Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
158. Kita bercinta dulu sepuasnya


__ADS_3

Sementara itu diperjalanan, Joe terlihat berpikir keras mencari ide untuk pergi ke mana membawa Syifa. Yang pastinya akan aman dan tidak diketahui oleh Robert.


Sesekali dia juga menoleh ke samping, memerhatikan wajah tenang istrinya yang terlelap dari tidur.


Beberapa menit kemudian, sebuah ide tiba-tiba bermunculan bertepatan dengan miliknya yang terbangun dari dalam celana. Dan seketika membuat birahinya yang terpendam dari semalam kini menjadi memuncak.


'Bagaimana kalau aku memanfaatkan momen kabur ini untuk bercinta sepuasnya saja, dengan Syifa? Ah ... itu ide yang bagus, bukan?' batin Joe sambil terkekeh.


Otak messumnya itu langsung bekerja, dan seketika meredupkan sedikit kegelisahannya karena takut akan anaknya.


'Dan semoga saja, Abi di rumah sudah memberikan penjelasan kepada Robert ... supaya bocah itu nggak berniat ingin nennen sama Syifa.' Tangan kiri Joe terulur ke arah sada Syifa, lalu meremmasnya dengan lembut sambil menelan saliva. 'Mereka berdua 'kan punyaku, hanya aku yang boleh merasakannya. Uuhh ... aku jadi nggak sabar, pengen cepat bercinta denganmu. Pakai gaya apa nanti, ya?'


"Eeuggh ...." Syifa melenguh tiba-tiba, sebab merasakan sentuhan tangan dari sang suami. Cepat-cepat Joe pun menarik tangannya kembali, saat perempuan itu dengan perlahan membuka matanya. "Lho, A ... kita mau ke mana? Kok naik mobil?" tanyanya menoleh ke arah Joe dengan raut bingung. Syifa juga mengucek kedua matanya.


"Kita mau check-in hotel, Yang," jawab Joe dengan kedua pipi yang sudah memerah, dia juga mendekat ke arah sang istri untuk mengecup bibirnya singkat.


"Check-in?" Kening Syifa seketika mengerenyit. Dia tampak heran. "Ngapain kita check-in, A? Dan jam berapa sekarang?"


"Jam 3, Yang. Dan alasan kita check-in tentu mau bercinta dong. Kan semalam itu kita gagal bercinta ... karena kepergok Robert."


"Lho, tapi kenapa pagi-pagi begini, A? Dan di mana Robert?" Syifa memutar kepalanya ke belakang, menatap pada kursi kosong di sana. Niatnya mencari keberadaan Robert, tapi bocah itu ternyata tak ada.


"Robert aku titipin ke Abi," jawab Joe. "Oh ya, aku juga ingin katakan ... kalau semisalnya Robert meminta nennen padamu, tolong kamu tolak, ya? Aku nggak mau lho, Yang, kamu menyusui Robert ... ya meskipun Robert itu anakku."

__ADS_1


"Lho, tapi kenapa Robert kepengen nyusu sama aku, A?" tanyanya heran.


"Itu semua karena kita yang kepergok semalam, Yang. Dia bertanya-tanya kenapa aku melakukan itu padamu. Dan dia justru kepengen."


"Lho, kok bisa gitu? Tapi Robert 'kan udah gede, A, bukan bayi lagi. Dan masa sih ... dia udah ngerti, maksud Aa melakukan itu padaku?" Syifa masih terlihat kebingungan. Selain itu dia juga mencoba mengingat kejadian semalam, karena jujur saja—posisi dia bangun tidur membuat nyawanya belum terkumpul sempurna.


"Itu semua karena aku bilang ... dadamu ada ASI-nya. Jadi dia yang belum pernah merasakan ASI ... jadi kepengen, Yang. Dan aku nggak mau,“ jelas Joe.


"Oh ... karena itu. Tapi kenapa Aa malah membohongi Robert?"


