
Lomba agustusan anak-anak pun akhirnya usai. Dari kelas TK A sampai 6 SD sudah mendapatkan juaranya.
Sekarang adalah waktu dimana penyerahan hadiah untuk masing-masing dari juara satu, dua dan tiga.
Para juara itu berdiri berjajar di lapangan.
Robert terlihat yang paling bahagia di sana, karena selain mendapatkan juara satu dari lomba memecahkan balon—dia juga mendapatkan juara tiga dari lomba balap karung.
Itu sangat membanggakan menurutnya, karena baru kali ini dia mendapatkan juara lomba agustusan sekaligus dua.
"Kalau aku nggak pingsan gara-gara si Robert kapicirit ... aku pasti dapat juara pertama lomba memecahkan balon," ungkap Leon yang berdiri di samping Robert dan Baim, dia tampak merengut kesal lantaran mendapatkan juara dua. Dan menganggap apa yang terjadi karena ulah Robert.
"Tapi kamu 'kan ikut lomba ulang, Leon. Sedangkan aku sama Atta malah nggak ikut," sahut Juna.
"Kamu nggak ikut juga udah dapat juara satu lomba balap karung, Jun," sahut Baim menimpali.
Sama halnya seperti Leon, dia juga terlihat kesal pada Robert yang sempat kapicirit. Karena jujur saja—pas diawal lomba memecahkan balon itu dia begitu risih dengan baunya. Dan sempat menahan napas, tapi untungnya tidak sampai pingsan.
"Iya, sih, tapi 'kan tetap aja kalian ikutan lomba ulang. Jadi masih ada kesempatan buat menang," sahut Juna yang terlihat santai.
"Kamu kayaknya sengaja ya, Rob, kapicirit dicelana. Biar semua peserta sekaligus teman-temanmu keracunan?" tuduh Atta dengan curiga. Wajahnya terlihat masam menatap Robert.
"Enggak, Ta!" bantah Robert dengan gelengan kepala. "Masa aku sengaja. Kapicirit 'kan ibarat musibah, soalnya keluar sendiri tanpa ngejan."
"Tapi 'kan kerasa, Rob. Masa kamu kapicirit nggak ngerasa apa-apa?" Leon menggerutu dan tak mempercayai apa yang dikatakan Robert. "Harusnya, ya, pas kamu kerasa kapicirit ... itu kamu langsung ngomong sama Bu Syifa, jangan diem aja. Ini malah tunggu peserta lain pingsan dulu."
__ADS_1
"Iya. Kamu tega, Rob, sama kita-kita," sahut Baim.
"Kamu seneng, ya, lihat teman-temanmu muntah-muntah sama pingsan? Kamu kok nggak setia kawan, sih, Rob?" Atta menimpali dan kian memojokkan Robert.
"Iya, padahal kita 'kan Gundul In The Geng," tambah Leon sambil mencebik bibir.
"Dih ... enggak temen-temen! Kalian salah paham!" bantah Robert dengan gelengan kepala. Bola matanya terlihat berkaca-kaca, karena sedih teman-temannya itu menuduh yang tidak-tidak. "Aku minta maaf, tapi aku benar-benar nggak ada niat membuat kalian muntah-muntah, apalagi pingsan. Semuanya murni musibah."
"Alah ... kamu bilang aja—"
"Anak-anak ...," sela Syifa yang memotong ucapan Atta. "Sekarang adalah waktu memberikan hadiah. Semoga kalian senang, ya, menerima hadiah dari ketiga juri kita. Dan buat yang enggak mendapatkan juara ditahun ini ... kalian jangan berkecil hati. Tetap semangat dan teruslah berusaha supaya mendapatkan juara ditahun depan."
"Iya, Bu!" sorak para pemenang dengan ramai.
Yang diberikan hadiah pertama tentu adalah anak-anak dari TK dulu, kemudian berlanjut sampai kelas satu hingga kelas enam.
Keduanya itu terlihat sama-sama heran dengan hadiahnya, sebab tak nampak seperti sebuah mobil. Kalau pun mobil, mungkin mobil-mobilan.
'Tapi bukannya kata Mommy hadiahnya nggak mungkin mainan, ya? Terus apa dong? Padahal aku 'kan kepengen mobil beneren,' batin Robert yang terlihat lesu. Bukan tidak senang, hanya saja ekpektasinya mulai pupus.
Atta dan Leon yang mendapatkan juara dua dari salah satu lomba pun mendapatkan hadiah yang sama juga, yakni sepeda lipat.
Yang terakhir, hadiah juara tiga untuk Baim dan Robert pada lomba balap karung dan memecahkan balon mendapatkan satu paket seragam sekolah merah putih, lengkap dengan topi, dasi beserta gesper.
"Baiklah anak-anak ... silahkan kalian ke pinggir lapangan, karena Ibu akan memberitahu pengumuman selanjutnya," ucap Gisel.
__ADS_1
"Iya, Bu!"
Semua peserta yang telah mendapatkan hadiah itu langsung menghampiri orang tuanya, dan duduk di kursi.
"Karena banyak yang request ... Ibu, Bapak atau saudara dari anak-anak supaya bisa ikut lomba, jadi pihak juri sepakat memutuskan untuk mengadakan lomba tersebut tahun ini di sekolah," ungkap Gisel memberitahu.
"Lomba untuk para Ibu-ibu adalah tarik tambang. Satu grupnya berjumlah 5 orang, dan akan diadu setiap grupnya sampai menjadi juara," ucap Syifa.
Gisel pun menambahkan. "Hadiahnya pun cukup menarik sekali. Yakni masing-masing anggota grup yang juara akan mendapatkan sebuah motor listrik beserta helmnya."
"Tanggung banget cuma motor. Harusnya mobil ya, Pi," ujar Mami Yeri yang berbisik di telinga kanan suaminya. Sama sekali dia tak tergiur dengan hadiahnya, sebab yang dia inginkan adalah mobil.
"Iya. Harusnya mobil, biar seru." Papi Paul menganggukkan kepalanya.
"Wih ... Bi, harusnya Umi ikutan, ya? Biar dapat motor listrik. Sayangnya Umi nggak daftar ke Syifa pas Joe ngomong Robert ikut lomba di sekolah." Berbeda dengan Mami Yeri, Umi Maryam justru begitu tergiur dengan hadiahnya. Karena menurutnya, motor listrik adalah barang mewah. "Abi juga, sih, kenapa nggak ngasih saran ke Umi buat daftar? Jadi begini 'kan," tambahnya menyalahkan.
"Abi 'kan nggak tau, Mi. Kalau lombanya ada buat Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Kalau tau ada juga Abi pasti ikutan," sahut Abi Hamdan.
"Ya harusnya Abi itu nanya ke Joe, pas pagi-pagi itu. Itu Abi nggak nanya." Umi Maryam terlihat kesal dan masih menyalahkan suaminya. "Sayang banget 'kan, jadi kita nggak ikut lomba. Padahal Umi juga kepengen punya motor listrik, biasanya di rumah kita lomba paling dapat sapu sama panci."
"Kalau pun dapat motor, motor listriknya pasti nggak kepake lah, Umi."
"Kenapa nggak kepake? Ya kepake lah."
"Tapi Umi 'kan nggak bisa bawa motor. Jangankan motor, sepeda aja nggak bisa."
__ADS_1
"Dih ... ya 'kan bisa belajar, Bi. Abi ini suka banget meremehkan Umi! Sekali diajari pun Umi pasti bisa lah!" Umi Maryam akhirnya marah, dia juga langsung merengut sembari memalingkan wajah.
...Jangan ambekan dong, Umi 🤣...