Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
189. Ada apa dengan Syifa?


__ADS_3

"Mi ... Yumna pemotretan apa? Kan dia nggak ada kerjaan di Indonesia?


Pertanyaan Papi Yohan bertepatan saat dimana Mami Yeri dan Papi Paul menghilang dari balik pintu kamarnya.


"Mami dengar dari Yeri sih dia sekarang udah kerja di kantornya si Joe, Pi," jawab Mami Soora.


"Maksudnya dia jadi model di kantornya Joe gitu?" tebaknya yang mana dianggukan oleh sang istri.


"Iya."


"Hhhaahh ...." Papi Yohan terdengar menghela napas berat. "Pasti ini karena dia ingin mendekati Joe. Mami juga harusnya nasehati Yumna dong, supaya jangan dekati Joe lagi. Kan dia masih punya istri."


Seperti halnya Mami Soora, Papi Yohan pun tak mendukung sama sekali jika Yumna berniat menjadi pelakor dalam rumah tangga Joe.


Dia juga tentu sering menasehati anaknya dalam hal apa pun yang menurutnya salah. Hanya saja Yumna cukup membangkang, jadi keduanya tampak kesulitan.


"Udah kok, Pi. Bahkan sering. Tapi Papi 'kan tau sendiri ... bagaimana si Yumna? Dia anaknya susah diatur," keluh Mami Soora yang terlihat lelah jika harus membasah tentang anaknya. "Udah ... sekarang Papi jangan tanya-tanya tentang Yumna dulu. Karena takutnya Papi kesal, kan Papi baru siuman."


Papi Yohan terlihat mengangguk samar. "Oh ya, Mi. Papi dengar dari Dokter ... kalau Papi itu sempat kekurangan darah, ya? Pas mau dioperasi. Memangnya sampai separah itu, ya, Papi tertabrak mobil?"


"Mami dengar dari Suster juga gitu, Pi." Mami Soora menganggukkan kepalanya. "Tapi bagaimana sih awalnya, Papi bisa tertabrak mobil? Sedangkan kata pihak polisi ... mobil Papi terparkir di minimarket depan jalan raya pas kejadian?"


"Itu semua gara-gara Kakek-kakek yang ngeselin, Mi," jawab Papi Paul dengan raut kesal.


"Kakek-kakek?" Mami Soora tampak mengerutkan keningnya dengan raut bingung. "Kakek-kakek siapa, Pi? Pengemis bukan?"


"Kelihatannya sih kayak pemulung gitu, Mi. Soalnya bawa-bawa karung. Cuma pakaiannya rapih seperti orang yang mau sholat. Mami tau sholat, kan?"


"Ibadahnya orang muslim 'kan, Pi?"


"Iya." Papi Yohan mengangguk.


"Terus, Pi, alasan dia ngeselinnya karena apa?"


"Hampir setiap Papi ketemu dia ... dia selalu saja memberikan Papi Al-Qur'an. Terus meminta Papi untuk membuka dan membacanya. Kan aneh, ya?"


"Papinya bilang dong sama dia. Kalau Papi non muslim. Mungkin dia melakukan hal itu karena nggak tau Papi hambanya Tuhan Yesus."


"Dih ... Papi udah ngomong, Mi, setiap kali ketemu. Dari awal Papi juga menolak dan memberitahunya dengan cara baik-baik. Eh, makin ke sini setiap ketemu dia makin nggak sopan. Terakhir ya itu ... dia maksa sampai sangking kesalnya Papi lari buat ngehindar. Eh taunya Papi tertabrak mobil," jelas Papi Yohan pelan-pelan sambil mengingat kejadian.


"Sejak kapan Papi sering ketemu dia? Dan kenapa nggak lapor polisi aja, kalau menurut Papi apa yang dilakukannya menggangu," saran Mami Soora yang memang ada benarnya.


"Sudah sebulan terakhir ini, Mi. Papi juga sempat ada pikiran seperti itu, untuk melaporkannya ke polisi. Tapi Papi nggak tega, dia terlalu tua kayaknya untuk masuk penjara."


"Tua atau muda nggak masalah, Pi. Daripada dia mengganggu hidup Papi. Coba lihat sekarang ... Papi sampai kecelakaan begini. Siapa yang akan disalahkan kalau bukan dia?" Mami Soora berbicara sedikit keras karena tampak emosi mendengar cerita suaminya. Tapi dia disini bukan emosi kepada Papi Yohan, melainkan kepada Kakek-kakek yang menganggu. Karena semua ini tidak akan terjadi jika kakek itu tidak ada. Itulah yang Mami Soora pikiran.


"Iya, sih. Secara nggak langsung, kan, ya, Mi ... dia penyebab Papi kecelakaan." Papi Yohan setuju dengan pendapat istrinya. Dan memang Mami Soora sendiri tipe istri yang selalu mengerti semua hal tentangnya.


