Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
125. Gaya kepiting


__ADS_3

"Ih Aa, ini geli." Syifa bergidik sambil meringis.


Rasanya ini pertama kalinya, dia memegang secara langsung kejantanan Joe. Biasanya, benda itu hanya masuk ke dalam miliknya.


"Jangan bilang geli dong, Yang. Ini 'kan sumber kenikmatan untukmu, jadi rajin-rajinlah untuk memanjakannya," ucap Joe dengan wajah memerah. Terlihat jelas, jika birahinya itu sudah menggebu-gebu.


Dengan perlahan-lahan, dia pun mulai menuntun istrinya untuk memaju mundurkan asetnya. Mengajari dan mengenalkan bagaimana caranya memanjakan suami.


"Suami senang lho, Yang, kalau istrinya suka menyentuh tongkatnya. Apalagi sambil dihisap, layaknya kita makan permen lollipop ... ahh!" Tubuh Joe seketika meremmang.


Padahal masih ada tangannya yang membantu, tetapi tetap saja rasanya nikmat. Dan sepertinya ini adalah hal baru, karena ada tangan Syifa yang baru pertama kali menyentuh miliknya.


"Katanya ... Aa nggak pernah ngo ... eemm ...." Syifa ragu untuk mengatakannya, sebab merasa malu sendiri.


Semakin lama tidak menggelikan juga ternyata, tidak seperti apa yang dia ucapkan tadi. Malahan—kulit tongkat itu terasa halus dan lembut dalam genggamannya.


"Nggak pernah apa maksudmu? Ngocok?" tebak Joe dengan frontal. Matanya sudah merem melek.


"Iya." Syifa mengalihkan pandangannya. Karena dengan melihat Joe sedang bir*ahi, entah mengapa dia jadi ikut panas dingin juga.


"Memang nggak pernah, Yang, kalau sendiri. Pernah juga dikocokin."


"Dikocokin?" Mata Syifa seketika membulat. Dan terasa dadanya langsung bergemuruh. "Sama siapa, A? Apa sama sekertaris Aa?" Syifa langsung menahan tangannya, sehingga gerakan tangan mereka terhenti.


"Dih, Yang, kamu ini bicara apa, sih? Padahal lagi enak-enaknya lho ini." Joe mengerucutkan bibirnya dengan wajah memerah.


"Ya itu tadi Aa bilang apa? Kalau ngocok sendiri nggak pernah, tapi dikocokin pernah?" Mode cemburu Syifa langsung keluar, apalagi mengingat masih ada Yumna diluar. Matanya sudah mulai melotot.


"Memang iya, tapi bukan berarti sama sekertarisku juga kali. Yang benar itu sama istriku, Sonya."


"Ah, Aa bohong." Syifa menarik tangannya, melepaskan milik Joe. Kemudian bersedekap sambil mencebik bibirnya. "Pasti selain Mbak Sonya, ada perempuan lain yang sudah mengocoknya," tambahnya menuduh.


"Berani bersumpah aku, Yang. Tongkatku ini tongkat sakti, dia mah nggak gampang bangun pada sembarang tepat," ucap Joe dengan jujur.


"Mana ada tongkat sakti, ada juga kera sakti, A!" Syifa terlihat tak percaya. Dia pun langsung duduk di atas kloset yang tertutup dengan wajah cemberut.


"Ih, beneran, Yang. Masa kamu nggak percaya sama aku?" Joe langsung berjongkok dihadapan Syifa, lalu meraih tangannya seraya mengecupnya.


"Memang nggak percaya kok! Aa 'kan dulu duda, nggak mungkin Aa bisa menahan ... eeemmpptt—" Ucapan Syifa seketika terhenti kala Joe tiba-tiba menyerang bibirnya. Menciumnya dengan ganas dibarengi sebuah lumattan.

