Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
187. Darah orang muslim


__ADS_3

"Eemm ... Baim sebenarnya kepengen itu ...." Baim menggaruk rambut kepalanya yang mendadak terasa gatal. Ingin langsung berucap sebenarnya, tapi ragu.


"Kepengen apa? Langsung aja, nggak perlu basa basi, Im," kata Burhan.


"Baim kepengen digundul sebenarnya, Pa, Ma ... karena lagi nge-trend. Robert udah digundul. Selanjutnya Atta, Leon dan Juna. Masa ... Baim nggak ikut digundul juga? Nggak kompak dong namanya, Pa, Ma."


"Mau digundulinnya di mana emang?" tanya Dea.


"Maksudnya gimana, Ma?" Baim menatap Mamanya dengan raut bingung.


"Ya kamu mau digundulinnya di salon mana, atau di tukang cukur mana, Im?"


"Di tempat yang sama, dengan Robert saat cukur rambut. Nanti Baim tanya dia," jawab Baim. "Tapi ... Mama dan Papa izinin nggak, kira-kira, Baim digundul?"


"Mama sih nggak masalah."


Jawaban dari Dea langsung membuat hati Baim berbunga. Dan segera, dia pun menatap wajah Papanya. Meminta mendapat padanya.


"Kalau Papa gimana?"


"Papa juga nggak masalah," jawab Burhan. "Silahkan kalau kamu mau digundul. Nanti Papa antar."


Semudah itukah? Mereka mengizinkan?


Tentunya hal tersebut membuat bocah itu girang bukan kepalang. Sampai-sampai dia menciumi tangan kedua orang tuanya secara berulang-ulang.


"Baim kira ... kalian nggak akan setuju. Taunya langsung setuju. Terima kasih Pa ... Ma, Baim sayang kalian. Kalian memang yang terbaik."


"Kami juga sayang Baim." Burhan dan Dea menyahut bersama, kemudian mencium pipi anaknya. Burhan sebelah kanan dan Dea sebelah kiri. "Tapi ada syaratnya dulu, ya, Im," tambah Burhan.


"Syarat? Syarat apa itu, Pa?" Jantung Baim seketika berdebar kencang.

__ADS_1


"Besok-besok ... kalau mau berbakti kepada orang tua, kamu harus ikhlas. Nggak perlu ada sebab lain."


"Dih ... Baim ikhlas kok, Pa. Apa yang Baim lakukan ikhlas."


"Itu buktinya tangan kamu diem sekarang." Burhan menunjuk tangan Baim yang sudah tak memijit kakinya.


"Ini Baim lanjutin kok, Pa!" Ditegur seperti itu, Baim pun langsung melanjutkan gerakan tangannya. Bahkan berpindah juga pada kaki sebelah Burhan. "Baim 'kan anak soleh. Jadi Baim selalu ikhlas melakukan hal apa pun, apalagi itu ada hubungannya dengan orang tua."


"Bagus deh kalau kayak gitu. Habis kaki pundak berarti, ya?" Burhan menyentuh pundaknya sendiri.


"Dih ... kok pundak juga, Pa?" Mata Baim sontak membeliak.


"Kenapa memangnya? Nggak mau?"


"Mau, mau kok!" Baim mengangguk cepat. "Habis ini Baim pindah ke pundak. Papa tenang saja, ya?"


"Mama juga mau dong, Im. Kok cuma Papa aja yang dipijitin?" tawar Dea sambil terkekeh. Dia akan mencoba menguji kesabaran anaknya yang setipis tissue.


"Oh ... Mama juga mau dipijitin, ya?" Baim perlahan menatap ke arah Dea yang kini sudah duduk selonjoran juga di sampingnya.


"Nanti habis kamu pijitin pundak Papa ... kamu berpindah pada Mama, ya, Im? Mama pasti capek itu."


"Iya, Pa. Apa sih yang nggak buat kalian berdua." Baim langsung tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya, tapi mimik wajahnya itu terlihat seperti tertekan. 'Nggak apa-apa deh ... pijitin Mama dan Papa. Lagian dapat pahala juga, kan, meskipun sebenarnya tanganku udah pegel. Ya Allah ... kuatkan Baim, ya Allah. Baim kepengen digundul soalnya,' batinnya yang mencoba terus bersemangat.


Setelah berhasil mengantongi izin dari kedua orang tua, Baim pun langsung memberitahukan kabar baik itu pada grup chatnya.


Dia menerima banyak sekali tanggapan, apalagi dari Juna yang langsung mengajaknya ketemuan di tempat cukurnya Robert.


Akhirnya, yang membuat janji hanya mereka berdua. Tapi Robert pun ikut mengantar juga, karena ingin melihat proses dimana kedua temannya itu digundul.


***

__ADS_1


"Kapan kamu ingin membacanya? Ya kalau pun belum mau baca ... setidaknya bukalah terlebih dahulu."


Seorang kakek tua menyerahkan sebuah Al-Qur'an. Tapi bukannya mengambil, pria itu justru memundurkan langkah sembari menatapnya dengan tajam.


"Aku sudah pernah katakan berulang kali ... kalau aku itu bukan orang Islam, Kek! Aku non muslim!" tegasnya marah.


"Aku tau." Kakek tua itu menganggukkan kepalanya. "Maka dari itu aku memintamu untuk membuka dan membacanya," tambahnya yang melangkah mendekat. Tangannya tak lepas untuk terus terulur kepadanya.


"Bagaimana mungkin aku membacanya, sedangkan aku sendiri nggak bisa membacanya. Aku nggak paham!"


"Makanya pahami."


"Tapi itu bukan kitab suciku, Kek! Dan aku akan berdosa, jika melakukannya!" tegasnya yang masih berjalan mundur.


Kakek tua itu langsung menahan tangan kanannya, kemudian menariknya untuk memegang Al-Qur'an. Tapi baru saja tersentuh, dia segera menepisnya secara kasar.


"Aku nggak mau! Tolong jangan paksa aku dan berhentilah untuk menggangguku!" teriaknya dengan penuh penekanan.


Bukan hanya sekali mereka dipertemukan. Tapi sudah satu bulan terakhir. Dan setiap kali ketemu, kakek tua itu selalu saja memintanya untuk membuka serta membaca Al-Qur'an yang dia bawa.


Meskipun sering ditolak mentah-mentah, tapi nyatanya dia tak menyerah. Karena terus saja melakukan hal yang sama ketika keduanya bertemu.


"Aakkh ...!!"


Sedang cepat-cepatnya berlari demi menghindar, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah barat.


Peristiwa itu sangatlah kilat menurutnya, hingga tak bisa dihindari.


Tubuhnya pun terpental, akibat menghantam badan depan mobil. Dia berguling di aspal hingga ujung kepalanya terbentur pembatas trotoar jalan.


"Setelah kamu terbangun ... akan ada darah orang muslim yang sudah mengalir di tubuhmu. Darah yang setiap saat menyebut nama Allah. Orang itu juga yang akan merubah hidupmu dan keluargamu."

__ADS_1


Samar-samar dia mendengar suara, dan didetik selanjutnya dia pun memejamkan mata karena sudah hilang kesadaran.


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2