
Kini, Robert, Abi Hamdan dan Umi Maryam telah sampai pada tujuan. Yakni rumah Joe.
Namun, sejak turun dan membayar ongkos angkot—dua orang tua itu justru terus ternganga, karena melihat keindahan dan kemegahan rumah di depannya.
Mereka juga tak menyangka, jika Joe selama ini memiliki rumah bak istana seperti di sinetron-sinetron ikan terbang.
"Bagus banget rumah si Jojon ternyata, Mi. Ini sih bisa buat tidur satu RT," ucap Abi Hamdan dengan takjub.
"Iya, Bi." Umi Maryam mengangguk setuju, lalu menggandeng lengan suaminya sambil menggerakkan kedua kaki dengan girang. "Menantu kita memang benar-benar orang kaya, Bi. Nggak perlu diragukan lagi. Masya Allah ... kita harus banyak bersyukur ini, Bi."
Abi Hamdan tersenyum lebar. "Iya, Abi juga sangat bersyukur. Udah kaya, baik dan nggak pelit lagi. Jojon memang paket komplit."
"Kok Opa jadi terus memuji Daddy?" tanya Robert heran sambil menatap Abi Hamdan.
"Lho, memangnya nggak boleh, Nak?" Abi Hamdan membalikkan sebuah pertanyaan.
"Boleh. Tapi 'kan Opa bilang ingin memarahi Daddy. Jangan bilang kalau udah ketemu ... nanti Opa nggak jadi marah." Robert mengerucutkan bibirnya. Tampaknya dia memang jauh lebih senang, jika melihat Joe dimarahi. Karena Robert sendiri kesal mengapa pria itu bisa membawa pergi Syifa tanpa sepengetahuannya.
"Pasti jadi dong. Ini 'kan perkara beda, Nak," ungkap Abi Hamdan dengan sungguh-sungguh.
Robert mengangguk, kemudian menatap seorang satpam yang baru saja membukakan gerbang besi untuknya.
"Lho Dek Robert ... kok Adek ke sini pagi-pagi sekali? Dan mereka siapa?" tanya sang satpam sambil menatap heran kepada Abi Hamdan dan Umi Maryam.
"Mereka Opa dan Omanya Robert. Orang tuanya Mommy Syifa, Om," jawab Robert seraya melangkah menuju halaman. Manik matanya pun menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan mobil milik Joe.
"Salam kenal, Pak, Bu ... maaf saya nggak mengenali kalian." Satpam itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arah Abi Hamdan.
"Nggak masalah. Salam kenal juga, Pak." Abi Hamdan membalas senyuman itu dengan menjabat tangan. "Namaku Hamdan, dan ini istriku ... Maryam." Menoleh ke arah sang istri.
Umi Maryam langsung mengangguk dan menatap ke arah satpam. "Salam kenal Pak Satpam."
"Salam kenal juga, Bu. Nama Saya Yono."
"Om ... kok mobil Daddy nggak ada? Apa dia dan Mommy nggak datang ke mari?" tanya Robert pada Satpam Yono.
"Enggak, Dek." Pria berseragam hitam itu menggeleng kepala.
"Kalau Jojon nggak ke sini, terus ke mana dong mereka?" Abi Hamdan bertanya-tanya sendiri, kemudian merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel. Dan segera menghubungi Joe.
Tuuuut ... Tuuuut ... Tuuuut ...
Panggil itu tersambung, hanya saja tidak diangkat-angkat. Bahkan sudah dua kali Abi Hamdan menelepon.
"Ih! Kenapa nggak diangkat-angkat sih!" geram Abi Hamdan mengomeli ponselnya. Dia pun akhirnya mengirimkan sebuah pesan, kepada Joe.
[Jon ... kau bawa Syifa ke mana? Cepat temui Abi sekarang! Abi ada di rumahmu!]
[Kalau dalam waktu 30 menit kamu belum sampai rumah ... Abi akan menghukummu lebih berat! Jangan main-main, ya, sama Abi!!]
Dua pesan itu Abi kirim sekaligus, tapi entah dibaca atau tidak.
"Robert lupa lagi, pakai jam tangan, Opa." Robert baru sadar dengan pergelangan tangannya, yang tak terpasang sebuah jam canggih. Padahal kalau ada jam tangan, dia akan mempermudah menemukan Syifa lewat GPS.
"Memangnya kenapa, Nak?" tanya Umi Maryam bingung.
"Jam tangan punya Robert, terhubung sama cincin Mommy, Oma. Jadi kita lebih mudah menemukannya."
