
"Semua tahanan yang satu sel dengan Udin pada pingsan, Pak. Terus orang tuanya Udin apalagi Papanya ... dia nggak terima. Dia ngamuk dikantor polisi dan merusak beberapa kursi."
"Kenapa semua tahanan pingsan?"
"Mungkin mabok, sama bau keteknya si Udin."
"Ohh ... ya sudah. Kalau tentang keluarganya Udin nggak terima, kamu abaikan saja, San. Biar polisi yang menanganinya."
"Tapi Pak Sugiono memaksa ingin ketemu dengan Bapak. Gimana itu, Pak?"
"Siapa Sugiono?" Kening Joe mengerenyit.
"Papanya si Udin, namanya Sugiono. Dia juga ngomong... katanya kalau Bapak nggak mau bertemu dengannya dan nggak mau membebaskan Udin, dia akan balas dendam."
"Abaikan saja." Joe terlihat tak peduli, juga tak mau mengambil pusing. Baginya, masalahnya sudah beres sekarang. "Sekarang kamu ada di mana? Apa masih di kantor polisi?"
"Saya sudah pulang, ada di rumah. Tapi saya sempat dicegah untuk pulang dan hampir-hampir saya juga pingsan, Pak. Padahal udah pakai masker cukup tebal."
"Kenapa?"
"Ya karena dicegah sama Pak Sugiono, Pak."
"Memang kamu diapakan sama dia, sampai-sampai mau pingsan segala? Apa dia memukulmu?"
"Enggak, Pak. Cuma ternyata ... bukan cuma Udin saja yang bau ketek, tapi Bapaknya juga. Dan malah jauh lebih parah. Sampai-sampai keteknya saja dilalatin. Ya ampun, Pak, gelinya saya sampai ...."
"Uueekk!" Mendengar Sandi bercerita, Joe jadi membayangkan sendiri hingga membuatnya mual. Untuk tidak sampai muntah. "Udah ah, San. Cukup ceritanya, aku mual. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Aku tutup teleponnya. Assalamualaikum."
"Maaf ya, Pak. Walaikum salam," jawab Sandi lalu Joe mematikan panggilan.
"Sandi kenapa, Joe? Kok dia ada di kantor polisi?" tanya Papi Paul yang memang sejak tadi mendengar apa yang Joe bicarakan. Hanya saja suara Sandi tak dapat dia dengar.
"Kecopetan, Pi," jawab Joe asal.
"Oohh ... tapi udah ketangkep pencopetnya?" Papi Paul tampaknya percaya.
"Udah."
***
Beberapa menit menunggangi mobil taksi, Yumna pun akhirnya turun di depan masjid. Sesuai dengan alamat yang Papi Yohan berikan.
__ADS_1
"Ini bener nggak sih, alamatnya? Tapi kok di masjid?"
Yumna tampak terheran-heran. Sebab dia pikir alamat yang diberikan Papinya itu adalah sebuah rumah.
Selain itu, masjid yang cukup besar tersebut sangat ramai sekali. Banyak para ibu-ibu dan Bapak-bapak yang berbaris, seperti sedang mengantre sembako.
"Ada apa lagi ini? Kok banyak banget orang? CK!" Yumna mendengkus.
"Nona kalau ingin daftarin sunat buat anaknya ... silahkan berbaris yang rapih."
Seseorang berbicara dengannya. Dan membuat Yumna menoleh. Ternyata dia adalah Pak RT, hanya saja Yumna tak mengenalnya.
"Siapa juga yang mau daftar sunat?! Dan aku juga masih gadis, Pak!" berang Yumna marah.
"Oohh gitu, maaf ... Nona." Pak RT tersenyum dengan perasaan tak enak, sebab secara tidak sengaja menyinggung perasaan Yumna. "Tapi kenapa Nona ada di masjid kalau nggak mau daftar sunat? Soalnya kebetulan para warga yang datang ke sini karena untuk daftar sunat massal buat besok."
"Aku mau ketemu Mas Boy, kata ...." Yumna langsung menampar bibirnya sendiri, sebab keceplosan sudah menyebut nama itu.
"Mas Boy siapa, Nona?" Pak RT tampak bingung. Dahinya mengerut.
"Maksudnya, aku mau ketemu Ustad Yunus. Papiku bilang ini alamat dia tinggal, Pak."
"Aku ada urusan sebentar dengannya."
"Oh gitu. Ya sudah ... Mari masuk dulu, ikut saya, saya akan panggilkan Ustad Yunusnya," ajak Pak RT kemudian melangkah lebih dulu masuk ke dalam gerbang.
