
"Eemm ... ya sudah deh," jawab Robert yang akhirnya menurut. Kepalanya mengangguk pelan.
"Nah begitu dong, kamu memang anak yang super duper baik. Daddy jadi makin menyayangimu, Sayang." Dengan rasa senang yang bergelora, Joe langsung memeluk tubuh Robert, lalu menciumi keningnya. "Sekarang saja kamu pindah ke kamar Opanya, ya? Soalnya takut Opa keburu tidur. Jadi nggak enak mengganggunya."
Yang aslinya adalah karena Joenya saja sudah tidak tahan. Ingin segera mencoba lagi dengan Syifa.
"Iya. Tapi Robert mau bawa bantal bola, ya, Dad." Robert meraih bantal bola berwarna hitam putih berukuran sedang, lalu memeluknya dengan erat.
"Iya, Sayang." Joe perlahan mengendong anaknya, lalu mengajaknya keluar dari kamar. "Pokoknya kamu harus tidur sampai pagi dan jangan tidur di lantai, ya!" tegur Joe.
"Mau ke mana kalian?" tanya Umi Maryam yang datang dari dapur dengan membawa secangkir susu jahe. Dia memerhatikan menantu dan cucunya itu yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ini, Mi, Robert katanya mau tidur bareng sama Umi dan Abi," sahut Joe.
"Kok Robert? Bukannya Daddy yang minta, ya? Katanya 'kan karena Mommy mau disuntik," ujar Robert yang tampak bingung dan merasa aneh. Padahal jelas Joe yang menyuruhnya untuk pindah.
"Syifa disuntik? Memangnya ada apa dengan dirinya? Sakit?" tanya Umi Maryam dengan wajah khawatir.
"Suntik vitamin, kata Daddy, Oma. Dan Daddy yang menyuntiknya," jelas Robert cepat. Padahal Joe hendak menjawabnya tadi.
"Memangnya kamu seorang dokter, Joe? Sampai bisa menyuntik Syifa segala?" Umi Maryam menatap sang menantu dengan raut bingung.
"Aku—"
"Katanya bisa, Oma, udah diajarin sama Dokternya." Lagi-lagi, bocah itu yang menjawab.
"Seriusan?" Umi Maryam terlihat belum percaya. "Jangan asal ah, Joe, nanti Syifanya kenapa-kenapa."
"Nggak bakal kok, Umi. Umi tenang saja," sahut Joe. Pada akhirnya dia berbohong juga, sebab sepertinya Umi Maryam tak paham dengan maksud menyuntik yang dia maksud.
"Sekali saja menyuntiknya, ya, Joe. Jangan sampai nanti over dosis," tegur Umi Maryam.
"Iya, Mi." Joe mengangguk, lalu menurunkan Robert dan bocah itu langsung berdiri. "Aku titip Robert malam ini, ya, Mi. Maaf kalau merepotkan. Tapi tenang saja ... dia udah nggak ngompol kok."
"Robert 'kan udah gede, Dad. Masa ngompol?!" omel Robert yang terlihat mendengkus.
"Iya, kamu memang udah gede." Joe mengelus puncak rambut anaknya dengan perlahan. "Ya sudah, Daddy tinggal masuk ke dalam kamar, ya? Selamat malam Robert ... Umi." Joe membungkuk untuk mengecup kening anaknya, kemudian melangkah dengan semangat masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Malam juga, Joe," jawab Umi Maryam lalu membuka pintu dan mengajak Robert untuk masuk. "Ayok, Nak!"
"Ayok, Oma," sahut Robert.
"Kejutan!!" seru Abi Hamdan mengagetkan. Dia berdiri di depan pintu dengan kedua tangan dan kaki yang terbuka. Namun sontak, dia pun terkejut sebab melihat ada orang lain selain istrinya yang datang.
"Astaghfirullahallazim! Abi!" teriak Umi Maryam mengomel dibarengi rasa terkejutnya, sebab melihat suaminya yang konyol itu sedang berdiri tanpa memakai sarung dan dalemman. Untuk sekilas, dia melihat tongkat suaminya.
"Kok tongkat Opa serem?" tanya Robert yang ikut menyaksikan dengan mulutnya menganga dan meringis geli. Tapi ini bukan tentang warnanya, melainkan bulunya yang sangat lebat dan panjang. Sampai-sampai Robert sendiri tidak melihat jelas apa warna tongkatnya, sebab memang tertutup oleh bulu tersebut.
"Astaghfirullah!" Abi Hamdan cepat-cepat mengambil sarung di atas kasur, kemudian melilitkannya di atas pinggang. "Apa yang kamu lihat tadi ... tolong lupakan, Rob. Anggap nggak lihat apa-apa, ya?" pintanya memohon, lalu mengusap-usap wajah Robert berulang kali sambil membacakan ayat kursi.
"Apa Opa sudah memakai lulurnya? Dan mengolesi ke tongkat Opa?" tanya Robert penasaran.
"Udah, Rob. Tapi apa tongkat Opa terlihat sangat hitam? Nggak ada perubahan sama sekali?" tanya Abi Hamdan dan seketika dia menjadi sedih. Rasa kepedeannya pun seketika hilang, bersamaan saat dimana cucunya berkomentar.
