Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
171. Jangan cukur rambutku


__ADS_3

"Selamat malam, Pak Paul," sapa Ustad Yunus dengan ramah dan perlahan berdiri dari duduknya.


"Malam juga." Papi Paul menatap sebentar kepada Ustad Yunus, kemudian kembali beralih pada besannya dengan sorot mata tajam. "Aku ada keperluan dengan Bapak. Apa kita bisa bicara, di dalam rumah?"


"Tentu bisa dong, Pak." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis. "Ustad ... aku tinggal dulu sebentar, ya?" Dia berbicara terlebih dahulu terhadap Ustad Yunus, sebelum akhirnya mengajak Papi Paul masuk ke dalam rumahnya, tapi sopir Papi Paul ikut masuk juga.


"Silahkan duduk, Pak." Abi Hamdan menunjuk ke arah sofa panjang, lalu menutup pintu rumahnya.


"Iya." Papi Paul perlahan duduk, sedangkan sopirnya berdiri di sampingnya.


"Bapak mau minum apa? Biar aku buatkan kopi," tawarnya.


"Nggak usah, Pak. Bapak duduk saja." Papi Paul menggerakkan dagunya ke arah sofa single didekatnya dan besannya itu langsung duduk di sana. "Langsung saja, ya, Pak, nggak perlu basa basi. Aku ingin tanya apakah benar ... Bapak yang mengunduli Joe?"


"Enggak." Abi Hamdan langsung menggeleng.


"Nggak usah bohong, Pak!" Papi Paul mulai emosi, nada suaranya pun terdengar lebih tinggi. "Aku tau kok ... kalau Bapak yang mengunduli Joe, sampai-sampai kepalanya jadi licin begitu!!" tambahnya berteriak.


"Memang bukan aku yang mengunduli, tapi si Tirta."


"Siapa Tirta?!" Papi Paul mengerutkan keningnya, tapi kedua matanya sudah melotot tajam. "Bapak jangan mengalihkan apa yang telah Bapak lakukan ke orang lain! Bapak ngerti agama, kan?"


"Lho, kenapa ke agama-agama segala? Nggak ada hubungannya."


"Ya ada lah! Itu buktinya Bapak bohong!" tegas Papi Paul. "Semua agama tentunya melarang orang untuk berbohong!"


"Tapi aku jujur, Pak, memang si Tirta yang membuat Joe gundul."


"Alasan si Tirta mengunduli Joe apa?! Dan siapa Tirta sebenarnya?!" Papi Paul terlihat murka. Bahkan kedua tangannya saja sudah mengepal kuat di atas paha.


"Dia tukang cukur. Dan Robert yang mengundangnya, supaya dapat mencukur habis rambut, Joe," jelas Abi Hamdan.


"Maksudku bukan mengenai tukang cukurnya, tapi tentang hukuman itu. Bapak, kan, yang memberikan Joe hukuman dengan cara mengundulinya?!" tekan Papi Paul sekali lagi.


"Oh ... kalau itu memang benar, Pak."


Berbeda dengan Papi Paul yang terlihat sudah membara, sedangkan Abi Hamdan sendiri tidak sama sekali. Malah dia bersikap santai. Karena di sini dia belum tahu jika pria itu marah kepadanya.


"Bapak berani sekali, ya, menghukum Joe tanpa izin dariku!"

__ADS_1


"Kenapa aku harus meminta izin sama Bapak?" Abi Hamdan berbalik tanya dengan raut bingung.


"Jelas aku disini Papinya, Bapak ini gimana, sih?" geramnya sambil menepuk dada, lalu menatap ke arah sopirnya dengan gerakan dahu.


"Baik, Pak." Pria seumuran Sandi itu mengangguk, seolah mendapatkan perintah. Dia pun langsung memegang kedua tangan Abi Hamdan, lalu menariknya ke belakang.


"Apa-apaan ini? Kenapa Bapak tiba-tiba memegangi tanganku?"


Hal tersebut tentu memicu rasa bingung dan keterkejutannya, apalagi saat dimana dia melihat Papi Paul mengeluarkan sebuah benda dari dalam saku jasnya. Yang mirip seperti alat pencukur rambut seperti milik Tirta.


"Bapak mau apa? Kenapa bawa alat cukur segala?" tanya Abi Hamdan heran sambil menggerakkan kedua lengannya guna melepaskan diri.


"Karena Bapak dengan berani mengunduli Joe tanpa seizinku ...." Papi Paul perlahan berdiri, kemudian melangkah mendekat ke arah Abi Hamdan sambil tersenyum menyeringai. "Jadi terimalah, kalau aku akan mengunduli Bapak sampai licin!"


