Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
155. Udah gede masih nennen


__ADS_3

Bukan hanya Joe saja yang terkejut, melainkan Syifa juga. Keduanya sontak terlonjak diposisinya, Syifa juga buru-buru membereskan baju lalu berdiri dari pangkuan Joe.


"Lho, kok udahan?" tanya Robert heran, menatap wajah kedua orang tuanya yang tampak memerah. Tentu saja, kepergok oleh Robert membuat mereka merasa sangat malu.


"Ka-kamu sejak kapan bangun, Rob? Dan ... apa saja yang kamu lihat?" tanya Joe dengan gugup. Segera dia pun menghampiri Robert, kemudian duduk di sampingnya.


"Aku lihat Daddy nennen sama Mommy," jawab Robert dengan jujur.


"Selain itu, apa ada lagi?" tanya Joe yang makin memerah saja. Sedangkan Syifa sendiri sudah memilih berlari masuk ke dalam kamar mandi, guna meloloskan diri dari pertanyaan anak sambungnya.


Biarkan Joe saja yang menjawab, karena pastinya dia jauh lebih berpengalaman.


'Duh Syifa ... gimana, sih, kamu!! Bisa-bisanya kamu mengizinkan Aa melakukan hal itu sedangkan posisi ada Robert di kamar!' Syifa hanya bisa menggerutuki dirinya sendiri sambil mengusap kasar wajahnya. Tapi sesungguhnya, keinginannya untuk bercinta masih tetap ada. Bahkan makin bertambah. 'Kasihan Robert, dia masih terlalu kecil. Tapi matanya sudah ternodai akibat ulah Mommy dan Daddynya.'


"Sayang ... selain tadi yang kamu ucapkan, apa ada lagi yang kamu lihat?" tanya Joe sekali lagi pada anaknya. Karena tadi pertanyaannya belum dijawab.


"Hanya itu kok, Dad. Tapi kok aneh ... kenapa Daddy nennen, dan bukannya dada Mommy nggak ada airnya, ya?" Robert menatap Joe dengan raut bingung bercampur penasaran.


"Kata siapa nggak ada? Orang ada kok," jawab Joe beralasan.


"Tapi kata Oma ... perempuan yang bisa mengeluarkan ASI itu adalah perempuan yang sudah melahirkan bayi, Dad. Sedangkan Mommy 'kan belum pernah melahirkan."


"Oma siapa?"


"Oma Yeri."


"Oma ngasal itu, Rob, buktinya Mommy Syifa ada airnya." Yang ngasal adalah Joe, dia ngasal saja karena bingung mencari jawaban. Tapi semoga saja anaknya itu mempercayainya.


"Masa, sih? Tapi nggak mungkin ah ... Oma ngasal."


"Bener."


"Kalau begitu, Robert juga mau dong, Dad ... nennen sama Mommy Syifa."


"Dih ... nggak boleh!" tegas Joe melarang.

__ADS_1


"Kenapa nggak boleh?"


"Kamu udah gede, masa nennen?"


"Kalau sebesar Robert aja Daddy bilang gede, apalagi Daddy sendiri?" Robert menunjuk Joe dengan raut bingung. "Masa udah gede masih nennen sih, Dad?"


"Kalau Daddy itu beda," sahut Joe.


"Bedanya apa?"


"Ya 'kan Daddy itu suaminya, Mommy, Rob, jadi boleh."


"Robert juga anaknya." Robert menepuk dada.


"Tapi beda. Kamu tetap nggak boleh." Joe menggelengkan kepalanya.


"Dih ... kok curang? Daddy nggak boleh gitu, lho ... karena tanpa Robert Daddy 'kan nggak bakal nikah sama Mommy. Nggak bakal bisa nennen juga, meskipun udah setua ini." Robert mengungkit, supaya Joe ingin berbagi dengan.


"Iya, Daddy paham. Tapi itu tetap nggak boleh, Rob. Itu 'kan punya Daddy."


"Maksudmu joinan?"


"Iya." Robert mengangguk semangat.


"Mana bisa."


"Ya bisalah, Dad."


"Ih udah deh, Rob, mending sekarang kamu lanjutkan tidurmu. Dan lupakan apa yang terjadi barusan, ya? Anggap saja kamu nggak lihat apa-apa." Joe cepat-cepat meraih tubuh anaknya, lalu membaringkannya. Dia juga langsung menepuk-nepuk punggung kecilnya. Supaya bocah itu cepat memejamkan mata.


"Mana bisa begitu? Orang Robert ingat. Daddy juga terlihat begitu bersemangat."


"Ya karena enak, mangkanya Daddy semangat."


"Tuh, kan, Robert jadi penasaran. Bagaimana sih, rasanya ... nennen itu."

__ADS_1


Joe langsung menampar bibirnya sendiri, yang dengan bisa-bisanya dia keceplosan.


"Kamu waktu kecil udah pernah, Rob," sahut Joe.


"Tapi bukannya Mommy Sonya meninggal pas Robert lahir, ya? Berarti ... Mommy Sonya belum pernah ngasih Robert ASI dong, Dad?"


Joe mengangguk. "Iya. Tapi 'kan ada sufor, Rob, pengganti ASI. Kamu minum susunya lewat botol, pakai dot."


"Sufor itu apa, Dad?"


"Susu formula. Susu yang sering ada di supermarket itu, yang bubuk."


"Kayak gimana? Robert nggak tau." Robert menggeleng dengan wajah bingung.


"Bentar ... Daddy cari dulu di google." Joe mengulurkan tangannya ke arah nakas, untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia pun mengetik pada kolom pencarian tentang merk susu formula yang Robert konsumsi dulu. Dan tak lama kemudian, beberapa gambar itu bermunculan disana. "Nih ... begini gambarnya." Joe memberikan ponselnya ke tangan sang anak, juga menunjukkan salah satu gambar merk susu.


"Oh ini ...." Robert memerhatikan, dan memang benar—kemasan susu formula itu sering dia jumpai di supermarket. "Tapi, Dad ... berarti sama saja, kalau Robert itu belum pernah merasakan ASI yang sesungguhnya. Jadi berhubung Robert udah punya Mommy baru, dan Mommy Syifa punya ASI ... sekarang giliran Robert harus mencobanya. Biar nggak penasaran."


Mendengar apa yang Robert katakan, seketika membuat kepala Joe menjadi pening. Sungguh, dia tak mau melihat Robert melakukan itu kepada Syifa.


Boleh jika berbagi dalam hal memeluk, tapi tidak dengan itu. Tidak ikhlas rasanya.


"Eemm ... bagaimana kalau begini saja, Rob." Joe tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Dan semoga saja kali ini berhasil.


"Begini gimana, Dad?"


"Besok kamu boleh minum ASI-nya Mommy Syifa ... asalkan jangan dari sumbernya, ya?"


"Sumber gimana maksudnya?" Alis mata Robert tampak bertaut.


"Maksudnya secara langsung. Jadi nanti minumnya lewat botol saja, nanti Daddy sekalian beliin kamu dot."


"Ih nggak mau!" tolak Robert tak setuju. "Daddy saja nennen secara langsung, masa Robert nggak? Curang dong namanya!"


...Bener, Rob, jangan mau 🤣 mending joinan 😆...

__ADS_1


__ADS_2