Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
66. Menjadi viral


__ADS_3

Semua yang Joe ungkapkan bukan atas dasar ingin membalas dendam kepada Fahmi. Tapi memang menurutnya, Fahmi pantas mendapatkan.


Dan supaya nantinya, kelak dia tak akan gegabah jika ingin bertindak. Jangan selalu menganggap dirinya adalah orang yang berkuasa.


"Wah ... Daddy hebat! Robert dukung Daddy!" Robert yang terlihat antusias langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu naik turun. "Eh tapi, Dad, pencemaran nama baik itu apa? Apa nama Daddy seperti terkena limbah pabrik?"


"Pencemaran nama baik itu seperti kita memfitnah seseorang, Sayang," jawab Joe seraya mengelus puncak rambutnya. "Maka dari itu, ada istilah fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan. Karena fitnah adalah menuduh seseorang yang melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Dan itu sangat keji yang berdampak panjang bisa selama hidupnya menanggung fitnah tersebut, berbeda dengan pembunuhan yang sakitnya hanya sekali sebab dia terbukti bersalah," tambah Joe panjang lebar.


"Oh ... iya, mangkanya kita nggak boleh sembarangan fitnah orang ya, Dad. Kan berdosa juga." Robert mengangguk-nganggukkan kepalanya, dia tampak paham dengan penjelasan Joe meskipun hanya sedikit.


"Kalau Bapak serius ingin menuntut Pak Fahmi, saya bisa membuatkan surat laporannya, Pak," kata Pak Polisi kemudian menatap temannya sebentar dan menganggukkan kepalanya. "Tapi sebelum itu ... saya minta Bapak untuk menemani kami ke hotel di mana Anda melakukan pesta. Karena kami ingin melihat rekaman CCTV itu secara lengkap."


"Baik, Pak." Joe mengangguk. Dia langsung berdiri sembari mengendong tubuh Robert. "Kita langsung pergi sekarang saja."


"Abi ikut ya, Jon." Abi Hamdan lantas ikut berdiri juga. Sepertinya dia juga setuju, dengan sebuah tindakan yang dilakukan oleh menantunya.


"Iya, Bi." Joe mengangguk.


***


Di rumah Abi Hamdan.


Syifa duduk di sofa bersama Umi Maryam, menunggu tiga laki-laki berbeda generasi itu pulang. Sejak tadi matanya terus menatap jam dinding, dan tak terasa sudah hampir jam 12 malam.


"Mi ... Aa, Abi sama Robert kok belum pulang, ya? Aku khawatir banget mereka kenapa-kenapa," ucap Syifa dengan perasaan tak tenang. Perlahan dia pun menoleh ke arah sofa single di mana Uminya berada.


Namun saat dilihat, wanita itu justru sudah tertidur dengan posisi duduk dan terdengar suara mendengkur. Seperti sangking lamanya menunggu para lelaki, Umi Maryam sampai tak kuat hingga ketiduran.


"Umi segala udah tidur lagi. Terus gimana dong ini?" Syifa meraih ponselnya di atas meja, lalu membuka kuncinya. Ingin rasanya dia langsung menelepon Abi Hamdan atau Joe, untuk menanyakan bagaimana dan sedang apa sekarang.


Akan tetapi, rasanya Syifa sangat ragu. Sebab merasa takut jika nantinya telepon darinya mengganggu aktivitas mereka di sana.


Nanti yang ada, keterangan yang disampaikan tidak berjalan baik dan akan memakan waktu yang lebih lama lagi.


"Keterangan apa kira-kira ... yang harus Aa dan Robert katakan? Dan apakah ada sesuatu hal yang terjadi yang aku sendiri nggak tau? Tapi apa itu?" Syifa akhirnya memilih untuk berpikir sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi bukankah selama ini Aa terus bersamaku, begitu pun dengan Robert. Jadi ... hal apa yang aku nggak tau tentang mereka?" gumamnya yang masih bertanya-tanya.


Ting, Tong!


Ting, Tong!


Bunyi suara bel sontak membuat Syifa terperanjat dari duduknya, serta membuyarkan isi pikiran yang sudah berkelana.

