Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
255. Nanti ribet


__ADS_3

"Beliau ...." Ucapan Haikal seketika menggantung diujung bibir, lantaran tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka pada ruangan UGD.


Seorang dokter pria berkacamata keluar dari sana, sehingga membuat mereka semua berdiri dan langsung menghampirinya.


"Apa Nona ini istrinya Pak Jonathan?" tanya sang dokter menatap Syifa.


"Iya, Dok." Syifa mengangguk. "Aku istrinya, tapi bagaimana keadaan suamiku sekarang?"


"Suami Anda sudah sadar, tapi dia masih mengalami mual dan muntah. Sebaiknya untuk malam ini dia dirawat saja disini, ya, Nona."


"Iya, Dok," jawab Syifa dengan anggukan setuju. "Tapi, Dok. Memangnya benar, ya ... kalau suamiku itu keracunan ketek." Nyatanya, sampai sekarang Syifa masih belum percaya. Penyebab Joe masuk rumah sakit dan dilarikan ke UGD.


"Benar, Nona." Dokter itu mengangguk. "Pak Joe sempat mengalami keracunan, disebabkan aroma ketiak yang membuatnya tidak sanggup untuk menghirupnya. Disamping itu Pak Joe juga sedang mengalami kehamilan simpatik, jadi wajar ... jika indera penciumannya jauh lebih sensitif," tambahnya menjelaskan panjang.


"Oh ya, apa ada yang bernama Sandi di sini?" tanya Dokter lagi, lalu menatap ke arah Haikal.


"Pak Sandi ada di kantor polisi, Dok," jawab Syifa, lalu mengelus puncak kepala Robert. "Tapi apakah aku dan Robert sudah boleh ketemu dengan Pak Joe? Aku juga ingin bertemu dengannya."


"Saat dipindahkan ke kamar rawat ...Nona sudah boleh menemuinya." Dokter itu tersenyum, kemudian menuju pintu dan membukanya. "Kalau begitu saya permisi, karena masih ada pekerjaan lain."


"Iya, Dok. Terima kasih."


"Sama-sama."


Sekitar 10 menit sehabis dokter itu masuk lagi ke dalam ruang UGD, Joe pun dipindahkan ke kamar rawat khusus VVIP.


Dan bukan hanya Syifa dan Robert saja yang ikut menemaninya, tapi Haikal juga. Hanya saja bedanya laki-laki itu menunggu diluar.


"Apa kepala Aa ada pusingnya juga?" tanya Syifa khawatir, dengan memandangi wajah Joe yang tampak pucak. Dahi plontosnya itu dia sentuh, untuk mengecek suhu tubuhnya.

__ADS_1


"Enggak, Yang." Joe menggeleng, namun dengan senyuman yang tampak merekah indah. Dia sangat senang, melihat Syifa begitu mengkhawatirkannya, terlebih dia juga sudah mau bicara dengannya. 'Ada manfaatnya juga aku keracunan ketek. Jadi Syifa mau ngomong lagi sama aku. Mana manis banget lagi, ditambah pegang-pegang dahi segala,' batin Joe dengan hati yang berbunga-bunga.


"Yang namanya Udin yang mana, Dad?" tanya Robert dengan raut penasaran. "Dan sebau apa keteknya, sampai-sampai buat Daddy keracunan." Ingin rasanya dia ikut mencium aroma ketek itu, demi mengatasi rasa penasarannya.


"Daddy nggak tau, Rob." Joe menggeleng lemah. "Itu diluar ada Om Sandi, nggak? Coba tolong panggilin, soalnya yang tau tentang Udin dia. Terakhir Daddy ketemu Udin terus nggak lama Daddy pingsan."


"Oh gitu. Ya sudah ... tunggu sebentar, Robert akan keluar. Siapa tau Om Sandi sudah pulang dari kantor polisi." Robert langsung berlari keluar dari kamar rawat Joe.


"Kantor polisi?!" Joe bergumam, saat mendengar apa yang anaknya itu katakan.


"Sebenarnya ... apa hubungan Aa dengan orang yang bernama si Udin? Kok dia terlihat begitu spesial, sampai Aa masih terus menanyakannya?" Tatapan mata Syifa terlihat tak bersahabat, dan seperti ada api cemburu yang berkobar pada manik matanya.


