Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
230. Lebih baik kita kerjasama


__ADS_3

"Ih Papa payah! Nggak keren!" gerutu Atta yang kesal kepada Ammar, melihatnya sudah terlentang di lapangan sambil menyentuh bokong.


Akhirnya, satu persatu dari anggota grup itu turun dari bambu dan menuju pinggir lapangan dengan lesu.


"Bapak biang kerok nih! Harusnya kita menang tadi!" Tian mengomeli Ammar dan menatapnya sengit. Sungguh dia kecewa dengan kegagalan dari grupnya. Sebab selangkah lagi mereka berhasil mencapai puncak.


"Iya. Segala celanaku dipelorotin lagi. Malu tau, Pak!" Sekarang giliran Joe yang ngambek. Jelas bahwa harga dirinya sudah dipertaruhkan dalam lomba ini.


"Maaf, tadi licin banget soalnya, Pak," ucap Ammar penuh penyesalan.


"Aa! Sini, A!" Syifa tiba-tiba saja datang menghampiri, lalu menarik tangan Joe dan membawanya untuk agak menjauh dari mereka. Sebab ada hal yang ingin dia sampaikan. "Kok Aa nggak pakai sempaak? Gimana sih, A?" omelnya kesal.


"Pakai kok, Yang."


"Pakai kok bisa pas celana Aa melorot bokong Aa langsung terekspos? Aa ini gimana, sih? Semua penonton lihat tau, A. Apa Aa nggak malu?" Wajah Syifa terlihat sudah memerah, dia seperti emosi.


"Sumpah, aku pakai sempaak. Kan kamu juga tau pas aku pakai celana, Yang," jawab Joe dengan jujur, lalu mengenggam tangan Syifa. "kalau kamu nggak percaya, ayok ke toilet lagi. Biar aku beritahu."


"Nggak perlu ke toilet!" Syifa menepis kasar tangan Joe. "Sekarang mending Aa masuk ke mobil, dan lebih baik Aa gugur saja jadi peserta!"


"Lho, kenapa? Kan masih ada kesempatan, Yang, buat menang."


"Tapi ada kesempatan juga buat celana Aa melorot lagi. Dan aku nggak mau itu sampai terjadi, apalagi semua orang melihatnya! Aku nggak rela, aku juga ikut malu, A!"


"Mom ...." Robert tiba-tiba melangkah menghampiri mereka. Dari kejauhan dia sempat memerhatikan keduanya, dan rasanya penasaran dengan apa yang mereka obrolkan sehingga terlihat Syifa seperti marah-marah.


"Nak ... kamu ajak Daddymu masuk ke dalam mobil. Sekarang!" perintah Syifa kepada anaknya.


"Kok masuk mobil? Kenapa, Mom?" tanyanya bingung.


"Udah turuti saja. Pokoknya jangan keluar sampai lomba panjat pinang ini selesai!" tegasnya.


"Tapi, Mom. Daddy 'kan harus ikut lomba lagi, kan masih ada ...." Ucapan Robert seketika terhenti saat Syifa sudah berlalu pergi meninggalkannya. Wajah perempuan itu terlihat begitu masam sekali. "Mommy kenapa, Dad? Dan kenapa Mommy nyuruh Daddy untuk masuk mobil?" tanyanya yang kini menatap ke arah Joe.

__ADS_1


"Mommy nggak izinin Daddy buat ikut lomba lagi, Rob. Katanya Daddy suruh gugur aja jadi peserta."


Robert membulatkan mata. Dia tampak terkejut. "Lho, kenapa, Dad?"


"Gara-gara celana Daddy melorot tadi."


"Daddy juga kok bisa, sih, celananya melorot? Memangnya nggak kenceng, ya, kolor karetnya?" Robert menyentuh kolor Joe pada bagian pinggang, penasaran dengan karetnya. Setelah dipegang cukup kencang juga, dan memang itu kolor baru.


"Kamu 'kan pasti nonton tadi. Celana Daddy melorot karena ulah Papanya si Atta, dia yang nggak sengaja narik, Rob," jawab Joe yang tampak kesal.


"Tapi harusnya, Daddy pakai kolor yang ada talinya itu, Dad. Jadi kuat, nggak akan melorot."


"Ini juga ada talinya, Rob." Joe lantas menarik tali yang tersemat pada pinggang kolornya. "Cuma Daddy lupa dipakai, tadi pas ditoilet buru-buru pakai celana habis kencing."


"Tuh, kan, harusnya kalau diikat mungkin aman, Dad. Jadi 'kan nggak begini. Daddy bisa lanjut ikut lomba dan dapat mobil." Robert mendengkus. Sejujurnya dia juga kesal pada Papanya Atta, tapi sekarang ikut kesal kepada Joe. Karena kecerobohannya, jadilah seperti ini.