__ADS_1


"Itu pasti Aa ...," tebaknya yang begitu yakin. Gegas Syifa berdiri, kemudian berlari untuk membuka kunci serta pintunya.


Ceklek~


"Assalam —"


"Aa!" Melihat ternyata memang beneran Joe, Syifa pun langsung memeluk tubuhnya karena sangking senangnya, dan sampai-sampai ucapan salam dari Joe dan Abi Hamdan sempat terputus.


"Assalamualaikum, Fa. Harusnya kamu jawab dulu salam dong, jangan langsung tiba-tiba meluk," gerutu Abi Hamdan menasehati. Robert saat ini bersamanya, sedang digendong dan dia sudah terlelap dari tidurnya.


"Walaikum salam. Maafkan aku, Bi, aku terlalu khawatir sama kalian." Syifa merelai pelukan dan mencium punggung tangan Abi Hamdan. Namun, tiba-tiba saja sebuah kecupan mendarat di pipi kanannya.


Sontak, dia pun langsung terbelalak, sebab yang terjadi tadi adalah perbuatan Joe. Tapi tentunya, itu semua membuat jantungnya berdebar berikut wajahnya yang merona.


"Bukan sama kalian, sama Aamu saja kali." Abi Hamdan tampak mendengkus.


Bukan maksud tidak suka melihat anaknya yang memeluk suaminya, hanya saja dia iri sebab istrinya tak melakukan hal yang sama.


"Mana Umi, Fa?" tanya Abi Hamdan yang langsung melebarkan pintu, kemudian masuk dan dia pun melihat istrinya tengah tertidur di sofa dengan posisi duduk.


"Umi sampai ketiduran menunggu kalian, Bi," ucap Syifa yang ikut melangkah masuk bersama Joe. Lantas mendekat ke arah Abinya untuk menggendong Robert. Sebab takutnya nanti Abi Hamdan ingin mengendong Umi Maryam untuk memindahkannya ke kamar.


"Terus ... bagaimana keterangannya? Apa berjalan dengan lancar?" tanya Syifa menatap suaminya yang tengah menutup mulutnya sendiri akibat menguap. Matanya pun terlihat sayup seperti mengantuk. "Dan sebenarnya ... apa yang terjadi, A?"


"Semuanya lancar, Yang, alhamdulillah," jawab Joe sambil merangkul bahu Syifa. "Aku akan ceritakan semuanya, tapi dikamar saja, deh, ya? Soalnya biar enak sambil tiduran."


"Oh ya sudah." Syifa mengangguk setuju, lalu menatap Abi Hamdan yang tengah berusaha menggendong Umi Maryam. Namun terlihat kesusahan. "Aku, Robert sama Aa masuk ke kamar dulu, ya, Bi, selamat malam dan selamat istirahat."


"Iya, Fa. Selamat malam dan istirahat juga," jawab Abi Hamdan sambil tersenyum.


Joe dan Syifa yang menggendong Robert melangkah bersama masuk ke dalam kamar. Sambil menutup pintu dan menguncinya, Joe pun langsung bercerita tentang apa yang terjadi tadi saat di kantor polisi.


Syifa yang tengah membaringkan tubuh Robert di atas kasur dengan perlahan sontak terbelalak, merasa terkejut dengan cerita suaminya terkait Fahmi


"Astaghfirullahallazim, bisa-bisanya Kak Fahmi menuduh seperti itu. Jahat sekali pikirannya." Syifa geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir.


"Iya, aku juga nggak menyangka sampai dia nekat mempolisikan aku, Yang. Padahal kalau memang masih belum percaya ... dia sama Papanya bisa menemuiku. Dan lagian nggak ada bukti yang mengarah padaku," jawab Joe, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, setelah itu dia pun membaringkan tubuhnya. Di samping Syifa yang sudah berbaring duluan.


"Terus sekarang bagaimana, A? Katanya sudah beres." Syifa menatap mata Joe, dan pria itu langsung menarik tubuhnya, membawanya dalam dekapan.


"Dia aku tuntut balik. Biar mikir."

__ADS_1


"Maksudnya, Aa berbalik melaporkan Kak Fahmi? Dia akan di penjara?"


