Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
42. Di atas langit masih ada langit


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan Abi Hamdan, dia memang hanya mengundang Pak Haji Samsul dan kemarin saja hanya satu undangan yang didapat oleh Fahmi.


Hanya saja, Fahmi sendiri tidak sempat melihat nama yang ditunjukkan undangan itu kepada siapa.


"Ya berarti sama saja. Aku juga diundang, kan aku anaknya Pak Haji Samsul. Orang terkaya di RT 1." Meski begitu, nyatanya Fahmi masih bisa bersikap congkak. Dan dia mengatakan hal itu supaya tidak merasa malu di depan Joe, sebab dianggap tamu tak diundang.


"Nggak usah belagu kau, Fahmi! Cuma orang terkaya satu RT doang aja. Ingat ... di atas langit masih ada langit!" seru Joe menasehati, kemudian menambahkan. "Sekarang pergilah. Atau makan saja sana ke prasmanan, dan nggak perlu ada di sini. Aku muak melihat wajahmu!"


"Harusnya aku—"


"Nak Fahmi makan saja dulu, pasti belum makan, kan?" potong Abi Hamdan cepat dan langsung menarik tangan Fahmi untuk melangkah bersamanya. Gadis yang bersama Fahmi juga mengikuti mereka.


Sengaja Abi Hamdan melakukan hal itu, supaya tak membuat Joe marah. Dia juga tidak mau, kalau sampai mereka berantem.


Bisa-bisa pestanya kacau, dan itu jangan sampai terjadi.


Namun, kalau untuk mengusir Fahmi juga tidak mungkin. Sebab bagaimanapun pria itu sudah datang dan menjadi tamu undangan.


"Maafin si Jojon kalau ada salah kata, dan kamu juga harusnya nggak perlu ngomong kayak gitu, Nak," tegur Abi Hamdan. Mereka sekarang melangkahkan kakinya menuju prasmanan.


"Ngomong kayak gitu gimana, sih, Bi? Orang menantu Abi kok yang mulai duluan," gerutu Fahmi dengan wajah kesal. Dia pun langsung duduk pada kursi yang kosong. Tak berniat sama sekali untuk makan, sebab merasa makanan di pesta itu tak cocok di lidahnya.


"Tentang Syifa hamil duluan. Syifa itu nggak hamil duluan, Nak." Abi Hamdan menganggap apa yang dikatakan adalah sebuah kebohongan demi menutupi aib. Jadi tidak masalah jika itu dilakukan.


Dia tak mau, jika nantinya Syifa atau pun Joe digunjing beberapa tetangga, sebab mendapatkan gosip dari Fahmi.


Ya Abi sendiri tidak mau su'uzan padanya, kalau Fahmi orang yang seperti itu. Tapi tak ada salahnya mengantisipasi. Apalagi Fahmi sendiri masih punya kedua orang tua, pastinya dia cerita-cerita kepada orang tuanya.


"Lho, Abi sendiri kok tadi yang ngomong. Aku 'kan cuma meneruskannya saja."


"Syifa dan Jojon itu sudah ijab kabul, sebelum pesta ini digelar. Harusnya kamu tau itu, karena di undangan saja tertera jelas tanggal akadnya kapan," jelas Abi Hamdan.


"Jadi ini hanya resepsinya?" tebak Fahmi. Dia sendiri memang tidak membaca jelas undangannya. Sebab awalnya keburu dirobek oleh Pak Haji Samsul.


"Iya." Abi Hamdan mengangguk.


"Tapi kok, Syifa bisa langsung hamil gitu? Cepet banget. Udah berapa bulan?"


"Abi kurang tau," jawab Abi Hamdan kemudian duduk pada kursi kosong di sebelah Fahmi. Bicara tentang hamil, dia sendiri juga tak ingat untuk bertanya pada dokter saat Syifa masih dirawat. Makanya dia tak tahu jelas berapa kandungan Syifa saat ini. "Tapi paling belum sebulan lah. Orang mereka menikahnya saja baru sebulan kok. Atau berapa Minggu, ya? Abi juga lupa."


'Hebat juga si Jojon, nikah belum lama udah bikin si Syifa bunting,' batin Fahmi dengan kesal. Rahang di wajahnya tampak mengeras sempurna. 'Ah nggak ... aku ralat ucapanku yang mengatakan dia hebat. Aku pun kalau diposisinya ... pasti Syifa bisa langsung hamil. Karena aku 'kan cukup jago di ranjang. Aku bisa menebak, kalau tongkatku pun jauh lebih bagus dibanding milik si China itu. Aku sunatnya saja di Arab. Kalau dia ... ah pasti belum sunat.'


