
"Di rumah Bapak saja. Nanti aku yang ke rumah Bapak," jawab Papi Paul.
"Jam berapa kira-kira, Pak?"
"Jam 8 malam, Pak."
"Oh ya sudah kalau begitu, assalamualaikum."
"Iya, Pak," jawab Papi Paul kemudian mematikan sambungan telepon.
"Allahu Akbar Allahu Akbar!"
Tiba-tiba, terdengar suara kumandang adzan Magrib. Abi Hamdan yang baru saja berdiri itu langsung dihampiri Umi Maryam yang keluar dari pintu rumahnya.
"Abi, bukain kunci kamarnya si Syifa. Dia musti buka puasa, kasihan," pinta Umi Maryam.
"Lho, memangnya si Syifa puasa, Mi?" Abi Hamdan merogoh saku baju koko berwarna birunya untuk mengambil sebuah kunci, kemudian memberikan kepada Umi Maryam. "Memangnya, puasa apa?" tambahnya bertanya.
"Puasa Zulhijjah lah, Bi. Abi ini aneh deh." Umi Maryam geleng-geleng kepala. Dia lantas berbalik badan, hendak masuk lagi ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba lengannya dicekal oleh suaminya.
"Ya Allah Umi, Abi juga padahal puasa. Tapi tadi siang malah ngopi," katanya yang terdengar terkejut.
"Oh iya juga ya, Bi. Tapi Umi sendiri juga lupa, kenapa malah nurut aja membuat kopi."
"Ya sudahlah namanya terlanjur. Lagian itu juga dilakukan karena lupa, bukan sengaja." Abi Hamdan terlihat tak ambil pusing. Sebab selain dia lupa sudah ngopi—tadi siang dia juga benar-benar lupa mengontrol emosinya, dengan keadaan yang sedang berpuasa.
Batal tidaknya dia tidak tahu dengan jelas, tapi kalau tentang pahalanya—pasti sudah berkurang banyak.
"Iya. Sekarang masuk saja, yuk, kita buka puasa bareng," ajak Umi Maryam.
"Umi saja deh sama Syifa duluan. Abi kepengen ngimamin sholat Magrib soalnya. Eh tapi, beritahu Syifa nanti ... kalau orang tua Jojon akan datang nanti malam 8. Buat merundingkan masalah yang telah terjadi."
"Nanti Umi sampaikan. Tapi Joe sama Robert sendiri ke mana, Bi?"
"Mereka di rumah orang tua Jojon, Mi. Tadi pas telepon Pak Paul sih ... Abi udah bilang padanya, kalau Jojon dan Robert sekalian ikut juga nanti. Kan biar enak juga kita selesaikan masalah ini secara bersama."
__ADS_1
"Iya. Memang bagusnya diselesaikan secara cepat. Umi juga sedih, melihat Syifa yang terus menerus nangis, Bi."
"Ya sudah. Abi ke masjid dulu, Mi. Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam."
Setelah melihat suaminya berlalu menuju masjid, Umi Maryam lantas masuk ke dalam rumahnya kemudian menutup pintu.
Kakinya pun melangkah menuju kamar Syifa, lalu membuka kunci serta pintunya.
Ceklek~
Syifa yang tengah duduk di atas kasur sambil menangis langsung berdiri, kemudian berlari keluar dari kamarnya hingga menerobos Umi Maryam yang masih berdiri di ambang pintu.
Dia tak sabar rasanya, ingin cepat menemui Joe diluar rumah bersama anaknya.
Namun sayang, saat Syifa membuka pintu utama rumah—dia tak melihat siapa pun ads di sana. Sedih sekali rasanya.
"Aa ... Robert," lirih Syifa pelan sambil meneteskan air matanya.
"Di mana Aa dan Robert, Umi? Kok mereka nggak ada?" tanyanya seraya menoleh ke arah Umi Maryam. Seluruh wajah Syifa tampak merah dan basah, akibat air mata dan keringat.
"Mereka berdua di rumah orang tua Joe, Fa. Mungkin Joe lagi disidang."
"Sidang?!" Kening Syifa seketika mengerenyit.
"Iya." Umi Maryam mengangguk. "Wajar kalau orang tua Joe kecewa. Tapi kata Abi ... nanti malam mereka semua akan datang, permasalahan ini akan diselesaikan dengan cara dirundingkan, Fa."