__ADS_1


Nafsu Joe sudah berada di ubun-ubun, dan rasanya dia malas menanggapi semua tuduhan Syifa yang tidak benar. Karena akan panjang urusannya.


Joe malah lebih suka perempuan itu mendesaah dihadapannya, sebab dirinya sudah sangat tidak sabar ingin melakukan gaya kepiting.


'Manis, Yang, bibirmu sangat manis dan memabukkan,' batin Joe sambil memejamkan mata. Dia setengah berdiri dengan lutut yang dijadikan penopang.


Perlahan, kedua tangannya itu meremmas-remas dada milik Syifa, kemudian tak lama turun ke bawah untuk menyingkap rok gamis yang istrinya kenakan.


Perempuan itu sontak membulatkan matanya dengan lebar, ketika dengan cepat tangan Joe sudah melesat masuk ke dalam celananya. Juga membelai miliknya yang sudah basah.


'Mau apa Aa? Jangan bilang dia ingin mengajakku bercinta di kamar mandi? Aku nggak mau ah,' batin Syifa, lantas mendorong kuat-kuat dada Joe supaya menghentikan ciuman panas mereka.


"Lho, kenapa, Yang? Manis lho bibirmu itu." Joe kembali mendekat dengan bibir monyong, tapi segera Syifa menutup bibirnya.


"Aa serius, mau mengajakku gaya kepiting di sini? Di kamar mandi?"


"Ya serius, kamu pikir aku hanya bercanda, ya?" Joe meraih celana panjang Syifa pada bagian pinggangnya. Hendak dia tarik ke bawah, tapi langsung dicegah oleh Syifa.


Meskipun perempuan itu memakai gamis, Syifa memang selalu memakai celana panjang lagi untuk dijadikan dalemmannya. Supaya auratnya tertutup rapat.


"Tapi aku takut kamar mandi ini nggak kedap suara, A." Syifa menatap sekeliling ruangan kamar mandi yang cukup luas itu. Mungkin dua kali lipat dengan kamar mandi di kamarnya.


Tapi tidak heran juga sebenarnya, sebab rumah sakit itu 'kan cukup elit.


Yang pasti orang-orang kaya juga yang akan datang berobat, bukan dari kalangan biasa.


"Kalau semisalnya ada yang denger suara kita dari luar bagaimana, A? Kan bahaya, malu," tambah Syifa yang terlihat takut.


"Masa iya nggak kedap suara, Yang? Ini 'kan rumah sakit mewah. Pasti fasilitasnya mewah juga. Aku yakin itu." Kalau pun tidak kedap suara, Joe sendiri tidak peduli. Malah itu bagus jika Maminya mendengar langsung, supaya dia akan berpikir kalau mereka betul-betul saling mencintai dan tidak bisa dipisahkan.


Joe pun menarik kembali celana Syifa dan kali ini cukup kuat, sehingga perempuan itu kali ini tak bisa menahannya.


Benda itu sudah terlepas, Joe juga segera membuka jas serta kemejanya hingga dirinya kini sudah tel*anjang bulat.


"Nanti Aa goyangnya jangan terlalu kencang, ya? Supaya suaraku nggak terdengar keras."


"Mana enak, Yang? Aneh deh kamu tuh," kekeh Joe sambil geleng-geleng kepala. Jelas malah Joe lebih suka Syifa yang mendesaah kuat, karena dengan begitu—semangat dalam bercintanya akan makin bertambah. "Kamu juga nanti nggak bakal bisa pipis, kalau goyanganku kurang kenceng, Yang."


"Nggak apa-apa aku nggak pipis juga, A. Nggak masalah."

__ADS_1


"Bener nih nggak apa-apa? Jangan nyesel lho, rugi tau, Yang ... kalau bercinta nggak sampai pipis." Joe perlahan membuka kedua paha Syifa, kemudian membenamkan kepalanya di sana. Dia akan melakukan pemanasan terlebih dahulu, demi memancing birahi istrinya.


