Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
216. Ketemu camer


__ADS_3

"Nama saya Yunus, Pak," jawab Ustad Yunus seraya menjabat tangan pria di depannya.


"Papi?!" Yumna jelas terkejut, sebab di depannya sekarang adalah Papi Yohan. Padahal, momen ini adalah momen yang begitu dia hindari. 'Gawat ini, kenapa justru si Ustad miskin ini malah ketemu dengan Papi?!'


"Wah ... pantes kamu tumben-tumbenan ngajakin Papi makan siang dihari kerja. Ternyata kamu ingin mengenalkan pacar barumu kepada Papi, ya?" tebak Papi Yohan dan langsung merangkul bahu Ustad Yunus, kemudian menariknya untuk masuk bersama ke dalam restoran.


"Maaf, Pak, tapi saya bukan pacarnya Nona Yumna," ucap Ustad Yunus sembari menahan kakinya. Yumna yang masih berada diluar pun ikut berlari menyusul mereka.


"Nggak perlu malu-malu ah, mentang-mentang ketemu camer." Papi Yohan terkekeh.


"Bener, Pi, dia bukan pacarku!" sergah Yumna lalu menarik tangan Papinya hingga terlepas dari bahu Ustad Yunus.


"Kalau bukan pacar terus apa? Calon suami?" tebak Papi Yohan yang tampak tak percaya.


Yumna menggeleng cepat. "Bukan juga, Pi! Dia cuma orang asing!"

__ADS_1


"Orang asing kok kamu sampai berani pegang-pegang pipinya? Papi lihat lho tadi pas dimobil. Kamu nggak perlu menutupinya lah." Papi Yohan kembali menarik Ustad Yunus, hingga dirinya terduduk di sebuah kursi yang memang sudah dipesan sebelumnya untuk makan siang bersama Yumna.


Alasannya ada di restoran karena memang mendapatkan tawaran makan siang dari anaknya, dan benar apa yang dikatakannya tadi—kalau memang Yumna tumben sekali mengajaknya makan siang bareng.


Biasanya, jangankan mengajak, diajak olehnya saja Yumna selalu menolak dengan alasan malas. Jadi wajar Papi Yohan berpikir ke arah sana, apalagi saat sampai restoran dia melihat jelas anaknya itu memegang kedua pipi seorang pria seumuran Joe.


"Memang itu kenyataannya, Pi!" Yumna mengerang kesal seraya duduk di depan Ustad Yunus, kemudian menatapnya dengan sengit. "Sekarang jelaskan kepada Papiku kalau kita hanya orang asing, dan jangan pernah mengambil keuntungan dariku atau Papi!" titahnya sambil berteriak kencang.


"Yumna! Kenapa kamu nggak sopan sekali bicara dengan pria kalem ini? Pelankan sedikit suaramu!" tegur Papi Yohan menasehati, meskipun hanya masuk ke dalam kuping kanan dan keluar begitu saja lewat kuping kiri anaknya.


"Enggak apa-apa kok, Pak," balas Ustad Yunus sambil tersenyum. Papi Yohan pun langsung menarik kursi di sampingnya, lalu duduk di sana. "Dan benar apa yang dikatakan Nona Yumna, kami berdua orang asing."


"Itu hanya salah paham kok, Pak. Nona Yumna pikir ... kedatangan saya ke sini karena ada janji sama Bapak. Padahal sebenarnya nggak, saya ada janji sama teman saya," jelas Ustad Yunus sambil menatap Yumna. Dan dilihat perempuan di depannya itu masih menatapnya dengan sengit.


"Kok bisa, Yumna berpikir kamu ada urusan dengan Om? Kenapa, Boy?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Kalau soal itu biar Nona Yumna saja yang jelaskan, karena takutnya saya salah bicara." Ustad Yunus hendak mengangkat bokongnya, tapi Papi Yohan sudah menahan tangannya.


"Mau ke mana, Boy? Udah jelaskan saja. Kamu yang jelaskan, jangan Yumna," pintanya penuh harap.


Ustad Yunus menatap kembali ke arah Yumna dan perempuan itu masih berekspresi sama seperti tadi. "Maaf, sebetulnya saya nggak mau membahas hal ini. Dan jujur demi apa pun ... yang telah saya lakukan adalah sebuah keikhlasan dalam menolong Bapak. Tapi entah mengapa, Nona Yumna selalu saja berpikir kalau saya ini ingin meminta imbalan kepada Bapak. Padahal sebenarnya enggak sama sekali, Pak," jelasnya dengan jujur.


"Imbalan apa maksudnya?" Papi Yohan mengerutkan kening, dia tampak bingung.


"Kan kemarin-kemarin Papi nanya, siapa orang yang mendonorkan darahnya untuk Papi. Ya dia orangnya. Di depan Papi!" seru Yumna yang tampak emosi, sambil menunjuk kepada Ustad Yunus dengan jari telunjuknya.


"Benarkah?!" Bola mata Papi Yohan seketika berbinar, dan dia pun langsung memeluk tubuh Ustad Yunus dengan erat. "Ternyata kamu orangnya? Puji Tuhan ... terima kasih, Boy ... kamu benar-benar pria yang sangat baik."


"Sama-sama, Pak." Ustad Yunus membalas pelukan itu untuk mengusap sebentar punggung Papi Yohan, sebelum akhirnya dekapan itu terlepas sendiri.


"Bagaimana sebagai imbalannya ... kamu nikahi saja Yumna, Boy?" tawarnya yang mana membuat Yumna tersendak ludahnya sendiri.

__ADS_1


"Uhuk! Papi gila, ya?!"


...Terlalu sat set Papi ini🤭...


__ADS_2