Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
220. Pasti menang


__ADS_3

"Kamu kenapa, Nak?"


Dari kejauhan, Abi Hamdan berlari menghampiri cucunya karena merasa khawatir melihat wajahnya yang memerah seperti menahan sesuatu.


Dia baru saja sampai tadi, bersama Umi Maryam yang memegang spanduk bertuliskan nama Robert. Tapi wanita itu tidak ikut ke lapangan, dia memilih menghampiri Joe dan orang tuanya.


"Opa! Opa akhirnya datang!" Robert terlihat senang dan langsung tersenyum, namun seketika rasa sakit diperutnya kian meledak rasanya. "Mules, perut Robert mules, Opa!"


"Mules?! Ayok cepat ke toilet, Nak!" Cepat-cepat Abi Hamdan mengangkat tubuh sang cucu, kemudian berlalu meninggalkan lapangan.


Melihat itu, kedua host di sana menjadi bingung. Apalagi dengan Syifa.


Setahu dia, kalau momen seperti ini terjadi pasti sang juri langsung menyatakan peserta itu gugur. Tapi dia tak berani mengatakan hal itu, karena bisa saja akan ada peraturan yang berbeda.


"Bagaimana ini juri? Lombanya tetap dilakukan atau tunggu Robert?" tanya Gisel menatap ke tiga juri. Untuk memastikan keputusannya.


Pak Bambang meraih mic di atas meja, lalu berkata, "Karena ada kendala dari Robert, lombanya tetap dilaksanakan. Hanya saja Robert sudah gugur di sini."


"Apa?! Gugur?!" Joe, Mami Yeri dan Papi Paul sama-sama menyeru dengan keterkejutannya. Buru-buru ketiganya berlari menuju lapangan, lalu menghampiri ketiga juri.


"Jangan digugurin dong, Pak! Kasihan anakku!" pinta Joe memohon.


"Iya, kasihan, Pak." Mami Yeri menimpali.


"Kita tunggu sebentar, Pak. Tunggu Robert selesai berak," ucap Papi Paul yang juga memohon, sembari menatap wajah Pak Bambang dan kedua juri lainnya dengan raut memelas.


"Maaf ... tapi nggak bisa Pak, Bu. Kasihan sama peserta yang lainnya kalau disuruh nunggu," ucap Pak Bambang yang terlihat tak setuju.


"Iya." Pak Zaka—guru olahraga menimpali, dia bicara dengan menggunakan mic. "Lagipula berak itu aktivitas yang lama."


"Si Robert kalau berak cepet kok, Pak," sahut Joe yang terlihat masih berusaha menolong anaknya.


"Joe bener, Pak." Papi Paul menimpali. "Cucuku juga kalau berak nggak perlu ngejan. Jadi langsung keluar dan nggak lama."


"Ngarang aja Opa Paul ini." Atta menimpali sambil terkekeh. Dan beberapa anak yang lain pun ikut tertawa, karena aneh saja kepada ucapan Papi Paul yang mengatakan jika Robert buang air besar tanpa mengejan. Bisa saja, sih, tapi itu karena Robert mencret. "Mana mungkin orang berak nggak ngejan, mana enak, Opa."


"Dih beneran, Ta," sahut Papi Paul yang memang dia mengarang cerita, demi menyelamatkan cucunya.


"Saya harap Pak Joe beserta Ibu dan Bapaknya dapat memaklumi. Karena ini memang sudah menjadi peraturan lomba," ucap Pak Bambang menjelaskan, lalu menatap ke arah Syifa dan Gisel. "Bu Syifa ... Bu Gisel. Ayok mulai lombanya."


"Baik, Pak." Gisel dan Syifa menyahut secara bersama, kemudian beberapa panitia lomba datang menghampiri untuk menarik ketiga orang itu supaya menyingkir dari lapangan.

__ADS_1


"Yang ... kasihan Robert ...." Bola mata Joe terlihat berkaca-kaca, menatap sendu istrinya. Tapi Syifa juga tak bisa apa-apa di sini.


"Baik. Sekarang sudah siap ya, anak-anak?" ucap Gisel.


"Siap, Bu!" sorak mereka semua.


"Ibu akan hitung dari ...." Syifa berucap, kemudian melanjutkan. "Tiga ... dua ... satu ... mulai!!"


Mendengar kata terakhir dari Syifa, seluruh bocah disana langsung melompat kencang. Dan ternyata, Abi Hamdan tiba-tiba sudah datang dan langsung menurunkan Robert di sana.


Alhasil bocah itu langsung ikut melompat dengan karungnya, menyusul teman-temannya.


Meskipun memang harapan menjadi juara satu begitu tipis, tapi tidak ada salahnya jika dia berusaha.


"Kamu pasti menang, Nak!" seru Abi Hamdan menyemangati dengan kedua tangan yang terangkat di udara.