Tak akan Joe biarkan hanya dirinya saja yang menginginkan, Syifa juga harus. Malah kalau bisa, memintanya untuk tidak ingin berhenti. Bila perlu sampai beberapa ronde berturut-turut.


Sementara itu diluar kamar mandi, yakni di sofa—terlihat Yumna tengah menatap ponselnya dengan wajah bete. Memerhatikan jam yang sudah lewat tiga puluh menit berlalu dimana Joe dan Syifa masuk ke dalam kamar mandi.


"Tante, kok mereka lama banget, sih?" tanyanya kesal sambil menoleh ke arah Mami Yeri.


"Tante nggak tau, Yum. Coba tunggu sebentar lagi," jawab Mami Yeri sembari menguap, saat kantuknya tiba-tiba melanda. Dan dengan cepat dia menutup mulutnya.


"Coba Tante ketuk pintunya, tanyakan kenapa mereka lama," saran Yumna yang tampak tak sabar, ingin melihat mereka keluar dari sana. Dan mendadak dia juga merasa gelisah sendiri entah mengapa.


"Jangan deh, Yum, nggak enak Tante," tolak Mami Yeri sambil menggelengkan kepalanya.


"Kok nggak enak? Kenapa?" Kening Yumna tampak mengerenyit. "Kan tadi bukannya Tante dengar sendiri ... kalau Kak Joe sempat minta tolong ke Syifa? Ya barangkali Syifa nggak bisa nolong, jadi lebih baik kita ...." Ucapan Yumna belum usai, tapi seketika terhenti kala mendengar suara seseorang yang berasal dari arah kamar mandi.


"Ih ... Aa! Kenapa begini?" Ini suara seperti milik Syifa, tapi terdengar tertahan oleh napasnya sendiri.


Mami Yeri dan Yumna mendengar jelas, meskipun agak samar-samar.


"Itu bukannya suara Syifa, kan, Tan? Sedang apa di ...." Lagi-lagi, ucapan Yumna terhenti ketika kembali mendengar suara yang berasal dari kamar mandi.


"Ya memang begini Sayangku, namanya juga gaya kepiting." Ini suara seperti milik Joe, yang dibarengi sebuah kekehan.


"Gaya kepiting?" Mami Yeri dan Yumna berucap secara bersamaan dengan saling melayangkan pandangan. Kening keduanya pun tampak mengerenyit bersama


Namun tiba-tiba....


"Tapi kenapa seperti ... ah! Ah! Ah!"


"Seperti apa? Seperti enak, ya? Ah! Ah! Ah!"


"Astaga!" Mami Yeri seketika melotot. Dia tampak terkejut bukan main mendengarnya. Sebab kali ini suara itu sangatlah nyaring, apalagi dibarengi sebuah desaahan yang tentu dia sendiri tahu, sedang apakah Joe dan Syifa ada di dalam sana dan alasan kenapa mereka lama keluar. 'Ya ampun Joe, Syifa, parah bener kalian. Kenapa harus di rumah sakit dan keras-keras, sih?' Mami Yeri mengomel dalam hati.


Namun tak dipungkiri, apa yang dia dengar sukses membuat celana dalammnya basah. Dan secara tidak sadar, dia jadi menginginkannya.


'Tapi apa kata Joe tadi? Gaya kepiting? Seperti apa gaya kepiting?' tambahnya yang bertanya-tanya dengan kening yang mengerenyit.


'Nggak tau malu banget kalian berdua! Bisa-bisanya bercinta di kamar mandi rumah sakit! Mana nyaring banget lagi desaahnya!' geram Yumna dengan kedua tangan yang mengepal kuat di atas paha. Dadanya pun sudah terlihat naik turun, sebab begitu gemuruh dan panas di dalam sana.

__ADS_1


......Bilang aja kamu iri, kan, Yum? 🤣🤣......


__ADS_2