Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
20. Nggak mau disunat


__ADS_3

"Itu, Rob. Tangga yang bisa jalan." Umi Maryam menunjuk ke arah kaca. Pada beberapa orang yang naik turun eskalator.


Ya, yang dia maksud adalah eskalator. Hanya saja Umi Maryam tidak terlalu hafal jelas namanya.


"Itu namanya eskalator, bukan kalkulator, Oma," kekeh Robert. Dia tertawa karena baginya itu lucu. "Kalkulator itu buat ngitung, iya 'kan, Mom?" Mendongakkan wajahnya ke arah Syifa. Gadis itu langsung mengangguk dan tersenyum.


"Iya, Nak." Syifa mengusap pelan puncak rambut Robert.


"Kalau takut kita bisa naik lift, Umi," ucap Joe.


"Naik lift juga Umi takut, soalnya belum pernah. Kalian saja deh yang masuk. Umi tunggu dimobil saja."


"Umi harus ikut juga dong. Masa nggak?" Abi Hamdan mendekat, lalu merangkul bahunya. "Kan ada Abi di samping Umi. Pasti semuanya aman. Kapan lagi sih kita bisa ke mall? Jarang-jarang, iya, kan?"


"Bukan jarang lagi. Tapi ini 'kan pertama kali, Bi," sahut Umi Maryam yang memang berbicara apa adanya.


"Nggak usah buka kartu dong, malu sama Jojon dan Robert." Abi Hamdan menatap Joe yang sejak tadi menatap Syifa tanpa berkedip.


"Ngapain malu, Opa. Biasa aja kali," sahut Robert. "Udah, ayok, kita pergi bersama! Kita beli kasur baru dan ranjang baru untuk nanti malam!" ajaknya. Robert langsung menarik tangan Syifa, kemudian melanjutkan langkahnya sambil berjingkrak-jingkrak itu.


Tampaknya, dia salah satu orang yang paling senang karena bisa pergi ke mall bareng Mommy barunya.


"Udah ayok, Umi, mumpung si Syifanya juga mau tuh." Abi Hamdan menarik tubuh istrinya. Meskipun takut, akhirnya Umi Maryam memberikan diri untuk naik lift.


*


*


Sampainya di lantai 4, mereka semua langsung masuk ke dalam. Toko mabel di sana terlihat luas dan banyak sekali beberapa barang.


Bukan hanya kasur dan ranjang, tapi juga sofa, lemari, meja rias, serta meja TV juga ada di sana. Juga dengan beberapa tipe dan model. Semuanya terlihat begitu bagus dan mewah sekali.


"Wah, bagus-bagus banget ya, Bi." Umi Maryam menatap takjub pada sekitar. Dan pandangan matanya pun tertuju pada sebuah sofa panjang untuk ruang tamu. Warnanya merah dan terasa empuk ketika dia menekan-nekannya. "Sofanya empuk banget ini. Beda banget kayak sofa di rumah kita yang kayak papan."


"Sofa di rumah kita juga empuk kali, Mi. Nggak beda jauhlah." Abi Hamdan ikut menekan dudukan sofa. Benar memang, sangat empuk dan berbeda jauh dari sofa di rumahnya. Hanya saja Abi Hamdan merasa malu jika mengiyakan sofanya terasa seperti papan.

__ADS_1


"Umi mau? Nanti aku sekalian belikan," ucap Joe.


"Nggak usah, Pak," tolak Syifa cepat.


"Lho, kenapa?"


"Kita 'kan niatnya mau beli ranjang sama kasur. Ngapain beli sofa juga?"


"Nggak apa-apa kali, Fa. Umi juga kepengen beli sofa baru." Umi Maryam menimpali. Kalau memang Joe ingin membelikan, tak ada salahnya menurutnya. Toh, pria itu sekarang sudah menjadi keluarganya.


"Nggak usah, Umi, sofa di rumah 'kan masih bagus." Syifa terlihat tak setuju. Selain itu, dia juga merasa tidak enak kepada Joe.


"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka, sambil mengukir senyum ramah.


"Aku mau beli kasur beserta ranjangnya, Mbak. Yang kualitasnya super dan paling besar," sahut Joe.


"Nggak usah gede-gede, Pak, nanti nggak muat," tegur Syifa. "Kamarku 'kan kecil ukurannya."


"Bisa lihat dulu barangnya nggak, Mbak? Sebelum beli?" tanya Abi Hamdan. "Biar menantu sama anakku memilih dan mengira-ngira ukuran mana yang cocok."