__ADS_1
"Lho, canggih bener jam tanganmu. Jam tangan yang sering kamu pakai bukan?"
"Iya." Robert mengangguk, lalu meraih tangan Abi Hamdan. "Opa, kita balik lagi saja ke rumah Opa, terus ngambil jam tangan Robert," sarannya.
"Enggak usah, Nak." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya.
"Lho, kok nggak usah? Kenapa?"
"Kita tunggu Daddy dan Mommymu ke sini. Tadi Opa sudah kirim pesan padanya berupa ancaman."
"Ampuh nggak kira-kira, ancamannya? Dan ancaman apa yang Opa berikan?" tanya Robert penasaran.
"Memberinya hukuman, nanti Opa pikirkan ... hukuman apa yang pantas untuknya."
"Boleh nggak, kalau Robert memberikan usul? Tentang hukuman yang diberikan Opa nanti?" Robert pun menarik tangan Abi Hamdan, juga dengan Umi Maryam. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah mewahnya.
"Boleh, kamu maunya dihukum apa nanti Daddymu itu?" tanya Abi Hamdan. Kedua matanya dan mata Umi Maryam tak lepas memerhatikan keindahan rumah, apalagi saat mereka masuk ke dalam dan diajak duduk di sofa ruang tamu yang super duper bagus, empuk dan panjang. Bahkan ada beberapa permata yang menempel pada penyangga sofanya.
"Robert mau, Daddy dihukum supaya dilarang untuk tidur bareng Mommy selama seminggu. Jadi nanti dia tidurnya sendiri, Opa," saran Robert seraya duduk di atas pangkuan Abi Hamdan. Umi Maryam juga sudah duduk di samping sang suami.
"Kalau itu nggak bisa kayaknya." Abi Hamdan menggeleng tak setuju.
"Lho, kenapa? Kan biar Daddy sedih, Opa, tidur sendiri. Daddy 'kan kalau tidur suka meluk Mommy. Jadi biar hanya Robert saja yang meluk Mommy."
"Tapi itu sama saja menyuruh mereka pisah ranjang, Nak. Dalam Islam nggak boleh."
"Ya sudah ... disunat lagi aja gimana? Robert juga sekalian, mau lihat orang yang lagi disunat itu kayak gimana."
"Ya buntung dong, nanti, Daddymu."
"Kok buntung?"
"Memang nggak boleh, sunat dua kali?".
"Bukan nggak boleh, tapi nggak bisa, Nak."
"Memang ... sunat itu beneran dipotong, ya, Opa, tongkatnya."
"Iya, tapi ujungnya doang. Kalau belum sunat itu ujungnya lancip. Lihat saja punyamu."
Robert langsung memegang bagian pinggang pada celananya, lalu mengintip sedikit miliknya yang bersembunyi di dalam sana sambil berpikir tentang hukuman yang pantas untuk Joe. Karena bukan hanya berani membawa Syifa, tapi juga berbohong tentang Syifa yang ternyata tak memiliki ASI.
"Eeemm ... gimana kalau hukumannya Daddy lari keliling komplek, tanpa memakai celana, Opa?" usul Robert yang kembali mendapatkan sebuah ide.
Abi Hamdan sontak membulatkan matanya, lalu menggeleng cepat. "Jangan, Nak, nanti Daddymu disangka orang gila."
"Ya biarin aja. Biar dia kapok!" geramnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Masalahnya itu ke arah harga diri. Dan bahaya juga, apalagi jika itu dilihat perempuan. Mana tetangga Opa itu banyak yang janda."
"Bahayanya gimana? Kan mereka paling lihatin Daddy doang."
"Lihatin juga nggak boleh. Haram. Pokoknya jangan itu, Opa nggak setuju." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya.
"Eemmm .... bagaimana kalau berdiri seharian di halaman rumah? Pasti Daddy kepanasan tuh, biar tau rasa Opa!"
"Itu juga jangan, Nak." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kok jangan lagi? Kenapa?"
"Itu sama saja menyiksanya. Terik matahari kalau berlebihan akan berakibat buruk bagi kesehatan. Opa nggak mau nantinya Daddymu sampai sakit dan yang ada ... Opa Paul dan Oma Yeri pasti akan marahin Opa, Nak."
"Terus ... hukuman yang pantas apa dong, kalau ide Robert sendiri nggak disetujui?" keluhnya dengan raut bingung, lalu menatap ke arah Umi Maryam. "Oma juga bantu Robert mikir dong, biar dapat solusinya."
