
"Ah! Ah! Ah!"
Ruang kamar hotel itu terdengar begitu nyaring suara sahut menyahut desaahan nikmat dari dua insan yang asik bercumbu.
Aktivitas itu dilakukan bukan hanya di kamar mandi, melainkan kasur, sofa, di atas meja bahkan lantai.
Semua gerakan itu dominan dikuasai oleh Joe, tapi dia juga sedikit demi sedikit mengajari Syifa untuk bergerak, meskipun masih terasa begitu kaku.
Beberapa menit sudah mereka bergulum panas, hingga semburan ketiga dari Joe mengakhiri sesi percintaan itu. Keduanya langsung tepar di tempat dan memejamkan matanya.
*
*
"Aa! Bangun, A!"
Sebuah guncangan dan seruan lembut seketika membangunkan Joe dari tidurnya. Pria itu perlahan membuka mata, kemudian tersenyum menatap wajah Syifa yang begitu cantik di depannya.
Padahal rambutnya tampak berantakan, wajahnya pun wajah bantal. Namun tetap saja, menurut Joe—wajah yang dimiliki Syifa dan Sonya itu selalu dia kagumi.
"Ada apa, Yang? Apa mau nambah lagi?" tanya Joe sambil mengedipkan matanya dengan genit. Dia juga menangkup kedua pipi istrinya, lalu mengecup bibir ranum itu dengan gigitan kecil.
"Ayok kita makan, A, aku laper banget." Syifa menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi suara cacing yang mendemo. Kebiasaan memang, kalau sudah bercinta pasti dia melupakan makannya. Karena mungkin terlalu menikmati, jadi lupa waktu. "Habis ini kita juga harus segera pulang, karena takutnya Robert nyariin kita, A."
"Nanti aja, deh, pulangnya. Aku masih mau lagi, Yang." Joe mengerucutkan bibirnya, lalu memegang pinggang Syifa dan menariknya untuk terduduk di atas tubuhnya.
"Aa udah keluar tiga kali. Dan lagian, ini juga udah siang, A. Lanjut besok lagi aja, atau nanti malam."
"Siang?" Kening Joe tampak mengerenyit, mendengar kata itu. Secepat itukah? Perasaan—mereka bercinta belum lama. "Memangnya ... jam berapa sekarang?" tanyanya dengan wajah berpaling ke arah nakas. Dan sontak matanya itu melotot, ketika melihat sebuah jam weker di atas sana yang menunjukkan pukul 13.00. Yang berarti jam 1 siang. "Ya ampun ... sudah jam 1 ternyata, Yang?" Mulut Joe sampai menganga, karena terkejut.
"Mangkanya udah ayok kita mandi, A, terus makan. Hape Aa juga berdering mulu dari tadi. Abi telepon, tapi aku nggak berani ngangkat karena takut." Syifa langsung meraih hape Joe di atas bantal, kemudian memberikan kepada sang suami.
Saat Joe membuka kunci, terlihat ada 10 panggilan masuk yang tak terjawab. Serta dua pesan yang sudah beberapa jam lalu dia abaikan.
[Jon ... kau bawa Syifa ke mana? Cepat temui Abi sekarang! Abi ada di rumahmu!]
__ADS_1
[Kalau dalam waktu 30 menit kamu belum sampai rumah ... Abi akan menghukummu lebih berat! Jangan main-main, ya, sama Abi!!]
Mata Joe sontak terbelalak, membaca pesan tersebut. Susah payah dia juga menelan saliva.
"Duh ... mati aku, Yang."
"Mati gimana, A?" tanya Syifa dengan bingung. Perlahan dia turun dari tubuh Joe, lalu menarik selimut untuk melilitkan pada tubuhnya yang polos.
"Abi SMS aku pas jam setengah empat. Tapi aku nggak tau, dan memang mengabaikan hapeku yang bergetar."
"Memang, isi SMS-nya apa, A? Balas saja sekarang, dan bilang kita akan segera pulang," saran Syifa yang terlihat santai, sedangkan Joe sendiri sudah kelabakan bagai cacing kepanasan.
"Abi ingin menghukumku. Dan sepertinya hukumanku akan lebih berat ... karena sudah melewati waktu saat dia mengirim SMS."
"Apa hukumannya, A?"
"Nggak tau. Kita sekarang mandi saja, Yang, terus makan dan otw pulang."
Syifa yang hendak turun dari kasur seketika urung, sebab Joe dengan cepat menggendongnya, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
*
*
*
Tapi dia masih bertanya-tanya, hukuman apa yang akan Abi mertuanya itu lakukan? Apa ini ada kaitannya dia dan Syifa dilarang bercinta? Itulah yang terbesit dalam pikiran Joe.