Robert hendak melangkah, tapi tangannya tiba-tiba saja ditahan oleh Abi Hamdan. Segera dia mengendong cucunya, dan membiarkan Joe dan Syifa berlalu pergi bersama pelayanan wanita itu.


"Kita tunggu di sini saja, Nak! Biar Mommy sama Daddymu yang milih berdua" ucap Abi Hamdan. Sengaja dia melakukan hal itu supaya Syifa terbiasa dengan kehadiran Joe. Dan mungkin dengan begitu, bisa membantu mengatasi rasa traumanya.


"Tapi Robert 'kan mau ikut lihat juga, Opa!" rengek Robert sambil menggerakkan kakinya.


"Lihatnya dari sini saja. Opa juga sekalian mau ngobrol denganmu." Abi Hamdan mengusap keringat diwajah tampan Robert, lalu mencium keningnya. "Oh ya, jadi kapan nih ... kamu siap buat sunatnya? Besok gimana?"


Robert sontak membelalakkan matanya. Secara refleks dia pun menyentuh inti tubuhnya sendiri. "Robert nggak mau disunat, Opa!" tolaknya dengan gelengan kepala.


"Lho kenapa?" tanya Abi Hamdan dengan kening yang mengernyit.


"Kata Leon ... disunat itu rasanya seperti digigit harimau. Robert takut, ah!" Robert bergidik, lalu menggelengkan kepalanya.


Padahal kemarin dia terlihat tak mempercayai apa yang dikatakan temannya. Tapi setelah terus dipikirkan—dia jadi takut sendiri.

__ADS_1


"Mana ada." Abi Hamdan yang mendengarnya langsung bergelak tawa. Merasa lucu. "Leon itu siapa memangnya, sih? Kok bisa dia ngomong kayak gitu sama kamu?"


"Leon itu salah satu teman Robert, Opa. Kemarin siang dia juga ada pas jenguk Mommy."


"Leonnya sendiri sudah disunat?" tanya Abi Hamdan.


"Belum. Tapi dia Kristen, Opa. Jadi nggak disunat."


"Lho, dianya aja nggak disunat ... tapi kok udah ngomong disunat itu kayak digigit harimau? Aneh-aneh saja," kekeh Abi Hamdan. Kembali dia tertawa sebab merasa lucu.


"Nggak tau." Robert menggelengkan kepalanya. "Mungkin ada yang cerita sama dia. Terus kata Leon juga ... nggak bisa kencing katanya, kalau kita disunat, Opa."


"Terus kamunya percaya? Sama si Leon? Sedangkan dianya saja nggak disunat."


"Percaya nggak percaya sih. Robert juga bingung."


"Itu buktinya Daddymu kemarin sunat tapi dia terlihat baik-baik saja. Malah udah kering walau belum seminggu." Abi Hamdan menatap ke arah Joe dan Syifa. Tapi fokusnya pada Joe yang tengah mengenakan stelan jas berwarna abu muda.


Pria tampan bermata sipit itu sudah memakai celana sekarang. Meskipun jalannya masih terlihat nga*ngkang.


"Katanya itu faktor Daddy orang dewasa. Kan Robert mah masih kecil, Opa," sahut Robert.


"Kata siapa lagi? Si Leon?" tebak Abi Hamdan. Robert pun mengangguk. "Dia salah. Jangan dipercaya. Malahan ... disunat itu jauh lebih bagus pas kita masih kecil."


"Kok gitu? Kenapa memangnya?"


"Selain cepat kering ... disunat waktu kecil juga bagus, supaya rasa sakitnya itu nggak diingat sampai dewasa," jelas Abi Hamdan.


"Berarti beneran sakit, ya, Opa? Tongkat kita dipotong?" Robert terlihat meringis.


"Memang sakit. Tapi hanya sebentar," jawab Abi Hamdan seraya mengelus puncak rambut Robert. Dia berusaha merayu supaya cucunya itu mau disunat. "Kalau zaman sekarang sih enak, Rob, sudah ada laser atau alat semacamnya. Dulu mah pas Opa disunat ... nggak ada alat seperti itu."


"Terus Opa pakai apa pas disunat?"


"Hanya gunting. Mana guntingnya kurang tajam lagi, jadi deh tongkat Opa nggak rata bentuknya. Ditambah item."

__ADS_1


...Abi..... 🤣 itu aib Abi lho, kenapa dikasih tau ke cucu sendiri 😆...


__ADS_2