"Apa?!" Abi Hamdan membulatkan matanya, lantaran terkejut karena besannya itu sudah menarik pecinya, lalu mendekatkan alat ditangannya menuju rambut.


"Pak Paul, Bapak nggak bisa melakukan in ...." Ucapan Abi Hamdan seketika menggantung, ketika baru saja besannya itu telah berhasil mencukur rambut kepalanya pada bagian depan. "Bapak keterlaluan! Kenapa Bapak justru mencukurku begini?!"


"Apa Bapak bilang? Aku keterlaluan?" Sebelah alis mata Papi Paul terangkat. Wajahnya terlihat merah begitu pun dengan bola matanya. "Justru Bapak yang keterlaluan! Gara-gara Bapak yang membuat Joe gundul ... dia jadi dipermalukan di depan umum!" teriaknya yang terdengar murka, dan langsung saja dia meneruskan untuk membabat rambut besannya.


Abi Hamdan yang merasa tak terima tentu tidak akan tinggal diam begitu saja. Kedua kakinya itu langsung dia gunakan menendang kuat perut Papi Paul, hingga membuat tubuh pria itu terhentak jatuh.


Bruk!!


"Aaarrgh!" rintihnya sambil memegang pinggang. Karena bukan hanya bokongnya saja yang sakit, tapi juga pinggang dan perutnya.


Abi Hamdan langsung berdiri, kemudian beralih menendang perut sopir Papi Paul dan membuat pria itu bukan hanya melepaskan tangannya, tapi juga terpental ditembok.


Bugh!


Secara cepat, sebuah bogem mentah melayang dipipi kanan Abi Hamdan dan itu ulah dari Papi Paul.


"Aarrghhhh!" Abi Hamdan memekik pelan.


Bugh!


Dua kali, Papi Paul menonjok Abi Hamdan secara bolak-balik.


"Kurang ajar sekali Bapak!" Abi Hamdan mengepalkan kedua tangannya, kemudian membalas untuk menonjok wajah Papi Paul.

__ADS_1


Bugh!


Baginya, ini sama saja Papi Paul mengibarkan bendera peperangan. Dan Abi Hamdan tentu akan melawan, demi sebuah harga dirinya.


"Cepat pegang dia!" perintah Papi Paul kepada sopirnya. Karena gemas sekali dirinya belum menyelesaikan pekerjaannya.


Pria itu langsung berlari menuju Abi Hamdan, berniat untuk mencekal kembali tangannya. Tapi Abi Hamdan justru langsung menonjok perutnya sekuat tenaga.


Bugh!!


"Aarrghhhh!" Pria itu kembali terpental ke tembok dan rupanya sangking kuatnya tonjokkan Abi Hamdan—sehingga membuat kepala bagian kirinya terbentur dan mengeluarkan darah.


Bruk!!


Pria itu dalam sekejap jatuh pingsan di lantai.


Namun, seperti tak peduli pada sekitar dan dengan apa yang sudah terjadi—Papi Paul pun masih berusaha untuk melakukan misinya supaya sukses menggunduli besannya. Rupanya dia benar-benar sudah seperti kerasukan setan, karena benar-benar tidak terkontrol.


Grep!!


Leher Abi Hamdan dipiting dari belakang, lalu menendang betisnya dan seketika membuat tubuh pria itu terjatuh dengan posisi terlentang.


Bruk!!


Melihat sudah seperti itu, Papi Paul langsung menghentakkan bokongnya diperut Abi Hamdan hingga membuat pria itu memekik kesakitan, akibat pinggangnya terasa ngilu.


"Aaarrgh!!"


Papi Paul mengarahkan kembali benda di tangannya menuju rambut Abi Hamdan yang masih tersisa bagian belakang. Tapi, secara tiba-tiba besannya itu langsung merebut benda tersebut ditangannya, kemudian menggulingkan tubuhnya untuk merubah posisi. Dia jadi di atas sedangkan Papi Paul di bawah.


Sekarang beralih, Abi Hamdan lah yang juga mencukur rambut Papi Paul. Sebenarnya tak ada niat sama sekali, tapi karena sudah seperti ini jadinya—jadi biarkan saja. Biarkan pria itu ikut gundul juga.


"Apa-apaan ini! Jangan cukur rambutku, Pak!" Papi Paul langsung memberontak, tapi sayangnya rambut bagian depannya sudah sama-sama hilang sekarang, seperti Abi Hamdan.


...Kira-kira siapa yang botak duluan, Guys? 🤔...


...Vote dan hadiahnya Author tunggu, ya, di novel ini😌...


...Novel Om Ganteng juga bakal up bentar lagi 😗...

__ADS_1


__ADS_2