"Nak Fahmi nggak makan dulu?" tanya Abi Hamdan, lalu menatap gadis yang baru saja duduk di samping Fahmi. "Dan siapa gadis ini? Apa pacar Nak Fahmi?"


"Iyalah, pacarku," jawab Fahmi dengan gaya sombongnya.

__ADS_1


Padahal sebenarnya bukan pacar, hanya kenalannya. Tapi sebelum datang dia memang meminta gadis itu untuk berpura-pura menjadi pacarnya, supaya dia tidak malu dan terlihat sudah move on dari Syifa.


"Salam kenal Abi, namaku Naya," ucap gadis itu memperkenalkan diri. Dia terlihat manis dan cantik.


"Salam kenal, Naya," jawab Abi Hamdan sambil tersenyum menatap gadis itu, kemudian kembali menatap ke arah Fahmi. "Syukurlah kalau Nak Fahmi sudah memiliki pasangan. Semoga segera menyusul Syifa dan Jojon, ya?"


"Itu pasti. Eh ... Abi mau ke mana?" Fahmi langsung memegang lengan kanan Abi Hamdan, ketika pria itu hendak berdiri.


"Abi tinggal dulu Nak Fahmi. Abi mau menyambut para tamu yang berdatangan, kasihan sama Papinya Jojon ... pasti dia kerepotan." Abi Hamdan menatap ke arah besannya, yang masih berdiri di depan pintu masuk gedung hotel.


"Sebentar lagi 'kan mau hari raya haji. Aku ada rencana ingin mengajak Abi, Umi, Syifa dan Jojon makan di rumahku. Pas dihari raya hajinya. Dan aku harap ... kalian mau datang." Ini adalah pancingan Fahmi, supaya bisa pamer dirinya berkurban sapi.


"Rumahmu?" Abi Hamdan mengerutkan keningnya. Merasa heran, sebab selama ini Fahmi tinggal bersama orang tuanya. "Memangnya Nak Fahmi sudah punya rumah sendiri?"


"Maksudnya rumah Papa. Tapi 'kan rumahku juga, Bi."


"Oh iya juga sih. Tapi kok tumben ... ngajak makan bersama segala, apalagi mengajak Syifa dan Jojon. Abi nggak yakin ... mereka bakal mau, Nak."


"Kebetulan ... tahun ini aku mau kurban sapi, Bi. Dan rencana mau dibuat sate. Nanti kita makan sate bareng. Ah ya ... sayang banget, sih, Abi nggak menjadikanku menantu. Coba kalau jadi ... Abi juga akan ikut berkurban tahun ini. Kugabungkan dengan sapi yang aku beli." Bukan, bukan dia yang beli. Tapi Pak Haji Samsul. Sengaja dia mengatasnamakan dirinya supaya bisa disanjung.


Fahmi sempat mendengar langsung dari Papanya, jika Abi Hamdan sendiri tak setiap tahunnya bisa berkurban. Hanya kadang-kadang dan itu pun selang seling.


Kadang untuk dirinya, nanti untuk Umi Maryam kemudian untuk Syifa. Dan itu juga hanya bisa dengan seekor kambing.


Budgetnya minim, jadi wajar kalau seperti itu.


"Oh baguslah." Tanggapan Fahmi terlihat biasa saja, bahkan terkesan tidak suka. "Kurban apa kalian? Pasti pakai duit Abi semua, ya? Si Jojon pasti orang yang pelit dan nggak pengertian."


"Semuanya justru dari Jojon, Nak. Dan kalau tentang hewan kurbannya ... sepertinya Abi nggak perlu memberitahukan, karena takutnya riya. Nanti kalau sudah waktunya penyembelihan ... Nak Fahmi juga tau."


'Pasti kambing. Iya, nggak akan jauh-jauh dari kambing,' tebak Fahmi.


"Sudah dulu ya, Nak, Fahmi. Nak Fahmi nikmati saja makanan dan hiburannya," ucap Abi Hamdan yang kembali berdiri, kemudian melangkah pergi dari sana.


"Lho, Om 'kan Om songgong yang waktu itu, kan?" Tiba-tiba, seorang bocah lewat bersama temannya sambil makan es krim dalam bentuk cup. Dan dia langsung menghentikan langkahnya saat melihat Fahmi, begitu pun dengan temannya.


"Siapa kau? Nggak sopan sekali mengatakan aku songgong! Jelas kau yang songgong!" berang Fahmi yang tampak marah.


