
"Yes, Sir," jawab Joe sambil menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah bersama menuju pojok lorong.
"Ada apa, ya, Mom, kok Om petugas itu mau mengobrol sama Daddy?" tanya Robert seraya meraih tangan Syifa, lalu menatap ke arah Joe yang tengah mengobrol.
Entah apa yang mereka berdua obrolkan, tapi terlihat begitu serius sekali. Joe juga merogoh kantong celananya dan mengambil sebuah ponsel, kemudian diperlihatkannya kepada petugas tersebut.
"Mommy nggak tau, Nak," jawab Syifa sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga memerhatikan suaminya dari kejauhan. "Tapi kayaknya ada hubungannya dengan Daddy ngompol deh," tambahnya menebak.
"Apa Daddy diomelin, sama Om Petugas?"
"Kayaknya."
"Maafin Daddy, ya, Mom ... gara-gara dia, gamis Mommy jadi basah." Robert yang merasa tak enak langsung menyentuh rok gamis yang Syifa kenakan. "Pasti Mommy merasa kedinginan, ya? Mana nggak bawa baju ganti lagi."
"Nggak apa-apa, Nak." Syifa mengulas senyum, kemudian mencium kening Robert dengan lembut. "Anggap aja ini seperti sebuah—"
"Yang ...," panggil Joe yang sudah menghampiri mereka lagi, sehingga membuat ucapan Syifa terhenti.
"Kenapa, A?" tanya Syifa seraya menatap Joe, dan petugas tadi juga berada di samping suaminya dengan berwajah datar.
"Maaf banget, kayaknya kita harus mengakhiri nonton kita, Yang," ujar Joe dengan wajah bersalah.
"Lho, kok mengakhiri sih, Dad?" tanya Robert dengan raut bingung. "Kenapa? Kan filmnya belum selesai, dan baru tiga puluh menit kayaknya ... kita masuk bioskop," tambahnya sembari menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya.
"Om Petugas ini yang nyuruh." Joe melirik sebentar pria di sampingnya. "Udah ayok kita keluar dari sini. Takutnya ... dia marah." Joe langsung merangkul bahu Syifa, kemudian mengandeng tangan anaknya dan mengajak mereka bersama-sama keluar dari gedung bioskop itu.
Namun, petugas tadi masih mengikuti mereka meskipun ketiganya sudah keluar dari pintu utama.
"Apa ini ada hubungannya dengan Daddy ngompol?" tanya Robert sambil mendongakkan wajahnya, menatap ke arah Joe.
"Iya." Joe mengangguk. "Kita ke mall dulu, ya, buat beli baju ganti untuk Daddy dan Mommy. Tapi habis itu kita balik lagi ke sini."
"Lho, kenapa balik lagi, A?" tanya Syifa heran. "Kalau udah diusir, mending kita pulang saja langsung. Nggak perlu nonton ulang filmnya. Nanti yang ada Aa ngompol lagi."
"Bukan untuk nonton lagi, Yang," bantah Joe dengan gelengan kepala.
"Terus buat apa, A?" tanya Syifa yang masih bingung.
Kini, mereka pun turun satu lantai di mall itu. Tempat di mana beberapa toko pakaian semua ada di sana.
"Aku dihukum, Yang, suruh membersihkan isi bioskop dan bekas ompolku. Mana kena denda juga lagi," jawab Joe sambil merengut lesu.
Petugas tadi bahkan masih mengikuti mereka. Sengaja memang dia mengikuti, sebab khawatir Joe kabur dan tak mau bertanggung jawab.
__ADS_1
"Tapi bioskop 'kan luas, A, ruangannya. Apa nggak capek nanti?"
"Ya pasti capek. Tapi mau gimana? Udah begini harusnya, udah peraturannya juga katanya."
"Mangkanya besok-besok ... kalau mau jalan-jalan lebih baik Daddy pakai popok saja. Biar aman," usul Robert sambil tertawa cekikikan.
"Enak saja, memang Daddy anak kecil?" bantah Joe sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya buktinya masih ngompol," balas Robert mencibir.
"Kan baru pertama kali ngompol Daddy, Rob. Ini mah namanya musibah saja."
"Berarti benar, kan, kata Robert ... kalau Daddy itu cemen?"
"Apaan sih kamu. Udah deh, siapa juga sih yang cemen? Ini itu musibah, ya! Dan nggak ada urusannya dengan istilah cemen!" tegas Joe yang terlihat kesal. Sebab memang sejak tadi anaknya itu tak henti-hentinya untuk terus meledek.
"Udah, Nak, jangan ledekin mulu Daddymu. Kasihan dia," tegur Syifa seraya mengusap puncak kepala anaknya. Barulah sekarang, bocah itu menghentikan tertawa jahatnya. Meskipun di dalam hati dia masih tertawa.
