
[Terima kasih sebelumnya, karena sudah mengirimkan saya nasi goreng. Tapi menurut saya itu nggak perlu, Dek.]
[Besok-besok kamu nggak perlu mengirimkan makanan atau apa pun itu.]
Dua chat sekaligus yang Ustad Yunus kirimkan, sebagai balasan.
[Lho ... kok gitu? Mas Boy nggak seneng, ya? Atau masakanku enggak enak? Maaf ya, Mas ๐ข๐]
Ustad Yunus mengerutkan keningnya, melihat emot ikon sedih yang Yumna kirimkan. Dan entah mengapa, sampai detik ini dia masih merasa heran dan tak menyangka kalau Yumna bisa mengirim chat seperti itu padanya.
[Kalau emang nggak enak dibuang aja nggak apa-apa. Tapi kalau aku diminta untuk tidak mengirim apa-apa ... aku minta maaf, Mas Boy, karena aku nggak bisa.] Yumna mengirim chat lagi.
[Kenapa?] Ustad Yunus membalas.
[Nggak tau kenapa ... kalau aku ngasih sesuatu sama Mas Boy bawaannya seneng banget. Jadi aku kepengennya ngirim terus, apa pun itu.]
"Yunus ... jadi ini nasi gorengnya mau dimakan apa enggak?" tanya Umi Mae yang kini sudah duduk di sofa dengan dua cangkir di atas meja yang berisikan teh dan kopi.
Ustad Yunus langsung menoleh, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana. Dia tak ada niat untuk membalas chat lagi untuk Yumna. "Dimakan, Mi," jawabnya. "Dan tadi kata Yumna ... satunya buat Umi."
"Serius?" Mata Umi Mae langsung berbinar. Kebetulan perutnya memang lapar dan hanya baru melihat penampakannya saja nasi goreng itu sudah terlihat sangat enak. "Wahhh ... alhamdulilah. Ya sudah, ayok makan bareng, Nak. Umi juga udah buatin kamu kopi."
"Iya." Ustad Yunus mengangguk, lalu duduk di samping Umi Mae. "Oh ya, makan siang dari si Yumna kemarin Umi makan nggak?"
"Umi makan." Umi Mae mengangguk. "Kenapa memangnya? Bukannya kamu kemarin bilang sendiri ... kalau itu untuk Umi saja, ya?"
"Iya, nggak apa-apa kok. Memang buat Umi karena 'kan aku makan diluar. Cuma aku bingung saja, Umi." Ustad Yunus menggaruk rambutnya saat mengangkat peci di atas kepala, lalu memandangi nasi goreng di depannya.
"Bingung kenapa?" Umi Mae baru saja hendak menyuap satu sendok. Tapi dia langsung urungkan lantaran mendengar apa yang anaknya katakan.
"Aku merasa aneh sama sikapnya Yumna, Mi. Tiba-tiba kok dia baik sama aku, ya?"
"Mungkin dia baik karena kamu habis menemukan dompetnya," tebak Umi Mae.
"Tapi saat ketemu, dia bahkan enggak mengucapkan terima kasih, Umi. Ya meskipun sorenya dia ngasih bunga, tapi tetap saja aneh ... karena selama ini juga, sikapnya itu memperlihatkan kalau dia sangat membenciku. Ngomongnya juga agak kasar."
"Masa? Memangnya kenapa awalnya ... kok kamu ngira Yumna benci sama kamu? Apa kamu dulunya berantem sama dia?"
"Enggak." Ustad Yunus menggeleng. "Cuma pas awal aku donorin darah untuk Papinya ... dia berpikir aku itu punya maksud tertentu melakukan hal itu. Padahal 'kan enggak."
__ADS_1
"Maksudnya punya maksud tertentu itu apa, Nak? Umi nggak paham." Umi Mae terlihat bingung.
"Ya seperti aku nantinya akan memanfaatkan Papinya. Semacam meminta uang untuk balas budi. Gitu, Mi," jelas Ustad Yunus.
"Oooohhh ...." Umi Mae manggut-manggut. "Ya mungkin Yumna sekarang mau berubah, bisa jadi itu karena dia sudah sadar ... kalau apa yang selama ini dia pikirkan tentang kamu itu salah. Namanya manusia 'kan ada berubahnya, Nak, nggak akan terus menerus seperti itu. Allah juga suka membolak-balikkan hati manusia."
"Iya sih, Umi bener." Ustad Yunus mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Uminya.
"Udah mending kita langsung sarapan saja. Nanti keburu dingin jadi nggak enak. Kamu juga nggak perlu berpikir macam-macam tentang Yumna ... itu nggak baik, Nak. Kita harus berpikir positif." Umi Mae mengusap bahu kanan anaknya, lalu tersenyum manis.
"Iya, Umi."
***
"Aku pesan jus mangga," ucap Papi Yohan pada pelayan restoran.
Siang ini, dia berada disalah satu restoran yang ada di Jakarta. Niat kedatangannya adalah untuk bertemu Glenn.
Papi Yohan yang memilih tempat dan jamnya. Dan dia juga yang menunggu, karena pria itu belum datang.
"Apa ada lagi, Pak?" tanya sang pelayan.
"Baik ... tunggu sebentar." Pelayan itu membungkuk sopan, kemudian berlalu dari sana.
Tak lama, seorang pria tampan berambut kriwil datang menghampiri meja di mana Papi Yohan duduk. Dia berpakaian sangat rapih dengan setelan jas berwarna hijau army, tangannya menenteng sebuah paper bag berukuran kecil.
"Selamat siang, Om. Apa Om sudah lama?" tanyanya sambil tersenyum, lalu menarik kursi untuk duduk di depan Papi Yohan.