"Mangkanya. Dan untungnya Papi selamat karena ada yang donorin darah, karena kata Suster ... lagi susah cari golongan darah O. Mungkin kalau kemarin nggak ada yang donorin darah ... bisa-bisa nyawa Papi melayang, Pi. Karena Papi juga sempat kritis."


"Terus yang mendonorkan darah siapa, Mi? Dan apakah Mami sudah memberikannya imbalan?"

__ADS_1


"Kata Suster sih namanya Yunus. Tapi Mami nggak tau orangnya. Tapi kalau Yumna sih kayaknya tau, nanti coba Mami tanyakan deh sama Yumna, ya ... pria itu sudah diberikan imbalan atau justru dia yang meminta imbalan."


"Iya, Mi." Papi Yohan mengangguk.


"Ya sudah ... Sekarang Papi makan dulu, ya? Mami akan minta perawat untuk mengantarkan makanan."


"Iya."


Mami Soora pun mengangkat bokongnya. Tapi sebelum dia keluar dari kamar inap itu, dia lebih dulu mencium kening suaminya terlebih dahulu.


"Setelah kamu terbangun ... akan ada darah orang muslim yang sudah mengalir di tubuhmu. Darah yang setiap saat menyebut nama Allah. Orang itu juga yang akan merubah hidupmu dan keluargamu."


Degh!


Jantung Papi Yohan sontak berdebar kencang, saat dimana dia mendengar suara dari seseorang.


"Siapa?" Dia langsung menoleh ke sebelah kanan dengan perlahan, karena sumber suaranya dari sana. Namun, tak ada siapa pun di sana. "Siapa, ya?" tanyanya lagi demi memastikan. Sayangnya hening yang dia rasakan. Tak ada sahutan atau suara apa-apa.


"Darah orang muslim katanya?" Didetik selanjutnya, Papi Yohan langsung bergumam. Karena kalimat tadi menempel pada benaknya. "Apa maksudnya, ini ada hubungannya aku yang mendapatkan donor darah? Dan yang mendonorkannya adalah orang muslim, begitu?"


Papi Yohan kembali terdiam, mencoba mencerna kalimat tadi.


"Tapi ... memangnya kenapa, kalau semisalnya orang muslim yang mendonorkan darahnya untuk non muslim? Bukannya nggak dilarang? Nggak haram, kan? Terus ... hubungannya apa, dengan bawa-bawa merubah hidupku dan keluargaku segala?"


"Aneh ... tapi entahlah ....." Papi Yohan akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena merasa sudah tak menemukan jawaban dari semua yang dia pikirkan. Apalagi dia cukup sulit jika terlalu berpikir, kepala pun jadi sakit sekarang.


***


"Joe!! Kamu ke mana saja? Kok baru angkat telepon Mami?!"


"Maaf, Mi. Aku tadi lagi buat pengumuman untuk seluruh karyawanku di pabrik. Dan kebetulan hapenya aku silent, jadi nggak dengar ada siapa pun yang telepon atau chat," jelas Joe yang terdengar santai.


"Sekarang udah selesai belum, buat pengumumannya, Joe?" Suara Mami Yeri menjadi merendah sekarang, karena sudah mendengar jawaban dari anaknya. Dia tentunya begitu percaya kepada Joe, kalau pria itu tak mungkin berbohong kali ini.


"Udah, baru aja. Mami ada apa? Kebetulan tadi aku ditelepon Pak Bambang, tapi nggak keangkat. Rencananya aku mau telepon balik dia, takutnya penting."


"Itu Robert yang telepon, tapi pakai hapenya Pak Bambang. Mami diberitahukan dia ... kalau Syifa dibawa ke rumah sakit dan dia juga minta Mami untuk memberitahukan kepada kamu, Joe."


"APA?! Syifa dibawa ke rumah sakit?!" Joe memekik keras karena sangking terkejutnya. Mami Yeri yang mendengar suara lengkungan anaknya itu langsung menjauhkan benda pipihnya sebentar, karena dia tentu masih sayang sekali pada gendang telinganya sendiri. "Kenapa? Kenapa Syifa bisa dibawa ke rumah sakit, Mi? Sakit apa dia?" tanya sekali lagi yang masih berteriak.


"Mami nggak tau. Ini Mami juga baru sampai rumah sakit. Kamu nyusul aja, Joe. Syifa berada di Rumah Sakit Pelita. Lokasinya dekat dengan sekolahnya Robert."


"Oke. Aku langsung otewe ke sana, Mi."


"Udah, Mi, ayok kita masuk!" ajak Papi Paul yang tampak tak sabar dengan tarikan pada lengan Mami Yeri.