*
*
Seusai membeli pakaian ganti serta memakainya, mereka bertiga pun kembali menuju bioskop. Dan gedung tersebut kebetulan memang sudah kosong.
"Kalian duduk di sini dan tunggu Daddy selesai. Pokoknya jangan ke mana-mana, ya!" titah Joe yang sudah berdiri di ambang pintu.
Syifa dan Robert pun mengangguk secara bersamaan.
"Mau aku bantuin nggak, A, bersih-bersihnya? Biar cepat selesai," tawar Syifa.
Di dalam gedung itu sangatlah luas, ada rasa kasihan juga pada Joe. Sehingga mendorong Syifa untuk membantunya.
"Nggak usah, Yang," tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya, kemudian meraih tangan kanan Syifa. "Ini kesalahanku, dan hanya aku yang diwajibkan bertanggung jawab. Sudah cukup kamu kena imbasnya tadi ... rok gamismu basah. Jadi nggak perlu ditambah lagi."
"Aa yakin ... nggak perlu aku bantu?" tanya Syifa sekali lagi. Yang masih punya niat ingin membantu Joe.
"Yakin, Sayang. Aku 'kan pria dewasa dan perkasa. Masa membersihkan bioskop saja nggak bisa sendiri? Malu dong sama tongkat bisbolku."
"Apa hubungannya coba, sama tongkat bisbol?" Syifa berdecih. Tapi Joe malah tertawa dan langsung mengecup pipinya. Setelah itu dia masuk ke dalam gedung tersebut bersama petugas yang mengikuti mereka, lantas menutup pintunya dengan rapat.
"Kita duduk menunggu di sana saja, Nak," tunjuk Syifa pada sebuah kursi yang berjejer, yang letaknya tak jauh dari ruangan gedung tersebut
"Iya, Mom." Robert mengangguk, kemudian berjalan bersama Syifa dan duduk di sana saling berdampingan.
__ADS_1
"Kamu laper nggak, Nak? Atau mau minum apa, gitu? Biar Mommy belikan sesuatu untukmu."
"Nggak, Mom." Robert menggelengkan kepalanya. Kemudian berpindah posisi duduknya ke atas pangkuan Syifa. "Kita duduk saja di sini sambil mengobrol menunggu Daddy selesai."
"Oh gitu. Ya sudah." Syifa mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya, Mom, Mommy masih ingat nggak ... pas Robert ngomong ingin bicara empat mata?"
Saat itu, obrolan mereka sempat terhenti. Padahal baru dimulai. Dan sekarang, sepertinya adalah waktu yang tepat. Karena memang mereka hanya sedang berdua.
"Ingat." Syifa mengangguk. "Yang tentang Tante Yumna itu, kan?"
"Iya."
"Kenapa dengan Tante Yumna sebenarnya?" tanya Syifa yang sudah penasaran duluan.
"Robert mau ngasih tau Mommy, kalau pas sebelum Robert pingsan ... Robert berkenalan dulu sama Tante Yumna. Oma yang mengenalnya, dia main ke rumah Oma, Mom."
"Maksudnya, gara-gara dia ... kamu pingsan, gitu, Nak?" tebak Syifa.
"Ini bukan masalah pingsannya, Mom," bantah Robert dengan gelengan kepala.
"Lalu apa?"
"Oma bilang ... kalau Tante Yumna akan jadi pengganti Mommy. Ya jelas dong, Robert nggak mau."
"Apa?!" Syifa secara refleks menyeru karena terkejut. Bola matanya pun ikut membulat sempurna. "Oma bilang kaya gitu, sama kamu, Nak?"
"Iya." Robert mengangguk.
'Kok bisa, Mami bilang kayak gitu ... sedangkan aku di sini masih jadi istrinya Aa?' batin Syifa dengan sedih.
"Dan kayaknya ... ini sih menurut Robert saja, ya, Mom, kalau Tante Yumna itu sepertinya beneran suka sama Daddy," lanjut Robert.
"Masa, sih, Nak?" Jantung Syifa sontak berdebar kencang. Tubuhnya juga mendadak gemetar. "Kok kamu bisa ngerasa begitu? Memangnya Tante Yumna bilang apa saja pas pertama ketemu denganmu?"
"Nggak bilang apa-apa, sih, cuma ini tebakan Robert saja, Mom. Mangkanya sebaiknya ... Mommy berhati-hati. Kita juga harus jagain Daddy ... supaya dia nggak berpaling," saran Robert yang terlihat semangat sambil menggenggam kedua tangan Syifa.
"Memangnya ... kamu ada firasat kalau Daddymu akan berpaling dari Mommy, Nak? Dan apakah Daddy terlihat menyukai Tante Yumna?" Syifa berbicara dengan bibir bergetar, dan rasanya dia juga merasa ketakutan sekarang.
Takut akan kehilangan Joe.
...Nggak usah banyak gosip, Rob 🤣 Mommymu orangnya cemburuan lho itu....
__ADS_1