"Iya, ini salah Daddy yang kurang teliti. Sekarang Mommymu marah, dan kayaknya Daddy memang udah nggak bisa lanjut ikut lomba lagi." Joe memerhatikan Syifa dengan sendu dari kejauhan. "Maafin Daddy, ya, Rob."


"Ya udah deh. Ayok sekarang kita ke mobil," ajak Robert sembari menarik tangan Joe, kemudian mereka melangkah bersama meninggalkan lapangan.


*


*


"Hore!! Aku menang!" Papi Paul menyeru, saat dirinya berhasil menang dalam hompipah kali ini. Yang berarti sekarang adalah waktu dirinya dan grupnya berjuang.


"Bu Syifa ...," panggil seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri Syifa, saat perempuan itu berada di kursi juri untuk bicara pada Pak Bambang. Meminta izin padahal untuk mengugurkan Joe menjadi peserta.


"Iya, Pak?" Syifa langsung menoleh dan menatap pria di depannya.


"Bu, Pak Bambang. Saya ingin izin gugur jadi peserta lomba, ya, maaf. Bisa, kan?" pintanya dengan raut khawatir.


"Lho, kenapa memangnya, Pak?" tanya Syifa penasaran.

__ADS_1


"Saya tadi dikabari mertua saya, kalau beliau sakit. Dan saya harus ke rumah sakit sekarang, Bu."


"Oh gitu. Ya sudah nggak apa-apa, Pak. Tapi nama Bapak siapa dan Bapak digrupnya siapa?"


"Nama saya Rahmat, Bu. Dan saya digrupnya Pak Paul."


"Oh. Berarti sekarang dong, harusnya Bapak manjat. Ya sudah kalau begitu. Ada pemain cadangan ini. Bapak boleh pulang dan semoga mertua Bapak cepat pulih, ya, Pak."


"Amin ... terima kasih Bu Syifa, Pak Bambang," ucapnya. Syifa dan Pak Bambang pun mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu saya permisi."


Setelah Pak Rahmat pergi, kini Syifa balik lagi menuju lapangan volly untuk menghampiri beberapa bapak-bapak dari grup Papi Paul.


Keempat orang itu sebenarnya ingin langsung memulai lomba, hanya saja Gisel belum memberikan instruksi ditambah mereka kekurangan satu anggota.


"Perhatikan semuanya, saya ingin memberikan sedikit pengumuman," ucap Syifa dan membuat atensi semua orang berpindah kepadanya. "Pak Rahmat yang merupakan anggota dari grup Pak Paul terpaksa gugur menjadi peserta, karena beliau harus ke rumah sakit. Tapi, berhubung kita di sini memiliki pemain cadangan ... jadi Pak Rahmat akan digantikan oleh Pak Hamdan. Dan sekaligus saya ingin memberitahu jika Pak Joe juga gugur jadi peserta, lalu digantikan oleh Pak Sofyan."


Mendengar itu, Abi Hamdan dan Umi Maryam tentu senang. Sebab berarti dia bisa ikut lomba sekarang.


Cepat-cepat pria itu pun membuka sarungnya, karena dibalik sarung dia sudah memakai celana kolor. Setelah memberikan benda itu ke tangan sang istri, segera dia pun mencium kening Umi Maryam terlebih dahulu sebelum akhirnya dia berlari menuju lapangan volly. Menghampiri Papi Paul dan anggota grup lain.


"Papi nggak mau ah, Fa! Segrup dengan Abimu!"


Baru juga sampai, tapi Abi Hamdan sudah ditolak oleh ketua grup yang merupakan besannya.


"Kenapa memangnya, Pi?" tanya Syifa.


"Jangan begitu lah, Pak. Kita 'kan keluarga. Lebih baik kita kerjasama," ucap Abi Hamdan yang terdengar legowo.


"Aku nggak yakin Bapak bisa manjat. Nanti grupku kalah lagi, gara-gara Bapak," tuduhnya dengan bibir yang menggeriting.


"Aku bisa manjat kok, Pak. Dan aku juga udah sering ikut lomba agustusan, ya meskipun kalau lomba panjat pinang itu baru kali ini."


"Udah, Pi. Papi nurut aja sama apa yang udah aku sampaikan. Nggak ada waktu lagi, grup Papi harus segera memulai lomba," ucap Syifa yang tak mau menerima penolakan kali ini. Setelah itu dia pun mundur beberapa langkah. "Baik ... sudah siap, ya, Bapak-bapak. Saya akan mulai menghitung dari tiga ... dua ... satu! Mulai!" tambahnya dengan lantang.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2