"Ya terus, aku musti jawab apa, dong, kalau bukan itu? Masa iya ... aku bilang, aku melakukan hal itu karena nafsu sama kamu, Yang. Kan makin kacau urusannya, apalagi kalau Robert kembali nanya nafsu yang aku maksud itu apa."


"Tapi jadi makin runyam, ya, A, kalau begini." Syifa menggaruk rambutnya yang tidak gatal dibalik hijab. "Terus sekarang ... kita musti gimana, dong? Supaya Robert paham tapi tidak dalam arti jorok. Dan nggak mungkin juga aku menyusui Robert, A. Selain memang nggak ada ASI, setauku kalau sudah di atas 2 tahun ... anak tiri atau anak angkat itu nggak boleh kita susuin. Karena bukan mahramnya."


"Mahram itu masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan. Intinya kayak masih ada ikatan darah gitu, A. Sedangkan Robert 'kan anak tiri, nggak ada hubungan darah denganku."


"Oh ... gitu. Jadi memang nggak boleh, ya? Itu dalam pandangan Islam apa gimana, Yang?"


"Iya." Syifa mengangguk. "Aku pernah dengar ceramah Abi soalnya, yang membahas masalah itu, A. Kalau nggak salah memang begitu."


"Oh ... syukurlah kalau begitu, Yang ...." Joe perlahan mengelus dadanya sambil menghela napas. Dia betul-betul plong sekali, sebab intinya Robert tak akan bisa meminta atau melakukan hal tersebut kepada Syifa. Karena sudah berbau agama, pasti dia akan bisa menerima.


"Tapi sekarang bagaimana? Dan lebih baik ... kita pulang lagi saja, A. Nanti Aa jelaskan semuanya. Dan aku juga akan ikut menasehati Robert," saran Syifa.

__ADS_1


"Ngapain balik lagi ke rumah? Orang nanggung mau ke hotel." Joe tampak tak setuju. Dia menggelengkan kepalanya. "Pasti Abi juga sudah memberikan dia penjelasan, Yang. Soalnya aku sempat ngasih tau dia untuk menasehati Robert supaya bocah itu nggak mau nyusu sama kamu."


"Aa bilang sama Abi?!" Syifa terlihat syok dengan mulut yang menganga.


"Iya. Kenapa memangnya?"


"Ih ... itu 'kan sama saja membongkar aib, A. Dan pastinya Abi juga tau, kalau kita kepergok sama Robert pas mau enak-enak. Bisa bahaya ... yang ada kita dimarahi Abi!" Bulu kuduk Syifa langsung berdiri, karena hawa takut itu tiba-tiba melanda. Jangan sampai perkara ini membuat rumah tangga mereka kembali terancam.


"Ya ampun ... iya juga, ya, Yang?" Joe langsung tepok jidat. Kenapa baru sekarang dia menyadarinya? Makin panjang jadi urusannya.


"Ya sudah, sekarang kita putar balik buat pulang, A. Nanti kita jelaskan semuanya dan meminta maaf," saran Syifa. Baginya, sekarang belum ada kata terlambat.


"Nanti saja pulangnya, ini udah tanggung, Yang."


"Tanggung kenapa?"


"Tanggung udah sampai hotel." Jawaban dari Joe memang bertepatan sekali dengan mobilnya yang sudah berhenti di depan gedung besar sebuah hotel berbintang lima. Dia pun lantas membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu.


"Kalau pun kita akan dimarahi, tapi setidaknya kita sudah mendapatkan vitamin, Yang. Jadi ayok ... kita bercinta dulu sepuasnya di sini, aku akan mengajarimu gaya kodok," tambah Joe yang sudah turun, kemudian menarik Syifa keluar dari mobil untuk ikut dengannya.


...****************...


...Seperti biasa, dihari Senin... Jangan lupa vote dan hadiahnya, ya! biar Author semangat 😌...

__ADS_1


...Jangan bosen² nanti Author juga bosen buat up 🙃...


__ADS_2