"A ... perasaan ini bukan arah rumah Abi deh." Syifa menatap jalanan dari kaca mobil dengan raut bingung.
"Memang bukan, Yang."
"Lho, katanya mau pulang? Terus kita mau ke mana lagi ini?" Syifa menoleh ke arah Joe.
"Iya, kita mau pulang. Tapi pulang ke rumahku. Soalnya Abi bilang ... dia ada di sana."
__ADS_1
"Oohh ...." Syifa mengangguk-nganggukkan kepala.
"Kamu kok kelihatan biasa saja, sih, Yang? Apa nggak takut, kamu, sama Abi?" tanya Joe yang sudah berkeringat dingin.
"Takut, A. Cuma ya kita musti menghadapinya. Karena aku nggak mau, kita dipisahkan lagi. Aku mau terus bersama Aa." Syifa meriah tangan Joe, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Memangnya ... hukumannya Abi sampai separah itu, ya? Ih ... aku nggak mau, Yang, kalau disuruh pisah lagi!" Joe menggeleng cepat dengan wajah ketakutan. "Aku bisa gila nanti, kemarin saja aku betul-betul merasa hampir gila ... karena kita dipaksa untuk bercerai."
"Ya mudah-mudahan saja nggak, A. Itu cuma tebakan aku saja. Tapi sebaiknya, kita lebih baik berdo'a ... supaya nggak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Apa ada do'a khususnya? Kayak bahasa Arab gitu?"
"Aku nggak tau, A, tapi kita mending do'a biasa saja. Allah pasti mengerti kok, meskipun kita berdo'a bukan menggunakan bahasa Arab."
"Ya udah. Iya, Yang." Joe mengangguk patuh. Dia pun langsung berdo'a dalam hati. 'Ya Allah ... semoga saja hukuman yang Abi berikan nggak ada sangkut pautnya dari hubunganku dengan Syifa. Dan jangan sampai juga, dia melarangku untuk bercinta dengan Syifa, ya Allah ... karena itu pasti sangat menyiksaku. Amin ... amin ya rabbal allamin.' Joe mengusap wajahnya dengan salah satu tangan, saat do'a itu selesai.
'Maafkan aku dan Aa ya, Allah, karena nggak sepantasnya memang kami melakukan hal itu di depan Robert yang masih sangat polos. Tapi sejujurnya, kami benar-benar khilaf. Kami lupa ya, Allah, karena awalnya aku juga sangat merindukan Aa.' Syifa juga ikut berdo'a dalam hati.
Beberapa menit kemudian, mobil Joe pun akhirnya tiba di rumah mewahnya. Tapi dia sendiri merasa sangat heran, lantaran ada sebuah mobil sport dua pintu berwarna putih yang bertengger di halaman.
Mobil itu terlihat begitu asing dalam penglihatannya, dan apakah tandanya ada tamu, di dalam rumahnya? Entahlah.
"Selamat siang, Pak Bos, Bu Bos," sapa Pak Satpam dengan senyuman ramah sambil membukakan pintu mobil untuk Joe keluar. Setelah itu dia berlari memutar untuk membukakan pintu mobil pada posisi Syifa duduk.
"Siang, Pak," balas Syifa sambil tersenyum manis.
"Ada siapa saja di dalam? Dan mobil siapa ini?" tanya Joe sambil menunjuk mobil asing di sampingnya.
"Di dalam ada Dek Robert, Pak Hamdan, Bu Maryam dan Pak Tirta, Pak," jawab Pak Satpam, lalu melanjutkan sambil menunjuk ke arah mobil yang Joe maksud. "Dan mobil itu, mobilnya Pak Tirta."
"Pak Tirta itu siapa, A?" tanya Syifa menatap Joe penasaran.
"Pak Tirta ini teman SMA-nya Pak Bos dulunya, Bu." Pak Satpam yang menyahuti, lalu menatap ke arah Joe. "Bapak masih kenal, kan, sama Pak Tirta? Beliau datang karena diundang Dek Robert katanya."
"Ngapain Robert ngundang Tirta ke rumah? Memangnya mau cukur rambut?" tanya Joe dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
Tirta ini memang teman SMA-nya dulu, dan dia sekarang berprofesi sebagai tukang cukur rambut sekaligus pemilik salon besar yang ada disalah satu mall di Jakarta. Kebetulan, Joe dan Robert juga langganan mencukur rambut padanya.
...Masih pada inget ga, tokoh Om Tirta? 🤔Pernah ada di novel mana hayoo?...