Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
101. Satu kali kesempatan


__ADS_3

"Aku nggak tau, Mi, coba nanti cari aja lewat internet," usul Joe setelah beberapa menit kemudian, sebab dia tak mendapatkan nama setan tersebut di dalam otaknya. "Terus, masalah Syifa gimana? Mami nggak jadi, kan, memintaku untuk menceraikannya? Aku sangat mencintai Syifa, Mi."


Joe membahas kembali tentang tujuan mereka mengobrol, supaya tak jadi melebar kemana-mana.


"Ceritamu 'kan belum selesai itu, Joe, lanjutkan lagi."


"Cerita yang mana? Yang tentang setan?" tebak Joe.


"Bukan!" Mami Yeri menggelengkan kepalanya.


"Terus apa? Semuanya udah aku ceritakan, awal dimana aku mau masuk Islam, Mi."


"Yang alasan kamu dan Syifa akhirnya berniat ingin bertunangan lalu menikah. Kan katanya Syifa menolakmu, begitu pun dengan Abinya." Kali ini, Mami Yeri harus mengetahui segalanya, apalagi tentang hal yang Joe tutup-tutupi selama ini. Dia tak mau, kembali kecewa lantaran dibohongi.


Sudah cukup sekali saja, dan tak mau lagi.


"Oh, kalau tentang itu karena awalnya aku kena fitnah sama beberapa tetangga rumah Abi Hamdan, Mi. Mereka mengira, aku dan Syifa berbuat mesum. Padahal sebenarnya enggak."


"Berbuat mesum?" Kening Mami Yeri tampak mengerenyit. "Memangnya, posisi kamu dan Syifa lagi ngapain? Ciuman?"

__ADS_1


"Enggak." Joe menggeleng cepat. "Waktu itu aku ingin menemui Ustad Yunus, tapi dia meminta kami janjiannya di depan masjid. Dan ternyata masjid itu di dekat rumah Abi Hamdan. Terus aku nggak sengaja dengar ... kalau Syifa mengalami sembelit, dan sebagai pria sejati, tentu aku membawakan obat dan buah untuknya, supaya sakit dia hilang, Mi. Kan kasihan ... masa cantik-cantik kesusahan berak?"


"Berarti kamu datang ke rumah Pak Hamdan? Untuk menemui Syifa, begitu?" tebak Mami Yeri.


Joe mengangguk cepat. "Tapi pas aku datang ke rumah, posisi Abi Hamdan dan Umi Maryam nggak ada di rumah, Mi. Mereka pergi naik mobil kalau nggak salah."


"Oohh ... jadi kamu sengaja, menemui Syifa pas orang tuanya nggak ada. Terus kamu sosor dia gitu? Sampai difitnah tetangga?" duga Mami Yeri dengan tatapan sengit.


"Dih nggak, Mi!" bantah Joe. Padahal dia sudah mengatakan kalau dia tak berbuat mesum, tapi wanita itu tampaknya memang belum percaya. "Sama sekali aku nggak ada pikiran untuk nyosor Syifa saat itu, niatku hanya ingin mengantar obat dan buah."


"Terus kenapa tetangga-tetangga Syifa sampai memfitnahmu? Sedangkan kamu saja hanya mengantarkan buah dan obat. Nggak masuk akal deh!" Mami Yeri mendengkus. Lama-lama emosinya kembali naik, mendengar penjelasan Joe yang tak masuk diakal sehatnya.


"Tongkat kebakaran?" Mami Yeri menatap bingung dengan mata melotot lantaran kaget. "Tongkat apa, Joe?"


"Tongkat bisbolku, Mi," Joe langsung menyentuh miliknya sendiri.


"Jangan aneh-aneh deh, Joe, mana ada tongkat kebakaran!" omel Mami Yeri marah.


"Serius, Mi, pas dimana aku datang ke rumah Syifa itu ... aku melihat tongkatku ada apinya. Tapi nggak tau apa penyebabnya."

__ADS_1


"Memangnya, kamu pas ke rumah Abinya Syifa itu posisi nggak pakai celana apa gimana? Dan masa, sih, tongkat laki-laki menyemburkan api? Memang dipikir naga?" Aneh! Kata itu yang kembali terlintas dalam otak Mami Yeri. Benar-benar diluar nalar.


"Aku pakai celana lah, Mi," jawab Joe. "Tapi asal api itu bukan dari tongkatku sendiri yang nyembur."


"Terus dari mana? Masa ada orang tiba-tiba tongkatnya kebakaran tanpa sebab? Nggak usah ngaco kamu, Joe!" berang Mami Yeri.


"Memang itu kenyataan kok. Terus si Syifa menarikku. Membawa masuk ke dalam kamarnya dan—"


"Bercumbu?" sela Mami Yeri menebak.


"Enggak!" Joe menggeleng dengan bantahannya. "Dia mengajakku ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar, untuk membantuku memadamkan api. Mungkin disaat aku dan Syifa masuk rumah ... para tetangga melihat sampai akhirnya mereka berpikir yang tidak-tidak. Dan terjadilah sebuah fitnah," tambah Joe menjelaskan.


"Hhaaa ...." Mami Yeri tiba-tiba membuang napasnya dengan kasar, lalu geleng-geleng kepala. Mendadak dia juga merasakan kepalanya cenat-cenut yang membuatnya memijat dahi.


"Apa yang aku katakan semuanya jujur, Mi. Mungkin memang terdengar nggak masuk akal, tapi memang itulah yang terjadi," ungkap Joe meyakini.


"Tapi apa pun yang sudah terjadi, biarlah, Mi. Yang terpenting sekarang ... anakmu ini sudah menikah lagi, nggak jadi duda karatan. Robert juga sudah memiliki Mommy baru yang sesuai dengan keinginannya. Jadi sekarang ... waktunya kita berbahagia dan menerima semuanya," kata Joe. Perlahan dia pun menyentuh punggung tangan Mami Yeri, lalu menariknya dan menciumnya secara singkat.


"Sekali lagi aku ingin minta maaf, kepada Mami dan wakilkan juga kepada Papi. Atas semua kebohongan yang aku katakan selama ini. Tapi aku berjanji ... kedepannya aku nggak akan melakukan hal seperti itu lagi. Mami dan Papi juga harus yakin ... kalau aku ...." Joe menyentuh dadanya, kemudian kembali berkata dengan nada selembut mungkin. "Kalau aku, akan tetap menjadi Jonathan anak Mami dan Papi. Selamanya nggak akan berubah. Tapi aku mohon ... tolong terima lagi Syifa untuk menjadi menantu kalian. Berikan aku dan Syifa satu kali kesempatan untuk membina keluarga atas restu dari kalian."

__ADS_1


...Ayok jawab, Mi 😔...


__ADS_2