Joe, Mami Yeri, Papi Paul, Umi Maryam dan beberapa suporter sewaan langsung menyerukan nama bocah itu. Menyemangatinya untuk menang.


"Robert!"


"Ayok, Robert!"


"Lebih cepat!"


"Ayok lompat!"


"Robert!"


"Hore!!! Akhirnya selesai!" seru Syifa dan Gisel saat lomba balap karung itu selesai. Dan yang berhasil mencapai garis finish duluan dari kelas satu adalah Juna, kedua Atta dan ketiga Robert, yang berhasil menyalip Leon.


"Kamu menang, Nak! Menang!" Abi Hamdan langsung berlari menghampiri cucunya, dan menggendong sembari dia angkat-angkat tubuhnya ke udara.


Melihat itu—Joe, Mami Yeri dan Papi Paul pun lantas ikut bergabung kemudian melompat-lompat.


"Yey!! Kamu menang, Sayang!" sorak mereka bertiga.


"Menang gimana? Orang Robert kalah." Robert merengut dengan raut sedih, dan rasanya ingin menangis.


"Kamu nggak kalah kok, Sayang. Kamu juara 3 itu," ucap Joe menyemangati, lalu menciumi kedua pipi anaknya yang sudah memerah.


"Iya, Oma yakin kamu juara tiga. Tadi Oma melihatnya kok," balas Mami Yeri.

__ADS_1


"Tapi Robert 'kan kepengen juara satu, Oma, hiks!" Akhirnya dia menangis tersedu, ditambah Robert juga merasakan celana bagian bokongnya basah dan lengket.


Mungkin ampasnya sudah keluar sedikit saat lompat tadi. Tapi giliran pas tadi nongkrong di toilet, justru tidak ada yang mau keluar. Karena dia memang tak jadi buang air besar.


"Oke ... masih semangat nggak anak-anak?" tanya Syifa sambil menatap semua anak muridnya di lapangan.


"Masih, Bu!!" Semuanya bersorak. Mungkin kecuali Robert yang masih menangis.


"Robert ... kamu nggak perlu sedih. Karena masih ada lomba lain, yang bisa kamu menangkan, Sayang," ucap Syifa kepada anaknya. Saat melihat buliran bening itu jatuh membasahi pipinya.


Abi Hamdan langsung mengusap kedua pipi cucunya, kemudian menurunkan tubuhnya sambil melepaskan karung. 'Bau apa ini? Apa Robert kapicirit dicelana?' batinnya yang tak sengaja mengendus bokong Robert, tapi dia memilih untuk menghiraukannya sebab tak mungkin bocah itu kembali meninggalkan lapangan.


"Untuk lomba kedua ... pada kloter kedua adalah kecepatan memecahkan balon," ucap Gisel, lalu berjalan menghampiri beberapa panitia lomba yang memegang beberapa balon berwarna-warni di sisi lapangan.


"Kita perlu satu wali dari keluarga peserta, untuk memegang balon," ucap Syifa. "Ayok, siapa yang mau ikut mendampingi?"


Beberapa peserta itu langsung berlari menghampiri orang tua dan keluarganya, kemudian menarik salah satu untuk mendampinginya.


Namun, giliran Robert justru keluarganya terlihat berebutan. Masing-masing ingin dirinya yang memegang balon.


"Aku saja, aku 'kan Daddynya," ucap Joe yang sudah berlari menghampiri panitia, hendak mengambil balon.


"Papi saja, Joe. Papi 'kan Opanya," ucap Papi yang ikut berlari. Dan ternyata Mami Yeri, Opa Hamdan dan Umi Maryam pun ikut juga.


"Mami saja. Kan Mami Omanya," ucap Mami Yeri.


"Sesekali aku, Bu. Aku juga ingin ikut," ucap Umi Maryam, yang baru kali ini ikut berdebat. Karena boleh dibilang ini tahun pertama dia bisa melihat cucu yang ikut lomba agustusan. Rasanya seru sekali.


"Abi saja deh, Umi. Abi 'kan guru latihannya Robert."


"Bapak ... Ibu, jangan berebutan begitu," ucap Gisel menasehati. "Ayok pada ngalah, salah satu saja supaya lombanya cepat dimulai. Karena akan diberitahukan peraturan dulu."


"Joe ... kali-kali ngalah lah, sama Papi," bisik Papi Paul. Dia bahkan sudah menarik lima tali balon yang Joe pegang. Tapi benda itu secepat kilat sudah berpindah tangan kepada Mami Yeri.


"Harusnya kalian ngalahnya sama Mami dong! Mami 'kan perempuan di sini!"


"Tapi aku juga perempuan, Bu." Umi Maryam menimpali.


"Bu Syifa! Bu Syifa!" panggil Pak Bambang yang sudah berdiri dengan wajah jengah. Dan lantas membuat Syifa menoleh ke arahnya.


...Usir aja tuh mereka, sekalian bawa Robert yang kapicirit, Pak 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2