Keduanya memang sudah ada di depan rumah sakit saat ini. Tapi ketika Papi Paul hendak melangkah masuk, istrinya itu justru menahan tangannya.


Sebab dia mengatakan kalau panggilannya kepada Joe yang sejak dalam perjalanan dilakukan kini berhasil terangkat.


Jadi Mami Yeri mengatakan jika dia ingin bicara dulu kepada Joe, memberitahukan kalau saat ini Syifa berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Ayok, Pi," sahut Mami Yeri yang sudah menutup panggilan, kemudian menaruh ponselnya ke dalam tas branded yang dia jinjing.


Keduanya berlari menuju ruang UGD. Karena sebelumnya Mami Yeri diberitahu oleh Pak Bambang lewat chat jika dia dan Robert ada di sana.


"Lho, di mana Robert dan Pak Bambangnya, Mi?"


Papi Paul dibuat bingung, karena saat keduanya sampai—cucu dan kepala sekolahnya itu justru tidak ada di depan sana.


"Iya. Ke mana mereka kira-kira, Pi?" Mami Yeri pun ikut kebingungan juga, kemudian menatap sekitar.


"Oma! Opa!"


Dari ujung, terdengar suara bocah yang memanggil. Dan seketika langsung mengalihkan atensi keduanya ke arah sana.


"Robert ...." Papi Paul dan Mami Yeri berucap bersama ketika cucu semata wayangnya itu melangkah mendekatinya. Tapi dia tidak sendiri, melainkan bersama Leon. Dan kepala kedua bocah itu terlihat sama-sama botak.


"Kamu darimana, Sayang? Dan bawa apa kamu?"


Mami Yeri menunjuk ke arah plastik putih yang Robert tenteng. Karena warnanya begitu transparan, jadi dia mampu melihat isinya yang ternyata sebotol air mineral dan roti.


"Robert sama Leon habis dari kantin, Oma. Beli ini buat Mommy." Robert menarik turunkan tentengannya. "Takutnya dia laper dan haus. Kan habis muntah-muntah dan pingsan," tambahnya kemudian.


"Oh gitu. Terus Pak Bambangnya ke mana? Dan apakah Dokter yang memeriksa Mommymu di dalam belum keluar juga?" Mami Yeri menunjuk pintu ruang UGD dengan wajah penasaran.


"Pak Bambang ada di depan ruangan dokter kandungan. Kebetulan Dokter minta Mommy untuk dibawa ke sana, Oma. Udah ayok kita langsung ke sana saja," ajak Robert yang langsung menggandeng tangan temannya, kemudian melangkah lebih dulu.


Mami Yeri dan Papi Paul pun sontak melayangkan pandangan, dan mata keduanya sama-sama berbinar sekarang.


"Apa jangan-jangan Syifa hamil, ya, Pi?" tebak Mami Yeri yang sudah kegirangan duluan. Bahkan tak sadar kakinya sudah loncat-loncat.


"Semoga saja. Tapi jangan kege'eran duluan, Mi. Nanti kita kecewa."


Papi Paul segera menarik tangan istrinya, sebab takutnya mereka ketinggalan oleh Robert dan Leon yang terlihat melangkah dengan lincahnya di depan.


Ceklek~


Sampainya mereka di depan ruang kandungan dan menghampiri Pak Bambang, bertepatan sekali dengan keluarnya seorang dokter wanita berambut kribo dari sana.


"Keluarga Bu Syifa Sonjaya mana, ya?" tanyanya sambil menatap sekitar, sebab banyak sekali orang disana selain Robert, Leon, Mami Yeri, Papi Paul dan Pak Bambang.


"Robert anaknya Bu Dokter!" Robertlah yang lebih dulu menyahut dengan cepat, sambil mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi.


"Kami mertuanya, Dok." Mami Yeri mewakilkan untuk bicara, saat dokter itu menatap kepadanya dan Papi Paul.


"Kalau suaminya mana ya, Bu? Apa Bapak ini?" Dokter itu menatap ke arah Pak Bambang yang baru saja berdiri satu duduknya.


"Bukan Bu Dokter!" sahut Robert dengan gelengan kepala. "Dia kepala sekolah Robert."


"Suaminya lagi dijalan mau ke sini, Dok," ungkap Mami Yeri memberitahu. "Tapi kenapa dengan menantu saya, Dok? Ada apa Syifa?" tanyanya yang tampak begitu penasaran.


"Menantu Anda tidak kenapa-kenapa, Bu. Dia hanya sedang hamil saat ini," jawab Dokter itu dengan ulasan senyum di bibirnya.

__ADS_1


...Wiiihh... Robert bakal jadi Kakak, nih 😚...


...Mumpung hari Senin nih, Guys, seperti biasa.... jangan lupa vote dan hadiahnya🤗 biar Author semangat 😌...


__ADS_2