"Baru aja."
"Silahkan ... ini pesanannya, Pak." Seorang pelayan wanita tadi datang lagi dengan membawa segelas jus, lalu menyajikannya dia atas meja.
"Aku mau pesan dong, Mbak. Jus yang sama seperti itu," ucap Glenn.
"Baik, Pak." Pelayan itu mengangguk, kemudian berlalu pergi lagi untuk menyiapkan pesanan selanjutnya.
"Oh ya, tadi aku mampir ke toko jam, Om. Kebetulan ada jam tangan keluaran terbaru ... jadi aku sekalian beliin buat Om juga." Glenn perlahan menyodorkan paper bag ke arah Papi Yohan.
Pria tua itu hanya menatapnya sebentar, tapi tidak mengambilnya. "Jamku udah banyak. Buat kamu saja."
__ADS_1
"Tapi aku beli sengaja untuk Om. Terima saja, Om, itung-itung buat tambahan koleksi."
'Pasti dia mau nyogok aku pakai jam tangan, supaya bisa menikahi Yumna. Oh tidak bisa ...,' batin Papi Yohan yakin.
"Kapan kamu dan Yumna ketemu lagi? Bukannya setelah kalian putus ... kalian udah nggak ketemu lagi, ya?"
"Mungkin ada sebulan lebih, Om," jawab Glenn. "Oh ya, Om. Apa Yumna udah ngomong sama Om Yohan dan Tante Soora, tentang hubungan kami? Aku juga ada rencana ingin datang ke rumah buat melamar Yumna."
"Hubungan apa yang kamu maksud? Apa kalian balikkan?"
"Iya." Glenn mengangguk. "Om merestui hubungan aku dan Yumna lagi, kan? Aku janji aku nggak akan menyakiti Yumna lagi. Dan tentang kejadian dimasa lalu ... sekarang aku bisa menjelaskannya, kalau itu hanyaโ"
"Apa niatmu sebenarnya, ingin mengajak Yumna balikkan sampai tiba-tiba mengajaknya menikah?" sela Papi Yohan cepat. "Karena jujur saja ... aku sudah membencimu, dan menarik semua restuku setelah kamu menyakiti anakku!"
"Semua itu karena aku masih mencintai Yumna, Om. Lagian aku juga sudah jadi duda sekarang, sedangkan Yumna masih sendiri. Jadi apa salahnya jika kami bersama lagi? Yumna juga mengatakan kalau dia masih mencintaiku."
"CK!" Papi Yohan berdecak kesal, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. 'Bisa-bisanya Yumna mau diajak balikkan semudah itu, cuma dengan diiming-imingi kata cinta. Dia ini waras nggak, sih? Apakah rasa sakit hatinya dulu sudah sembuh hanya dari kalimat cinta saja?' batinnya yang merasa tak habis pikir.
Papi Yohan tentu ingat, saat dimana Yumna patah hati karena Glenn. Perempuan itu seperti menyiksa dirinya dengan tak pernah keluar dari kamar. Hampir seharian hanya menangis, tidak makan atau pun minum. Sampai-sampai akhirnya dia masuk rumah sakit.
"Om ... Om masih mau menerimaku lagi, kan?" tanya Glenn dan sontak membuat Papi Yohan tersentak dari duduknya, lantaran dia sejak tadi melamun. "Aku minta maaf, Om, atas semua hal yang telah terjadi dimasa lalu. Aku berjanji akan memperbaikinya lagi mulai sekarang."
"Kamu terlambat Kriwil."
"Terlambat gimana?" Kening Glenn mengerenyit. "Maksudnya apa, Om?"
"Ya kamu sudah terlambat. Yumna itu sudah ada yang melamar lebih dulu ketimbang kamu."
"Siapa? Tapi Yumna sendiri nggak bilang kok sama aku, Om?"
"Dia melamar pas enggak ada Yumna, tapi aku dan Maminya sudah merestui. Pokoknya sekarang begini saja, ya ...." Papi Yohan perlahan meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu saling menggenggam. Dia juga menatap Glenn dengan tajam. "Aku minta sekarang kamu tinggalkan Yumna! Jangan pernah berharap untuk bisa kembali dengannya apalagi ingin menikahinya! Dan kalau sampai Yumna nekat kabur dari rumah, dan itu semua karena dia ingin menikah denganmu ... siap-siap saja kamu aku polisikan, Kriwil! Karena kalau bukan Boy orangnya ... aku akan melarang anakku untuk menikah! Kamu juga seorang duda, yang aku inginkan adalah perjaka ting-ting!" tegasnya dengan nada ancaman.
"Jadi pria yang sudah melamar Yumna namanya Boy, Om? Dan apakah Yumna sendiri mencintainya?"
"Ya jelas dia juga ...." Ucapan Papi Yohan seketika terhenti diujung bibirnya, lantaran tak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Ustad Yunus. Dia berada dimeja paling pojok sebelah kanan dengan seorang pria yang entah siapa itu, tapi pria di depan Ustad Yunus tampak sedang menunjuk-nunjuk wajahnya sembari mata melotot. 'Dia si Boy, kan? Sama siapa dia, dan kurang ajar sekali pria itu. Berani-beraninya menunjuk-nunjuk wajah tampan menantuku!' batin Papi Yohan yang tiba-tiba emosi, dadanya pun ikut bergemuruh berikut dengan salah satu tangannya yang sudah mengepal diudara.
Segera, Papi Yohan pun bangkit dari duduknya, kemudian berlari menghampiri mereka.
...Mau ngapain sih, Om ๐...
__ADS_1