Apakah Syifa cemburu dengan si Udin?


Entahlah, dia sendiri tidak tahu dan Joe sendiri tidak berpikir ke arah sana. Disamping itu Udin juga laki-laki.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan si Udin, Yang. Tapi si Udin itu salah satu orang yang mengintip kita ditenda."


"Iya, dan aku berencana ...." Ucapan Joe terhenti saat pintu kamar rawatnya dibuka.


Ceklek~


Robert masuk lagi, tapi kali ini bersama Sandi.


"Assalamualaikum Pak Joe, Bu Syifa," ucap Sandi dengan sopan. Setelah menatap ke arah Joe, dia juga menatap kepada Syifa sebentar.


"Walaikum salam," jawab keduanya.


"San ... bagaimana? Tadi pas aku pingsan kamu berhasil mengamankan si Udin, kan?" tanya Joe dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Si Udin berhasil kabur, Pak." Jawaban Sandi tentulah bukan hanya membuat Joe kecewa, tapi Syifa juga. Padahal Syifa sendiri sudah sempat senang duluan.


"Tapi Bapak nggak perlu khawatir ...." Sandi kembali melanjutkan. "Saya tadi ke kantor polisi untuk melaporkan kasusnya. Ditambah saya juga sudah diberitahukan oleh Haikal, tentang alamat rumah si Udin. Jadi besok polisi akan datang dan langsung menyeretnya."


"Pelaku yang satu laginya terus gimana?" tanya Syifa. "Bukannya waktu itu kata Bapak ada dua, ya, yang ngintip?"


"Pelaku yang kedua bisa nyusul, Bu. Yang terpenting Udin tertangkap saja dulu."


"Ya sudah, San. Nanti beritahukan aku kalau ada apa-apa. Dan kalau si Udin sudah tertangkap... cepat paksa dia untuk mentakedown video. Minta juga untuk pihak polisi ... supaya jangan membocorkan identitasku dan Syifa, yang ternyata orang di dalam video syur itu."


"Iya, Pak. Bapak tenang saja." Sandi mengangguk. "Oh ya, itu diluar Haikal masih menunggu. Sepertinya dia menunggu bayaran yang Bapak janjikan itu."


"Bayaran untuk apa?" tanya Syifa kepada Sandi.


"Pak Joe bilang ingin membayarnya 10 juta, kalau dia mau memberitahukan alamat rumah si Udin, Bu."


"10 juta?!" Syifa membulatkan mata. "Apa nggak kegedean, sampai ngasihnya 10 juta segala?" Beralih, dia menatap pada Joe.


"Nggak apa-apa, Yang. Yang terpenting Udin bisa ditangkap," sahut Joe, lantas menatap Sandi. "Kamu mintain saja nomor rekeningnya, lalu kirim kepadaku. Biar aku langsung mentransfernya."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga Bapak cepat sembuh."


"Iya, San." Joe mengangguk. Asistennya itu pun melangkah pergi keluar dari kamar rawatnya.


"Aa ... kita perlu beritahukan Papi sama Abi nggak, kalau Aa dirawat di rumah sakit?" tanya Syifa seraya menarik kursi kecil di samping ranjang. Kemudian duduk disana bersama Robert yang ikut dipangku.


"Enggak usah deh, Yang." Joe menggeleng. "Nanti ribet, bisa-bisa mereka tanya-tanya tentang penyebabku pingsan dan siapa itu Udin. Aku ingin masalah ini selesai oleh sendirinya, tanpa orang lain tau. Apalagi orang tua kita."


"Tapi, Dad. Memangnya ... video syur itu video apaan? Kok sampai bawa-bawa polisi segala?" tanya Robert dengan polosnya. Sejak tadi dia mendengar, juga menangkap apa saja yang tadi mereka bahas.

__ADS_1


"Video syur itu ...." Joe menggaruk kepalanya, lalu menatap ke arah Syifa. Dia tampak bingung untuk menjelaskan, sebab takut salah bicara dan membuatnya makin pusing untuk menjelaskannya lagi.


^^^bersambung.....^^^


__ADS_2