
"Halo, assalamualaikum," ucap Abi Hamdan yang baru saja menelepon Syifa, dan panggilannya langsung diangkat oleh seberang sana.
"Walaikum salam, Abi."
"Kamu sama Robert udah pulang dari sekolah, Fa?"
"Udah, Bi. Kenapa memangnya? Apa Abi baik-baik saja?" Suara Syifa terdengar khawatir.
"Abi baik kok. Abi cuma ingin mengatakan kalau besok lusa 'kan hari libur, nanti kamu minta Robert main ke rumah Abi, ya, Abi kangen sama dia, Fa." Setelah datang berkunjung, baru lah nanti dia akan merayu sang cucu untuk mau disunat. Karena kalau bicara sekarang, takutnya bocah itu malah tak mau datang ke rumah.
"Iya, Bi. Nanti aku ngomong sama Robert," jawab Syifa.
"Sekarang anaknya lagi apa? Abi ingin bicara sebentar sama dia, Fa."
"Robert lagi tidur sama Aa, Bi. Habis makan siang tadi."
"Si Jojon lagi nggak kerja, Fa?"
"Iya, Bi."
"Kenapa? Sakit?"
"Eemm ... tadi sih dia bilang sakit kepala, tapi pas aku pijitin udah tidur orangnya sekarang. Mungkin udah enakan."
"Kok tadi?"
"Iya, tadi."
"Lho ... kalau sakit kepalanya tadi, terus kenapa enggak masuk kerja? Maksud Abi, masuk kerja 'kan pagi-pagi, ya, jadi aneh aja gitu."
"Oh it-tu, pas pagi juga Aa udah ngomong sakit kepala, Bi. Cuma nggak lama sembuh, eh baru tadi bilang sakit lagi." Suara Syifa terdengar gelagapan.
"Kumat lagi, maksudnya?"
"Ya begitulah. Tapi sekarang udah sembuh."
__ADS_1
"Nanti kalau udah bangun, ajak Jojon ke rumah sakit buat periksa, Fa. Atau kalau nggak ... Abi ke situ deh, ya, buat anterin dia."
"Enggak usah, Bi!" Syifa tiba-tiba menyeru, tapi membuat Abi Hamdan seketika mengerutkan keningnya. Heran rasanya dengan jawaban anaknya itu yang terkesan heboh sendiri.
'Kenapa dengan Syifa? Kok kayak aneh gitu, ya,' batin Abi Hamdan.
"Nanti kalau Aa masih sakit kepala pas bangun tidur ... biar aku yang mengantarnya ke rumah sakit. Abi nggak perlu khawatir, ya, kalau begitu aku tutup teleponnya. Assalamualaikum, Abi juga jangan lupa jaga kesehatan begitu pun dengan Umi."
"Walaikum salam. Kamu, Jojon dan Robert juga jaga kesehatan, Fa."
"Iya." Jawaban terakhir menutup panggilan.
*
"Bapak-bapak tadi Ustad ya, Boy?" tanya Papi Yohan yang baru saja masuk ke dalam gerbang masjid, bersama Ustad Yunus.
"Iya, Om." Ustad Yunus mengangguk. "Ustad Hamdan, dia juga mertuanya Pak Joe."
"Mertuanya?!" Papi Yohan terdiam sebentar, seperti mengingat-ingat sesuatu. Dan tak lama dia pun tepok jidat. "Ya ampun ... bisa-bisanya Om lupa. Padahal pas Joe nikah Om juga kondangan, Boy."
"Kamu pas Joe nikah kondangan nggak?"
"Kondangan, Om."
"Kamu datang sama calonmu, ya?"
"Sama Pak RT."
"Ooohh ... tapi pas Joe nikah kok kita nggak ketemu, ya, Boy. Padahal seru kayaknya kalau—" Ucapan Papi Yohan seketika terputus saat melihat ada dua bocah seumur Robert datang menghampiri.
"Assalamualaikum Ustad Yunus!" seru dua bocah itu dan langsung mencium punggung tangan Ustad Yunus bergantian.
"Walaikum salam," jawab Ustad Yunus.
"Ustad, kata Pak RT ... besok lusa ada sunat massal gratis di sini bener, nggak?" tanya salah satu bocah itu yang tampak antusias. Sampai-sampai dia memeluk tubuh Ustad Yunus sebentar.
__ADS_1
"Dan katanya ada hadiahnya juga, ya?" sahut temannya.
"Iya." Ustad Yunus mengangguk. "Mau daftar kalian? Eh tapi kalian ini 'kan anaknya Pak Tejo dan cucunya Pak Damar, kan? Dan udah sunat juga perasaan." Lantas memerhatikan wajah keduanya.
"Iya." Salah satu bocah itu mengangguk. "Tapi kami berdua mau sunat lagi, Tad," ucapnya dengan polos.
"Sunat dua kali." Temannya menimpali.
Ustad Yunus sontak membulatkan mata, tapi dia langsung menggeleng cepat. "Mana bisa."
"Ya bisa lah, Ustad, kan dipotong lagi."
"Sedikit aja, ujungnya," rengek temannya sembari menggenggam tangan Ustad Yunus.
"Boleh ya, Ustad?"
"Ustad baik deh. Udah gitu ganteng lagi," rayunya.
Keduanya terlihat bersikukuh, sebab mereka mendengar gosip jika selain sunat massal itu gratis, tapi juga akan mendapatkan hadiah. Jadi keduanya begitu tergiur. Dan berniat ingin sunat untuk kedua kalinya, bahkan belum izin juga kepada kedua orang tuanya.
"Enggak bisa, Nak." Ustad Yunus mengusap kepala kedua bocah berkulit sawo matang itu secara bergantian. Kemudian mencoba memberikannya penjelasan, supaya mereka tak salah kaprah. "Di mana-mana sunat itu hanya sekali seumur hidup. Kalau dipotong lagi bisa-bisa buntung."
"Apanya yang buntung?"
"Milik kaliannya lah. Memang kalian mau ... buntung? Nggak bisa kencing tau. Bisa-bisa masuk rumah sakit." Sedikit menakut-nakuti, supaya mereka takut dan tak lagi berkeinginan sunat dua kali.
"Masa sih, bisa sampai buntung begitu?" Bocah itu langsung menyentuh miliknya dibalik celana. Tapi wajahnya tampak pucat karena takut saat membayangkannya.
"Ngeri amat, ya, kalau sampai buntung," tambah temannya yang juga ikut meringis.
"Om aja deh, yang daftar sunat. Boleh nggak, Boy?" tanya Papi Yohan tiba-tiba.
"Memang Om belum disunat?" Ustad Yunus langsung menatapnya. Setahu dia, disunat bukan hanya untuk umat muslim saja. Tapi non muslim pun banyak yang disunat, karena untuk kesehatan juga.
"Belum." Papi Yohan menggeleng, tapi wajahnya tiba-tiba saja meringis sambil menyentuh miliknya sendiri. "Tapi rasanya sakit nggak sih, Boy? Eh kamu sendiri sudah sunat belum? Kalau belum kita sunatnya bareng saja, biar sekalian mabar."
__ADS_1
...Jelas udahlah, Om🤣 masa Ustad belum sunat, malu dong 🙈...