Umi Maryam yang sejak tadi sibuk menatap sekeliling seketika terhenti, kemudian menoleh ke arah sang cucu. "Bagaimana kalau dia suruh menghafal surah Yasin," usulnya kemudian.
"Surah Yasin itu apa, Oma?" tanya Robert bingung.
"Surah yang ada di Al-Qur'an, Nak."
"Ih jangan!" Robert menggeleng tak setuju, sebab baginya—menghafal adalah perkara yang mudah. "Terlalu ringan hukumannya, Robert nggak setuju!"
"AHA!!" Abi Hamdan menyeru, ketika berhasil mendapatkan sebuah hukuman yang cocok buah Joe. "Opa sudah dapatkan hukuman yang pas buat Daddymu, yang pastinya buat dia kapok ... supaya nggak mengulangi hal yang sama lagi, Nak."
"Apa itu? Hukuman apa, Opa?" tanya Robert penuh semangat.
"Daddymu akan ....."
***
Ceklek~
Sebuah pintu kamar hotel yang sudah Joe pesan perlahan dia buka. Dan dengan nafsu yang sudah membara, Joe segera menggendong tubuh sang istri ketika sudah mengunci pintu.
"Aa ... lebih baik kita mandi saja dulu, baru bercinta," ucap Syifa dengan debaran jantung yang begitu cepat.
Padahal ini bukan kali pertama, mereka berencana bercinta. Tapi rasa berdebar itu selalu saja ada, apalagi mendengar sebuah gaya baru yang Joe katakan.
"Nggak perlu mandi, Yang. Mandinya nanti saja kalau udah kelar bercinta." Joe dengan perlahan membaringkan tubuh Syifa di kasur empuk berseprai putih, lalu cepat-cepat membuka seluruh pakaiannya sendiri hingga membuatnya polos sempurna.
"Kalau nunggu kelar takutnya lama. Aku nggak pede, A, takutnya aku bau." Syifa menyilangkan kedua lengannya di atas dada. Sang suami yang sudah birahi itu kini naik ke atas tubuhnya.
"Kapan kamu bau? Kamu selalu wangi, Yang." Joe mengecup mesra bibir Syifa dan melummat sebentar. "Meskipun nggak mandi sekali pun," tambahnya sambil tersenyum.
"Nggak mau, aku mau mandi." Syifa menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak pede. Dia ingin, melakukan yang terbaik untuk suaminya. Ya salah satunya adalah selalu tercium wangi jika sedang bercinta.
"Jangan deh, sekarang, saja, ya?" Joe meraih kerudung Syifa, lalu menariknya hingga terlepas.
"Eemmm ... Atau kalau nggak, kita mandi sambil bercinta gaya kodok saja gimana, A?" usul Syifa yang mendapatkan sebuah ide. "Bisa, kan, gaya kodok dikamar mandi?"
"Ide yang bagus." Mata Joe seketika berbinar. Dia tampaknya setuju, dengan saran dari sang istri. Perlahan dia pun kembali menggendong Syifa, kemudian turun dari kasur dan melangkah menuju kamar mandi. "Aku akan membuatmu menjerit kenikmatan, Yang. Pokoknya kita tempur sampai gempor."
"Oke. Siapa takut!" tantang Syifa yang juga merasa sudah tidak sabar.
Joe memilih mandi dengan cara berendam di bathtub dan diisikan sabun di dalamnya. Karena dengan begitu, dia bisa bereksplorasi tentang gaya kodoknya.
Mengajari Syifa untuk memiliki banyak pengalaman, supaya rumah tangga mereka makin harmonis.
Tak menunggu waktu yang lama setelah pemanasan, sebuah penyatuan itu dilakukan oleh Joe yang berada di belakang. Yang sedang setengah duduk dengan kedua lutut yang menopangnya.
Sedangkan Syifa, sudah diminta oleh Joe untuk berjongkok seperti seekor kodok dengan kedua tangan yang berpegangan pada sisi bathub bagian ujung. Supaya perempuan itu ada ketahanan, karena pastinya guncangan Joe cukup menggairahkan.
"Aah ... Aa, pelan-pelan!" Syifa memekik kecil lantaran terkejut dengan goyangan Joe, sebab baru masuk dia sudah ngebor. Sampai-sampai air di dalam bathtub itu muncrat-muncrat keluar.
"Mana enak pelan, Yang, lebih enak itu lebih cepat dan kasar. Uuuhh ... kamu seperti menjepitku, Yang!" deesah Joe yang terlihat makin semangat.
__ADS_1
...Hajar Om sampai gempor,🤣...