
"Mami dan Papi kenapa bawa Syifa nggak bilang-bilang?!"
Joe berbicara dengan lantang, ketika melihat Syifa dan orang tuanya sudah di depan mata. Tiga orang itu sontak terperangah, Mami Yeri yang semula tengah tertawa langsung terhenti begitu saja.
Mata pria berkepala plontos itu tampak memerah, dadanya pun ikut bergemuruh.
"Lho, Aa ternyata ada di sini juga? Apa sama Robert?" tanya Syifa sambil tersenyum. Dan tak lama, Robert pun datang menghampiri, lantas berlari kemudian memeluknya.
"Mommyyy ... Mommy ke mana saja? Kok pergi nggak bilang-bilang?" Suara Robert terdengar begitu manja.
"Memangnya Oma nggak bil—"
"Sekarang kasih tau aku, kalian berdua habis bawa Syifa dari mana?!" potong Joe cepat, lalu menepis tangan kedua orang tuanya yang sejak tadi menggandeng Syifa.
Setelah itu, dia langsung menarik tubuh Syifa untuk berada didekatnya, sekaligus merangkul bahunya juga.
"Kami pergi—" Papi Paul tengah menjawab, sayangnya langsung diserobot oleh istrinya.
"Nggak usah lebay deh, Joe. Mami sama Papi cuma bawa Syifa buat belanja. Jadi nggak perlu lah kamu semarah itu." Mami Yeri menjawabnya dengan raut kesal, kemudian dia menarik lengan suaminya dan melangkah pergi meninggalkan Joe.
"Belanja ke mana? Dan kenapa juga kalian nggak mengabariku dulu?" Joe berjalan cepat menyusul mereka, juga diikuti dengan Syifa dan Robert.
__ADS_1
Mami Yeri dan Papi Paul tampak terduduk pada sofa ruang keluarga, kemudian memanggil Bibi pembantu untuk membuatkannya sebuah minuman dingin. Supaya menjernihkan isi kepalanya.
Sejujurnya hari ini mereka sangatlah senang, hanya saja saat melihat Joe marah-marah, rasa senangnya itu kini berubah menjadi rasa jengkel.
"Aku habis diajak Mami dan Papi pergi ke mall, A. Belanja baju ibu hamil dan perlengkapan baby." Yang menjawab Syifa, lalu memeluk tubuh Joe sebentar.
Pria itu membuang napasnya dengan perlahan, lalu mengelus dada untuk mencoba menetralkan rasa emosinya, meskipun sebenarnya sudah sangat menggebu-gebu.
"Tapi kenapa kamu nggak memberitahuku, Yang? Dan kenapa juga kamu sampai meninggalkan hape dan nggak pakai cincin? Itu 'kan penting. Jadi aku dan Robert susah mencarimu!" tegas Joe.
"Kalau hape memang tertinggal, A. Tapi kalau cincin yang Aa maksud itu cincin apa? Perasaan aku ...." Syifa langsung menatap ke arah tangan kirinya. Tepat pada jari tengah, dia tak melihat ada cincin pemberian dari Robert yang tersemat disana. Dan Syifa memang baru menyadarinya sekarang. "Ya ampun ... jadi cincin yang dari Robert yang nggak aku pakai?"
"Maafin Mommy, Nak." Syifa perlahan mengusap puncak kepala anaknya. "Bukan Mommy bosen pakai cincin itu, tapi kebetulan cincinnya memang sempit. Kadang suka lepas pakai dan mungkin jadinya lupa pakai."
"Oh gitu. Ya sudah ... kalau sempit nanti diganti yang baru."
"Enggak usah deh, Nak," tolak Syifa, lalu menyentuh jari manisnya. "Kan ini Mommy udah pakai cincin nikah. Jadi cincin itu disimpan saja."
"Dih ... nggak boleh disimpan dong, Mom! Mommy ini gimana? Kan ada GPS-nya."
"Oh iya, Mommy lupa. Ya sudah ... nanti kapan-kapan kita ke toko emas buat ganti cincin buat Mommy. Terima kasih ya, Nak."
__ADS_1
"Kasih tau aku Mi, Pi, kenapa di antara kalian nggak ada yang mengabariku? Apa kalian memang sengaja?!" tanya Joe dengan tatapan tak bersahabat. Rahang diwajah tampannya itu terlihat sudah mengeras.
"Iya, Mami sengaja," jawab Mami Yeri yang terlihat seperti menantang. "Siapa suruh kamu yang mulai dulu? Mangkanya ... jangan pelit sama orang tua. Kami 'kan sayang sama Syifa, mangkanya kayak gini. Kamu itu jangan buat kita serba salah deh, Joe!"
"Iya, Joe!" Papi Paul menimpali. Sebenarnya sejak tadi dia ingin bicara, tapi sayangnya keduluan terus oleh istrinya. "Mamimu benar. Udahlah, mulai sekarang kamu harus berlaku adil ke kita. Karena kami juga berhak memberikan perhatian kepada Syifa. Dia menantu kami dan juga sedang hamil." Tangan Papi Paul lantas terulur ke arah perut menantunya, lalu menyentuh. Tapi dengan cepat, anak semata wayangnya itu menepisnya secara kasar.
"Kali ini aku maafin kalian, meskipun kalian sama sekali nggak mengucapkan kata maaf. Tapi besok-besok ... kalau sampai kalian membawa Syifa lagi tanpa izin dariku ... aku akan beneran marah!" Bukannya menanggapi keluh kesah yang dialami orang tuanya, Joe justru mengungkapkan kekesalan yang dia rasakan. Sorotan matanya pun berubah menjadi tajam kala terjatuh pada Papi Paul. "Dan buat Papi, berhentilah untuk bersikap berlebihan! Aku nggak mau kalau sampai Papi merebut Syifa dariku!" tambahnya menegaskan.
"Ya ampun, Joe! Apa yang kamu katakan?" Papi Paul tampak terbengong mendengarnya. Sungguh, dia juga heran mengapa bisa-bisanya Joe berkata demikian.
"Kamu ini ngomong apa, sih, Joe?" geram Mami Yeri yang semakin lama jadi ikut terbawa emosi. "Mana mungkin, Papi melakukan itu kepadamu. Papi masih waras, Joe! Dan Mami yakin dia pria yang setia!"
"Sumpah demi apa pun, Papi nggak ada niat merebut Syifa darimu, Joe! Cinta Papi hanya untuk Mamimu seorang!" tegas Papi Paul sambil menyentuh dadanya.
"Tapi aku tetap nggak percaya." Joe menggelengkan kepalanya. "Walau bagaimanapun manusia itu tempatnya khilaf, tempatnya lupa. Bisa saja besok atau lusa Papi ingin menikungku, karena dari sikap Papi saja kepada Syifa itu sangat berlebihan!" Suara Joe terdengar mulai meninggi, dadanya pun ikut naik turun.
"Aa ... mending kita pulang saja dari sini," ajak Syifa dengan raut khawatir.
Suasana di ruangan itu mendadak terasa panas dan mencekam. Syifa juga takut jika nantinya Joe dan keduanya orang tuanya berantem hanya karena dirinya. Sebab sekarang saja mereka sudah mulai adu mulut.
...Cepet bawa pulang, Fa, sebelum anak dan orang tua jambak-jambakan😆😆...
__ADS_1