Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
270. Tunggu Robert punya istri


__ADS_3

Setelah mendapatkan hasil rontgen, akhirnya Joe dan Abi Hamdan tahu, jika Robert ternyata membohonginya.


"Ya Allah, Rob, kenapa kamu berbohong? Kamu ini nggak sakit apa-apa. Tapi bisa-bisanya kamu bilang sakit kepala. Atau kamu memang kepengen sakit beneren, hah?" omel Joe dengan emosi.


Dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang anaknya perbuat, sehingga membuat dia dan yang lain panik. Syifa saja sampai terus menelepon, menanyakan keadaan anak sambungnya.


"Maafin Robert, Dad, hiks ... hiks!" Hanya kata maaf yang bocah itu katakan, selanjutnya dia hanya bisa menangis.


"Kamu sekarang sedang berpura-pura lagi, kan?" hardik Joe yang tak suka anaknya menangis.


Bukan apa-apa, dia hanya berpikir jika tangis bocah itu hanya kepura-puraan semata, tapi memang sebenarnya kali ini Robert menangis dengan sungguh-sungguh. Karena takut dimarahin dan takut dipaksa untuk sunat.


"Berpura-pura apa, Daddd?" tanya Robert sambil sesenggukan, dia memeluk tubuh Abi Hamdan dengan erat.


"Pura-pura nangis lah! Apa lagi?!" ketus Joe. "Padahal Daddy nggak pernah, ya, ngajarin kamu buat berbohong! Kok bisa-bisanya sekarang kamu jadi tukang bohong? Siapa yang mengajarimu, Rob?!" tekan Joe keras sambil memegang lengan anaknya.


Tubuh bocah itu langsung gemetar. Meskipun Joe jarang sekali memarahinya, tapi tetap saja ada rasa takut tersendiri oleh Robert jika hal itu terjadi.


"Robert nangis beneran, Dad, bukan pura-pura ... hiks," tangis Robert.

__ADS_1


"Alahhh ... kamu ini—"


"Jooon ..!!" sela Abi Hamdan cepat. "Udah, mending kita langsung pulang saja. Biar nanti Robert menjelaskannya di rumah," tambahnya lalu berdiri dari duduk sambil menggendong Robert.


"Robert nggak mau pulang, Opa! Robert nggak mau!" tolak Robert yang tiba-tiba cemas sendiri, dia juga geleng-geleng kepala.


"Kenapa nggak mau pulang? Kita udah nggak punya urusan lagi di rumah sakit, Nak." Abi Hamdan mengabaikan permintaan sang cucu, dia pun berjalan keluar dari rumah sakit diikuti oleh Joe di belakang.


"Robert takut disunat! Itulah alasannya kenapa Robert berbohong! Tolong maafkan Robert, Opa! Daddy! Tapi Robert mohon ... kita jangan pulang, Robert nggak mau!"


Di depan mobil yang berada di parkiran, langkah kaki Joe dan Abi Hamdan seketika terhenti, lantaran mendengar penjelasan singkat dari bocah itu.


"Apa sih yang kamu takutkan dari sunat, Rob?" tanya Joe tak mengerti. Tapi dia sudah membukakan pintu mobil untuk mertuanya dan Abi Hamdan pun masuk dengan Robert.


"Kamu pasti takut karena mengira sunat itu sakit, kan?" tebak Abi Hamdan. Robert pun mengangguk.


"Meskipun Daddy dan Opa selalu bilang itu nggak sakit ... tapi Robert nggak percaya. Itu nggak mungkin, orang berdarah mana ada yang nggak sakit? Kan dipotong."


"Cuma ujungnya, Sayang, nggak semua," ucap Joe lembut, yang mencoba meredakan emosinya sendiri.

__ADS_1


"Tetap saja itu sakit, Dad!"


"Nggak akan!" tegas Joe. "Buktinya Daddy pas sunat nggak sakit, Daddy nggak bohong itu. Sumpah. Daddy juga masih sehat walafiat sampai sekarang."


"Bagaimana bisa kamu mengatakan sunat itu sakit, sedangkan kamu sendiri belum merasakannya, Nak?" tegur Abi Hamdan menasehati, lalu mengelus puncak kepala Robert. "Kalau hanya dengar dari katanya ... kan itu nggak ada bukti. Lagian nih, ya, zaman sekarang 'kan canggih. Banyak obat juga. Kalau misalkan sakit tinggal minum obat, begitu saja, Nak."


"Atau kamu mau minum obat dulu, sebelum disunat ... biar nggak sakit?" tambah Abi Hamdan bertanya.


"Tapi, Opa, bukannya memaksakan keinginan orang lain itu nggak boleh, ya? Apalagi itu keinginan anak kecil. Robert 'kan udah bilang kalau Robert belum siap, apa Robert nggak dikasih kesempatan dulu ... tunggu sampai siap? Apa kalian setega itu sama Robert? Katanya kalian sayang sama Robert." Padahal tadi tangisnya sudah sedikit mereda, tapi sekarang dia justru kembali menangis.


Sedih sekali rasanya, sebab dua orang yang dia sayangi itu tak mengerti keadaannya. Bahkan Syifa juga sama.


"Kamu siapnya kapan, Nak? Tolong berikan penjelasan yang pasti," pinta Abi Hamdan.


"Setelah Adikmu lahir saja bagaimana?" usul Joe menatap lekat anaknya.


Robert menyeka air mata di pipinya. "Kalau setelah adik bayi lahir kayaknya kecepatan, Dad. Eemmm bagaimana kalau ...." Dia pun terdiam sebentar, mulai berpikir. Joe dan Abi Hamdan tampak menunggu jawabannya. "Kalau tunggu Robert punya istri saja deh, Dad. Robert janji!" tambahnya yang mana membuat dua orang itu saling tepok jidat.


...Keburu berbulu dong, Rob 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2