemudian mengecup bibir Syifa sambil memeluk tubuhnya. 'Alhamdulillah ... terima kasih, ya, Allah. Akhirnya Syifa malam ini telah menjadi milikku seutuhnya.'


Syifa menyambut ciuman itu, lalu menangkup kedua pipi suaminya. Kedua pun perlahan memejamkan mata.


...Akhirnya Om Joe nggak sakit kepala atas dan bawah lagi 🤭...

__ADS_1


...udah lunas ya, Guys 🤣...


__ADS_2