
Sekarang, Sandi sudah berada di depan pintu kamar hotel milik Joe.
Sesuai dengan permintaan Papi Paul tadi, dia pun berencana ingin menemui bosnya. Dan bisa jadi telah mengganggunya yang entah sedang apa pria itu di dalam sana.
'Maafin aku, Pak Joe. Bukan maksud ingin menganggu ... tapi aku menuruti permintaan Pak Paul, juga karena kasihan sama Dek Robert,' batin Sandi. Dengan hembusan napas berat, dia pun mulai memencet bel di depannya.
Ting, tong!
Ting, tong!
Ting, tong!
Ternyata, harapan Sandi sebelumnya jika pintu itu langsung dibuka—kini menjadi sirna. Sebab sudah hampir 30 menit berlalu dia memencet bel, pintu itu tak kunjung menampakkan tanda-tanda akan dibuka.
"Pak Joe! Maaf, Pak!" teriak Sandi. Sekarang bukan hanya bel saja, tapi juga ketukan pintu. "Bu Syifa! Pak Joe!"
"Pak Joe!"
"Bu Syifa!"
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt.
Suara getaran ponsel di dalam saku celana jeans-nya langsung menghentikan aktivitas Sandi. Segera dia pun merogoh ke dalam sana, dan ternyata itu sebuah panggilan masuk. Tapi tertera nomor tidak dikenal.
Merasa penasaran sekaligus takut penting, Sandi pun memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo. Ini siapa, ya?" tanya Sandi.
"Halo, assalamualaikum. Ini aku Abi Hamdan, San. Aku tau nomormu dari Ustad Yunus," ucap seseorang yang ternyata Abi Hamdan.
"Walaikum salam. Iya, Ustad, ada apa, ya?"
"Apa aku bisa minta tolong padamu, San?"
"Tolong apa, Tad?"
__ADS_1
"Tolong kamu datang ke hotel untuk menemui Jojon. Bilang padanya untuk mengaktifkan hape, aku butuh jawaban dia soalnya, San," pinta Abi Hamdan dengan suara yang terdengar kesal.
"Kebetulan saya ini lagi di hotel, Tad. Dan lagi nunggu Pak Joe keluar kamar," jawab Sandi.
"Oh ya sudah. Nanti katakan padanya langsung pas ketemu ya, San. Terima kasih. Assalamualaikum."
"Sama-sama, walaikum salam, Tad." Jawaban terakhir Sandi memutuskan panggilan itu, kemudian dia pun kembali memencet bel.
Ting, Tong!
"Pak Paul butuh Syifa, sedangkan Ustad Hamdan butuh Pak Joe. Tapi dua orang itu masih semedi di kamar dan sampai kapan mereka akan keluar?" gumam Sandi, kemudian menatap kembali ke arah pintu. "Betah amat di dalam kamar. Apa nggak merasa sumpek?"
"Pak Joe! Bu Syifa!" teriak Sandi.
"Kamu lama banget sih, San!" Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang baru saja datang dan mengagetkannya. Sehingga membuat pria itu tersentak dengan jantung yang berdebar kencang.
"Astaghfirullahallazim, Pak Paul. Ngagetin aja." Sandi menatap Paul sambil mengusap dadanya secara perlahan.
"Kamu diminta menemui Joe kok lama banget? Aku sejam nungguin tau, sampai kusamperin ke sini. Kasihan Robert nangis nggak berhenti-henti," gerutu Papi Paul yang tampak kesal. "Makanannya sampai dingin di restoran, aku juga jadi nggak berselera makan, San, melihat Robert yang terus menangis."
"Maaf, Pak. Tapi sejak tadi saya ada di sini dan Pak Joe belum kunjung membukakan pintu," jelas Sandi dengan jujur.
Papi Paul pun lantas memencet bel, dan kali ini menekan-nekannya kuat dan tak dia lepaskan. Supaya bel itu terus bernyanyi sebelum Joe atas Syifa berhasil membukanya.
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Ternyata sama saja, Papi Paul yang memencet bel pun tak ada respon sama sekali.
"Jonathan! Buka pintunya!" teriak Papi Paul tak sabar. Sekarang dia menggedor-gedor pintu dengan kencang dan suara lantang. "Si Robert nangis di restoran! Dia minta disuapi sama Syifa!"
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Saya coba telepon Pak Joe ya, Pak," ucap Sandi. Papi Paul pun mengangguk. Pria itu lantas menghubungi Joe, tapi tetap saja nomornya tidak aktif.
"Masih nggak aktif, nomornya?" tebak Papi Paul.
Sandi mengangguk. "Iya, Pak."
Papi Paul mengusap kasar wajahnya yang berkeringat. Dadanya terasa bergemuruh sebab merasa kesal.
Perlahan dia menarik napasnya, lalu pelan-pelan menghembuskannya.
"Coba kamu ke resepsionis depan, San, minta izin," usul Papi Paul.
"Izin?" Kening Sandi mengernyit. "Izin mau apa, ya, Pak?"
"Izin untuk mendobrak pintu ini." Papi Paul menunjuk pintu di depannya, yang mana membuat Sandi terbelalak. "Terus, kamu sekalian minta tolong satpam di depan."
"Lho, Pak, ngapain pintu kamar Paka Joe di dobrak segala?" tanya Sandi bingung.
"Ya biar kebuka lah, San, gimana, sih?" kesal Papi Paul dengan napas yang baik turun.
"Tapi di dalam 'kan ada orangnya, Pak. Masa didobrak. Dan kalau semisalnya Pak Joe dan Bu Syifa sedang ninaninu gimana?" Berbeda dengan Papi Paul yang tampak serius dan yakin, Sandi justru merasa ragu dan takut.
"Ninaninu apa sih, yang kamu maksud, San?" tanya Papi Paul tak mengerti. "Udah cepat sana turun ke lantai dasar. Kita harus mendobrak pintunya. Biar mereka tau kita sejak tadi cari mereka."
"Nanti siapa yang ganti rugi kalau semisalnya pintu ini didobrak, Pak?"
"Aku lah, San. Kan aku yang menyuruhmu!" geram Papi Paul yang mulai emosi.
"Bapak yakin?" tanya Sandi memastikan.
"Iya. Udah sana cepat!" perintahnya yang terlihat tak sabar. Sandi pun segera berlari masuk ke dalam lift, kemudian turun ke lantai dasar.
"Semoga saja dibolehkan oleh pihak hotel, biar aku langsung bisa menemui Syifa dan membawanya ke restoran," gumam Papi Paul penuh harap. Dan kembali menggedor pintu.
__ADS_1
Tok! tok! tok!
...Om Joe ... ayok cepetan nyuntiknya, bentar lagi mau grebek nih sama Bapakmu 🤣...