"Masa Om lupa sama aku? Aku Robert, anaknya Daddy Joe," jawabnya sambil menunjuk ke arah Joe yang berada di pelaminan. Tengah berfoto dengan Syifa diminta oleh seorang fotografer.


Bocah itu memanglah Robert, dan temannya adalah Atta.


"Oh. Kau bocah yang kurang didikan itu, ya?" tebak Fahmi dengan wajah masam.


"Enak saja nggak berpendidikan. Robert sekolah, ya!" balas Robert marah. "Lagian juga, ngapain Om ada di sini? Memang ada yang mengundang?"

__ADS_1


"Ada lah, kalau nggak ada ngapain juga aku di sini. Sudah sana pergi kau bocil! Benci aku melihatmu!" usir Fahmi sambil mengibaskan tangannya. Malas sekali rasanya dia, berinteraksi dengan anak dari musuhnya.


"Om saja yang pergi, kenapa justru aku yang diusir? Kan ini pesta pernikahan Daddyku."


"Memangnya dia siapa, sih, Rob? Kok galak amat?" Atta menatap sinis Fahmi. Dan memerhatikan dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu sekarang tengah bermain ponsel dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Namanya Fahmi. Dia dulunya sempat ingin menikah dengan Mommy Syifa, cuma nggak jadi."


"Kenapa nggak jadi?" tanya Atta kepo. Kedua bocah itu padahal sudah diusir untuk pergi, tapi nyatanya mereka tak pergi dan malah berbicara tentang Fahmi di depan orangnya.


"Mommynya nggak mau. Tapi dianya kayak maksa gitu, Ta."


"Maksa mau nikah sama Bu Syifa?"


"Iya." Robert mengangguk.


"Dih, kok gitu? Memangnya dia udah nggak laku sama perempuan lain, ya? Sampai maksa gitu. Aku sih kalau jadi dia malu, Rob." Atta sebenarnya berbicara dekat pada telinga Robert, tapi suaranya cukup keras dan mampu di dengar oleh Fahmi.


"Iya, aku juga malu, Ta," balas Robert.


"Heh! Bicara apa kalian ini? Pergi cepat dari sini!" teriak Fahmi yang tampak sudah emosi. Telinganya juga terasa panas lama-lama. Andaikan kedua bocah itu pria dewasa seperti dirinya, pastinya sudah diajak adu jotos.


Robert dan Atta sontak sama-sama terperanjat, mendengar pekikan dari Fahmi. Segera mereka pun berlari pergi, tapi sambil tertawa cekikikan mengejek Fahmi.


'Menyebalkan sekali, sih! Padahal niatku ingin mempermalukan Jojon dan membuat Abi Hamdan menyesal. Tapi kok di sini kesannya aku yang justru menyesal, karena telah datang ke pestanya,' batin Fahmi menggerutu. Dia pun lantas berdiri dari duduknya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Naya yang ikut berdiri.


"Kita pulang saja, Nay."


"Dih kok pulang? Kita belum makan, Kak. Bahkan minum juga belum." Naya tampaknya tak setuju diajak pulang. Merasa rugi juga sebab belum mencicipi hidangan. Ya meskipun mereka datang dengan tangan kosong—tapi dia sudah capek berdandan. "Sepertinya makanan dan minuman di sini juga kelihatan enak-enak. Aku mau mencobanya, Kak," tambahnya sambil menatap sekeliling pada beberapa orang yang sibuk makan rendang di kursinya masing-masing. Dan mendadak, perutnya menjadi lapar.


"Pelayan!" teriak Fahmi pada salah satu pelayan yang berjalan melewatinya dengan membawa nampan, yang berisi beberapa minuman jus warna warni. "Sini kamu!"


Pria berseragam hitam putih itu langsung menghentikan langkahnya, kemudian mendekat ke arah Fahmi dan tersenyum manis. "Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Apa saja menu di sini?"


"Bapak tinggal ke tempat prasmanan saja." Pelayan itu menunjuk ke arah prasmanan yang hampir tak terlihat makanan dan minumannya, sebab banyak sekali beberapa orang yang datang untuk mengisi perut. "Di sana ada banyak makanan dan minuman. Tinggal Bapak pilih mau yang mana terus ambil."


Fahmi menoleh ke kanan dan kiri seperti mengamati situasi, kemudian dia pun mendekat pada pria itu seraya berbisik ke telinga kanannya, "Apa boleh, aku meminta tolong padamu?"


"Tolong apa, ya, Pak?" Pelayan itu berbalik tanya dengan wajah bingung.


"Tolong ...."

__ADS_1


...Curiga... pasti minta dibungkusin 🤣...


__ADS_2