Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
240. Calon istri saya


__ADS_3

"Dia calon istri saya, Om."


"APA?! Calon istri?" Papi Yohan menyeru dengan keterkejutannya. Kedua matanya itu langsung membulat sempurna.


"Iya. Tapi kenapa memangnya, Om?" Ustad Yunus tampak heran, dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh pria di sampingnya. Sebab menurutnya itu sangat berlebihan sekali.


'Kok malah calon istri, sih?' Papi Yohan refleks menyentuh dadanya yang mendadak berdenyut ngilu. 'Harusnya 'kan Yumna saja, yang jadi istrinya si Boy. Aku ingin dia jadi menantuku.'


"Om! Kenapa?" Ustad Yunus lantas mengerakkan kelima jarinya ke depan wajah Papi Yohan. Karena kebetulan pria itu justru terbengong, bukannya malah menjawab pertanyaan. "Om!"


"Ah, ya!" Papi Yohan sontak terperanjat. Lalu mengusap kasar wajahnya dan langsung menatap ke arah Ustad Yunus. "Kenapa, Boy?"


"Harusnya saya yang tanya, Om ini kenapa? Kok malah bengong."


"Om patah hati kayaknya, Boy," jawabnya dengan raut kecewa, bibirnya pun ikut merengut.


"Patah hati kenapa?"


"Karena kamu sudah punya calon istri, Om pikir kamu jomke, Boy."


"Apa itu jomke?"


"Jomblo kece."


Ustad Yunus langsung terkekeh, karena merasa lucu saja mendengar sebuah singkatan yang pria itu sebutkan. "Om ini ada-ada saja, ya."


"Kamu kok ketawa, sih, Boy. Padahal Om sedih ...."


"Ngapain sedih, Om? Lagian memangnya kenapa, kalau saya sudah punya calon?"


"Om ingin kamu jadi menantu Om, Boy. Masa kamu belum paham juga? Kan Om dari tadi udah kasih kode sama kamu," ucap Papi Yohan secara terang-terangan.


"Kan saya dan anak Om udah katakan waktu itu, kalau kami hanya orang asing. Jadi buat apa Om ingin saya jadi menantu Om?"


"Ya kalau kalian orang asing, apa salahnya untuk saling mengenal dulu? Barangkali cocok. Kan bisa nikah. Om juga kepengen melihat Yumna menikah, Boy. Habis dia juga kadang anaknya susah diatur. Dan kayaknya kalau sama kamu ... dia cocok banget. Kamu orangnya kelihatan kalem dan penyabar ... sedangkan Yumna keras kepala. Jadi kalian akan saling melengkapi, dan kamu bisa membimbingnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik." Apa yang Papi Yohan katakan adalah sesuai yang dia harapan.

__ADS_1


Meskipun memang dia tak mengenal lebih jauh tentang Ustad Yunus, dan baru bertemu dua kali dengan hari ini—namun entah mengapa, dia merasa sudah memiliki chemistry yang kuat dengan pria itu. Juga sangat yakin—jika Ustad Yunus adalah pria yang sangat cocok dengan anaknya.


"Maafkan saya, Om. Tapi saya memang sudah punya calon dan saya menyukainya. Semoga saja Om dapat menemukan calon menantu yang cocok untuk Nona Yumna, ya, dan yang sesuai dengan apa yang Om inginkan."


"Iya ...," jawab Papi Yohan setengah tidak ikhlas. "Tapi kira-kira, Boy. Kalau kamu nanti menikah dengan calonmu itu ... apakah kamu ingin mengundang Om? Kita sekarang sudah menjadi best friend, kan?"


"Ya kalau Om mau ... saya insya Allah akan mengundang Om."


"Kamu udah siapin tanggalnya belum, Boy? Oh ya ... Om juga punya kenalan orang hotel. Kalau mau nanti Om tanyakan, barangkali kamu dan calonmu mencari jasa gedung hotel buat pernikahan kalian."


"Nanti saja, Om. Belum ke sana. Dan masalah tanggal pun saya belum menyiapkan, karena saya belum mendapatkan persetujuan dari orang tua calon saya."


"Kok belum dapat persetujuan, Boy?" Papi Yohan terlihat keheranan. "Lho ... katanya tadi kamu bilang perempuan itu calon istrimu? Itu 'kan berarti kamu akan menikah dengannya, ya? Terus ... kenapa kamu justru belum mendapatkan persetujuan dari orang tuanya?"


Harusnya, isi obrolan mereka adalah berfokus pada niat Papi Yohan yang akan memeluk Islam. Tentang uraian cerita Islam yang akan dijabarkan oleh Ustad Yunus.


Namun anehnya, yang mereka bahas sejak tadi justru tentang hubungan Ustad Yunus dengan Naya. Dan seperti belum ada titik berhentinya, karena Papi Yohan pun terbilang sangat kepo sekali.


"Dia memang calon istri saya, Om. Tapi kami berdua sedang menjalin ta'arufan. Dan kami pun sepakat ... kalau sudah sama-sama merasa cocok, barulah saya akan datang ke rumahnya. Meminta restu sekaligus melamarnya."


