Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
13. Kamu hanya miliknya


__ADS_3

"Nggak usah ditelepon. Dia pasti sedang sibuk." Sengaja Syifa berkata seperti itu, supaya Robert tak jadi menghubungi Joe. Dia tak mau, melihat pria itu. "Sekarang, kamu tiduran di sini. Kamu pasti lelah, habis sekolah seharian ditambah main." Syifa menepuk kasur, diposisi dirinya berbaring. Bocah itu pun langsung mengangguk, kemudian berbaring di samping Syifa dan memeluk tubuhnya.


"Mommy seneng, nggak? Udah nikah sama Daddy dan menjadi Mommy Robert sekarang?" tanya Robert dengan lembut. Tatapan matanya begitu teduh, menyorot pada manik mata Syifa.


"Seneng." Syifa tersenyum, kemudian mengelus rambut kepala Robert. "Kamu gimana?"


"Seneng banget. Apalagi, sebentar lagi 'kan Robert punya adik." Robert perlahan menyentuh perut rata Syifa. "Oh ya, kira-kira ... dia sedang ngapain di dalam sana ya, Mom? Apa di dalam sana ada makanan dan tempat tidurnya?"


"Kamu ini ngomong apa, sih, Rob." Umi Maryam terkekeh mendengarnya. "Mana ada semua itu di dalam sana. Perut Mommymu saja kecil."


"Sebenarnya, Ibu nggak beneran hamil, Rob," ucap Syifa secara tiba-tiba.


"Nggak hamil?" tanya Robert bingung. Keningnya tampak mengernyit. "Bukannya kata Daddy ... Mommy hamil."

__ADS_1


"Daddymu berbohong, Nak. Semua yang dia katakan—"


"Syifa ...." Umi Maryam mengelus pundak Syifa, lalu menggelengkan kepalanya ketika pandangan mata mereka bertemu. "Rob, kamu keluar sama Opa Hamdan dulu, ya?" pintanya kepada Robert, lalu mengelus puncak rambutnya. "Umi mau ngobrol berdua sama Mommymu dulu sebentar."


Robert menatap ke arah pintu. Dari kacanya terlihat Abi Hamdan tengah mengobrol dengan Sandi. "Iya, Oma." Dengan patuhnya, Robert turun dari tempat tidur. Kemudian melangkah keluar dari sana.


"Syifa. Harusnya kamu nggak boleh bilang seperti itu sama Robert," tegur Umi Maryam.


"Kenapa? Bukankah apa yang aku katakan adalah benar, kan aku nggak lagi hamil, Umi," sahut Syifa.


"Terus kenapa kalau mereka marah? Umi takut?"


"Bukan takut. Ah kamu ini gimana, sih? Ini 'kan buat hubunganmu dan Joe juga. Jadi biarkan saja, kamu mengatakan kalau kamu hamil."

__ADS_1


"Itu sama saja aku berbohong," cicit Syifa. Wajahnya tampak kesal, melihat Umi Maryam yang seolah membela Joe. "Kok Umi malah menyuruhku untuk berbohong? Itu 'kan dosa."


"Itu bohong demi kebaikan. Demi rumah tanggamu, Fa," jawab Umi menjelaskan. "Toh ... nantinya kamu juga akan hamil. Jadi nggak masalah, kan?"


Syifa sontak terbelalak. Jantungnya berdebar kencang serta tubuhnya ikut menegang. "Maksud Umi hamil, aku hamil anak Kak Beni?"


"Kok ke Beni-Beni? Ya kamu hamil anak Jonathan lah, Fa. Ada-ada saja kamu."


"Tapi Kak Beni yang lebih dulu menyentuhku, Mi." Bola mata Syifa tampak berkaca-kaca. Dia kembali teringat akan momen itu dan seketika membuat hatinya dirundung pilu.


"Lupakan hal itu, Fa." Umi Maryam mengenggam erat tangan Syifa, lalu mengusap air mata yang baru saja mengalir membasahi pipi anaknya. "Apa pun yang telah terjadi ... Umi minta lupakan lah. Anggap semuanya tidak pernah terjadi."


"Kamu sudah menjadi istrinya Jonathan, dan kamu hanya miliknya. Jadi calon cucu Umi juga anak darimu dan dia. Bukan anak dari pria lain apalagi si br*engsek Beni," tambah Umi Maryam dengan tegas. Dia berupaya menasehati, supaya Syifa bangkit kembali dari keterpurukan dan memulai hidup barunya sebagai istri Joe.

__ADS_1


...Noh, dengerin apa kata Umi 😆 siap" MP nih kayaknya Guys 🤭...


__ADS_2