Padahal, dia sempat berpikir kalau asetnya itu ada sedikit perubahan. Kalau pun tidak sepenuhnya putih, tapi sedikit bercahaya.
"Robert hanya tanya kok. Tapi ini bukan masalah hitam nggaknya, Opa."
"Bulunya sangat lebat dan panjang. Tongkat Daddy juga berbulu, tapi nggak sebanyak punya Opa."
"Duh Abi, otak si Robert kasihan banget itu tercemar." Umi Maryam menggerutu, tampaknya dia kesal dengan kelakuan absurd suaminya itu. "Abinya juga, ngapain sih nggak pakai celana segala? Apa nggak malu, ya! Itu 'kan harga diri, Bi!" tambahnya yang terlihat emosi.
"Maafin Abi, Umi," ucap Abi Hamdan lirih. Dia menatap istrinya dengan wajah bersalah. "Abi pikir, yang datang hanya Umi. Karena Abi ingin membuat kejutan."
"Jadi kejutannya hanya memamerkan tongkat?" tebak Umi Maryam jengah, dia menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala. "Kalau itu sih Umi 'kan sudah tau, Bi."
"Tapi ini beda, Umi. Tongkat Abi sudah agak berubah." Abi Hamdan menyentuh inti tubuhnya dibalik sarung.
"Apanya yang berubah? Orang tadi masih sama kok. Bulunya lebat." Umi Maryam memutar bola matanya dengan malas, lalu melangkah menuju nakas untuk menaruh secangkir susu jahe buatannya.
"Bukan tentang bulunya, tapi warnanya."
"Berubah warna memangnya? Coba tunjukkan," tantang Umi Maryam.
Abi Hamdan ingin membuka kembali sarungnya, tapi dirasa dia ragu dan malu. Sebab ada Robert. Dia tak mau, jika nantinya bocah itu bercerita kepada Joe, tentang tongkatnya yang berbulu lebat.
__ADS_1
"Ah nanti saja deh lihat laginya, sekarang ada tambahan bonus kejutan untuk Umi." Abi Hamdan melangkahkan kakinya ke arah kasur. Setelah itu dia menyibak selimut dan terlihatlah satu buket mawar merah di sana.
"Lho bunga? Ini bunga punya siapa?" Umi Maryam tampak berbinar menatapnya, kedua kakinya itu langsung melangkah cepat menghampiri sang suami.
"Punya Umi. Abi yang membelikannya. Ini bunga asli lho, bukan plastik," sahut Abi dengan senangnya dia memberikan benda itu ke tangan sang istri.
Umi Maryam segera meraihnya, lalu menciumi aromanya yang begitu wangi. Kedua pipinya itu terlihat merona sekali, tampaknya dia sangat senang.
"Apa Umi senang? Bunganya nggak kalah cantik sama bunganya Syifa, kan?" tanya Abi Hamdan.
"Iya." Umi Maryam mengangguk. "Pasti ini mahal, ya? Abi ngutang sama siapa?"
"Enak saja ngutang. Abi beli cash Umi!" tegas Abi Hamdan yang tampak tersinggung. "Abi juga punya uang kali, buat menyenangkan istri."
Umi Maryam langsung tersenyum dan mencium punggung tangan suaminya. "Terima kasih, Abi memang pria yang sangat baik. Umi jadi tambah sayang sama Abi."
"Hanya terima kasih dan cium tangan aja? Peluk sama cium bibirnya nggak ada, nih?" goda Abi Hamdan sambil menunjuk bibirnya. Juga membuka kedua tangannya bersiap mendapatkan pelukan.
Umi Maryam menoleh ke arah Robert, lalu berbisik ke telinga suaminya. "Malu lah, ada Robert, Bi. Lain kali saja peluk sama ciumnya."
Abi Hamdan menatap sang cucu yang sejak tadi diam sambil senyum-senyum sendiri. Terlihat dari rona wajahnya, dia begitu senang melihat Opa dan Omanya bahagia. "Ngomong-ngomong ... kamu kok ke sini, Nak? Kenapa belum tidur?" tanyanya seraya mendekat, lalu berjongkok dan mengusap puncak rambutnya.
"Robert disuruh Daddy untuk tidur dengan Opa dan Oma," jawab Robert dengan polosnya.
"Lho, kenapa begitu?" Raut wajah Abi Hamdan tampak kecewa. Sebenarnya bukan dia tidak mau tidur bersama sang cucu. Hanya saja kalau sekarang, momennya tidak tepat. Sebab dia juga berencana ingin bercinta. Sama seperti apa yang ada di dalam otak menantunya.
"Kata Daddy ... Daddy mau ...." Ucapan Robert belum usai, tapi mendadak terjeda lantaran mendengar suara pekikan dari kamar sebelah.
"Sa-sakit, Aa!"
Abi Hamdan, Robert serta Umi Maryam sontak terperanjat mendengarnya. Dan dari suaranya, mereka kenal betul itu suara milik siapa.
"Syifa?! Kenapa dengannya?!" seru Abi Hamdan dengan keterkejutannya, kedua matanya itu langsung membulat sempurna.
Segera, dia pun berlari keluar dari kamarnya, kemudian menuju kamar Syifa.
...Ayok dobrak pintunya Abi 🤣 biar gagal nyuntik tuh😆...
__ADS_1