"Iya. Biar dia kapok." Joe mengangguk sambil menghela napas. "Jangan mentang-mentang di sini aku diam, aku nggak berani melaporkan dia balik. Tentu aku berani, apalagi aku nggak salah di sini."


"Iya, Aa benar." Syifa tersenyum, lalu menangkup kedua pipi Joe. Pria itu sudah memejamkan mata. "Selamat malam, A, selamat tidur."


Tak ada sahutan sama sekali, sepertinya Joe sudah benar-benar terlelap dari tidurnya.


'Eh, bukannya Aa mau mengajak gaya helikopter ... malam ini? Apa dia lupa, ya?' batin Syifa. Dia pun perlahan membenamkan wajahnya ke dada Joe, lalu menghirup wangi aromanya dan mulai memejamkan mata.


***


Esok pagi.


Fahmi terlihat segar sekali sudah mandi dan berpakaian rapih. Mengenakan sarung berwarna hitam dan kemeja polos berwarna hijau botol, tak lupa dengan peci hitam di atas kepalanya.


Hari ini, dokter sudah mengizinkannya pulang. Sebab memang dia sudah sembuh.


"Ayok pulang, Mi, sudah Papa bayar administrasinya," ucap Pak Haji Samsul yang datang bersama istrinya yang bernama Hajah Dijah.


"Iya, Pa." Fahmi mengangguk dan langsung turun dari tempat tidur.


Orang tuanya itu pun segera membantunya, sebab khawatir kalau sampai Fahmi terjatuh. Padahal pria itu sudah benar-benar sehat. Bahkan jika disuruh berlari juga dia bisa.


Setelah keluar dari kamar inapnya, mereka pun berjalan bersama keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil.


"Pa, sebelum kita pulang ke rumah ... kita mampir ke kantor polisi dulu, ya?" pinta Fahmi yang baru saja masuk ke dalam mobil pada kursi belakang, dan Hajah Dijah lah yang membukakan pintunya.


"Mau ngapain ke kantor polisi? Semuanya sudah beres, Mi. Dan Papa yakin ... Jojon sudah masuk buih," jawab Pak Haji Samsul kemudian masuk ke dalam mobil pada kursi kemudi. Istrinya juga ikut masuk dan duduk di sampingnya.


"Maka dari itu, Pa, aku mau melihat langsung si Jojon berada di dalam jeruji besi. Pasti di sana ada Syifa dan anaknya juga. Atau bahkan Abo Hamdan dan Umi Maryam. Mereka pasti sedang menangis, kan? Ya ampun ... aku udah nggak sabar banget ingin melihatnya, haha ...." Fahmi bergelak sendiri. Baru menghayalkannya saja dia sudah merasa sangat puas dan bahagia. Apalagi jika melihat langsung? Pasti dia tak akan bisa untuk berhenti tertawa.


"Bener juga sih, Mi." Pak Haji Samsul pun tak lama kemudian ikut tertawa, merasa setuju dengan usulan anaknya. Lantas dia menoleh kepada istrinya. "Nanti Mama video 'kan diam-diam, ya, pas kita sudah sampai ke kantor polisi. Papa mau nanti video itu tersebar dan langsung viral. Reputasi Ustad Hamdan pun akan ikut hancur menjadi tokoh agama di tempat kita."


Dia sudah bercerita kepada istrinya. Dan Hajah Dijah pun terlihat percaya, serta menganggap memang benar—menantu dari Abi Hamdan adalah orang jahat.


Pak Haji Samsul sendiri sebenarnya masih memendam rasa kesal pada Abi Hamdan akibat gagalnya perjodohan di antara anak-anaknya. Sebab nama Fahmi dan dia tentu terkesan jelek dimata umum. Apalagi saingan Fahmi adalah pria non muslim.


"Iya, Pa." Bu Hajah Dijah mengangguk semangat. "Bila perlu ... Mama akan melakukan siaran langsung di fa*cebook. Pengikut Mama di sana 'kan sudah banyak, pasti videonya naik dan jadi viral," tambahnya dengan penuh percaya diri.


...Author tunggu videonya, ya, Bu 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2