"Tapi Aa sama Robert ikut juga, kan, datang ke sini?" tanya Syifa penuh harap. Padahal Umi Maryam sudah mengatakannya tadi, tapi justru Syifa bertanya lagi.
"Pastilah, Fa. Kan mereka berdua tinggal di sini bersama kita. Masa nggak ikut." Umi Maryam terlihat terkekeh. Merasa lucu dengan pertanyaan anaknya.
"Nanti malamnya jam berapa kira-kira, Umi? Tapi kenapa nomor Aa nggak aktif-aktif dari tadi?"
"Jam 8, habis Isya berarti. Tapi kalau tentang nomor Joe yang nggak aktif ... Umi sendiri nggak tau, Fa. Nanti saja kamu tanyanya sama orangnya langsung. Kalau sudah ketemu."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau mandi deh, Umi. Mau menyambut mereka semua datang." Syifa langsung menyeka air matanya, perlahan dia mengulum senyum dan kedua kakinya itu melangkah sedikit berjingkrak masuk ke dalam rumah.
Berbeda dengan tadi yang tampak bersedih, sekarang Syifa justru sangat senang. Sebab masalah yang dia hadapi itu akan segera selesai.
"Setidaknya buka puasa dulu, Fa! Baru mandi! Kan biar batal dulu!" pekik Umi Maryam di depan pintu kamar Syifa, sambil mengetuknya. Sebab anaknya itu sudah masuk lagi ke dalam sana dan pintunya kembali dikunci. Hanya saja bedanya kali ini Syifa lah yang menguncinya.
"Di sini ada air minum, Umi! Aku udah batalin puasa kok!" balas Syifa dari dalam sedikit berteriak.
*
*
*
Ceklek~
Pintu kamar Syifa perlahan dibuka tepat pada jam 8 malam. Keluarlah Syifa dengan memakai gamis berwarna magenta bermodel tali dipinggang dan kerudung pasmina berwarna krem.
Terlihat anggun dan sangat cantik, apalagi dia juga memakai make up dengan ditambah semprotan sebuah parfum.
"Wangi banget kamu, Fa. Cantik lagi," puji Umi Maryam yang berdiri di depannya. Dia menatap sang anak dari ujung kaki hingga kepala.
"Lebay banget kamu, Fa. Kayak mau kondangan saja," cibir Abi Hamdan. Pria tua itu kini berada di sofa, tengah makan kacang sambil menonton televisi.
"Kan mau ketemu suami, ya wajar kalau cantik, Bi," jawab Syifa dengan malu-malu. Kedua pipinya itu langsung merona.
Padahal, hampir setiap hari dia bertemu dengan Joe. Tapi baru sebentar tak bertemu saja—rasanya rindu sekali. Ditambah Syifa juga begitu khawatir dengan kondisi wajahnya yang habis kena amukan Abi Hamdan dan Mami Yeri.
"Kamu nggak makan dulu, sambil menunggu mereka datang?" tanya Umi Maryam. Sebab saat berbuka puasa tadi, yang makan nasi hanya dia dan Abi Hamdan saja. Dan Syifa hanya air putih di kamarnya tadi.
"Aku makannya bareng mereka saja, Umi. Robert juga pasti belum makan dan kepengen aku suapi." Syifa tersenyum manis, dia pun melangkah dengan anggun keluar dari rumahnya sambil memegang ponsel, kemudian duduk disalah satu kursi plastik diteras. Berniat menunggu Joe, Robert dan mertuanya datang di sana.
"Pasti pas datang ... Aa bawa buket bunga, seperti biasa, kan, kalau dia keluar rumah?" tebak Syifa berangan-angan. Perlahan tangannya itu menyentuh dada, dan seketika terasa berdegup kencang sekali di dalam sana. Dia juga seperti layaknya orang yang sedang kasmaran. Hatinya berbunga-bunga. "Ah ... aku jadi nggak sabar banget, pengen cepat ketemu Aa. Pokoknya kalau dia udah turun dari mobil, aku langsung samperin dan peluk dia," tambahnya sambil menatap ke arah depan. Sebuah senyuman yang terlukis, tak pernah lepas dari wajahnya.
...----------------...
__ADS_1
...Yang nggak pernah ngasih vote atau hadiah nggak apa-apa, tapi budayakan like setelah baca, ya 🙏 nggak sulit dan ga bayar, kan, jadi kenapa harus nggak bisa🥲...