"Bukan pacaran, Om. Tapi ta'aruf."


"Memang beda?"


"Tentu beda, Om. Dalam Islam sendiri pacaran itu sebenarnya nggak boleh, karena haram. Maka dari itu ... umat muslim dianjurkan untuk melakukan ta'aruf, yakni seperti tahap perkenalan ... sebelum akhirnya mereka menikah."


"Oh ... Om malah baru denger, ada ta'aruf segala, Boy." Papi Yohan terlihat menggaruk rambut kepalanya. "Eemm ... ya udah, kamu coba ajak ta'aruf Yumna saja sekalian, Boy. Biar nanti kamu bisa milih, yang cocok denganmu itu Yumna atau perempuan yang kamu sukai. Siapa tau kamu berubah pikiran. Iya, kan?"


Rupanya Papi Yohan di sini belum menyerah, masih terus merayu.


"Maaf, Om, nggak bisa," tolak Ustad Yunus dengan gelengan kepala. "Kalau begitu sama saja seperti saya mempermainkan Naya, karena niat saya sama Naya itu serius. Dan saya juga nggak bisa semudah itu menjalin ta'aruf dengan seorang perempuan, kalau bukan perempuan itu benar-benar saya sukai. Kalau boleh jujur ... Naya juga orang pertama, Om."


"Oh gitu. Ya sudah deh, nggak apa-apa, Boy. Nanti Yumna jadi orang kedua saja."


"Maksudnya?" Ustad Yunus menatap agak terkejut.

__ADS_1


"Ah maksudnya begini. Kalau misalkan kamu nggak jadi sama Naya, berarti nanti kamu 'kan cari lagi. Dan kamu bisa sama Yum—"


"Om ...," sela Ustad Yunus cepat, yang lama-lama terlihat lelah karena pembahasan ini tak ada ujungnya. "Pembahasan tentang masalah pribadi saya cukup di sini saja, ya? Kita langsung ke pembahasan yang utama saja. Saya akan ceritakan tentang sejarah Islam."


"Oke, Boy." Papi Yohan mengangguk setuju, meskipun sebenarnya dia belum puas mengobrol hal tadi. Tapi dia juga tak ingin membuat suasananya jadi tidak nyaman. Bisa-bisa Ustad Yunus akan kapok ketemu lagi dengannya.


"Lho, Mi, kok Mami ada diluar? Kenapa nggak masuk ke dalam temenin Papi?"


Diluar kamar, ada Yumna yang baru saja datang dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Dia pun tampak heran, melihat Maminya yang berdiri di depan pintu bersama Roni.


"Itu, Yum. Ada si Boy, dia ...." Belum sempat Mami Soora meneruskan ucapannya, tapi Yumna sudah keburu melihatnya dari kaca pintu dan sontak dia terkejut.


"Mau ngapain Ustad Miskin itu ada di sini? Bukannya urusan kita sudah beres?!"


Emosi perempuan itu tiba-tiba mendidih. Kedua tangannya seketika mengepal dan salah satunya hendak membuka pintu. Sayangnya, Mami Soora langsung mencegah.


"Mau ngapain, Yum? Jangan masuk!" larangnya dengan tegas.


"Mami nggak lihat apa?! Itu dia lagi ngobrol sama Papi!" Yumna menunjuk-nunjuk kaca sambil melotot. "Pasti dia mau minta duit, Mi!"


"Apaan sih kamu, Yum."


"Mami yang apaan? Dia itu orang yang donorin darahnya buat Papi, Mi! Dan pasti alasannya datang karena dia mau minta duit!" tuduhnya memfitnah.


"Si Boy datang karena diajak Roni, Yum. Dan dia di sini bukan mau minta duit. Tapi mau nolongin Papi!" tegas Mami Soora memberitahu.


"Nolongin apa lagi, sih? Memangnya Papi kekurangan darah?" Yumna terlihat gemas sekali. Kepalanya juga ikut panas karena belum berhasil meluapkan emosinya. Ingin sekali dia segera masuk ke dalam sana, lalu mengusir Ustad Yunus dari hadapan Papinya. Namun sayangnya, Mami Soora terus saja mencegah.


"Papimu diganggu Kakek-kakek!" sahutnya, lalu menarik tangan sang anak untuk duduk bersama di kursi panjang. "Udah mending kita duduk saja di sini, biarkan mereka mengobrol. Ini semua demi kebaikan Papimu juga."


"Papi itu cuma berhalusinasi, Mi! Harusnya Papi itu dibawa ke psikiater! Bukan malah mengobrol dengan Ustad Miskin itu, karena nggak akan ada manfa ... eemmmppptt!" Ucapan Yumna seketika terhenti, saat dimana Mami Soora membungkam bibirnya dengan tangan. Karena suaranya yang nyaring itu cukup menganggu suasana rumah sakit dan membuat telinganya sakit.


"Kamu itu bisa nggak sih, jangan bawel jadi perempuan! Dan jangan panggil dia Ustad Miskin, Yum! Tapi panggil dia Mas Boy!"


...Aduuuh ... Mami, nggak usah ikut-ikutan Papi, deh 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2