Yumna ingin melangkah, tapi terlihat ragu. Akhirnya dia urungkan. "Eeemm ... aku tunggu di sini saja deh, Pak. Nggak enak, soalnya aku non muslim!" cicitnya sedikit keras, khawatir tidak didengar.
Pak RT menoleh sembari menghentikan langkahnya. "Ya sudah ... tunggu saja diluar sebentar, Nona. Saya akan panggilkan Ustad Yunusnya."
"Iya, Pak." Yumna mengangguk. Pak RT pun melanjutkan langkahnya.
Tak berselang lama, dia pun kembali dengan Ustad Yunus. Pria itu terlihat begitu tampan dengan memakai jas merah, sarung hitam dan peci hitam.
"Ooohh Yumna, saya kira siapa." Ustad Yunus terlihat sedikit kaget, dan buru-buru dia merogoh kantong jasnya. Lalu menyodorkan sebuah dompet kepadanya.
Dia sangat yakin—kedatangan perempuan itu pasti ingin mengambil dompet. Sebab baru tadi Papi Yohan memberitahukan lewat chat.
"Kamu panggil aku siapa tadi?" tanya Yumna yang tampak heran. Karena seingatnya, pria itu selalu memanggilnya dengan tambahan sebutan 'Nona' yang terkesan lebih sopan. Tidak langsung pada nama, yang sebagian orang menganggap sebutan nama diucapkan untuk seseorang yang sudah sangat akrab.
"Yumna. Memang ... ada yang salah?" Kening Ustad Yunus terlihat mengerenyit. Seperti apa yang Naya kemarin inginkan, mulai sekarang dia akan memanggil nama pada perempuan di depannya.
__ADS_1
"Saya masuk dulu ya, Tad," pamit Pak RT yang tak mau menganggu. Ustad Yunus pun mengangguk dan membiarkan pria itu melangkah masuk lagi ke dalam gerbang.
"Enggak salah, sih. Tapi aneh saja. Kenapa nggak pakai Nona?" Yumna merengut kesal, lalu mengambil kasar dompet ditangan Ustad Yunus. Kemudian mengecek isi di dalamnya sebab khawatir jika ada yang hilang.
"Panggil nama saja sepertinya nggak masalah," jawab Ustad Yunus santai.
"Tapi terdengar sok akrab tau. Aku juga nggak suka!"
"Sok akrab gimana?" Ustad Yunus terlihat tak paham maksudnya.
"Ya sok akrab, serasa sama temen! Padahal kita 'kan bukan temen! Bahkan kenal juga nggak!" tegasnya judes.
"Mau saya panggil Mbak?" tawar Ustad Yunus.
"Enak saja ... Kamu pikir aku lebih tua darimu, sampai kamu panggil aku Mbak?! Aku nggak mau!" Yumna terlihat tersinggung.
"Terus apa dong? Lagian cuma panggilan doang, sih, kenapa musti ribet?" Ustad Yunus mendesaah pelan.
"Kan aku udah bilang, nggak enak didengar!"
"Ya terus apa? Kamu maunya saya panggil siapa?" Pusing juga lama-lama bicara dengan Yumna. Cukup menguji kesabaran juga.
"Nona! Nona Yumna!"
"Maaf ... tapi saya nggak bisa panggil kamu Nona lagi." Ustad Yunus menggeleng.
"Kenapa?"
"Calon saya nggak suka, kalau saya memanggil kamu dengan sebutan Nona. Dan saya nggak mau membuatnya marah."
"Ckckck ... Lebaynya ...!!" Yumna mendengkus sembari memutar bola matanya dengan malas. "Apa salahnya dengan sebutan Nona, coba?"
"Udah, ya, saya masih banyak kerjaan. Kalau begitu ...."
"Tunggu dulu!" sergah Yumna yang langsung memegang tangan Ustad Yunus, sebab dilihat pria itu seperti hendak pergi meninggalkan.
"Ada apa lagi?" Ustad Yunus buru-buru menepis tangan Yumna. Selain bukan muhrim, dia juga malu dilihat beberapa orang yang ada di sana. "Urusan kita 'kan cuma dompet, Yum. Dan sekarang dompet itu sudah ada di tanganmu."
"Iya, aku tau. Tapi aku nggak suka kamu panggil aku hanya dengan sebutan nama! Eemmm ... bagaimana kalau ...." Yumna terlihat terdiam sebentar dan mulai berpikir, dan beberapa detik kemudian dia pun berkata, "Adek! Mulai sekarang panggil aku Dek Yumna! Itu jauh lebih cocok ketimbang Mbak!"
...Idiiih... 🤣🤣 mau dipanggil Adek segala. Apa nggak geli itu 😂...
__ADS_1