Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
151. 10 Milyar


__ADS_3

"Aman gimana? Abi nggak yakin. Coba perlihatkan isi tabunganmu dulu kepada Abi, Jon," pinta Abi Hamdan dengan tangan yang menadah.


"Eemm ... nggak usah deh, Bi," tolak Joe dengan gelengan kepala.


Bukan apa-apa, dia hanya tidak enak saja. Rasanya memang tidak pantas, memperlihatkan isi tabungannya di depan sang mertua.


"Lho, kenapa nggak usah? Apa kamu malu, Jon?" tanya Abi Hamdan. Ditolak begitu, dia justru makin penasaran. Dan rasanya yakin—jika isi tabungan Joe berkemungkinan pas-pasan.


"Bukan malu, cuma nggak enak saja, Bi, rasanya—"


"Ngapain malu," sela Abi Hamdan cepat, lalu menepuk dadanya. "Abi ini mertuamu. Mertua sama seperti orang tua. Barangkali kamu kapan-kapan ada kekurangan uang buat makan, nanti biar bisa pakai uang Abi dulu."


"Eemm ... gimana, ya, Bi, ngomongnya ...." Joe menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal sembari berpikir sebentar. "Masalahnya, uang tabunganku ada dibeberapa kartu ATM, Bi."


"Maksudnya gimana?" tanya Abi Hamdan dengan raut bingung. Keningnya mengerenyit.


"Aku punya kartu lebih dari satu, dan masing-masing uangnya untuk kebutuhan berbeda, Bi," jelasnya.


"Lho, kenapa musti dipisah-pisah? Dan kenapa banyak sekali kartu ATM yang kamu miliki, Jon? Bukannya kartu seperti itu musti selalu terisi, ya? Kalau banyak nggak ada isinya buat apa, Jon ... yang ada ke blokir," tegur Abi Hamdan menasehati.

__ADS_1


"Semuanya terisi, malah limitnya yang nggak cukup. Mangkanya aku punya lebih dari satu, Bi."


"Limit gimana?" Abi Hamdan semakin bingung. Karena jujur saja, dia sendiri memang tak punya kartu rekening. Kalau ingin menabung pun paling menitipkan pada rekening milik Syifa, atau membeli emas dan memasukkan uang ke dalam celengan.


"Maksudnya saldo, Bi. Saldo rekening."


"Udah sekarang perlihatkan dulu saja, Jon." Abi Hamdan mengerakkan tangannya, yang sejak tadi masih terulur kepada Joe. "Si Syifa punya rekening tapi bisa mengecek saldonya dari hape, kamu sendiri pasti bisa, kan, cek saldo rekeningmu lewat hape?"


"Bisa." Joe menganggukkan, kemudian merogoh kantong celana dibalik sarung untuk mengambil ponselnya. "Aku perlihatkan salah satu rekeningku saja, ya, Bi, yang biasa aku pakai buat belanja," tambahnya, lantas memberikan ponselnya yang sudah berada pada aplikasi m-banking ke tangan sang mertua.


"Lho, berapa ini, Jon? Kok nolnya banyak banget?" Abi Hamdan memicingkan matanya, menatap heran beberapa deretan angka nol di sana. Tapi dibagian depan angka, ada nominal 10.


"Itu sekitar 10 milyar lebih, Bi."


"Sumpah, Bi," jawab Joe. "Coba hitung saja angka nol dibelakang angka 1. Kalau ada sepuluh, tandanya itu sepuluh milyar. Tapi kalau ada sembilan tandanya 1 milyar. Ada angka recehnya juga sih itu, Bi."


Abi Hamdan dengan nurut langsung menghitung angka dibelakang 1 yang Joe katakan.


Dan saat selesai menghitungnya—dia justru langsung tumbang, jatuh pingsan. Lantaran syok dengan isi tabungan itu. Terlebih, dia juga mengingat ucapan sang menantu yang mengatakan jika dia memiliki kartu lebih dari satu untuk tabungannya. Yang mungkin bisa jadi, dengan angka yang tak kalah banyak.

__ADS_1


Bruk!!


"Abi!" Joe sontak terbelalak. Terkejut melihat apa yang terjadi. "Astaghfirullah, Abi kenapa, Bi?!"


Pak RT yang masih ada di sana langsung membantu Joe, saat pria itu hendak membopong tubuh mertuanya tapi terlihat kesusahan. "Baringkan ke bale kayu saja, Pak Joe," titahnya sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.


Orang-orang yang masih ada di lapangan juga terlihat begitu sibuk, tapi mereka bukan sibuk melihat ada yang pingsan. Melainkan mengangkut hewan-hewan yang mati, ingin dibawa untuk mencari tempat supaya bisa dikubur. Karena tak mungkin, daging-dagingnya disembelih lalu dimakan.


"Iya, Pak," jawab Joe sambil menganggukkan kepalanya.


Keduanya pun bersama-sama membaringkan tubuh Abi Hamdan di sana. Pak RT juga merogoh kantong celananya untuk memberikan Joe sebotol minyak angin.


"Baluri minyak angin saja, Pak Joe, biar Ustad Hamdan segera sadar."


"Apa nggak dibawa ke rumah sakit saja, Pak RT? Aku takut Abi kenapa-kenapa, soalnya dia tiba-tiba pingsan," ucap Joe dengan wajah khawatir, lalu membuka penutup botol dan mengolesi minyak angin itu pada dahi, hidung, leher dan kedua kaki Abi Hamdan.


"Nanti juga sadar, Pak," jawab Pak RT. "Kemarin Ustad Hamdan juga sempat pingsan, karena tau harga keenam untanya. Dan kemungkinan ... penyebab sekarang dia pingsan karena melihat angka di dalam rekening Bapak."


"Masa, sih, Pak? Kok sampai segitunya?" Joe meraih ponselnya yang masih berada pada genggaman Abi Hamdan, kemudian berencana untuk menelepon Syifa.

__ADS_1


"Memang begitu, Pak."


...Kan udah dikasih tau, Abi sih ngeyel, jadi pingsan lagi, kan 🤣...


__ADS_2